Langsung ke konten utama

PEMBUNUHAN TERKEJAM YANG MENJADI SOROTAN DUNIA

 

Eye in the sky merupakan film yang disutradarai oleh Gavin Hood dan skenario oleh Guy Hibbert. Film ini pertama sekali diliris pada tanggal 11 Maret 2016. Saya mencari sinopsis film ini di internet dan ada banyak link yang menyediakan informasi tentang film ini. Hampir keseluruhan sinopsis menampilkan bahwa inti dari film ini bercerita tentang sebuah misi Intelijen Militer di London, Inggris yang dipimpin oleh kolonel Katherine Powell yang hendak menangkap sekelompok teroris di Nairobi, Kenya. Sekelompok teroris ini tinggal disebuah rumah yang telah diawasi oleh badan intelijen inggris. Awalnya adalah operasi penangkapan tetapi berubah menjadi operasi pembunuhan ketika Kolonel mengetahui para teroris telah memulai misi bunuh diri mereka. Sepertinya film yang menarik sehingga saya memutuskan untuk menonton film tersebut di bioskop.

Ya, awalnya memang terlihat seperti sebuah misi Intelijen Militer dengan rangkaian cerita yang masih menyimpan teka-teki  untuk ditebak. Sampai pada pertengahan cerita, saya pikir ini bukan lagi mengenai sebuah misi  walaupun sesungguhnya semua masih dalam sebuah skenario misi. Tentang mengambil sebuah keputusan antara seorang anak kecil atau segerombolan teroris. Jika menyelamatkan seorang anak kecil maka akan ada ratusan anak kecil ditempat lainnya yang akan menjadi korban para teroris, Jika mengorbankan seorang anak kecil, maka dunia akan menganggap itu sebuah kekejaman tetapi dunia terselamatkan dari ancaman teroris. Itu adalah kesulitan terberat menjadi seorang pemimpin ketika harus membuat keputusan dalam waktu yang mendesak, bahkan diluar dari perencanaan.

Usaha demi usaha dilakukan untuk menyelamatkan anak tersebut agar menjauh dari area pengeboman tetapi tetap tidak berhasil. Kesabaran dan tetap menunggu manakala kesempatan baik bisa menyelamatkan anak tersebut tetapi pada akhirnya keputusan yang paling tepat harus dilakukan, resiko kecil harus diambil demi menghindari resiko yang lebih besar. Saya sadar bahwa pada saat melihat gadis kecil itu terkapar lemah dengan luka bakar diseluruh tubuhnya, sampai pada  akhirnya dia tidak bergerak lagi, air mata saya mengalir seakan ada rasa sakit yang tidak bisa saya pahami dari mana datangnya. Keributan dan adu pendapat terjadi ketika berdiskusi tentang pengeboman ini, para petinggi negara yang tidak ingin mengorbankan seorang anak kecil demi gerombolan teroris, para petinggi negara yang tidak berani membuat keputusan karena menganggap itu adalah pilihan yang sulit sehingga melemparkan keputusan pada yang lainnya, para petinggi negara yang tetap bersikeras untuk mempertahankan anak tersebut dengan menego untuk mencari cara lain menangkap para teroris, dan kolonel yang berusaha memegang kendali untuk memenangkan misinya. Saya sadar, bahwa seorang anak kecil dengan seluruh kepolosannya adalah Dunia bagi Dunia yang akan mendatang, mengorbankan mereka untuk hal yang tidak sempat mereka pahami adalah sama seperti pembunuhan kejam. Saya masih menyalutkan film tersebut dimana para pemimpin-pemimpin masih menjadikan seorang anak kecil sebagai  bahan pertimbangan, itu artinya mereka masih menganggap bahwa nyawa seorang anak sangat berarti untuk diselamatkan.

***


Mengingat tentang seorang anak kecil, saya kembali mengingat tentang kedaduratan kejahatan pada anak baik itu kekerasan, pelecehan seksual ataupun pembunuhan.
Tahun ini berita bermunculan satu per satu dari berbagai daerah tentang kejahatan yang dilakukan pada anak, tidak selesai satu tapi sudah berdatangan kisah yang lainnya.
Fantastiknya kejahatan ini tidak hanya datang dari luar tetapi melainkan dari dalam kehidupan anak tersebut atau yang saya maksudkan adalah keluarga.
Keluarga adalah tempat seorang anak harus berlindung, keluarga adalah tempat dimana anak merasakan kenyamanan.
Fakta dimasa ini sudah sangat berbeda, bahkan orangtua sendiri sanggup menganiaya anaknya, melakukan pelecahan seksual pada anak sendiri, bahkan tidak segan-segan membunuh anaknya dengan berbagai alasan yang sama sekali tidak masuk diakal.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan yang sangat signifikan.
Pada tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus.
5 kasus tertinggi dengan jumlah kasus per bidang dari 2011 hingga april 2015:
  1. Anak berhadapan dengan hukum hingga april 2015 tercatat 6006 kasus.
  2. Pengasuhan anak 3160 kasus.
  3. Pendidikan anak 1764 kasus.
  4. Kesehatan dan Napza 1366 kasus.
  5. Pornografi dan cybercrime 1032 kasus.
Dari hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi menunjukkan bahwa 91% anak menjadi korban kekerasan dilingkungan keluarga, 87.6% dilingkungan sekolah dan 17.9% di lingkungan masyarakat.
78.3% anak menjadi pelaku kekerasan dan sebagian besar karena mereka pernah menjadi korban kekerasan sebelumnya atau pernah melihat kekerasa dilakukan kepada anak lain dan menirunya.
Pelaku kekerasan pada anak bisa dibagi menjadi tiga:
  1. Orangtua, Keluarga, atau Orang yang dekat dilingkungan rumah
  2. Tenaga kependidikan yaitu guru dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah seperti para pekerja diluar dari pendidik
  3. Orang yang tidak dikenal
Berdasarkan data KPAI diatas tersebut, anak korban kekerasan di lingkungan masyarakat jumlahnya termasuk rendah yaitu 17,9%. Artinya, anak rentan menjadi korban kekerasan justru di lingkungan rumah dan sekolah. Lingkungan yang mengenal anak-anak tersebut cukup dekat. Artinya lagi, pelaku kekerasan pada anak justru lebih banyak berasal dari kalangan yang dekat dengan anak.

Sangat menyedihkan dan siapapun yang masih memiliki hati nurani merasa sangat terpukul jika melihat atau mendengar berita tersebut.
Kutukan, makian, tangisan, kekecewaan, rasa sedih dan duka bisa datang dari siapapun yang mungkin mendengar dan melihat walaupun tidak mengenal sang korban.
Tidak pernah berhenti dan setiap hari selalu ada ...
Bisakah hal tersebut tidak disiarkan lagi di media massa agar tidak memancing kejadian yang sama kembali?
Terkadang itu bisa mempengaruhi.
Semakin banyak kejadian maka semakin banyak orang yang menganggap itu biasa sehingga kejadian terus bertambah.
Disisi lain hal ini menjadi menimbulkan rasa takut yang berlebihan bagi keluarga sehingga melakukan pengawasan ketat pada anak.

Walaupun saya sedikit tidak kuat jika mengungkit kembali kasus-kasus yang sudah terjadi, tapi saya ingin memunculkan kembali kasus- kasus kejahatan pada anak yang menjadi pusat perhatian dunia :

1. Arie Hanggara

 

Pada november 1984 publik tanah air pernah digemparkan oleh cerita pilu seorang anak berusia 8 tahun bernama Arie Hanggara yang telah tewas setelah sekian lama dianiaya orangtuanya, Machtino dan Santi. Kisah Arie Hanggara sangat menyedot perhatian publik di kala itu. Kejadian itu sungguh mendapat perhatian dari publik sehingga kisah Arie Hanggara difilmkan dan menjadi film juara satu untuk penonton terbanyak sekitar 382.708 pada masa itu.

Film ini menceritakan tentang kisah nyata setelah warga jakarta dihebohkan akan kasus meninggalnya seorang bocah 8 tahun bernama Arie Hanggara akibat penyiksaan orangtuanya sendiri. Media massa meliput penuh gempita kabar ini. Tino Ridwan adalah ayah dari Arie Hanggara yang memiliki sifat yang pwmalas, tukang janji kelas kakap dan pembuat anak yang kuat menyebabkan saudara dari pihak istrinya mengunjinginya sebagai pejantan yang hanya kuat membuat anak.

Karena tidak memiliki kerjaan dan disertai dengan harga diri yang tinggi sementara Jakarta menuntut biaya yang banyak maka Tino sering bersitegang dengan istrinya. Sang istri kembali ke depok dan Tino menitipkan anak-anaknya kerumah neneknya untuk kemudian diambil lagi sewaktu dia hidup bersama kembali dengan pacarnya, Santi (kumpul kebo). Dirumah kontrakan kecil ini hiduplah lima orang manusia. Tino dan santi serta tiga anak tino dan istri pertamanya: Anggi (tertua), Arie dan Andi (si kecil).

Tino sangat sadar dengan profesinya sebagai pengangguran. Dia sudah berusaha mencari tapi tidak juga mendapat pekerjaan sehingga menimbulkan konflik terus menerus dengan santi yang selalu saja mengeluh masalah keuangan. Frustasi dengan pekerjaan, tino juga dibebankan dengan tingkah anak yang semakin membandel. Tino menjadi semakin keras dalam membuat aturan pada anaknya. Arie Hanggara, sianak kedua selalu saja membandel dengan aturan yang sudah ditetapkan tino. Arie memang memiliki wajah yang memelas ditambah lagi dengan sikap diamnya yang membuat resah tino.

Tino dan santi sebetulnya sangat menyayangi anak ini, namun santi selalu cerewet dengan menyindir kenakalan anak-anak tino. Lama-lama tino mulai geram dengan arie sehingga tino tidak segan-segan untuk memukul arie. Awalnya arie masih mengeluh kesakitan jika dipukul, tetapi karena sudah keseringan dipukul, anak ini menjadi adiktif dan seperti meminta untuk dihukum. Lantaran takut melanggar, arie menjadi sering berbohong.

Disekolah arie menjadi anak yang pendiam, asosial dan senang mengincar dompet teman-temannya. Karna tingkah arie yang semakin menjadi-jadi, tino pun berencana membawa arie ke pesantren jawa timur. Sayang sekali, belum sempat dibawa kepesantren, arie melakukan kesalahan lagi. Kesalahan ini dilakukan oleh kakaknya, tapi arie mengakui bahwa dia yang melakukannya. Arie meminta untuk digantung saja atau tangan diikat saja supaya dia tidak nakal lagi. Sementara arie diikat, dua saudaranya yang lainnya memberinya makan diam-diam.

Tugas arie dihari kedua sebelum kematian adalah membersihkan kamar mandi. Arie bermalas-malasan dan hal itu membuat pukulan tino melandas di pantat arie. Arie dihukum berdiri jongkok, kakak dan adiknya melihat arie yang terhuyung-huyung ngantuk sambil memeluk lutut dilantai menjalani hukuman yang mestinya tidak boleh ditanggungnya. Ia tidak boleh makan, adik dan kakanyalah yang diam-diam memberinya biskuit. Tatkala mereka menawarkan diri memberi arie minum, arie menolak dan malapetaka pun terjadi.

Sebelum berangkat ke Jatim santi masih sempat menasehati arie untuk minta maaf pada tino tetapi arie tidak mau melakukannya, arie malah mengatakan pada santi bahwa dia lebih baik dihukum terus menerus. Santi menjadi kesal dan mendorong arie ke dinding. Tino berdiri dan menggampar pantat arie sementara santi duduk sambil menjahit di ruang makan. Mata arie yang lebam kebiruan memandang sendu ayahnya. Tidak tahan memandang mata anak itu, tino malah mengambil tongkat sapu. Dipukulnya pantat anak itu secara berulang, santi pun menjadi menjerit melihat ulah tino. Arie sudah tidak lagi menangis dengan pukulan itu. Aria hanya memandang ayahnya dengan pandangan tajam dengan raut wajah yang mengerikan. Dengan kesal, tino menampar keras pipi kiri arie sampai akhirnya anak itu terjungkal ke lantai. Lalu tino memberinya air minum. Arie tetap di dekat tembok menjalani hukuman. Mereka sempat pelukan dan suara tino sudah mengendur. Arie meminta mium lagi tapi tino mengancam setelah diberi minum, tidak boleh lagi minum tanpa seizinnya. Arie pun dengan datar berjanji untuk tidak minum lagi.

Mungkin karena jiwa anak ini sudah mau bunuh diri di tangan ayahnya sendiri, dia melanggar lagi janjinya tersebut. Dia mengambil air minum, tapi gesekan gelasnya di dengar oleh Tino. Tino terbangun dan lupa bahwa mereka besok mau ke pesantren. Dia kalap, arie anak malang ini harus menjadi santapan kemarahan jam dua dini hari itu. Tidak ada teriakan, tidak ada rintihan, tidak ada apapun keluar darimulut anak yang sudah mencium bau kematiannya. 1 jam sebelum kematiannya dia sudah berpesan kepada dua saudaranya bahwa ia akan pergi dengan sangat jauh. Arie terjatuh di lantai. Paniknya Tino dan Santi subuh itu melihat anak itu dan membawanya ke RS dalam kondisi yang sebetulnya sudah tidak bernyawa lagi. Ada raut sesal berkecamuk di hati tino. Matanya bersimbah air mata melihat arie terbujur kaku diatas ranjang roda berkain putih yang ditarik oleh perawat. Pada akhirnya Arie harus menerima hukuman atas perbuatannya tersebut.

2. Junko Furuta


November 1988, Publik jepang pernah digemparkan dengan kisah gadis Junko Furuta yang disiksa dan disekap oleh 4 pemuda yang tidak lain adalah temannya sendiri. Junko disiksa dan disekap selama 44 hari hingga akhirnya meninggal dunia. Kejadian ini menjadi sorotan tajam dinegara Jepang, bahkan yang membuat geram karena salah satu dari empat tersangka saat ini telah bebas. Kisah gadis ini telah di filmkan 2 kali, dibuat dalam versi komik dan band bernama the Gazette membuat lagu berjudul Taion untuk mengenang gadis tersebut.
  • Hari 1-10 (22 November 1988) Terjadinya Penculikan ; dikurung sebagai tahanan rumah dan dipaksa berpose sebagai pacar salah satu cowok, diperkosa (lebih dari 400x totalnya), dipaksa menelfon orangtuanya dan mengatakan kalau dia kabur dan situasi aman, kelaparan dan kekurangan gizi, diberi makan kecoak dan minum kencing, dipaksa mansturbasi, dipaksa striptise didepan banyak orang, dibakar dengan korek api, memasukkan macam-macam ke vagina dan anusnya (dari yang kecil sampai yang besar yang tidak bisa dibayangkan).
  • Hari 11-19 (1 Desember 1988) ; Menderita luka pukulan keras yang tidak terhitung berapa kali dari tempat tinggi ke permukaan keras, tangan diikat kelangit-langit dan badannya digunakan sebagai samsak hidup sarana untuk ditinju, hidungnya dipenuhi sangat banyak darah sehingga dia cuma bisa bernafas lewat mulut, barbell dijatuhkan keperutnya, muntah darah ketika minum air (lambung sudah tidak bisa menerima air), mencoba kabur dan dihukum dengan sundutan rokok di tangan, cairan seperti bensin dituang ke telapak kaki dan betis hingga paha lalu tangan, cairan seperti bensin dituang ke telapak kaki dan betis hingga paha lalu dibakar, botol dipaksa masuk ke anusnya sampai masuk hingga menyebabkan luka.

  •  Hari 20-29 (10 Desember 1989) ; Tidak bisa jalan dengan baik karena luka bakar dikaki, dipukuli dengan tongkat bambu, petasan dimasukkan ke anus lalu disulut, tangan di penyetkan (sengaja dipukul supaya gepeng) dengan sesuatu yang berat dan kukunya pecah, dipukulin dengan tongkat dan bola golf, memasukkan rokok ke dalam vagina, dipukulin dengan tongkat besi, saat itu musim dingin bersalju dengan suhu minus dia disuruh tidur di balkon. Tusuk sate dimasukkan ke dalam vagina dan anus sehingga menyebabkan pendarahan.
  • Hari 30-39 ; Cairan lilin panas diteteskan ke mukanya, lapisan mata dibakar korek api, dadanya ditusuk-tusuk jarum, pentil kiri dihancurkan dan dipotong dengan tang, bola lampu panas dimasukkan vagina, luka berat di vagina karena dimasukkan gunting, tidak bisa kencing dengan normal, luka sangat parah sehingga membutuhkan sejam untuk merangkak turun tangga saja untuk menggunakan kamar mandi, gendang telinga rusak parah, ukuran otak menciut teramat sangat banyak.
  • Hari 40 ; Memohon kepada para penyiksa untuk membunuhnya saja dan menyelesaikan penderitaannya.
  • 1 January 1989 ; Junko tahun baru sendirian, tubuhnya termutilasi, tidak bisa bangun dari lantai karena kakinya dimutilasi.
  • Hari ke- 44 ; Para pemuda itu menyiksa badannya yang termulasi dengan barbell besi dengan menggunakan alasan kalah main mahyong. Junko mengalami pendarahan di hidung dan mulut. Mereka menyiran mukanya dan matanya dengan cairan lilin yang dibakar. Cairan korek api dituang ke kaki, muka, perut dan dibakar. Penyiksaan akhir ini berlangsung sekitar 2 jam nontsop.
Junko Furuta meninggal pada hari itu juga dalam rasa nyeri sakit dan sendirian. Tidak ada yang bisa mengalahkan 44 hari penderitaan yang sudah dia alami.

3. Sylvia Likens


Sylvia Likens (3 Januari 1949 - 26 Oktober 1965) adalah seorang gadis warga Amerika bagian Indiana yang menjadi korban penyiksaan sampai mati oleh ibu Gertrude Baniszewski dan 7 anaknya (Paula Baniszewski, Stephanie Baniszewski, John Baniszewski, Marie Baniszewski, Shirley Baniszewski, James Baniszewski, Dennis Lee Wright). Tidak hanya keluarga tersebut, anak-anak muda di lingkungan keluarga Gertrude (Ricky Hobbs, Coy Hubbard, dll) juga ikut serta dalam penyiksaan terhadap gadis malang ini.

Orang tua Sylvia adalah pekerja sirkus karnaval sehingga sibuk untuk touring di beberapa kota. Akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan Sylvia dan adiknya Jenny di keluarga Gertrude Baniszewski yang kebetulan Gertrude adalah seorang janda yang sedang mencari uang tambahan dan mereka setuju untuk membayar $20 per minggu.

Penyiksaan ini dimulai ketika orangtua mereka terlambat mengirimkan cek senilai $20 dan ibu Gertrude pun kesal yang akhirnya mereka berdua dihukum dengan cara memecut punggung mereka, padahal keesokan harinya cek itu sudah tiba di tangan ibu Gertrude.

Pada hari-hari berikutnya sylvia dituduh oleh paula karena telah mencemarkan nama dia sebagai pelacur di sekolah sehingga membuat ibu Gertrude terpancing emosi untuk memukulnya dengan cara membiarkan paula memukulnya didepan anak-anak Gertrude. Sebelu, sylvia dibawa ke basement (ruang bawah tanah) tiba-tiba ibu asuh ini sangat emosi melihat sylvia pulang bersama teman lelakinya. Lalu ibu Gertrude menyuruhnya memasukkan botol soda ke anusnya dan menyuruh John dan Coy untuk membawanya ke basement. Sylvia dilempar dari lantai atas sampai akhirnya dia pun pingsan.

Selama di basement (Agustus-Oktober 1965) gadis malang ini melalui cobaan-cobaan yang sangat tragis dan kejam. Anak- anak Gertrude selalu membawa temannya ke basement dan juga menjadi ajang perkumpulan untuk menyiksa sylvia dengan cara di sundut, di pukul pakai tongkat sapu, di tonjok, di tendang dan berbagai macam kekerasan lainnya. Sylvia sangat banyak menerima sundutan rokok dan luka bakar yang jumlahnya lebih dari 100, selain itu ada lapisan kulit yang banyak terkelupas. Cedera yang sangat luar biasa adalah ditemukannya kalimat dalam huruf balok yang sudah dibakar (jarum panas) secara langsung ke perutnya "I'M A PROSTITUDE AND PROUD OF IT!" yang dilakukan oleh ibu Gertrude dan diterusan oleh Ricky Hobbs. Ketika Stephanie Hobbs Baniszewski menyadari bahwa sylvia tidak bernafas, stephanie berusaha untuk memberikan bantuan pernafasan dari mulut kemulut, sebelum menyadari ternyata semuanya sudah terlambat.




Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.