Kamis, 17 Maret 2016

l'ULTIMA COLLINA ...

Hari Jumat yang indah...
Semalam aku baru saja membeli Gaun prom panjang tanpa lengan dengan renda gaun pengantin berwarna merah seksi.
Aku sengaja membeli gaun itu bersama dengan sebuah patung busana agar gaun itu tetap indah berdiri menawan diatas lantai.
Aku meletakkannya didalam kamarku agar menjadi pemandangan terakhir sebelum akhirnya gaun itu berpindah ketubuhku.
Alarm mobileku berbunyi dan aku mencoba meraih mobileku yang terletak dimeja sebelah tempat tidur, dengan mata masih mengantuk aku mencoba membaca memo yang muncul dilayar mobile :

"Spesial Jumat Indah ..."

Ya...
Ini adalah jumatku untuk yang keratusan kalinya.

Senyumku begitu indah ketika aku membaca tulisan itu saat mataku terjaga dari tidur yang panjang.
Aku sengaja tidur lebih awal semalam, sekedar untuk mendapatkan banyak semangat hari ini.
Aku bergerak dari ranjangku menuju meja belajar yang ada disudur kamar, mengambil tinta berwarna merah dan mengambil kalender meja.

Jumat di minggu ke-115 ...
Aku tersenyum manis setelah melingkari tanggal hari ini kemudian bergegas mempersiapkan diri.

Aku tau bahwa aku akan selalu cantik menggunakan pakaian wanita yang feminim seperti rok ataupun gaun.
Dia pasti akan sangat menyukai penampilanku ini, dia akan terpesona karna aku tau bahwa dia sangat suka ketika aku berpenampilan layaknya seorang wanita feminim.
Sesungguhnya dia menyukaiku apa adanya, tapi pasti selalu ada yang memiliki nilai spesial dimata manusia manapun.


Aku tidak ada hentinya memandangi diriku didepan kaca yang tingginya 5cm lebih panjang dari tinggi badanku.
Kaca itu berdiri tegap diatas lantai dan mungkin kaca itu sudah lelah memandangi diriku berkali-kali.
Aku memadukan pakaian itu dengan sebuah high heels berwarna hitam elegant yang dipenuhi dengan renda bunga setingi 12cm.
Kemudian aku melengkapi diri dengan accessories biasa namun menampilkan kesan elegant, make-up yang natural tapi terkesan seksi dan tentu dilengkapi sebuah tas dompet pesta berwarna hitam elegant.

Perfect .....
Itu adalah kata terakhir yang aku ucapkan setelah aku memutuskan sudah siap bergerak dari depan cerminku.
Aku menganggap bahwa cerminku mengatakan bahwa aku adalah wanita tercantik yang ada dimuka bumi ini, aku mendengar bisikan halus  itu dari cermin.
Sungguh... itu hanya sekedar imajinasi ciptaanku.

Aku bergerak meninggalkan rumah dan mengendarai mobilku diiringi lagu acoustic yang selalu dia kirimkan padaku...
Entah itu suara dia atau pun suara orang lain, tapi aku hanya menikmati arti dari setiap lirik lagu tersebut.
Karna apa?
Karna dia selalu memiliki makna tersendiri setiap mengirimkan sebuah lagu untukku.
Lagu-lagu itu sudah sangat banyak dan aku mengumpulkannya dalam satu folder, aku ingin lebih mudah menemukan semua lagu itu untuk diputar.
Aku akan bertemu dia... sungguh aku sangat merindukannya.

Aku mengendarai mobilku melintasi jalan demi jalan, macet demi macet dan lampu merah yang lebih banyak jumlahnya daripada lampu hijau.
Kenapa rasanya perjalanan ini membuat waktuku terulur banyak dan membuatku kehilangan banyak waktu.
Tidak cukupkah orang-orang diluar sana banyak menghalangiku?
Kenapa waktu pun serasa bersemangat untuk menghalangi semangatku ini?
Kenapa pilihanku selalu salah bagi semua orang dan bagi semua hal?

Tidak...
Aku tidak menyerah, aku tetap bersemangat karna hatiku sedang mengarahkanku untuk hal yang belum aku ketahui, tapi aku percaya bahwa itu yang terbaik untukku.
Aku menghapus semua kegelisahan itu dengan menikmati segala kenangan indah yang sudah aku lewati bersama dia.
Sungguh sangat indah, sangat indah...
Banyak hal yang berat untuk dilalui tapi ada banyak hal lainnya yang sangat indah untuk dikenang.
Aku merasa sempurna,
Aku merasa menjadi seorang wanita seutuhnya,
Aku merasa hidup dengan cinta,
Aku merasa berharga untuk seseorang ketika dia berjuang untukku,
Aku merasa seperti seorang ratu ketika dia memperlakukan aku begitu terhormat,
Aku merasakan segala hal yang dikatakan mereka tentang jatuh cinta,
Ya.... akhirnya aku mengerti apa itu cinta.

Aku hanya tersenyum manis diiringi setiap lagu-lagu indah yang selalu mengalun.
Sampai  akhirnya aku tidak sadar bahwa aku sudah lepas dari kepadatan kota.
Baiklah, sekarang aku akan menyusuri jalan lintas sampai kemudian aku harus melintasi jalan sepi ditengah-tengah rimbunan pohon.
Aku berhenti sejenak diperempatan jalan untuk memastikan arah jalanku.
Aku membuka laci  dashboard dan mengeluarkan buku diaryku.
Aku membuka lembaran demi lembaran sampai akhirnya aku menemukan kertas memo yang kucari.

"l'ultima Collina .... See you and i love you"

Aku hanya perlu arah barat, tidak ada arah lain selain kearah barat.
Aku mengambil memo itu hanya sekedar membuatku kembali bersemangat bahwa pertemuan itu akan menjadi kenangan tidak terlupakan sepanjang hidupku.

Dari pukul 7 pagi dan sekarang sudah pukul 11 pagi, tapi aku masih berada dalam perjalanan.
Dimana?
Dimana?
Hanya itu pertanyaan yang ada dipikiranku.
Tidak ada lagi siapapun, tidak terlihat manusia manapun atau makhluk manapun melintas.
Hanya aku ditengah-tengah hutan ini dan aku tidak bisa lagi menggunakan mobilku karna tidak ada jalan yang bisa dilewati dengan mobil.

Ah masa bodoh....

Aku menggerutu kesal.
Kesal bukan karena aku tidak bisa lagi membawa mobil, tapi karna aku akan kehilangan banyak waktu.
Semangatku sangat menggebu, cintaku semakin meningkat, rinduku memuncak, dan jantungku berdetak kencang seakan memaksaku untuk segera bertemu dengan penenangnya.

Tidak...
Aku tidak akan menyerah.
Aku tau bahwa l'ultima Collina itu ada diatas sana dan aku hanya perlu berjalan keatas melintasi hutan ini.

Aku membuka heelsku dan memegang keduanya dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri memegang tasku.
Aku melihat lurus kearah depan, aku melihat banyaknya pohon-pohon besar tersusun rapi bertumbuh diatas tanah.
Aku tidak melihat apapun lagi selain sebuah tanah datar dan cahaya terang dari ujung sana seakan menunjukkan bahwa ini memang jalanku.

Tanpa tersadar air mata menetes membasahi pipiku diikuti dengan senyuman bahagia.
Ya aku tau bahwa aku akan mendapatkan kebahagiaan itu, aku akan membuktikan pada banyak orang bahwa aku akan bahagia dan aku bisa bahagia.
Aku merasakan kekuatan cinta menyelimuti diriku, aku merasakan kerinduan mendalam itu memacu kuat jantungku.
Aku segera melangkah dengan cepat, begitu cepat bahkan seperti berlari, seakan aku mengejar pelukan ibuku.
Aku tidak peduli dengan gaunku yang mungkin akan kotor karna menyapu tanah.
Sungguh, aku merasakan ada yang menggerogoti kakiku ... Begitu kuat dan begitu membuatku semakin bersemangat melangkah.
Airmataku tidak berhenti keluar, semakin lama semakin deras dan terus membasahi pipiku diiringi senyuman penuh harapan, keyakinan dan ketulusan.
Terus melangkah dan melangkah....
Terus dan terus seakan tidak ada halangan apapun untukku melangkah ditengah lebatnya pepohonan dan ditengah kesunyian hutan...
Terus melangkah dan melangkah seakan aku digandeng sepasang malaikat cinta dikanan dan dikiri, seakan Tuhan menerangi setiap jalan yang akan aku lalui, memberikan aku petunjuk arah untuk mencapai puncak kebahagiaanku.

Diatas sebuah batu besar aku terhenti...

Apakah kau mendengar petikan gitar itu?
Hatiku seakan mencoba membuat komunikasi yang baik untuk menyesuaikan pendengaranku dan perasaanku.

Ya....
Aku mendengarkan petikan gitar itu, sangat sendu dan sangat indah.
Itu adalah dia..
Aku menutup mata dan mencoba konsentrasi untuk mendengarkan darimana asal suara itu berada.

Barat.... Dari sana asal suara itu.
Aku segera berlari kearah barat dan sungguh keyakinan itu benar.
Semakin mengejar kearah barat, suara musik itu semakin kuat terdengar ditelingaku.
Aku terus mengikuti suara musik itu sampai akhirnya musik itu menghilang.

Aku terdiam ditempat ketika musik itu menghilang dan memutar tubuh untuk melihat sekeliling...
Aku berusaha mencari jejak baru untuk menuntunku kearahnya, aku berharap musik itu dimainkan kembali.

Dengan penglihatan yang jeli, aku berusaha untuk meninjau setiap hal yang kulihat.
Tidak ada pepohonan lagi?
Kenapa?
Astaga....
Aku sungguh berada dipuncak. Aku terkaget ketika sadar bahwa aku baru saja melewati hutan dan sampai dibukit ini.
Aku melihat banyak pepohonan dari perbukitan ini, aku bahkan tidak bisa lagi melihat mobilku dari bukit ini.
Tenaga apa yang membawaku ketempat ini?
Sudahlah aku tidak peduli dengan itu, yang terpenting aku bertemu dengan dia.

Panas sekali, silau sekali...
Aku sudah mulai merasakan sinar matahari yang menyengat mulai membakar kulitku.
Aku sudah terlalu siang sementara dia sudah sangat lama untuk menunggu.
Apakah aku kehilangan jejak?
Oh tidak... aku tidak kehilangan jejak dan semoga petunjuk ini benar.
Aku melihat ada kain putih tertiup angin diujung sana, apakah itu tenda?
Aku bergerak perlahan menyusuri jalan yang dipenuhi dengan batu-batu kecil, aku merasa sangat kesakitan ketika memijaknya bahkan seakan ingin terpelesat saat memijaknya, aku bisa merasakan pijakanku sangat licin dan tajam.
Aku sudah tidak peduli bahkan aku tidak ingin melihat langkahku, aku hanya fokus pada kain yang putih yang berkibar itu.
Langkahku semakin hati-hati sampai akkhirnya aku terhenti dan terdiam.
Airmataku berjatuhan dengan derasnya, airmata tanpa isakan tangis, airmata yang keluar karna hasrat kebahagiaan dari dalam hati.

Indah sekali ....

Inikah yang dia maksudkan?
Apakah ini kejutan indah yang dia berikan.
Kami akan bermakan malam disini dan dia sudah menyiapkan segalanya dengan penuh keromantisan.
2 batang mawar muda berwarna pink didalam sebuah gelas kaca, 2 gelas yang terisi anggur dan 2 piring yang sudah disajikan dengan makanan.
Kedua bangku itu menghadap kearah yang sama, kearah sebuah pemandangan kota.
Aku tidak menyangka bahwa kotaku akan terlihat indah diatas sini, mungkin malam hari akan semakin mempertegas keindahan kotaku.
Sungguh keajaiban membuatku bertenaga untuk sampai pada puncak ini, tentu itu adalah kekuatan cinta dan ketulusanku.

Dengan perlahan kududukkan tubuhku pada kursi disisi kanan dengan harapan bahwa nanti tangan kanannya akan merangkul erat tubuhku.
Ketika aku terduduk, terasa sudah segala keletihan dalam diriku, aku merasa sangat kesakitan tapi aku tidak tau darimana datangnya kesakitan itu karna pikiranku masih menerawang kehadirannya.

Tidak...
Aku tidak boleh terlihat seperti kelelahan, aku tidak ingin dia berpikir bahwa aku tidak bersemangat bertemu dia, apapun itu aku harus tetap menunjukkan hasrat besarku itu.
Ya... Berhasil.
Sugesti itu mampu mengembalikan semangatku dan seakan membiusku untuk melupakan segala rasa sakit dan kelelahan itu.
Aku melepaskan sepatuku dan meletakkannya diatas tanah, perlahan aku memasang sepatu itu kembali dikakiku.
Licin sekali, rasanya kakiku menginjak sesuatu yang membuat kakiku jorok.
Sudahlah, itu tidak penting.

Jam terus berlalu dan aku terus duduk ditempat yang sama.
Selama berjam-jam aku membiarkan tubuhku dibakar oleh panasnya sinar matahari,
Berjam-jam aku merasakan diriku semakin lebih tenang dan ringan,
Berjam-jam hatiku selalu dipenuhi rasa bahagia,
Berjam-jam aku semakin merasa digenangi banyak air yang mulai memenuhi sepatuku dan memaksa menerobos keluar dari sepatuku,
Aku juga bisa merasakan cairan itu menumpuk dari betisku dan mulai membuat gaun merahku semakin basah.
Dia belum datang juga, sementara hari sudah mulai gelap.
Mungkin sesaat lagi, aku hanya perlu bersabar.

Hari sudah semakin gelap dan pemandangan indah itu mulai terlihat.
Seluruh lampu kota terlihat indah dari atas sini,
Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya diatas langit memancarkan cahayanya,
Cahaya bulan penuh tepat diatas kepalaku seakan memaksaku untuk bercermin pada cahayanya,
Angin malam berhembus begitu kencangnya membuat tubuhku semakin bergetar kedinginan,
Tapi aku menikmatinya dan aku merasa bahwa suhu itu sudah bersahabat dengan tubuhku,
Ya....
Dia akan datang sebentar lagi karna dia mengatakan bahwa dia akan menjemputku saat aku mendapatkan indahnya pemandangan dunia dan saat aku merasa bahagia tanpa mengingat atau merasakan rasa sakit apapun. Aku akan merasa seperti terbang, ringan dan tidak mengingat akan semua masa lalu yang menyakitkan.

Apakah dia akan tau bahwa aku disini?
Apakah dia akan tersesat atau bisa menemukan tempat ini semudah aku menemukan tempat ini?
Aku seakan ingin terbang saat aku mendengar suara krasak krusuk dari tengah hutan,
Suara itu menggema ditengah kesunyian hutan. Entah itu dia ataupun binatang buas tetapi jantungku sudah berdebar duluan.
Senyumku melebar dengan indah walau tubuhku sudah mulai melemah, aku yakin bahwa itu dia.
Dengan tangan gemetar, aku meraih tasku yang ada diatas meja untuk mengambil korek api yang sudah aku bawa dari rumah.
Aku mencoba menahan dinginnya suhu malam itu dan mengumpulkan tenaga untuk menyalakan lilin yang sudah ditempatkan dalam wadah cantik dari bahan kaca untuk menghindari lilin padam karna tiupan angin.
Dengan tangan gemetar, aku juga mengeluarkan secarik kertas memo yang terimpit didalam diaryku.
Aku meletakkannya diatas meja dengan mengimpit ujung kertas dengan buku diaryku agar tidak terbang tertiup angin.
Aku ingin dia melihatnya, aku ingin dia yakin bahwa disinilah tempat dia seharusnya menjumpaiku.
Aku sungguh sangat lelah, langkah dia pun begitu lama..
Bisakah aku istirahat sejenak?
Aku duduk dengan santainya dengan menyandarkan kepalaku pada punggung kursi, aku ingin duduk santai sambil menikmati indahnya gemerlap cahaya dilangit.
Mereka akan menjadi saksi cinta kami malam ini...
Perlahan aku terhanyut akan indahnya pemandangan langit dan dinginnya udara malam yang menusuk tajam kedalam kulitku, aku sudah sangat menikmati suhu itu dan rasanya suhu itu akan bertahan lama dalam tubuhku.
Mungkin juga karena tubuhku yang mulai terasa terlalu lelah sehingga aku tidak bisa menahan kelopak mataku lagi dan akhirnya mataku tertidur pulas.

Tidak terlalu lama dari waktu istirahatku,
Aku merasakan sebuah tangan menyentuh leherku, berjalan mulus menyusuri leherku dari depan hingga berhenti dibelakang.
Ciuman mendarat lembut dikeningku.
Perlahan aku membuka mataku dan aku melihat sebuah mata yang menatap lembut untuk membalas tatapanku.
Jantungku berdetak sangat kencang, aku bahkan tidak bisa merasakan apapun lagi selain rasa kebahagiaan.

"Selamat malam sayang..."

Suara itu begitu lembut membisik ditelingaku, membuat airmata jatuh begitu saja dipelupuk mataku.
Aku menutup kembali mataku untuk memastikan bahwa itu bukanlah mimpi.
Aku tetap memejamkan mataku sampai bisikan  lainnya menggema lembut ditelingaku,

"Apakah kamu akan terus menyimpanku dalam angan?"

Aku segera membuka mata sedangkan tubuh itu mundur selangkah dari tubuhku.
Tubuhkan spontan berdiri terkaget dan dengan semangat yang luar biasa seakan tidak ada rasa sakit dan lelah lagi dalam diriku.

"Kau?"

Pria itu tersenyum manis.
Dia sungguh sangat tampan dengan tuksedo hitam itu.
Dia bahkan lebih tampan dari yang kubayangkan selama ini.
Dia merentangkan tangannya sambil tersenyum manis kearahku.
Airmata bahagiaku semakin menjadi-jadi, aku segera berlari kearahnya dan menenggelamkan diri dalam hangatnya pelukan dia.

Tuhan....
Inikah pria yang kucintai? aku sudah sangat merindukan pelukan hangat ini.
Aku tidak mau kehilangan dia, tidak lagi dan tidak sampai kapan pun.
Pelukan ini harus selalu ada dalam kehidupanku.
Jikalau ini hanya mimpi, aku akan biarkan diriku terus berada dalam mimpi.
Apapun itu asalkan aku bersamanya karna hanya dia yang aku inginkan di dunia ini,
Karna hanya dia yang mengerti aku di dunia ini,
Dan hanya dia satu-satunya orang yang menganggap aku penting di dunia ini.

Aku menangis terisak meluapkan rasa rinduku didalam pelukannya.
Aku bisa merasakan dekapannya yang begitu kuat menekanku kearah dadanya.
Airmatanya terasa mengalir membasahi kulit kepalaku.
Dia mengelus rambutku sambil menekan kepalaku semakin kuat kedalam dekapannya mengikuti alunan kesedihan kebahagiannya, hal itu terasa dari airmatanya yang semakin deras.
Aku bisa merasakan detakan jantungnya yang begitu kuat, sangat kuat.
Dia ternyata sangat merindukanku juga.

Berjam-jam kami menikmati pelukan itu dan aku sudah kehilangan rasa dingin itu, aku sudah tidak merasakan apapun lagi selain kenyamanan dan kebahagiaan.
Perlahan dia melepaskanku dari dekapannya. Sambil memegang kedua pundakku, dia menatapku begitu lembut.
Perlahan kedua tangannya berpindah pada kedua pipiku,

"Saya sangat mencintai kamu. Sangat dan sangat.... bahkan lebih dari apapun yang pernah saya miliki dalam hidup saya. Terimakasih sudah memilih saya"

"Aku juga sangat mencintaimu. Terimkasih sudah membuatku berharga dan terimakasih sudah berjuang untukku"

"Kamu pantas untuk diperjuangkan dan saya pantas untuk mendapatkan kamu sebagai piala kemenangan saya"

Dia mencium keningku dengan sangat lembut...

"Apakah kamu sudah siap untuk hidup bersama saya selamanya?"

Jantungku berdetak kencang saat dia menanyakan hal itu, aku tidak butuh waktu lama untuk berpikir bahkan sedetik pun tidak perlu karna aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu bahkan jika pertanyaan itu tidak ada, mungkin aku yang akan bertanya padanya.

"Tentu dan aku siap untuk mendampingimu selamanya, selamanya!!! Jangan tanyakan apapun lagi untuk hubungan ini karna tidak ada hal lain yang aku inginkan selain bersamamu selamanya. Aku sudah lelah terkubur dalam jutaan kenangan indah kita dan aku tidak ingin kehilangan kenangan itu karna kehilangan dirimu. Percayalah bahwa kenangan itu selalu berhasil membawaku kedalam pelukanmu. Kau adalah hal terindah yang pernah hadir dalam hidupku. Kau adalah satu-satunya pria yang berjuang untukku, satu-satunya pria yang selalu berpikir dan menilaiku dari sisi baik, kau adalah satu-satunya pria yang menganggapku berharga, kau adalah satu-satunya pria yang menunjukkan bahwa kau membutuhkanku dalam hidupmu, kau adalah pria yang mengajarkanku arti dari kesetiaan, ketulusan, dan cinta yang sesungguhnya,  aku siap untukmu ... aku siap bersamamu, selamanya"

Aku mengatakan hal yang selama ini kupendam, aku mengatakannya dengan aliran airmata yang deras. Dia memelukku erat seakan dia ingin memaksaku masuk kedalam relung-relung organ tubuhnya.

"Saya tidak akan melepaskanmu, tidak akan pernah. Mulai saat ini dan selamanya kita akan tetap bersama. Kita akan mendirikan keluarga kecil yang selalu kita ceritakan. Ada anak-anak yang melengkapi hidup kita, anak-anak yang akan kita besarkan dengan rasa kasih sayang dan cinta. Kamu akan menjadi seorang mama yang hebat untuk anak-anak kita dan menjadi seorang istri istimewa untuk saya. Saya akan membahagiakan kamu dan anak-anak kita, saya akan berjuang untuk kebahagiaan kalian dan saya akan mencurahkan segala kasih sayang untuk kalian. Selamanya dan untuk kehidupan abadi, saya adalah satu-satunya pria yang selalu ada disampingmu dalam keadaan suka dan duka, saya yang akan mengobati segala kesedihan dan lukamu, saya yang akan mencium keningmu setiap kamu terbangun dari tidur dan saya yang akan menggenggam tanganmu dalam segala kesulitanmu. Saya adalah kebahagiaanmu dan kamu adalah kehidupan saya. Untuk selama-lamanya"


Tidak ada kata, selain pelukanku yang semakin kupererat, senyuman bahagia yang tertoreh dibalik dadanya dan airmata yang terus menerus membasahi pipiku. Malam yang indah dan Jumat yang indah. Awal dan akhir berada dihari ini. Malam menjadi saksi kebahagiaanku pada saat itu disertai seluruh bintang, bulan dan segala hal yang ada dimalam itu. Inilah tempatku seharusnya bersandar dan aku sudah menemukan peristirahatanku. Berakhirlah pencarianku, berakhirlah kesendirianku, berakhirlah penderitaanku, dan mulai saat ini aku akan selalu bersama kebahagiaanku, selamanya.....!!!!

***



"l'ultima Collina .... See you and i love you"
Seorang pria mengambil secarik kertas memo dari atas meja dan mencoba menunjukkannya pada rekan kerjanya yang menggunakan seragam sama sepertinya.

"Bukit Terakhir ... Sampai bertemu dan aku mencintaimu. Itu adalah penggalan bahasa Italia. Aku sedikit mengerti bahasa italia dari pelajaran tambahan ketika kuliah" setelah membaca memo itu, rekan pria lain itu mendekat pada sebuah jasad wanita yang sedang diperiksa oleh seorang dokter

"Buruk sekali kondisinya"

"Bagaimana dok?" sahut pria yang memegang memo tersebut

"Dari kondisi tubuhnya dan dari kekakuannya, saya bisa perkirakan wanita ini sudah meninggal dari 2 hari yang lalu. Cuaca dibukit ini sangat dingin ditambah dengan banyaknya pepohonan disini membuatnya terlihat lebih kaku" Seorang dokter mencoba menjelaskan kondisi mayat seorang wanita dengan gaun merah yang terduduk disebuah kursi dengan kepala menengadah keatas karna kepalanya disandarkan pada punggung kursi.

"Apakah dia dibunuh?"

"Sepertinya tidak. Dia mengalami pendarahan hebat. Telapak kakinya banyak robekan-robekan dan betisnya ada luka koyak besar. Menurut dugaan saya terobek oleh batang pohon karna ada menyisakan serpihan kayu disudut luka. Lukanya sangat dalam begitu pula robekan-robekan pada telapak kakinya. Siapa yang menemukan mayat wanita ini?

"Saya dokter" seorang pria setengah baya mengangkat tangannya dan berusaha maju mendekati dokter yang berdiri disamping mayat tersebut

"Tolong ceritakan kronologinya pak" Salah seorang polisi yang mengambil memo tersebut berusaha mengorek informasi dari pria setengah baya tersebut

"Saya biasa mencari kayu dihutan ini. Sebelumnya saya melihat ada mobil pribadi yang parkir ditengah hutan, saya tau bahwa itu adalah mobil nona ini jadi saya tidak terlalu bertanya. Tapi hari ini saya menjadi curiga karna posisi mobil tersebut tidak berubah, jadi saya memutuskan untuk menjumpai nona ini. Saya tidak menyangka bahwa ini yang terjadi. Padahal dia wanita yang baik" Pria setengah baya itu terlihat bersedih

"Apakah anda mengenalnya dan bersama siapa dia biasa kesini?" dokter menambahkan

"Rasanya tidak ada yang pernah saya lihat mendampingi nona ini. Beliau beberapa kali datang kesini untuk menenangkan diri, hanya saja 3 hari yang lalu saya melihat beliau mempersiapkan tempat ini. Meja dan kursi sudah disiapkan oleh beliau. Saya tanya tapi beliau hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ini pribadi"

Polisi dan petugas kesehatan yang berada disana mulai terdiam kebingungan "Baiklah saya akan mencoba mendeteksi lebih jauh keadaan mayat ini dan kepada bapak polisi, saya persilahkan untuk mencari keluarga wanita ini. Mungkin diary ini akan menjelaskan banyak hal pada kita dan keluarga tentang kematiannya yang menggenaskan ini"

"Tidak cukup menggenaskan dok, lihatlah senyumannya yang manis itu. Sepertinya hal ini sudah membuat keinginannya tercapai"

Semua yang hadir ditempat itu menjadi terdiam dan memandang sedih pada wanita itu. Benar, dia sepertinya sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Senyuman itu seakan menggambarkan kondisi tersebut.

*Selesai*



Fransisca Bintang Theresia Nainggolan :)


Laman

 

DUNIA MERAH Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting