Langsung ke konten utama

WHEN THE DARK HAS GONE *Part I*


Besok adalah hari liburan yang baik ditengah kesibukanku menyelesaikan segala tugas akhir yang terlihat tidak berkurang walau aku sudah menyelesaikan sebagian.

Baru saja aku meninggalkan meja belajar dan beranjak ke tempat tidur untuk merebahkan badan, terdengar dorongan pintu yang begitu kuat. Aku berbalik spontan seakan ada teroris memasuk paksa kedalam kamarku.

Ternyata memang teroris...

Teroris yang selalu membuatku sibuk dengan dirinya sampai aku tidak sempat menyibukkan diri untuk mengurus diriku sendiri. Dia sudah cukup terlihat dewasa untuk mengurus dirinya sendiri dan cukup terlihat tua untuk tidak selalu tidur dipelukanku.

Setiap hari aku akan menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan bekerja kemudian kembali kerumah untuk menyibukkan diri dengan dia. Dia seakan menghakimiku ketika aku pulang lebih telat atau aku pulang tidak sesuai dengan kontrak waktu yang sudah kami sepakati sebelum aku meninggalkan rumah.

Bukan... !!!

Bukan waktu yang kami sepakati melainkan waktu yang sudah dia tentukan, sementara aku hanya mampu menawar untuk mengulur waktu. Ya.... terkadang berhasil dan terkadang aku harus mencobanya dilain waktu.


 

Dia mengenakan baju tidur dan sandal berkepala kelinci kesayangannya. Dia memeluk boneka teddy bearnya dan merengek untuk tidur denganku malam ini. Aku melatihnya untuk tidur sendirian tapi aku selalu memberikan dispensasi untuk tidur bersama ketika hari libur, hujan deras dan mati lampu. Malam ini dia menagih jatah tidur bersamaku, aku pikir dia akan melupakannya.

Dia tidur disebelahku... sambil mengelus lembut rambutnya, aku memandang wajahnya yang sudah tertidur pulas...
Gadisku... dia adalah gadisku yang sudah bertumbuh dewasa.

Ya.... Dia gadis yang lucu...
Umurnya hampir 13 tahun dan semester depan dia akan menyelesaikan Sekolah Dasar. Dia terlihat begitu bersemangat meninggalkan baju sekolah merah putih dan selalu memamerkan baju putih biru tua untuk Sekolah Menengah Pertamanya. Aku membelikannya sekitar 2 bulan yang lalu karna dia mengatakan bahwa dia sudah tidak layak lagi menggunakan baju merah putihnya.

Hah....
Malas rasanya melihat dia merengek hanya karna menginginkan baju itu. Akhirnya aku memutuskan untuk membelikannya sepasang. Rasanya dia seakan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini tertunda dalam hidupnya. Aku sering mengikuti kegiatannya di media sosial karna aku tidak bisa mengawasinya 24 jam. Aku melihat bahwa dalam satu hari dia wajib memamerkan baju putih birunya di media sosial dan selalu mengatakan bahwa dia sudah beranjak dewasa.


Dia sungguh gadis yang sangat manis. Ketika dia lahir dan sampai berumur 10tahun dia masih tetap kental mewarisi wajah asing papanya tapi semakin bertumbuh dia mulai memiliki sedikit paras gadis Asia dariku dan menjadi gadis blaster yang cantik... Itu sedikit membantu untuk mengurangi tanggapan orang bahwa dia anak angkat, apalagi sedari lahir dia tidak bertumbuh dengan kasih sayang seorang papa. Oh, lebih tepatnya bahkan papanya tidak pernah melihat ataupun menyentuhnya.

Dia terlihat bahagia dan selalu memberi kesan bahwa dia bahagia. Dia selalu mengatakan bahwa dia bahagia karna dia memiliki ku. Sama halnya kepada teman-temannya...

Dia masih berumur 8 tahun dan duduk dibangku kelas 2 SD pada saat itu.
Dia datang kerumah membawa semua teman sekelasnya. Jujur saja aku terkejut ketika dia membawa semua teman sekelasnya. Aku berpikir apakah terjadi sesuatu atau apa yang akan akan terjadi? Aku bingung ketika menyuruh mereka masuk kerumah dan mereka mengatakan "Mana pris? manaa?" kemudian disusul oleh teman-teman lainnya.

"Ini dia..." Dia memeluk kaki kananku.. tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk bisa meraih pinggangku sehingga dia hanya mampu merangkul sebatas pantat saja. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku hanya bisa melihat teman-temannya menggerutu kesal sementara aku melihat senyumnya yang begitu merekah seakan bangga dengan perbuatannya.

Satu persatu temannya pergi meninggalkan rumah. Beberapa diantaranya terlihat begitu kesal bahkan ada yang menjulurkan lidah pada prisil, ada yang menggerutu dan mengatakan bahwa prisil pembohong, sementara ada sebagian kecil yang masih mau tersenyum dan pamit padaku. Aku masih bisa bernafas lega karna tidak semuanya marah pada prisil karna perbuatannya yang belum bisa aku pastikan.

Setelah mereka semua berlalu dari pintu, aku berlutut menatap mata prisil dan meraih kedua tangannya...

"Apa yang terjadi prisil? kenapa mereka semua kesini dan kenapa mereka kesal seperti itu?"

Prisil hanya tersenyum lebar dan tatapannya begitu lembut ...

"Ayo katakan sayang ada apa? kenapa prisil dibilang pembohong? siapa yang mengajarkan prisil jadi pembohong"

Dia masih tetap tersenyum sebelum akhirnya menjawab "Tidak mama... tidak... prisil tidak berbohong. Kata mama prisil tidak boleh berbohong, jadi prisil tidak berbohong"

Suaranya....
Ya... itu adalah suara yang selalu aku rindukan setiap hari. Suaranya masih terdengar sangat lucu layaknya seorang anak yang baru belajar berbicara. Aku sering membayangkan masa dimana aku tidak bisa lagi mendengar suara itu ketika dia sudah beranjak dewasa, aku akan merindukan suara itu... karna itu aku sering mengumpulkan rekaman suaranya untuk bisa aku kenang saat dia sudah beranjak dewasa.

"Lalu kenapa prisil dibilang pembohong oleh teman-teman prisil"

"Tidak tau mama ...."

Aku semakin khawatir karna dia tidak bercerita. Aku melepaskan genggaman tanganku dari tangannya kemudian menyentuh lembut kedua pipinya dengan kedua tanganku "Sayang... coba bercerita saja pada mama kenapa mereka datang kerumah kita"

"Tadi ibu guru membacakan kami cerita tentang bidadari mama... Ibu guru bilang kalau bidadari itu sangat cantik dan memiliki hati yang baik, bidadari sangat mencintai anak-anak dan bidadari adalah malaikat buatan Tuhan"

 

Bibirnya begitu mungil saat bercerita, sangat lucu ketika dia berbicara dan gerakan bibirnya terlihat berat seakan dia butuh tenaga yang besar saat bercerita. Dia berhenti sejenak dari ceritanya untuk menarik nafas yang panjang, mengumpulkan tenaga untuk bercerita kembali...

"Kemudian saat ibu guru keluar kelas, kami cerita tentang bidadari itu ma. Prisil hanya bilang kalau dirumah prisil ada bidadari seperti yang diceritakan bu guru. Mereka kerumah untuk melihat bidadari itu mama. Prisil tidak tau kenapa mereka kesal, padahal prisil hanya ingin menunjukkkan bidadari prisil"

Ya Tuhan... air mataku terjatuh begitu saja mendengar ceritanya. Aku meraihnya kedalam pelukanku. Aku memeluknya begitu erat ketika dia mengatakan "Mama itu bidadari prisil. Mama wanita tercantik yang pernah prisil lihat dan hanya mama yang sangat mencintai prisil. Prisil sangat sayang sama mama"

Kupeluk dan kubelai rambut putriku yang begitu lembut "Iya sayang... prisil juga peri kecil mama yang paling mama sayangi didunia ini" Aku berusaha bicara seperti biasa agar dia tidak mengetahui bahwa airmata tidak bisa berhenti mengalir dipipiku.

Dia mampu membuatku kembali jatuh cinta dan dia mengajarkan aku mengerti bahwa cinta yang sejati itu ada. Dia ada bukan karna cinta tapi aku bisa mencintai keberadaannya.
***



*3 Tahun Kemudian ....*

Rasanya aku sudah melakukan banyak hal dan rasanya aku sudah begitu sibuk, tapi tidak juga bisa menyelesaikannya. Entahlah... aku hanya ingin ruangan ini terlihat sangat istimewa dan aku ingin membuat perayaan hari ini sangat sempurna.

Gadisku akan berumur 16 tahun dan aku harus memberinya kejutan dengan perayaan pesta ulangtahunnya.




Sedari pagi para tetangga sudah membantuku dan beberapa temannya juga hadir untuk membantu. Tentu saja mereka bisa membantu karna hari ini adalah hari libur. Semalam aku sudah mengantarkan Prisil kerumah ibu. Aku mengatakan bahwa aku akan keluar kota untuk urusan pekerjaan sehingga dia harus menginap sementara dirumah ibu sampai aku kembali dari luar kota.

Pagi ini aku sudah menelfonnya dan mengucapkan selamat ulang tahun, aku mengatakan bahwa aku akan memberikan kado setelah kembali dari luar kota. Aku bisa mendengar dia tidak begitu senang karna ulangtahunnya kali ini memberi kesan bahwa kami memang tidak akan bersama, tapi dia berusaha bersikap biasa saja. Sayang sekali dia tidak bisa mengelabuhiku karna dia adalah putriku, aku tau segala hal tentangnya.

 


Ya, aku sengaja menghubunginya karna tidak ingin memberikan kesan suprise. Dia justru akan semakin curiga jika aku tidak mengingat ulangtahunnya karna hal terkecil tentangnya pun tidak bisa aku lupakan. Ya, bahkan jam, hari, tanggal dan tahun dia mendapatkan menstruasinya ... Aku sibuk, tapi tidak akan pernah sibuk untuk mencurahkan perhatian pada buah hatiku.

"Apakah ini sudah terlihat sempurna" aku memegang daguku sambil memandang kesegala sudut ruangan dengan wajah yang sedikit menegang

"Hey... ini sudah sangat sempurna. Kau terlihat panik sekali seakan ini adalah hari pernikahan putrimu"

Aku tertawa kecil mendengar perkataan melisa tetanggaku. Itu membuatku sedikit lebih rileks "Bukan begitu... hanya saja aku tidak pernah memberikan kejutan pesta ulangtahun untuknya. Sebelumnya kami membuat pesta sesuai dengan tema yang sudah kami rencanakan dan sekarang sesuai dengan tema pilihanku, aku khawatir dia tidak menyukainya"

Melisa memegang pundakku "Tenang saja.. dia akan menyukai ini. Ini sungguh sangat sempurna" Melisa kemudian berlalu untuk membantu merapikan beberapa hal. Sementara aku hanya tersenyum lega dan berharap dia sungguh menyukai semua ini.


Sesaat kemudian, para tetangga dan teman-temannya berpamitan untuk pulang setelah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka. Acara akan dimulai nanti malam pukul 7 dan mereka harus bersiap-siap. Ini akan menjadi pesta yang meriah dibandingkan pesta sebelumnya, karna setiap temannya yang datang wajib membawa minimal 1 orang anggota keluarganya.

Tema hitam putih sesuai dengan warna kesukaan kami berdua...
Semua ruangan nyaris dihiasi oleh balon-balon hitam putih, bangku-bangku berwarna putih yang mengelilingi meja hitam, kue-kue dan cemilan umumnya berwarna hitam putih dan dekorasi lainnya. Aku juga sudah menyediakan gaun hitam yang begitu cantik untuknya. Gaun panjang itu akan sempurna membalut tubuhnya yang indah. Para tamu juga akan menggunakan tema hitam putih, jika wanita wajib menggunakan pakaian putih sementara pria wajib menggunakan pakaian hitam. Tidak hanya itu, ini akan menjadi pesta ulang tahun bertopeng. Semua orang yang ada diacara itu wajib menggunakan topeng merah hitam yang sudah disediakan.
***

"Dia sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi dia akan sampai. Apakah semuanya sudah siap?"

"Yaaaa..... !!!!! Wouuuwwwwwwww"

Suara sorak sorai, tepuk tangan yang penuh semangat terdengar menggema diruangan itu. Aku menyewa seorang pembawa acara yang cukup profesional dikota ini. Dia berusaha mengobarkan semangat kami agar tidak bosan menunggu Prisil. Sungguh banyak tamu yang hadir, aku baru saja melihat daftar tamu yang hadir kurang lebih sekitar 127orang dan belum tau siapa lagi yang akan akan datang saat acara sudah dimulai. Untung saja ruang tengahku sanggup menampung mereka semua bahkan terlihat masih ada sisi yang kosong.
Aku diserang panik karna ibu tidak juga memberikan kabar tentang posisi mereka saat ini sementara waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7 malam. Aku pergi kedapur dan mencoba menghubungi ibu tapi tidak juga diangkat. Aku mulai semakin gelisah dan mondar mandir sambil terus menghubungi ibu.



"Tenang saja... dia akan datang tepat waktu"

Suara itu...

Aku melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap gagah baru saja keluar dari kamar mandi yang berada didekat dapur. Kenapa dia bisa tau ada kamar mandi disitu dan kenapa dia harus kebelakang sementara ada kamar mandi yang ada disudut ruang tamu. Dia menggunakan kemeja hitam berlengan panjang dipadu dengan jeans hitam. Dia menghadap kearahku dengan tangan kirinya masuk kedalam saku. Gayanya cukup keren dengan belahan rambut kanannya. Tinggi yang sempurna dan tubuh yang ideal, rasanya dia menjadi idola banyak wanita. Dia sudah menggunakan topeng dan aku tidak begitu mengenali wajahnya. Tapi topeng tersebut tidak mampu menyembunyikan hidungnya yang terlihat mancung sempurna, hidung yang sempurna seperti itu juga dimiliki oleh peri kecilku. Aku memandang matanya berusaha untuk mengenalinya. Tidak berhasil !!! kemudian dia tersenyum padaku.

"Aku adalah salah satu anggota keluarga, bukan teman Prisil" Dia seakan mengerti kebingunganku. Dia tersenyum lagi dan kemudian pergi kembali kedepan. Aku terdiam sejenak dan seakan berusaha memikirkan sesuatu tapi tidak tau memikirkan apa.

Mobile berdering...
Astaga aku hampir mencampakkannya karna terkejut. Ibu menghubungiku...

"Bibi... kami sudah hampir sampai, tolong buka gerbang" Aku sudah mengerti. Itu adalah kode bahwa mereka hampir sampai dan ibu mengatakan bibi karna Prisil ada bersama ibu.

"Bersiap-siap, mereka akan tiba!" aku berteriak dari dapur dan mereka terlihat mulai grasak grusuk tidak sabar. Salah seorang sudah mematikan lampu dan bibi bergerak keluar untuk membukakan gerbang.

Ibu dan prisil memarkirkan kendaraannya dihalaman depan dan mereka keluar dari mobil dengan pakaian yang sangat santai. Tidak hanya pakaian prisil, aku juga sudah menyediakan gaun putih untuk ibu. Ibu dan prisil mulai mendekat kearah bibi sementara bibi mulai terlihat sedikit gelisah karna takut salah berbicara jika diajukan pertanyaan oleh prisil tentang banyaknya kendaraan yang parkir disepanjang pinggir jalan rumah. Ya, kali ini bibi memiliki tanggungjawab yang besar selain mengurus rumah. Jika dia gagal meyakinkan prisil, maka bibi akan mengecewakan banyak orang yang sudah menunggu didalam ruangan.

"Bibi... kenapa lampu didalam rumah tidak dinyalakan?"

"Iya bu maafkan saya, dari siang saya bantu tetangga sebelah karna ada acara dirumah mereka"

"Acara apa bi ?"

"Anak tetangga kita akan menikah non, jadi sekarang acara lamarannya"

"Oh ya? pantas saja banyak kendaraan parkir di depan. Tapi.... bukankah anaknya masih kelas 3 SMA?

Bibi mulai terlihat gagap berbicara dan ibu seakan berusaha menenangkan suasana dengan memegang pundak prisil "Namanya jodoh sayang, siapa yang tau? Nenek saja waktu seumuran kamu sudah menikah. Lagian mereka hanya tunangankan bi? belum tentu juga mereka nanti menikah"

"Hehehe... iya ibu bener" Bibi tersenyum lega karna diselamatkan oleh Ibu sementara Prisil hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Eh... bibi mau kemana?" Prisil menghentikan langkah bibi yang bergerak menuju rumah.

"Mau kedalam menghidupkan lampu non"

"Tidak usah bi biar kami aja nanti yang menghidupkan. Bibi bantu saja lagi tetangga siapa tau mereka masih butuh bantuan"

"Baik non..." Bibi bergerak balik arah menuju gerbang sementara Ibu bersyukur karna Prisil bertindak bijak demi kelancaran acaranya yang tidak dia ketahui.

Ibu dan Prisil bergerak menuju rumah, tiba-tiba ibu berhenti "Aduh... kamu duluan dulu, nenek lupa membawa handphone"

"Baiklah nek"


 

Prisil mulai mendekati pintu rumah. Dia membuka pintu tapi ternyata pintu itu dikunci. Prisil memasukkan tangannya kedalam kantong celana jeansnya untuk mengambil kunci rumah kemudian membuka pintu rumah. Rumah ini sungguh sangat gelap karna tidak ada lampu satu pun yang menyala bahkan lampu halaman. Tidak sulit untuk prisil menemukan saklar lampu karna saklar itu terletak dibalik pintu rumah. Prisil cukup hafal dengan kondisi rumahnya, bahkan jika dia buta pun dia akan tetap mengingat detail rumahnya. Sejujurnya, setiap desain rumah tidak pernah bergeser, apapun itu. Mama prisil tidak pernah memberi ijin untuk merubah desain rumah, tidak tau mengapa.

"Supriseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee......"

Prisil terlompat berteriak karena kaget, bukan karena melihat suasana pesta melainkan karna teriakannya. Wajar saja, prisil bahkan belum berbalik setelah menghidupkan lampu sudah dikejutkan seperti itu. Prisil terlihat panik ketakutan, dia terjongkok dan menutup telinganya dengan posisi masih menghadap kedinding. Prisil terlalu panik sampai dia kehilangan konsentrasi sesaat. Prisil mendengar banyak yang mentertawakan dia, perlahan konsentrasi prisil pulih "Surprise?" prisil berbisik perlahan pada dirinya sendiri sambil melepaskan tangannya dari kuping kemudian menoleh kearah belakang dengan posisi masih jongkok.....

Happy Birthday prisil... Happy Birthday prisil...
Happy Birthday, Happy Birthday...
Happy Birthday prisil

Prisil seakan terpaku membisu sampai ibu datang menopang prisil untuk berdiri. Prisil menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangan karna terkagum dengan pesta yang disediakan untuknya. Ini bahkan diluar dari dugaannya...

Lagu terus berkumandang dengan diiringi musik dan tepuk tangan, sementara prisil masih terus menikmati pemandangan ruangan yang tertata sangat elegant dan meriah dihiasi dengan warna kesayangannya. Selain itu prisil sebenarnya sedang mencari keberadaan mamanya. Walaupun semua orang diruangan memakai topeng, rasanya tidak akan sulit bagi prisil menemukan mamanya. Mereka hanya memakai topeng mata, kalaupun semua wajah tertutup tidak akan membuat prisil kesulitan menemukan mamanya.

Ditengah kerumunan tamu, prisil menunjuk kearah mamanya. Spontan para tamu yang berada didepan mamanya bergeser untuk membuka jalan bagi prisil mendekati mamanya. Saat orang-orang yang berada dibagian depan mamanya bergeser. prisil yang tadinya sudah bergerak mendekat tiba-tiba berhenti. Prisil meneteskan air mata dengan spontan... Matanya tertuju kearah mamanya dan air matanya turun semakin deras sampai akhirnya prisil berlari memeluk mamanya.

Aku bisa merasakan pelukan prisil yang begitu hangat dan salah satu tangannya menekan punggungku kuat seakan tidak ingin aku melepaskan pelukannya. Aku meneteskan air mata melihat putriku menangis terharu seperti itu. Kuelus lembut rambut putriku dan kubisikkan ditelinganya 

"Selamat ulang tahun peri kecil kesayangan mama. Mama sangat menyayangimu nak, semoga kamu selalu bahagia dan mama akan selalu berjuang untuk kebahagiaanmu"

"Terimakasih mama... Terimakasih..." Terdengar suara prisil yang begitu lembut dari balik tubuh mamanya.. "Aku sangat bahagia dan aku tidak pernah sebahagia ini sepanjang hidupku. Bisakah kebersamaan ini terjadi selamanya?"

"Tentu sayang...bukankah kita selalu bersama?"

"Iya mama... kita berdua selalu bersama dan kita semua akan bersama selamanya"

"Tentu sayangku,,, tentu....."

"Aku sangat mencintai mama... Aku sangat mencintaimu...." Senyum prisil begitu merekah dan airmata terharu itu masih terus mengalir dipipinya. Matanya tidak berhenti menatap kearah seseorang yang berdiri tepat dibelakang mamanya, seseorang yang dia pegang erat tangannya dengan tangan kosong prisil lainnya.

Ibu melepaskan prisil dari pelukanku dan membawanya untuk berganti pakaian ke kamar. Suasana kembali meriah ketika pembawa acara melepaskan keheningan sesaat tadi. Pada akhirnya semua menyibukkan diri kembali untuk menikmati pesta.

Baru saja aku berbalik untuk pergi kedapur, tanpa sengaja aku menabrak seorang pria yang ternyata berdiri tepat dibelakangku. Tubuhnya terlalu tinggi dan aku baru saja menabrak dadanya. Aku tidak menyangka bahwa aku sependek itu. Aku mendongakkan kepalaku ke atas dan mencoba menjangkau wajah pria tersebut. Astaga.... percuma saja karna semua orang dipesta ini memakai topengnya masing-masing.

"Maaf saya tidak sengaja"

"Bukan masalah" pria itu meletakkan tangannya di kedua pundakku dan aku hanya memberikan senyuman kecil sambil berusaha melepaskan diri dengan gerakan tubuh sehalus mungkin

"Permisi... saya mau kedapur"

"Silahkan..."



Pria itu melepaskan kedua tangannya dan memasukkan tangan kirinya kedalam saku celana. Ya... tentu saja aku ingat bahwa itu adalah pria yang tadi mengagetkanku ketika di dapur. Aneh sekali, kenapa dia berani bersikap seramah itu dikondisi orang ramai seperti ini. Seakan dia tidak khawatir jika anggota keluarganya melihat tingkahnya seperti itu. Begitulah kurang lebih yang aku katakan dalam diriku. Tidak ada yang harus aku lakukan di dapur... semua persiapan makanan sudah diserahkan kebagian catering. Aku hanya merasa sedikit gelisah dan entahlah... pikiranku seakan terusik. Ini adalah pesta putriku dan aku merasa terbebani dengan pikiran yang tidak bisa kupastikan. Mungkin segelas kopi hitam andalanku bisa memperbaiki keadaan.

Aku merasa semakin terasing saja...
Aku bisa mendengarkan dengan jelas suara gemuruh pesta, orang-orang bersorak-sorai ketika ada hiburan-hiburan yang disajikan, gelas-gelas bersulangan, canda tawa, alunan musik, sementara aku disini berdiam diri seakan tidak ada yang membutuhkan kehadiranku. Tapi tidak...

"Hey... apakah menikmati kopi sendirian terasa lebih baik dibandingkan melihat kebahagiaan putrimu? Rasanya bertahan dikeramaian untuk sesaat bukanlah masalah jika itu demi orang yang kamu cintai. Ikutlah bergabung dengan putrimu dan jangan egois memilih kesenangan kesendirianmu"

"What?" Bisikku dalam hati. Keningku mengerut, aku terheran menatap kelancangan dia berkata seperti itu. Berani sekali dia mengatakan seperti itu seolah-olah aku adalah seorang anti-sosial.

Dia pergi bahkan ketika aku belum sempat mengatakan apapun...
Keterlaluan sekali ketika dia mencoba menganggap bahwa aku tidak bahagia dengan kebahagiaan putriku. Dia berkata seakan sudah mengenalku sangat lama dan seakan dia mengerti dengan kesepianku saat ini. Entahlah, tapi melihat pria itu seakan memaksaku untuk memikirkan banyak hal yang tidak bisa aku tebak. Tapi ada benarnya jika aku tidak berdiam diri di dapur sementara ini adalah acara putriku, dia pasti sudah mencariku.

Aku mencoba mengambil sela dari setiap tubuh orang-orang yang berada dipesta itu sekedar untuk menerobos ke depan, barangkali prisil ada didepan untuk menunjukkan keanggunan dirinya malam ini. Aku yakin putriku sudah mencariku dan dia akan marah jika aku tidak segera bersamanya. Aku bisa melihat senyuman yang merekah itu diwajahnya. Syukurlah dia bahagia dan sepertinya aku berhasil menciptakan pesta ulang tahun yang dia inginkan. Dia melihatku kemudian melambaikan tangannya untuk memanggilku bergabung bersaman dia yang sedang mengobrol serta bersenda gurau dengan beberapa temannya. Aku mendekat kearah putriku dan merangkulnya. Prisil mencoba memperkenalkan teman-temannya satu per satu sampai akhirnya prisil memperkenalkan aku pada seorang pria. Dia lagi... pria yang sama dan yang selalu muncul berulang dihadapanku. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa bergabung dengan putriku padahal dia terlihat lebih dewasa walaupun aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.

"Mr. Walstron mam...."

Namanya seperti familiar ditelingaku tapi bisa dipastikan aku tidak punya kenalan dengan nama itu "Namanya seperti nama asing"

Teman-temannya  tersenyum kecil dan begitu juga dengan prisil "Ya mama... tuan walstrom ini memang berasal dari prancis. Mama tidak lihat bagaimana penampilan fisiknya?"

"Mama tidak terlalu memperhatikannya karna kesulitan mengenali wajahnya. Rasanya beliau berbahasa Indonesia dengan sangat baik"

Baru saja prisil ingin merespon pernyataan mamanya tapi tuan walstrom sudah menyela terlebih dahulu "Saya.... saya sudah sangat lama di Indonesia. Kebetulan saya juga menikahi seorang wanita Indonesia dan kami sudah memiliki seorang anak"

Aku hanya tersenyum dan memberi respon kebingungan sampai dia kembali melanjutkan perkataannya "Saya bule berambut hitam jadi terlihat memiliki ciri khas Indonesia"

Lesya adalah teman prisil, wanita itu mendekap walstrom "Ini papa saya tan..." Aku tersenyum ramah kepada tuan walstrom dan juga putrinya. Aku merasa bersalah karena sempat kesal dan berpikiran buruk tentang pria itu. Ternyata dia adalah orangtua dari teman prisil.

Sepertinya pria ini menikahi wanita yang sangat hitam, atau entahlah. Pikiranku sangat buruk sekali. Ya, mungkin karna aku tidak melihat sisi blaster pada Lesya. Tidak pada hidung, kulit, tinggi badan atau warna rambut. Lesya adalah gadis berkulit sawo matang dan dia sangat manis, dia memiliki ciri khas Indonesia pada umumnya. Entahlah, selalu ada kemungkinan lain barangkali...

Pesta masih terus berlanjut dan semakin larut semakin meriah. Cukup lama waktu perayaannya tetapi tidak memunculkan kekhawatiran karena hampir semua teman-teman prisil datang membawa orangtuanya.. Jika tidak diatur oleh pembawa acara, mungkin perayaan itu akan berlanjut sampai subuh. Pukul 12 malam, teman-teman prisil sudah mulai berpulangan satu-persatu bersama dengan keluarganya.



Aku duduk disalah satu bangku dari sekian banyak bangku kosong yang terletak hampir disudut ruangan. Sambil meneguk kopi, aku memperhatikan mereka yang tersisa diruangan itu. Ibu yang sibuk dengan facebooknya, putriku yang sibuk mengobrol dengan Lisya sahabatnya, bibi yang sibuk merapikan ruangan dibantu dengan pekerja tetangga sebelah, Mr.Walstron yang memainkan piano dengan sangat piawainya. Aku merasa ada yang berbeda dan tidak asing dari pria itu. Musik yang dia mainkan sangat indah, jarinya menekan tuts piano dengan sangat lentiknya. Permainan musiknya bisa meluluhkan banyak wanita.

Sekitar pukul 1 prisil memberikan kecupan selamat malam padaku dan ibu. Ibu menyusul tempat yang aku duduki untuk menikmati kopi yang masih ada tersisa didalam teko minimalis kesayanganku.

"Tidak berniat bergabung sayang" aku membelai lembut rambut putriku yang berdiri ditengah ibu dan aku.

"Tidak mama... prisil sangat lelah dan sangat bahagia (prisil membuat senyuman lebar kemudian memeluk ibunya) terimakasih mama, prisil sangat bahagia"

"Sama-sama sayang..."

Prisil melepaskan pelukannya dariku kemudian memegang kedua tangan ibuku. Pandangan matanya sangat lembut kepada ibu seakan ada hasrat yang tertumpuk dalam hatinya untuk ibu. Ibu tersenyum padanya kemudian membelai lembut pipi prisil. Ibu seakan mengerti maksud dan tujuan prisil tanpa harus mengatakannya. Aku merasa aneh dengan hal itu.

"Tidurlah sayang, mulai besok akan menjadi hari yang sempurna untukmu. Happy birthday cucuku"

Prisil menganguk sambil tersenyum kemudian meninggalkan kami. Aku memandang ibu dan dan ibu memicingkan matanya seakan tidak suka dengan caraku memandang ibu. Ibu hanya mengangkat kedua bahunya memberi kode bahwa ibu tidak mengerti dan ibu meneguk kembali kopinya.
***


 

Suara klakson dan brummm.... brummmmmmmm.....

Mobil menancap gasnya dengan meninggalkan jejak suara yang mengganggu.

Suara burung-burung itu sangat indah, mereka bernyanyi terlalu subuh dan mereka berhasil membuyarkan kekesalanku. Masih tertidur 2 jam setelah pesta semalam dan sekarang aku harus bangun lebih pagi. Sudah terlanjur terbangun, rasanya aku tidak perlu tidur lagi. Aku pergi kedapur untuk membuat secangkir kopi panas dan menikmatinya dibalkon kamar menunggu sinar matahari membuat pemandangan dunia menjadi kuning. Setelah itu aku mulai mandi dan mempersiapkan diriku untuk berpetualang didunia luar. 
Damn it!! Siapa manusia yang membuat keributan sesubuh ini? Kendaraan itu membuatku terbangun dari tidur. Aku mencoba mengumpulkan tenaga menggerakkan tangan untuk menghidupkan lampu meja yang tepat berada disebelah kananku. Masih pukul 5 subuh dan sepertinya jarang lingkungan rumah ini mulai berkeliaran sesubuh ini.

Sudah pukul 7 lewat dan aku tidak juga mendengar suara kesibukan dari lantai atas. Tidak ada suara musik, tidak ada suara benda berjatuhan dan tidak ada suara prisil berteriak dari lantai atas untuk menanyakan barang-barangnya padaku. Ada apa? itulah pertanyaan dalam hati. Aku khawatir bahwa dia sangat kelelahan dan menjadi lama bangun. Kuhentikann sejenak kegiatanku menyiapkan makanan di meja makan makan dan beranjak kelantai atas. Masih sampai ditangga, aku melihat ada secercah cahaya terang keluar dari balik pintu kamar prisil. Pintu kamarnya sudah terbuka sedikit.


Apakah semalam prisil lupa menutup pintu kamarnya?

Cahaya memantulkan sinarnya sangat cerah dari celah pintu kamar. Rasanya lampu kamarnya tidak secerah itu karna prisil tidak pernah memanfaatkan lampu LED yang berukuran 5 watt tersebut kecuali jika dia mencoba mencari sesuatu yang hilang dikamarnya.





Prisil lebih senang dengan pencahayaan lampu proyektor bulan bintangnya. Ketika malam maka dia merasa sedang berada diluar angkasa karna lampu proyektor tersebut memenuhi seluruh kamarnya dengan pantulan cahaya bulan bintang. Itulah alasannya mengapa prisil memintaku untuk membuat ruangan belajar pribadi, dia tidak ingin merusak suasana luar angkasanya dikamar karna harus belajar dengan pencahayaan yang lebih terang. Dan itulah alasan lain mengapa prisil tidak begitu suka membiarkan sinar matahari bebas memasuki kamarnya.

Perlahan gerakanku melangkah maju mendekati kamar putriku. Aku masuk dan mendapati kamarnya sangat bersih dan rapi. Itu bukanlah kondisi kamar prisil yang dia temui ketika prisil berangkat sekolah atau ketika dia meninggalkan kamarnya. Jendela kamar prisil terbuka lebar, angin pagi itu menghembuskan nafasnya kedalam kamar prisil hingga mengibarkan vitrage sutra yang merupakan bagian dalam gorden.

Jantungku berdegup kencang seketika. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah prisil pergi tanpa berpamitan denganku, setidaknya dia akan mencoba menghubungiku jika tidak menemukanku walau sekedar berpamitan. Dimana putriku?

Aku mengitari kamar putriku dan berharap mendapatkan jejak yang membuktikan bahwa dia ada dikamar ini semalam. Tapi tidak ada. Bahkan aku merasa tidak ada barangnya yang bergeser sama sekali.
"Prisil... prisil.... dimana kamu nak?"Aku mencoba memanggil putriku dan mengiatari kamarnya yang luas. Aku memanggilnya sambil membuka daun-daun pintu yang ada dikamarnya. Tidak hanya dikamar, tapi juga ruanga-ruangan yang ada disekitar luar kamarnya. Aku kembali masuk kedalam kamar prisil setelah memastikan bahwa dia tidak ada diluar. Kelar !!!! aku sudah memeriksa seluruhnya dan tidak juga menemukan putriku.

Pikiranku melayang dan emosiku semakin tidak stabil "Bibiiiiiiiiiiiiiiiiiii......." Aku berteriak sekuat tenaga dan terus menekan jari-jariku sekedar untuk menenangkan diri. 


Bibi terdengar lari dengan tergesa-gesa dan menerobos cepat menyentuh lenganku "Ada apa nyonya?" Wajah bibi pun terlihat menegang. Wajar saja dia terlihat panik karena teriakanku barusan dan dia melihat tubuhku yang mulai mengigil

"Dimana prisil? dimana putriku?" Aku tidak bisa menahan rasa khwatirku, tidak!! jika itu berurusan dengan putriku. Mereka diluar sana menganggap aku terlihat santai, tapi mereka tidak tau bahwa putriku bisa membuatku menjadi hancur berantakan

Bibi mulai terlihat panik sendiri dan sibuk memandangi seluruh ruangan kamar. Bibi tidak menjawab apapun karna bibi juga tidak mengerti dengan pertanyaan tuannya.

Airmataku mengalir dengan derasnya, aku terhanyut dalam isakan tangis. Kakiku bergemetaran dan aku mencoba menahannya dengan menyandarkan tubuhku pada dinding. Aku hanya melihat lurus kedepan kearah tempat tidur putriku dengan tubuh yang mulai melemas. Hatiku sangat sakit dan dipenuhi kekhawatiran, apakah selama ini yang dia takutkan akan segera terjadi? jika ya, maka habislah riwayatku.

"Nyonya... nyonya.... ini ada pesan yang terletak di meja belajar dari perpustakaan nona prisil"

Airmataku yang deras memudarkan pandanganku ke bibi, aku tidak bersemangat membaca pesan itu karna tubuhku semakin dipenuhi tumpukan batu besar ketika bibi mengatakan 'pesan'. Pesan apa?

Dengan tangan gemetaran, aku mengambil secarik surat yang diberikan bibi. Sesaat aku memandang wajah bibi untuk memohon penguatan. Aku berharap bibi sudah membacanya dan isi pesan itu bukanlah pesan  yang buruk. Tapi percuma, bibi menunjukkan ekspresi wajah yang nyaris mendekati kondisiku saat ini.


 

Gemetar pada tanganku mulai merambati seluruh permukaan kertas dan dengan mencoba mengumpulkan sisa tenaga, aku membuka pesan tersebut. Bukan cahaya terang yang aku dapatkan, bukan oksigen baru yang aku dapatkan setelah kehilangan banyak oksigen, bukan kekuatan yang aku dapatkan melainkan sebaliknya. 

Surat itu membuat pandanganku semakin gelap, aku merasa melayang dan tidak memijakkan apapun, tubuhku terhempas jatuh kelantai, aku merasakan sakit disekujur tubuhku tapi aku tidak bisa lagi menyentuh bagian-bagian yang sakit itu selain merintih lemah. Boneka teddy bear putih besar yang terletak disalah satu meja kamar putriku menjadi pandangan terakhir yang kulihat diiringi suara bibi yang terus memanggilku, setelah itu aku tidak merasakan, melihat dan mendengar apapun........


***


To Be Continued ...

 

Postingan populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…