Langsung ke konten utama

Inilah Alasan Kenapa Aturan Tidak Mampu Mengatur


Membahas tentang anak adalah sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Tentu saja, anak adalah sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan kepada setiap pasangan suami istri dan anak adalah makhluk hidup yang paling dinantikan setiap pasangan suami istri. Memiliki seorang anak adalah penantian terbesar bagi mereka yang sudah menikah dan ketika sudah memiliki seorang anak, membesarkan anak adalah suatu tantangan terbesar bagi setiap orangtua.

Membahas mengenai membesarkan anak, tidak jarang kita mendengar tentang tindakan kekerasan pada anak. Saya pernah melihat beberapa kasus ditelevisi mengenai kekerasan pada anak karena anaknya yang sangat sulit diatur, karena anak yang nakal, karena anak yang melawan orangtua dan banyak alasan lainnya. Kerap kali tindakan kekerasan orangtua saat mendidik anaknya bisa mengakibatkan trauma pada anak dan pada beberapa kasus mengakibatkan cidera bahkan kematian tidak disengaja pada anak. Ada banyak cara yang diusahakan orangtua agar anaknya bisa menjadi anak yang baik, dan tentu saja orangtua mengharapkan agar anaknya bisa menjadi anak yang disiplin pada aturan sehingga menjadi anak yang dibanggakan untuk banyak orang. Tidak heran jika banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan pada usia anak yang masih sangat dini dan bahkan banyak orangtua yang tidak segan-segan menyewa seorang pengasuh terlatih untuk memberikan private kepada anaknya dirumah.

Jaman semakin berkembang dan semakin keras, begitulah banyak orang mengatakan tentang jaman sekarang. Pergaulan sudah semakin keras dan dibutuhkan kedispilinan diri agar kita tidak terjerumus pada pergaulan yang salah. Melihat buruknya perkembangan pergaulan jaman sekarang, orangtua semakin lebih banyak khawatir mengenai perkembangan anak. Ada banyak cara orangtua untuk membuat anaknya mengikuti perintah dan aturan mereka sehingga anak mereka tidak terjerumus kedalam pergaulan yang salah. Orangtua menyadari bahwa pergaulan yang salah akan membentuk kepribadian yang salah pada anak mereka dan pergaulan yang benar akan membentuk kepribadian yang baik pula pada anak mereka.

Ya... walaupun saya secara pribadi belum memiliki anak dan belum merasakan bagaimana rasanya mendidik anak, tapi saya yakin membesarkan anak dan membuat anak menjadi disiplin bukanlah hal yang mudah. Terkadang mendengar keluh kesah dan  cerita dari beberapa orangtua mengenai anaknya membuat saya mengerti bahwa membesarkan anak tidak semudah membuat sebuah teori tentang cara mendisiplinkan anak. Tidak hanya mendengarkan keluh kesah orangtua, tapi melihat anak-anak yang bersikap keras kepala dan nakal membuktikan bahwa ada yang salah dengan perkembangan mental anak tersebut. Baiklah saya tidak bisa berbicara banyak mengenai hal ini karena saya tidak cukup baik dan layak memberikan penilaian mengenai hal ini. Tetapi saya akan membantu sedikit bagi orangtua yang membutuhkan teori mengenai cara mendisplinkan anak tanpa membuat anak menjadi tertekan sehingga anak mau menaati peraturan yang sudah ada. Tentu saja ini bukan teori saya, tapi saya mengutipnya dari beberapa teori yang sudah ada dan dari berbagai sumber tentunya. Saya berharap semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca.


Bagaimana caranya agar anak menaati peraturan?
Hal-hal yang perlu diterapkan dalam usaha mendisiplinkan anak : 
  1. Mulailah dari hal-hal yang kecil dulu, kemudian secara bertahap ke tingkat selanjutnya. 
  2. Awal dari disiplin adalah komunikasi yang baik dan sederhana. 
  3. Konsisten pada aturan disiplin yang telah dibuat.
  4. Konsisten antara ayah-ibu supaya tidak menimbulkan kebingungan pada anak. Buatlah kesepakatan tentang peraturan yang harus dijalankan di rumah. Hal ini tentu membutuhkan kekompakan antara suami dan istri dalam membuat peraturan.
  5. Terapkan pemberian reward dan punishment (hukuman). Hal ini perlu diperhatikan dan jangan diabaikan begitu saja. Jika kesalahan terjadi, maka yang melakukan kesalahan tersebut benar-benar harus dihukum. Tidak hanya pada anak, tetapi pada semua anggota di dalam rumah harus mendapatkan hukumannya.
  6. Pemberian perintah dan aturan yang disertai dengan penjelasan mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
  7. Mendampingi anak mengerjakan apa yang diperintahkan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, misalnya pada saat anak disuruh membereskan mainannya. 
  8. Teknik disiplin yang digunakan, sebaiknya memakai dialog yang penuh kasih sayang dan kehangatan. 
  9. Bahasa yang digunakan sebaiknya yang sederhana saja, apalagi si anak masih tergolong balita. Gunakan juga bahasa anak (berdasarkan pada pola pikir animisme anak) . Dengan demikian si anak akan lebih bisa menerimanya.
  10. Aturan disiplin dibuat sedemikian rupa sehingga bahaya dari luar / sisi negatifnya bisa diminimalkan. 
  11. Perhatikan usia anak. Aturan disiplin akan berbeda-beda pada tiap tingkatan tahap perkembangan. Bila masih kecil (baru 1-2 tahun), kesabaran sangatlah mutlak karena mereka cenderung egosentris. Jadi, maklumlah.
  12. Hormati perasaan anak dan hargai juga waktunya. 
  13. Berikan pilihan / alternatif. 
  14. Kerahasiaan aturan disiplin supaya tidak menjatuhkan harga diri si anak.
  15. Peringatkan lebih awal tentang apa-apa yang harus dilakukannya supaya ia bisa bersiap-siap untuk aturan tersebut.
  16. Berikan perintah dengan tegas dan lebih spesifik. 
  17. Tekankan pada hal-hal positif. 
  18. Ketidaksetujuan baiknya ditujukan pada perilaku si anak, bukan si anak itu sendiri. 
  19. Berikan contoh / teladan yang baik karena anak-anak bisa meniru perilaku orang tuanya. Dengan demikian, oang tua bukan hanya sebagai penegak aturan tetapi juga pelaksana aturan. 
  20. Sertakan rasa humor.

Apakah hal- hal yang harus dihindarkan dalam usaha mendisiplinkan anak?
  1. Terlalu sering memberi ancaman (lebih-lebih pada anak yang pandai) karena ia malah akan balik menantang. 
  2. Mendisiplinkan anak dalam keadaan emosi. 
  3. Aturan disiplin yang memaksa, otoriter, keras dan sangat ketat. 
  4. Selalu mengatakan, “Aku ingin …” ( bagi orang tua ). 
  5. Orang tua itu sendiri tidak disiplin, sehingga si anak pun menirunya. 

Apakah aturan- aturan yang penting saat memberikan reward kepada anak?
  1. Hadiah diberikan dengan tujuan tertentu, sebagai dorongan pada anak untuk tetap mempertahankan tingkah laku atau prestasinya yang baik. 
  2. Bila tujuannya ingin mengubah tingkah laku anak sebaiknya jangan memberikan hadiah barang, kecuali untuk pertama kali dalam jangka waktu yang panjang, misalnya saat anak masuk sekolah,  belikan tas atau buku. 
  3. Bila anak sudah terlanjur menyukai hadiah barang, ubahlah dengan sikap yang sabar, ulet, dan konsisten. Perubahan ke hadiah non-barang pun harus dilakukan secara bertahap dan jangan memaksa. 
  4. Kekompakan antara ayah dan ibu dalam memberikan reward. 
  5. Bila akan memberikan hadiah non-barang, lakukan dengan sungguh-sungguh, dalam arti ungkapan kasih sayang, seperti pelukan atau ciuman diberi dengan tulus. 
  6. Konsisten dalam memberi hadiah non-barang. 
  7. Hadiah non-barang harus proporsional, efisien, dan tepat waktu. 
  8. Adakan evaluasi seusai hadiah diberikan, apakah ada penguatan perilaku pada anak. 
  9. Reward jangan diberikan secara berlebih-lebihan. 
  10. Reward baiknya berujung pada reinforcement positif. 

Apakah aturan-aturan yang penting saat memberikan hukuman kepada anak?
  1. Jangan berikan pada anak yang masih tergolong balita karena mereka belum mengerti alasan mengapa mereka dihukum, akibatnya mereka bisa menjadi frustasi. 
  2. Hukuman harus bersifat mendidik. 
  3. Informasikan terlebih dahulu akan adanya sanksi tertentu dari perilakunya yang tidak menyenangkan orang tuanya. 
  4. Adakan evaluasi seusai hukuman diberikan, apakah ada perubahan kesadaran dalam diri si anak. 
  5. Jangan lakukan hukuman di bawah pengaruh emosi yang tak terkontrol.
  6. Hindarkan hukuman fisik. 
  7. Berikan hukuman dengan tegas. Bila anak merengek jangan langsung lemah hati dan nyerah. 
  8. Perhatikan korelasi antara hukuman dengan perilaku. 
  9. Hukuman badan hanyalah dipandang sebagai jalan terakhir. 

Tahukah anda beberapa fakta mengapa hadiah barang bisa menjadi tidak efektif?
  1. Anak menjadi materialistis. 
  2. Anak menjadi konsumtif. 
  3. Orang tua bisa tekor. 
  4. Anak bersikap baik bukan karena kesadaran diri, tetapi karena keinginan untuk mendapatkan barang tersebut.
Tahukah anda beberapa fakta mengapa hukuman badan bisa menjadi tidak efektif?
  1. Anak akan menjadi frustasi. 
  2. Anak bisa menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman tersebut. 
  3. Anak cenderung membiarkan dirinya dihukum daripada melakukan perbuatan yang diharapkan kepadanya. 
  4. Anak cenderung melampiaskan kekesalannya pada hukuman tersebut dengan memukul anak lain. 
  5. Menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, di mana rasa marah, sakit hati dan jengkel akan dipendam selamanya oleh si anak. 
  6. Akan terbentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helplesness).
  7. Anak tidak akan belajar apapun dari hukuman badan. 
  8. Baik reward maupun hukuman, janganlah asal-asal diberikan, melainkan harus mampu membangun / mengukuhkan konsep diri di individu.  Waktu diberikannya reward atau hukuman pun harus langsung pada saat perilaku yang diinginkan / tidak diinginkan itu terjadi. Jangan menundanya terlalu lama.


Pada akhirnya saya akan mengatakan bahwa ini adalah tantangan bagi kita semua. Tentunya hal ini dikhususkan untuk orangtua, tapi ini juga menjadi tantangan bagi kita yang tinggal didalam rumah yang ada seorang anak, semua penghuni rumah memiliki peran aktif untuk membantu orangtua dalam mendidik anak tersebut. Memang tidak mudah, saya percaya bahwa menjalankan sebuah praktik tidak semudah membaca sebuah teori karena kita tetap harus meninjau bagaimana kepribadian anak. Tentu, berbeda kepribadian akan membutuhkan teori yang berbeda dalam mendidiknya. Tapi tidak salah jika teori yang saya berikan untuk dicoba, barangkali teori ini berhasil dilakukan pada anak anda.

Menjadi orangtua adalah sebuah hal yang membahagiakan di dunia ini dan saya juga menginginkan hal itu suatu saat. Saya percaya bahwa orangtua yang saat ini membaca artikel saya adalah orangtua yang baik, orangtua yang akan merawat dan mendidik anaknya dengan baik, orangtua yang sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ini akan menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa menjadi orangtua yang kasar terutama menjadi orangtua yang mudah sekali ringan tangan pada anak membuktikan bahwa mereka adalah orangtua yang gagal. Apakah anda adalah orangtua yang gagal? mulailah perubahan dan belajarlah menjadi orangtua yang terbaik dan secara tidak langsung kita mengajarkan pada anak kita bagaimana cara mendidik anak yang baik dan selanjutnya kita akan mendapatkan generasi yang baik pula.

Demikianlah artikel saya pada hari ini. Saya minta maaf jika ada kesalahan pada artikel ini terutama jika ada kesalahan teori. Saya mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk saya jadikan perbaikan pada artikel  saya berikutnya. Akhir kata saya mengucapkan banyak terimakasih untuk kunjungannya pada blog saya dan saya mengharapkan kunjungan anda kembali. Sampai ketemu lagi pada artikel saya selanjutnya.

Postingan populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB V Kesimpulan Dan Saran - Karya Tulis Ilmiah

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan Dari hasil penelitian hubungan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru, dapat disimpulkan : 5.1.1Dari 86 responden sebagian besar remaja pria mempunyai pengetahuan rendah, yaitu sebanyak 44 orang (51,2%).