Selasa, 08 Desember 2015

Berjalan Bersama Masa Lalu


Bekerja sebagai seorang polisi bukanlah pekerjaan yang mudah ketika alex harus membagi waktunya untuk bekerja dan mengurus anak sematang wayangnya. Jane adalah putri dari wanita yang pertama kali dinikahinya dan jane sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya dimulai dari usia jane 7 tahun. Namun, ketika jane berumur 14tahun, alex akhirnya menikah lagi dengan seorang perawat sekaligus temannya semasa SMA dan berita baiknya adalah jane menyukai wanita itu menjadi ibunya.


Ketika mendapatkan piket malam, esokan paginya alex selalu mengusahakan untuk pulang lebih awal. Alex selalu berusaha agar tidak melewatkan kesempatan untuk memberikan ciuman kecil pada gadis kecilnya sebelum bus sekolah membawanya pergi. Tidak terkecuali hari ini, walaupun jane sudah menjadi seorang gadis remaja. Sayang sekali, hari ini menjadi hari yang buruk karena semalam alex membentak teman pria jane sebelum dia berangkat dinas. Alex mendapatkan jane sedang berbincang dengan seorang pria dihalaman depan dan alex merasa bahwa itu adalah waktu untuk jane beristirahat bukan mengobrol. Alex memang memiliki kewaspadaan yang besar pada putrinya.



"Aku mendapatkan teman-temanku bersama teman prianya di akhir pekan bahkan di hari biasa. Mereka memiliki waktu yang panjang untuk bersama sampai mereka lelah dan pulang kerumah tanpa harus mendapatkan tekanan karena ponsel yang harus berdering atau karna seseorang yang menjemputnya untuk memaksa pulang, dan yang lebih baiknya lagi tanpa harus ada yang mengancam atau memarahi teman prianya" jane harus mengurangi volume pada kalimat akhirnya setelah berbicara pada intonasi tinggi untuk memastikan bahwa ayahnya memahami sindiran itu

Mungkin untuk saat ini jane berhasil memenangkan suasana atau mungkin alex sudah lelah berdebat dengan jane. Alex bergerak menjauh dari jane yang masih tetap berdiri didekat jendela dengan ekspresi wajah yang seakan baru dikenalnya. Alex menyandarkan tubuhnya pada sofa. Dia terlihat begitu lelah dengan perdebatan ini. Dia hanya memandang anak gadisnya yang masih berumur 15 tahun dan sekarang merasa dirinya sudah berumur 17 tahun, memasuki Sekolah Menengah Atas dalam 6 bulan ini sungguh cepat memberinya kematangan emosi, Alex sungguh merasa kehilangan gadis kecilnya.

"Mengertilah ayah, aku bukan gadis kecilmu lagi. Aku sudah dewasa dan sudah duduk dibangku SMA" Jane mulai mendekati alex kearah sofa, berlutut didepan alex sambil memegang kedua tangannya

"Ya.. ayah tidak berpikir bahwa bangku kelas 1 SMA ternyata bisa mematangkan gadis 15 tahun menjadi 17 tahun. Oh sayang... untung saja ayah tidak harus kembali ke bangku SMA, ayah akan cepat mati karna pertambahan umur 3kali lipat setiap tahunnya" Kening yang berkerut dan alex menyertakan tawa kecil dalam perkataannya

"Ayolah ayah jangan bercanda, ini serius. Berhentilah bersikap seakan aku masih gadis kecil yang baru mengenal pria"

"Ya.. mungkin ayah lupa kalau ayah ada memberikan pelajaran tambahan mengenai pria"

Jane mulai menarik nafas panjang untuk menghilangkan kesalnya karna alex selalu mencela perkataannya "Ayah... felix pria yang baik, dia bahkan tidak pernah menyentuhku dan yang terpentingnya, dia bahkan bukan kekasihku. Kami hanya baru saja saling mengenal satu sama lain dan semalam ayah sudah menyerangnya dengan kata-kata kasar. Aku sangat malu ayah melakukan itu sementara kami hanya mengobrol saja"

"Mungkin dalam waktu dekat kalian akan menjadi pasangan kekasih dan dia akan sering menyentuhmu jika kalian sering bersama" alex berusahan menyela setiap perkataan jane

"Baiklah ayah... aku mengerti bahwa ayah hanya mengkhawatirkanku dan berusaha menjaga keselamatanku. Tapi waktu akan terus berlanjut ayah, dan aku tidak bisa menjadi seorang gadis yang hanya memiliki teman wanita. Selama ini aku selalu menjadi gadis kecil yang patuh pada perintah ayah. Aku bahkan tidak pernah memiliki teman pria dan mungkin mereka juga tidak berani berteman denganku karena ayah sudah terlebih dahulu menakuti mereka" lagi-lagi jane berusaha merendahkan kalimat terakhirnya seakan memberikan penekanan kalimat yang akhirnya direspon alex dengan memalingkan wajahnya.

Jane melepaskan pegangannya dari tangan ayahnya dan menyentuh kedua pipi ayahnya, jane memaksa alex memandang wajahnya dan beberapa kali berusaha memberikan tekanan pada tangannya agar ayahnya tidak memalingkan wajah.

"Ayah... aku tau ini sulit ketika ayah harus mendapatkan gadis kecil kesayangan ayah akan tumbuh menjadi gadis dewasa. Aku tidak bisa memahami keseluruhan isi hati ayah, tapi mengertilah ayah bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri (Jane tersenyum dan mencium kening ayahnya) Aku berangkat sekolah ayah, aku menyayangimu"

Alex tersenyum pada Jane dan melihat jane berlalu dari balik pintu. Alex menyandarkan tubuhnya disofa dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Sesaat kemudian alex merasakan sebuah tangan melingkar diatas pundaknya dan mencium kepalanya berkali-kali. Alex membuka wajahnya dan memegang erat tangan yang masih melingkar diatas pundaknya sambil tersenyum manis tanpa berusaha melihat wajah yang masih terus menciumi kepalanya.

"Aku bisa menahanmu atas kasus menguping pembicaraan oranglain yang bersifat pribadi sayang" alex menyandarkan kepalanya pada lengan kiri mariana

Mariana tertawa kecil "Rasanya tidak perlu menguping untuk mendengarkan suara sebesar itu sayang. Kalian yang seharusnya aku tuntut karena memberikan pertunjukkan keras pada gadis kecil sepertiku"

"Baiklah... aku akan dituntut dua kali karna menikahi gadis dibawah umur" Mereka pun menjadi tertawa.

Mariana bergerak pindah kesamping alex dan menarik lembut kepala alex untuk bersandar didadanya.

"Kau ingat saat kita masih berada dibangku SMA?"
 
"Ya, aku ingat bahwa kau memiliki tubuh yang indah dibalik seragam sekolahmu yang kebesaran. Aku ingat bahwa seragam itu menjadikanmu wanita yang tidak menarik dan tidak seksi"

Mariana tertawa mendengar perkataan alex tersebut "Ya, aku tidak menyangka bahwa hanya itu yang paling berkesan untukmu. Andai saja aku tau kalau kau suka mengintip wanita saat berganti pakaian olahraga, mungkin saat itu aku akan melepaskan seluruh pakaianku.

Alex semakin tertawa mendengar perkataan mariana tersebut dan mariana melanjutkan kalimatnya sambil membelai lembut rambut alex "Ibuku sangat menyayangiku dan aku bisa merasakan itu. Ketika muda, ibuku memiliki kisah yang menyakiti perasaannya, bahkan sampai sekarang dia tidak bisa melupakan kejadian itu. Dia memiliki seorang sahabat, mereka sudah bersama ketika berumur 6 tahun dan masih tetap bersahabat sampai mereka dewasa. Mereka saling menyayangi satu sama lain layaknya sebuah keluarga. Ibuku mengatakan bahwa dia gadis yang sangat cantik dengan tubuh yang indah. Banyak pria yang menyukainya tapi ibu berpikir bahwa pria-pria itu lebih menyukai tubuhnya, ditambah lagi karna dia wanita yang menyukai pakaian mini. Sebagai seorang sahabat, ibu selalu berusaha menasehati sahabatnya agar memakai pakaian yang lebih tertutup. Ibu mengatakan bahwa terkadang dia harus membawa pakaiannya agar ibu bisa menyuruh sahabatnya memakai pakaian itu ketika ada pria yang menggoda atau melecehkan sahabatnya. Malam itu adalah acara ulangtahun teman sekelas ibu. Seharusnya ibu berangkat bersama dia, tapi karena ibu terlebih dahulu harus mengantarkan bibiku ketempat kerja, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat masing- masing. Wanita itu memilih untuk berjalan kaki karena jarak dari rumahnya menuju lokasi pesta tidak terlalu jauh. Bukan jalan yang terlalu jauh tapi jalan itu cukup sepi dan gelap" Mariana memberhentikan kalimatnya dan menarik nafas panjang

Alex melepaskan diri dari kenyamanan dekapan mariana. Alex duduk menghadap mariana dan menatap dengan penuh penasaran "Lalu apa yang terjadi?"

"Dia tidak ada dipesta itu dan ibu berusaha menghubungi berkali-kali. Ibu merasa cemas sepanjang malam sampai akhirnya besok pagi ibu mendapatkan kabar bahwa dia sudah meninggal terbunuh setelah diperkosa. Itu sangat menghancurkan perasaan hati ibu dan keluarganya, mereka sudah menganggap wanita itu seperti bagian dari anggota keluarga. Dan kau tau apa yang lebih menyakiti hati mereka?"

"Sekeji itukah?" tanya alex dengan wajah yang begitu penasaran

"Wanita itu diperkosa secara bergilir oleh 6 pria dan mereka semua adalah teman-teman kuliahnya. Wanita itu pernah menolak salah satu pria dari mereka dan pria itu tidak menerima perkataan wanita itu, ibu tidak tau apa yang dikatakan wanita itu, tapi seperti sangat buruk sampai membuat dia kehilangan nyawanya. Dan yang terjadi pada wanita itu adalah balasan untuk perbuatannya, sedangkan ke-5 pria lainnya dengan senang hati membantu membalaskan dendam itu karena mereka menginginkan tubuh wanita itu."

"Apakah setragis itu?" Alex bertanya dengan wajah yang kebingungan

"Kita tidak bisa menduga keajaiban didunia ini sayang dan terkadang keajaiban sungguh membingungkan"

"Aku tidak tau bahwa cerita menyeramkan seperti itu adalah keajaiban untukmu sayang" mereka berdua tertawa sesaat setelah alex berhenti tertawa dan memandang kedua mata mariana "Kenapa kau menceritakan ini?"

Mariana memandang wajah alex dan tersenyum, dia menyentuh pipi kanan alex dan menggesekkan lembut ibu jarinya dipermukaan kulit alex. Setelah itu dia menarik tangannya dan merubah posisi duduk memandang kedepan. Alex menjadi penasaran melihat mariana menjadi terdiam seperti itu.

"Kau tau, semenjak kejadian itu ibuku memperlakukan aku seperti menjaga sebuah berlian. Ibu tidak ingin sembarangan memperlihatkan berliannya pada orang lain, ibu takut jika nanti ada yang mencuri berlian itu darinya. Aku tidak memiliki pakaian seksi bahkan tidak juga memiliki pakaian yang berukuran pas karna semuanya kelonggaran, itu terlihat sangat jelek sekali. Baiklah aku bisa menerima itu, tapi ... Aku bahkan tidak pernah bisa pergi sendiri. Kemanapun aku pergi dan dimanapun aku berada, aku tidak pernah sendirian. Ibu akan selalu menemaniku atau ibu akan menyuruh orang yang dia percaya untuk selalu menemaniku, itu sangat mengesalkan. Aku merasa tidak menikmati masa mudaku dan bahkan sikap pengawalan seperti itu membuatku menjadi seorang gadis yang penakut. Ibu selalu menceritakan hal itu sehingga menjadi sebuah sugesti yang buruk dipikiranku, aku menjadi mudah berpikiran negatif pada oranglain dan sangat mudah menilai seseorang itu berbahaya. Itu sungguh menyiksaku lex" 

Seakan mengerti maksud dan tujuan dari cerita mariana, alex merubah posisi duduk yang sebelumnya mengarah mariana menjadi lurus. Alex menyandarkan kepalanya disofa dan menghadap kelangit-langit. Melihat itu mariana menggenggam tangan kiri alex dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya membelai lembut rambut alex.
"Aku memang belum merasakan bagaimana rasanya hamil dan melahirkan, tapi setidaknya setahun belakangan ini aku bisa mendapatkan keajaiban memiliki seorang anak. Jane adalah putriku walaupun bukan aku yang melahirkannya. Aku masih setahun menemaninya sementara sepanjang hidupnya selalu ada ayahnya yang menemani. Aku tau akan sangat sulit menerima kenyataan bahwa gadis kecil yang dulu bisa kau gendong dan ayun kesana kemari ternyata sudah semakin berat untuk diayun dengan tangan, gadis kecil yang setiap malam tidur disampingmu sudah semakin membuatmu sesak nafas jika dia menindihmu, gadis kecil yang bisa kau mandikan dan menggantikan pakaiannya sekarang sudah bisa mengurus kebutuhan pribadinya sendiri, gadis kecil yang selalu minta disuapin untuk makan sekarang sudah bisa menyiapkan makanan untuk dirinya bahkan untuk dirimu"

Mariana seakan tidak sanggup melanjutkan perkataannya lagi dan mengembalikan memori masa kecil Jane setelah melihat airmata alex mengalir. Rasanya mariana ingin menceritakan kembali masa kecil jane yang selalu alex banggakan pada mariana, setiap saat... setiap mereka mengobrol, alex senang menceritakan masa-masa kecil jane.

"Putri kita sudah meranjak dewasa sayang. Dunia ini sangat keras dan kita tidak bisa selalu menjaganya. Dia harus tumbuh dan berkembang menjadi wanita yang kuat, dia harus merasakan sakit, dia harus mempelajari rasa sakit, dia harus mendapatkan banyak masalah agar dia bisa semakin kuat, dia perlu mengenal banyak orang agar dia bisa memahami bagaimana karakter oranglain. Kelak jika kita tua, tidak ada yang terlalu kita takutkan karna dia sudah semakin kuat menghadapi kehidupan ini tanpa kita lagi. Kita tidak lagi menjadi tempat perlindungannya melainkan dia akan menjadi tempat perlindungan kita. Jika kita sudah meninggalkan dunia ini, kita akan bahagia karna dia akan tetap bertahan tanpa kita. Beri dia kesempatan untuk menikmati masa mudanya, beri dia kesempatan untuk mempelajari bagaimana seharusnya kehidupan ini berjalan"

"Apakah aku harus melepaskannya begitu saja? bagaimana jika... bagaimana... hah... Tuhanku.." Tangisan alex membuat dia sulit melanjutkan kalimatnya dan mariana langsung menarik alex kedalam pelukannya

"Sssstttt... sudah tenanglah sayang, jangan menangis lagi... tenanglah sayang. Kau seperti anak kecil jika menangis" Mariana menenangkan alex dengan mengelus lembut rambut dan punggungnya, sesekali mariana mencium kepala alex agar dia merasa nyaman

"Aku bisa menahan rasa sakit apapun, aku bisa. Tapi aku tidak bisa menahan rasa sakit itu jika berhubungan dengan putriku, aku sangat menyayanginya. Jane adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Aku khawatir jika yang dialami ibunya akan terjadi padanya. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk padanya" Alex berusaha berbicara tenang walaupun airmata tidak bisa berhenti mengalir dan mariana bisa merasakan airmata itu mulai membasahi bajunya

"Itulah sebabnya aku menceritakan kisah itu padamu. Kau harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya. Dia sudah cukup dewasa untuk mendengarnya. Umurnya memang masih 15 tahun, tapi apakah kau lihat dia? dia sungguh gadis remaja yang berpikiran dewasa. Dia gadis cantik yang sangat tenang dan memiliki pikiran yang positif, dia akan menerima kenyataan itu dan menerima kekhawatiranmu selama ini. Aku berharap setelah itu dia akan menjadi hati-hati tanpa harus ada tekanan lagi darimu dan kalian tidak harus berdebat lagi hanya karena itu. Kita akan tetap mengawasinya lex tapi tidak dengan cara menekannya, kita tidak akan melepaskan dia begitu saja karna selama kita hidup dia akan tetap menjadi tanggungjawab kita. Kebahagiaan Jane adalah kebahagiaan kita juga"

"Apakah menurutmu ini akan berhasil?"

"Kita bahkan belum mencobanya sayang, tapi semoga ini akan berhasil. Nanti malam ajak dia keluar dan berdamailah. Aku akan menunggu senyuman kalian berdua dirumah"

"Kau tau satu hal?"

"Ada apa?"

Alex duduk tegap dan menyelimuti kedua pipi mariana dengan jemarinya "Andai saja ketika kita SMA aku mengetahui bahwa selain tubuh yang indah dibalik baju besar itu, ternyata ada ketulusan hati yang lebih indah daripada tubuhmu. Seharusnya aku mengencanimu dan menikahimu diakhir sekolah" Mariana tersipu malu dan Alex mendaratkan ciuman lembut dikening mariana "Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu" alex mendapatkan rona merah diwajah cantik mariana. Alex tersenyum manis melihat mariana tersipu malu dan alex membawa tubuh mariana kedalam dekapannya.

***

Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Alex berharap bahwa dia bisa melewati malam ini hidup-hidup. Dia terlihat sangat gelisah dan bahkan seperti kepanasan didalam mobilnya yang full ac. Alex menunggu terlalu cepat dari jam yang telah ditentukan. Siang tadi alex mencoba menghubungi jane dan menanyakan kegiatan jane malam ini. Keadaan semakin menggelisahkan ketika jane mengatakan bahwa tidak ada kegiatan, tidak ada tumpukan tugas, tidak ada ulangan, tidak ada kencan, tidak ada pertemuan apapun dan jane memiliki waktu yang banyak untuk berjalan-jalan keluar dengan alex.

Jane akan pulang pukul 2.00pm dari sekolah dan setelah itu dia akan mengikuti kelas piano dari pukul 5.00pm sampai pukul 7.30pm. Alex mengantarkan jane untuk kelas pianonya pukul 4.30pm dan terburuknya adalah alex menunggunya. Alex seakan tidak ingin kehilangan waktu walau hanya semenit saja setelah putrinya pulang dari kelas piano.

Apakah begitu? sepertinya tidak juga...
Lebih tepatnya alex terus memikirkan bagaimana memulai pembicaraannya dengan putrinya. Dia sibuk memikirkan kalimat yang akan dia susun untuk mengungkapkan hal yang baik pada putrinya.

Tok... tok... tok...

Alex tersentak kaget karna jane mengetok kuat kaca pintu mobil "Ketukan yang sangat kuat sayang"

"Ayah... aku sudah berdiri didepan mobil dan ayah tidak melihatnya? aku sudah mengetuk pelan dan ayah juga tidak mendengarnya? Aku hampir berpikir terjadi sesuatu pada ayah karna ayah tidak memberikan respon apapun. Maafkan aku mengagetkanmu ayah" Jane menyelinap kecil dan mendaratkan ciuman pada ayahnya

"Baiklah sayang. Ayo masuk"

Diperjalanan....
(Musik di dalam mobil...)
Make it last forever
Come on baby won't you hold on to me, hold on to me
You and I together
Come on baby won't you hold on to me, hold on to me

"Beyonce?" Jane memandang wajah ayahnya dan ayahnya hanya menjawabnya dengan senyuman "Ketika 1 lagu beyonce terputar, aku pikir mungkin lagu yang terselip diantara sekian banyak lagu, tapi jika sampai 7 lagu... sepertinya ayah mengikuti kesukaanku?"

"Lingkungan bisa mempengaruhi selera nak... Setiap hari kau selalu memutarkan lagu beyonce dengan volume yang sulit dimaafkan (Alex tertawa kecil diikuti dengan tawa jane) dan ayah tidak menyukainya. Itu terjadi setiap hari sampai akhirnya ayah pun bisa menghafal liriknya. Ayah harap mencuri lagu dari laptop putri sendiri tidak melanggar hukum" Alex melihat sekilas kearah jane yang menjadi tertawa mendengarnya. Senyuman dan tawa jane adalah bagian yang tidak bisa terlupakan dalam hidup alex. Dia bahagia bisa melihat putrinya bisa tertawa seperti itu.

***

Malam hari artinya gelap, begitulah semua orang mengartikan malam hari. Tapi malam ini tidak terlalu gelap untuk tempat alex dan jane berada. Bintang- bintang malam ini sungguh sangat banyak dan bulan bersinar dengan terangnya, ditambah lagi lampu-lampu taman yang sangat indah. Ada banyak bangku taman yang bisa diduduki alex dan jane, sayangnya mereka lebih suka belajar menjadi monyet. Di taman itu ada sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah, namun batangnya cukup besar, kuat dan kokoh untuk menahan berat badan jane dan alex. Yaa.... disanalah mereka berada, mereka memilih untuk duduk diatas pohon. Ada sebuah batang pohon dibagian paling bawah. Batang itu sangat besar dan kokoh, selain itu batang tersebut memiliki bidang yang lurus sehingga alex dan jane bisa duduk berdampingan dibatang pohon tersebut. Jika dilihat maka akan terkesan seperti di desain, tapi ajaibnya itu terbentuk sendiri.

"Aku tidak menyangka kita memiliki bakat yang sama ayah" canda jane pada ayahnya

"Oh ya? ayah baru tau bahwa memanjat adalah sebuah bakat. Ayah akan mencari perlombaannya untuk kita berdua, mungkin kita akan menang" alex membalas candaan jane dan lagi-lagi alex mendapatkan tawa jane.

Sesaat mereka terdiam dan menikmati pemandangan sekitar. Pemandangan sekitar taman terlihat lebih indah dari atas. Mereka bisa melihat lebih banyak bunga-bunga ditaman, danau kecil yang berada ditengah taman dengan tumpukan keindahan bunga teratai diatasnya, beberapa pasangan yang bermesraan dan beberapa orangtua yang mendampingi anaknya bermain-main di area permainan anak-anak. Wajar saja malam ini terlihat cukup ramai karena hari ini adalah akhir pekan.

"Apakah kau tidak menyukai tempat ini sayang?" Alex memecah keheningan ketika dia mulai melihat jane memfokuskan pandangannya pada sesuatu yang tidak bisa dipastikan alex

“Tidak ayah... aku sangat menyukai tempat ini. Aku senang ayah membawaku ketempat ini. Ini kejutan, Terimakasih ayah” Jane memandang ayahnya yang duduk disebelah kanan dan tersenyum pada ayahnya

“Lalu apa yang membuatmu terdiam seperti tadi?”

“Sebenarnya aku sering sekali ketempat ini sendirian disaat aku mencari ketenangan dan... (Jane memberhentikan sesaat perkataannya. Dia menarik nafas pelan dan menghembuskannya) dan disaat aku merindukan ibu” Lanjutnya sambil tertunduk

Alex menggenggam jemari tangan jane dengan tangan kirinya dan spontan jane merebahkan kepalanya dipundak alex “Lihatlah kearah ayunan yang didekat kolam ikan tersebut. Kau tau sayang, saat itu umurmu masih setahun lebih dan kakimu mulai kuat untuk berjalan walaupun ibumu harus tetap menopangmu. Kita duduk dibangku dekat ayunan itu untuk menikmati pemandangan kolam yang indah, tapi kita tidak sungguh menikmatinya. Kau selalu memaksa turun dari bangku dan menunjuk kearah ayunan. Ibumu mengatakan ‘Jangan putriku sayang, jemarimu memang terlihat besar tapi tetap saja belum kuat memegang pegangan ayunan tersebut. Nanti kau terjatuh dan ayah ibu akan menangis karna itu’ (Jane tertawa kecil mendengarnya). Ibumu mengangkatmu kembali untuk duduk dipangkuannya. Kau gadis kecil yang manis dan penurut. Kau tidak berusaha turun lagi dan tidak merengek ataupun menangis, tapi pandangan matamu selalu kearah ayunan tersebut dan itu meluluhkan hati ibumu. Akhirnya ibumu meletakkanmu diayunan dan mengayunkanmu dengan pelan tanpa pernah melepaskanmu dari pegangannya. Kau tertawa senang dan ibumu menghujanimu dengan ciuman sambil terus mengatakan ‘ibu mencintaimu putriku, ibu sangat menyayangimu. Selalulah bahagia putriku yang cantik’ (Alex meneteskan air matanya dan begitu pula dengan jane) Ibumu bahagia sekali melihatmu tertawa bahagia sayang, ibumu sangat menyayangimu”

“Semenjak itu, pada akhir pekan ibumu selalu mengajak ayah untuk membawamu ketempat ini. Terkadang ibumu datang bersamamu ketempat ini tanpa ayah jika ibumu melihat kau bersedih ataupun bosan. Saat usiamu 4 tahun, kau gadis kecil yang sangat lincah. Kakimu begitu ringannya berlari kesana kemari dan kau juga tentu akan jatuh berkali-kali jika saja ibumu tidak menahan lelah untuk mengikuti kemana arahmu berlari sayang. Ibumu selalu menjaga agar putrinya tidak mengalami kesakitan karena terjatuh, ibumu selalu menopang disaat yang tepat. Sampai pada suatu hari, ditempat ini kau mengatakan ‘Ayah... Ibu... jika nanti jane sudah besar, jane akan membangun rumah besar dan kantor polisi ditempat ini’ 

“Sungguhkah aku pemimpi besar seperti itu ayah?” Jane tertawa kecil walaupun masih terlihat ada airmata dipipinya dan dia menarik kepalanya dari sandarannya dipundak alex. Tangan kanan jane masih dalam genggaman tangan kiri alex dan kemudian jane menutup tangan alex tersebut dengan tangan kirinya. Jane memusatkan perhatiannya pada alex dan sungguh tertarik dengan cerita alex tersebut.

“Ayah dan ibu kebingungan dan hanya tertawa kecil mendengar perkataanmu itu terutama suaramu yang begitu lucunya. Lalu ibumu berkata ‘untuk apa rumah besar dan kantor polisinya sayang?’ lalu kemudian kau berdiri didepan ayah dan ibu. Dengan sangat manisnya kau memegang kembang bajumu dan memutar badanmu kekanan dan kekiri ‘Aku mendirikannya ditaman ini karena ibu bisa memiliki lahan yang luas untuk menanam semua bunga-bunga yang ibu tanam dirumah dalam jumlah yang banyak, aku akan mendirikan rumah yang besar untuk tempat tinggal kita, didalamnya akan ada dapur yang besar dan lebih besar dari semua ruangan yang lain karena ibu sangat suka memasak’ Ibumu tersenyum sambil meneteskan air mata saat kau mengatakan hal tersebut tapi ibumu terlalu cepat mengusapnya agar kau tidak melihatnya, sayang sekali tidak terlalu cepat untuk menyembunyikannya dari ayah. Itu jawaban yang mengharukan sayang, ayah berpikir kau akan memiliki jawaban yang lucu tentang mendirikan kantor polisi sehingga ayah bertanya untuk apa mendirikan kantor polisinya. Ayah berharap saat itu jawabanmu akan membuat ayah dan ibu tertawa, tapi dengan polosnya kau mengatakan ‘Ayahkan bekerja dikantor polisi, jadi kantor ayah akan dekat dengan rumah. Tidak hanya sarapan dan makan malam saja kita makan bersama, tapi disaat siang hari ayah bisa makan bersama kami. Nanti, jika aku merindukan ayah, aku tidak lagi harus menelfon ayah tapi aku akan datang kekantor ayah untuk mencium dan memeluk ayah’ ...”

Tanpa disadari alex meneteskan airmatanya saat mengatakan hal tersebut. Cahaya dimalam itu membuat jane melihat jelas airmata yang membasahi pipi ayahnya. Jane yang pada saat itu juga sedang menangis melepaskan genggaman alex dan memeluk ayahnya dari samping dengan hati- hati.

“Kau tau sayang, awalnya ayah sempat cemburu karna kau ternyata hanya mencintai ibumu. Tapi disaat kau mengatakan itu... (alex seakan kesulitan berbicara karena berusaha menahan tangisannya) pada saat itu ayah merasa sangat terharu mendengarnya dan ayah merasa bahagia memiliki putri sepertimu. Ayah berusaha menyembunyikan air mata ayah dengan memelukmu. Ya... ayah dan ibu saat itu memelukmu dan kami menangis dibalik punggungmu. Setelah itu semua terlihat baik- baik saja saat kau melihat kami. Kami sangat menyayangimu nak...” Alex dan jane semakin larut dalam kesedihan.

“Aku juga sangat menyayangi ayah dan ibu, aku sangat mencintai kalian berdua. Andai saja kecelakaan itu tidak pernah terjadi, mungkin ibu akan tetap ada bersama kita”

Mendengar perkataan jane tersebut, alex mulai berusaha menghentikan kesedihannya dan mengusap lembut rambut jane dengn tangan kanannya. Alex berusaha melepaskan pelukan jane dan mengusap air mata jane.

“Sudah jangan menangis lagi, ibumu selalu ada bersama kita dan ibumu selalu menemanimu sayang. Sekarang berhentilah menangis karna ada yang ingin ayah katakan padamu” Alex berusaha menenangkan putrinya dan sesaat kemudia jane sudah terlihat tidak sedih lagi.

“Ada apa ayah?”

“Bisakah kita turun sayang? rasanya tubuh ayah yang sudah tua ini butuh sandaran”

“Baiklah ayah, kita akan duduk dibangku taman”

Sejujurnya alex tidak merasakan pegal melainkan berusaha mencari celah untuk meyakinkan dirinya bercerita pada jane, beruntungnya jane mempercayai itu mengingat ayahnya yang memang sudah semakin terlihat tua. Alex turun pertama kali dari pohon dan kemudian dia membantu putrinya untuk turun. Jane memilih untuk duduk dibangku taman dekat ayunan dan danau kecil.

“Ayah ingin meminta maaf untuk kejadian semalam dan perdebatan kita tadi pagi”

“Ayah... kita sudah melupakan masalah perdebatan tadi pagi dan kita sudah berbaikan disaat itu juga ayah. Itu bukan masalah besar dan itu merupakan hal yang wajar terjadi antara orangtua dan anak. Tidak ada yang luput dari perdebatan ayah”

“Lalu bagaimana dengan perkataan ayah pada teman priamu itu”

Jane terdiam sejenak dan menyandarkan tubuhnya kebangku taman “Ya ayah... sepertinya dia paham dengan teguran ayah dan hari ini dia tidak lagi mendekatiku. Aku paham bahwa ayah khawatir jika dia menyakitiku, aku akan mengikuti nasihat ayah”

Alex merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan. Sekarang pria itu mulai menjauhi putrinya dan putrinya harus menahan diri demi kebahagiaannya. Alex berjanji pada mariana bahwa dia akan mengatakan yang sebenarnya pada jane hari ini, tapi nyatanya alex begitu kebingungan dan terlihat khawatir jika jane akan membencinya karena menyembunyikan cerita itu selama ini. Alex berusaha menenangkan dirinya dan membuat dirinya senyaman mungkin dengan menyandarkan tubuhnya di bangku taman.

“Maafkan ayah jane”

“Ayah, jangan meminta maaf seperti itu, tidak ada yang perlu disalahkan karna tidak ada yang salah ayah..”

“Ayah salah jane... ayah terlalu mengekang kebebasanmu berteman karena ayah khawatir jika apa yang terjadi pada ibumu akan terjadi padamu juga. Ayah tidak ingin kehilanganmu jane sama seperti ayah tidak ingin kehilangan ibumu”

“Apa? Maksudnya bagaimana dan apa hubungannya dengan masalah ini ayah?” Jane menunjukkan ekspresi wajah terkaget dan memiringkan kepalanya untuk memandang wajahnya

“Ibumu memang meninggal karena kecelakaan jane, tapi itu adalah kecelakaan yang direncanakan”

“Maksud ayah dibunuh?”

“Pria itu masih dalam masa tahanan dan dia akan tetap disana selama 18 tahun lagi”

“Ya Tuhan.... Ya Tuhan... Ada apa ini?” Jane berbicara sambil tertawa seakan tidak percaya dan menganggap bahwa itu adalah lelucon alex.

Jane melihat kembali kearah alex dan jane merasa yakin bahwa ini bukan candaan ketika jane melihat wajah alex menunduk. Jane kembali tenang dan berusaha menahan agar airmatanya tidak keluar. Jane menyandarkan punggungnya kembali ke bangku dan melipat tangannya diatas paha, berharap bahwa itu akan memberikan kekuatan untuknya.

“Apa yang terjadi ayah? ceritakanlah...”

“Ayah sebenarnya tidak ingin menceritakan ini sebelum umurmu 17 tahun jane. Tapi yang dikatakan mariana benar. Dia melihat bahwa umur 17 tahun belum tentu membuatmu dewasa karna sekarang pun dia sudah melihat bahwa kau adalah gadis yang dewasa dan sudah siap mendengarkan ini”

Untuk sesaat alex masih tetap menunduk dan terdiam. Rasanya alex berada disebuah penghakiman. Seakan-akan dia mau mengakui pada putrinya bahwa dia adalah orang yang membunuh ibunya. Dia begitu terbebani dan merasa khawatir dengan keadaan putrinya setelah menceritakan ini. Dia tidak tau apakah jane akan terima kenyataan bahwa ibunya meninggal secara tidak wajar.

“Aku dan ibumu berada dikampus yang sama, bedanya ibumu difakultas pertanian sedangkan ayah difakultas hukum. Ibumu gadis yang cantik dan ada banyak pria yang menyukainya. Ibumu cantik tapi dia tidak tergila-gila dengan pria tampan ataupun kaya raya, dia wanita yang sederhana dan apa adanya. Ibumu pernah menolak beberapa pria dan ibumu beberapa kali juga tersakiti karna mengencani pria yang salah. Ayah mengenal ibumu ketika ayah berusaha menyelamatkan ibumu dari kekasihnya pada saat itu. Dia memaksa ibumu untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri, ibumu keluar dari rumahnya dan berlari. Tapi pria itu mengejar dan akhirnya menampar ibumu yang masih bersikeras menolak. Ayah tidak sengaja melihatnya dan ayah menyelamatkannya saat itu. Kami semakin saling mengenal satu sama lain sampai akhirnya ibumu lulus setelah 2 tahun sebelumnya ayah lulus, kemudian ayah menikahi ibumu”

Alex memberikan istirahat sejenak untuk ceritanya. Dia kembali diam berusaha memikirkan kalimat yang tepat untuk menceritakan kronologi kematian ibunya. Itu tidak berlalu lama karna jane kembali bertanya kelanjutan ceritanya.

“Itu tentu sungguh mengejutkan teman-teman perkuliahan ibumu karna ayah dan ibumu sebenarnya tidak pernah resmi berpacaran dan bahkan tidak ada yang tau bahwa ibumu memiliki pacar. Waktu itu ayah mendapatkan keberanian untuk melamar ibumu karna ayah akan berpindah tugas kekota lain dan suatu keajaiban ketika ibumu menerima lamaran tersebut. Setelah ibu dan ayah menikah, keesokannya kami pindah kekota ini tempat ayah dinas. Tidak ada yang tau dimana ayah dan ibu tinggal selain keluarga terdekat. Kami juga tidak memberitahukan kepindahan itu karna kami berpikir bahwa itu tidak terlalu penting untuk oranglain”

“Tapi ternyata dugaan kami salah, bahkan hal yang tidak pernah kami pikirkan menjadi ancaman untuk kami. Ayah tidak menyangka bahwa mantan kekasih ibumu yang terakhir begitu mencintai ibumu dan masih belum terima karna ibumu mau menikah dengan ayah. Memang semenjak ayah menyelamatkan ibumu dari dia, dia sangat sering mengancam ibumu dan juga ayah, tapi kami tidak terlalu menghiraukannya dan sering mengabaikannya”

“Pagi itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk ayah dan ibu. Saat itu kau begitu cantiknya mengenakan seragam sekolahmu untuk yang pertama kalinya. Ayah ingin sekali waktu itu mengantarkanmu sekolah, tapi ayah harus datang kekantor pagi-pagi sekali karena ada kasus yang tidak bisa ditinggalkan. Ibumu dengan senang hati mengantarkanmu sekolah dan meminta ayah untuk pergi berangkat kerja”

Alex berhenti bercerita dan tangisannya memecah keheningan malam itu. Jane yang pada saat itu meneteskan airmata juga heran melihat ayahnya menangis seperti itu. Dia tidak pernah melihat ayahnya menangis seperti itu lagi setelah ibunya dimakamkan. Jane merasa sedih melihat ayahnya seperti itu dan menghapus dengan cepat semua airmata ayahnya.

“Ayah... ayah tidak usah menceritakannya lagi, aku sudah tau bahwa ibu dibunuh dan itu sudah cukup jelas ayah. Sudah jangan menangis seperti ini, kau menyakiti perasaanku ayah jika kau menangis seperti ini” 

Alex seakan tidak mendengarkan perkataan jane dan melanjutkan ceritanya kembali “Ayah tidak menyangka bahwa itu adalah pelukan dan ciuman terakhir ayah untuk ibumu. 3 jam kemudian pihak kepolisian menghubungi ayah dan mengatakan bahwa ibumu mengalami kecelakaan. Ayah langsung kelokasi yang diberikan dan ayah... (tangisan alex semakin kuat) dan ayah tidak bisa melihat lagi wajah ibumu. Bajingan itu menabrak mobil ibumu dengan truk kemudian mobil ibumu terbalik dan terbakar”

Alex semakin sulit mengontrol dirinya dan tangisannya semakin lebih kuat ketika dia kembali membayangkan kondisi istrinya pada saat itu. Jane terdiam kaget dan airmatanya mengalir dengan deras. Jane tidak bisa menahan kesakitan yang tiba-tiba menggerogoti dadanya, jane hanya menutup mulunya dengan tangan agar tidak menangis terisak-isak. Alex memeluk jane yang terlihat tegang dan bersedih itu, rasanya jane tidak menyangka bahwa ibunya harus mengalami hal ini karena seorang pria.

Alex terlihat seperti berusaha keras menenangkan putrinya. Terlihat seperti itu... tapi kenyataannya dia juga berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia mengeluarkan kata-kata yang membujuk putrinya untuk tegar dan tenang, sementara dia menyimpan sebagian kalimat itu juga untuk dirinya. Alex masih terus memeluk putrinya yang menangis sambil meronta-ronta. Jane tidak mengeluarkan teriakan yang kuat, suara teriakannya terdengar terpendam karna dia membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Alex tidak berhenti berusaha menenangkan putrinya dan tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk mendapatkan jane kembali tenang. Jane melepaskan diri dari pelukan ayahnya dan menghapus semua airmatanya. Jane merapikan rambutnya yang acakan dan kemudian duduk menghadap alex.

“Jane... putriku sayang.. Maafkan ayah.. dengar sayangku...”

Jane memotong perkataan alex dan tersenyum memandang alex “Ayah... sudahlah. Ini adalah hari yang baik dan aku bahagia ayah menceritakan ini padaku. Untuk sesaat aku memang sulit menerima kematian ibu dengan cara seperti itu, tapi ketika aku terus larut dalam kesedihan aku berpikir bahwa ibu tidak akan hidup kembali walaupun aku menangis terus-menerus sepanjang hidupku. Setidaknya ayah sudah mengatakan yang sebenarnya”

Alex bahagia mendengar ketegaran putrinya dan mariana menilai jane dengan tepat.

“Ayah.. apakah ibu mengatakan bahwa dia menyiapkan makan malam untuk kita?”

“Tentu... ada apa sayang?

“Ayah, aku lapar dan aku hanya ingin memakan masakan ibu malam ini. Aku ingin kita makan malam bersama dirumah”

“Tentu sayang, ayah akan menghubungi ibu untuk memanaskan makan malam kita selagi kita dalam perjalanan”

Alex menggenggam tangan putrinya dan mereka berjalan menuju mobil yang terparkir dipinggir jalan. Mereka terlihat sangat bahagia dan saling menyayangi satu sama lain.

***

Mariana bisa mengenali klakson mobil alex dan dia bergegas membuka pintu setelah menyiapkan semua hidangan istimewa diatas meja. Mariana membuat ruang makan terlihat sangat romantis dengan bunga mawar merah dan lilin yang menyala diatas meja. Tentu saja tidak kalah menariknya dengan sajian masakan mariana dan rasa masakannya yang selalu mendapat pujian dari jane dan alex. Mariana tidak sabar menunggu kabar baik dari alex setelah alex mengatakan bahwa jane ingin makan bersama dirumah. Tentu saja itu kejutan mendadak untuk mariana karna dia harus bekerja cepat untuk memasak makanan. Padahal rencananya alex dan jane akan makan malam diluar, tapi alex seakan tidak ingin mematahkan semangat putrinya. Untung saja mariana mengerti apa yang diinginkan alex ketika dia meminta mariana memanaskan makan malam.

"Tunggu sebentar" Alex menahan putrinya yang hendak keluar mobil

"Ada apa ayah?"
"Jane... putriku sayang, ayah tidak menyangka bahwa kau sungguh sudah tumbuh dewasa dan bukan gadis kecil yang bisa ayah gendong lagi"

"Ayah....." Jane merengek manja kedalam pelukan ayahnya

"Sayangku... ayah tidak ingin memperlakukanmu seperti anak kecil lagi dan ayah sungguh ingin memberikanmu kesempatan untuk bebas berteman dengan siapa saja selagi itu masih terlihat baik untukmu. Kau juga bisa pergi jalan-jalan atau mungkin berlibur dengan teman-temanmu jika kau membutuhkannya sayang"

Jane kembali duduk tegap dan memandang ayahnya "Ayah... sungguhkah itu?"

"Ya sayang... ayah dan ibu akan selalu mengawasimu tanpa memberikan tekanan yang membebanimu sayang"

"Dan aku akan menjaga kepercayaan ayah dan ibu. Aku berjanji akan menjaga diriku sebaik mungkin, aku tidak akan membuat ayah ibu bersedih karena kecerobohanku dan aku akan menceritakan pada ayah ibu jika ada yang berusaha menyakitiku. Ayah dan ibu tidak akan kecewa memberikan kepercayaan itu padaku"

“Ayah bahagia sekali mendengarnya sayang... begitu pula dengan kedua ibumu. Ayah tidak ingin kehilanganmu”

“Itu tidak akan terjadi ayah. Aku menyayangimu”

“Ayah juga menyayangimu sayang... (Alex mencium kening putrinya dan kembali memeluknya) Baiklah sudah cukup sikap mentel malam ini, kita lebih baik turun. Sepertinya ibumu mulai kelelahan berdiri didepan pintu. Jangan membuatnya cemas”

“Baiklah ayah...”

“Satu lagi...”

“Apalagi ayah?”

“Tolong jangan katakan pada ibumu bahwa ayah menangis seperti anak kecil ditaman”

“Aku akan mempertimbangkannya jika besok pagi ayah menumpukkan coklat didalam tas sekolahku” jane meninggalkan ayahnya yang tertawa dimobil

"Baiklah... putriku mencoba meminta sogokan dari aparat kepolisian" Alex menggerutu sambil tertawa

“Hai ibu.....” Mariana memeluk dan mencium pipi jane

“Sepertinya obrolan kalian terlalu panjang sampai membuat ibu harus berdiri lama disini”

“Maaf ibu, kami hanya sedang membuat kesepakatan dengan ayah dimobil”

“Kesepakatan?” Mariana memberikan ekspresi wajah penasaran sampai akhirnya suara alex mengalihkan pandangan mariana dari jane

“Hei jane, ayah berpikir bahwa besok hari yang baik untuk membusukkan gigi dengan coklat (Alex berbicara sambil berjalan menuju jane dan mariana) Bagaimana sayang? kau menyukainya?” Ekspresi wajah alex seakan memaksa jane untuk menerimanya

“Baiklah ayah, itu akan menyenangkan”

“Sekarang pergilah keruang makan dan jangan habiskan makanan itu sebelum ayah dan ibu datang”

Jane memasuki rumah sambil tersenyum bahagia. Hal itu membuat mariana semakin bingung karna terlihat seperti tidak terjadi apa-apa dan seakan tidak ada masalah.

"Hy sayangku" Alex memeluk dan mencium kening mariana yang masih memiliki ekspresi wajah kebingungan

“Sayang, apakah kau sudah mengatakannya”

“Sesuai dengan permintaanmu sayang”

“Lalu apa yang terjadi? apakah semua baik-baik saja”

“Semua baik-baik saja seperti hal baik yang kau bayangkan sebelumnya sayang. Dia sungguh gadis yang dewasa”

Mariana menarik nafas lega dan kembali memeluk alex “Ya Tuhan... aku sangat bahagia mendengar kabar ini sayang. Semoga setelah ini semuanya akan menjadi lebih baik”

“Kita akan baik-baik saja sayang. Ayolah kita makan sebelum putri kita menyisakan tulang-tulang untuk kita” Alex merangkul mariana yang tertawa dan membawanya masuk kerumah.

Ini menjadi pengalaman yang baru untuk alex menjadi seorang ayah. Merahasiakan sesuatu hal pada putrinya yang dewasa tidak akan membuat keadaan semakin lebih baik. Saling terbuka, bersikap jujur satu sama lain, saling menghormati, menyayangi dan mendengarkan pendapat sesama anggota keluarga merupakan kunci dari saling menyayangi satu sama lain.

***

Demikianlah cerita pendek saya pada hari ini...
Astaga, saya tidak menyangka bisa menyelesaikan cerpen ini juga. Terakhir kali saya menyelesaikan sebuah cerpen adalah pada saat perlombaan cerpen antar Sekolah Menengah Atas. Setelah itu, saya selalu berusaha menulis dan menulis. Saya sudah berusaha berkali-kali membuat sebuah novel dan itu selalu berakhir dipertengahan dan kemudian saya tidak pernah melanjutkannya. Bermain dengan imajinasi memang tidak mudah teman. Berbeda dengan saat saya membuat cerita dari kehidupan nyata atau mengarang sebuah cerita yang terinspirasi dari kehidupan nyata. Menyelesaikan sebuah cerita imajinasi sungguh membutuhkan tantangan yang besar.

Baiklah, ini adalah karangan imajinasi yang pertama kali saya sharekan. Saya berharap bagi para pengunjung yang membaca ini berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun agar bisa saya jadikan perbaikan pada cerita saya dimasa yang akan datang. Ini memang bukan cerita yang luar biasa dan saya juga sadar bahwa saya masih dalam tahap pemula, tapi dengan penuh hormat saya mohon kepada para pembaca yang meng-copy cerita ini untuk menyertakan sumber pengambilan cerita sebagai penghormatan atas karya saya. Akhir kata saya mengucapkan terimakasih banyak untuk para pembaca dan terimakasih untuk pengertiannya, Sekian dan Terimakasih.


Laman

 

DUNIA MERAH Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting