Langsung ke konten utama

Cegah Autis Pada Anak Sebelum Terlambat


Autis...
Saya memiliki pengalaman sedikit mengenai anak yang autis ini.
Karna mengingat pengalaman ini, saya merasa tertarik untuk membuat artikel ini, terutama karna saya melihat semakin banyaknya anak yang beresiko autis. Mungkin pada jaman sebelumnya autis ini lebih disebabkan faktor anak yang kurang diaktifkan dalam lingkungan sosial atau dikarenakan gangguan pada masa kehamilan atau sangat jarang diberi respon ketika memasuki masa pertumbuhan. Nah, dijaman sekarang saya berasumsi bahwa ini semakin berkembang dipengaruhi pesatnya perkembangan dunia teknologi dan juga kurangnya interaksi anak dengan lingkungan keluarga dirumah. Kita bisa melihat dan menilai sendiri bahwa bukan anak-anak saja yang bisa beresiko autis, melainkan berkemungkinan terjadi pada orang remaja atau dewasa. Perkembangan teknologi termasuk penyajian aplikasi-aplikasi menarik membuat banyak orang menciptakan dunianya sendiri. Mereka melakukan interaksi dengan banyak orang, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Tapi sangat disayangkan dalam dunia tidak nyata sehingga membuat interaksi mereka dengan orang nyata menjadi buruk. Saya tidak mengatakan bahwa itu terjadi pada oranglain tapi itu juga sempat terjadi pada saya. Pada aspek lainnya, saya berasumsi dengan wanita-wanita karir yang sudah sibuk dengan dunia pekerjaan. Tentu saja jika seorang ibu yang bekerja sibuk untuk karirnya akan membuat anak jarang berinteraksi dengan keluarga dan anak cenderung mencari kesenangan melalui cara lain seperti dunia teknologi, imajinasi dan banyak hal lainnya tanpa lagi memperhatikan lingkungan sosialnya dikarenakan sudah terbiasa tidak berinterasi dengan lingkungannya.

Ini perlu untuk diperhatikan para orangtua agar orangtua bisa membedakan pertumbuhan anak yang normal dan tidak normal. Terkadang kecenderungan orangtua untuk menapis ketidaknormalan anak membuat orangtua melalaikan hal tersebut sampai akhirnya anak terlambat untuk diobati. Hal ini pernah terjadi di daerah saya. Kita tau bahwa suku jawa adalah suku yang penuh dengan kelemahlembutan dan keramahtamahan. Cenderung suku jawa sangat mengharapkan agar para wanita tumbuh menjadi wanita yang tidak banyak berbicara dan tidak bersikap berlebihan. Di daerah saya, mayoritas penduduknya adalah suku jawa. Saat itu saya berumur 10 tahun atau mungkin 11 tahun karna seingat saya waktu itu saya berada dibangku kelas 5 sd. Saya sering sekali pulang berjalan kaki dengan teman-teman saya, ditambah lagi jarak rumah yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Sebelum rumah saya, ada sebuah rumah yang dihuni oleh seorang nenek dan putri bungsunya yang tumbuh berkembang tidak normal. Saya pikir kakak itu masih muda, tapi ternyata umurnya sudah memasuki 24 tahun. Dia mengalami kesulitan berjalan, ketakutan saat melihat oranglain, suka bermain disudut rumah, tidak pandai berbicara atau lebih tepatnya tidak memiliki kosakata tapi bisa menirukan apa yang diejakan oleh oranglain dan dia wanita yang cukup manis sebenarnya. Umur saya memang kecil saat itu, tapi percayalah bahwa saya masih ingat jawaban ibunya ketika saya bertanya mengenai kondisi anaknya. Beberapa waktu saya memang sering main kerumahnya dan terkadang saya membawa makanan dari rumah untuk mereka walaupun jika ketahuan mama maka saya akan habis ditegur juga sih. Sampai waktu itu saya memberanikan diri untuk bertanya tentang keadaan kakak itu dan si ibu mengatakan bahwa mereka dulu sangat sibuk bekerja. Ibu dengan almarhum suaminya setiap hari pergi ke hutan untuk mencari kayu dan mereka sering meninggalkan anaknya dirumah. Jika saya tidak salah, ibu itu mengatakan bahwa saat dia melahirkan si bungsu, ada kakaknya yang selalu menjaganya. Kakaknya sekolah tapi masuk disiang hari. Jadi, ketika subuh hari ibu dan bapak itu pergi mencari kayu maka si kakak akan menjaganya. Setelah itu ibu akan pulang lebih awal sebelum si bapak agar si kakak bisa berangkat kesekolah. Begitulah seterusnya sampai umur si anak memasuki 2 tahun dan lebih parahnya si anak sudah dibiarkan tinggal sendirian dirumah. Katanya mereka menyadari si anak mengalami gangguan saat berumur 5 tahun ketika si anak tidak juga bisa bicara dan berjalan tapi si anak bisa berteriak. Mereka tidak terlalu memfokuskan itu karna anak-anak mereka yang lain juga bisa bicara dan berjalan sendiri. Begitulah terus keadaannya sampai anak besar. Tidak ada dokter dan tidak ada penanganan medis apapun selain bantuan orang-orang pintar atau mungkin beberapa orang menyebutnya dukun. Maklum saya jika didaerah tersebut akan lebih mengutamakan pengobatan tersebut dikarenakan pengetahuan yang masih sangat kurang dan yang lebih sensitifnya karena faktor ekonomi.

Nah ...
Oleh karena itu saya akan memberikan sedikit materi kepada teman-teman yang membutuhkan informasi tentang anak autis. Mungkin tidak banyak informasi yang saya berikan atau tidak bisa saya jelaskan secara detail, tapi saya berharap agar informasi yang saya berikan setidaknya bisa membantu para pembaca untuk bisa menandai anak-anak yang beresiko autis atau yang sudah terkena autis. Ini adalah cara untuk menambah wawasan kita agar bisa lebih berwaspada tentang resiko yang terjadi. Informasi ini saya ambil melalui sebuah salah satu referensi buku dan dari berbagai narasumber.


Faktor Penyebab Autisme
Sampai saat ini para ahli belum menentukan penyebab pasti mengapa seorang anak menjadi autisme. Beberapa ahli sampai saat ini belum menentukan penyebab pasti mengapa seorang anak menjadi autisme. Beberapa ahli berpendapat autisme merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti: 
  1. Faktor genetik : diduga karena adanya kromosom (ditemukan 5-20% penyandang autisme) seperti kelainan kromosom yang disebut syndrome fragile-x/ 
  2. Kelainan otak : adanya kerusakan atau berkurangnya jumlah sel syaraf yang disebut sel purkinye. 
  3. Kelainan Neurotransmitter : terjadi karena impuls listrik antar sel terganggu alirannya. Neurotransmitter yang diduga tersebut adalah serotine (kadarnya tinggi dalam darah ± 30% penyandang autisme) dan dopamine (diduga rendah kadar darahnya pada penyandang autisme) 
  4. Kelainan Peptida di otak : dalam keadaan normal, glutein (protein gandum) dan kasein (protein susu) dipecah dalam usus menjadi peptida dan asam amino. Sebagian kecil peptida tersebut diserap di usu dan kemudian beredar dalam darah. Bila berlebihan akan dikeluarkan melalui urin dan sebagian lainnya akan disaring kembali saat melewati batang otak sehingga yang masuk kedalam otak hanya sedikit (khususnya gliadorphin, turunan peptida glutein dan casomordophin turunan pepsida kasein). 
  5. Komplikasi saat hamil dan persalinan : komplikasi yang terjadi seperti pendarahan pada trimester pertama yaitu janin yang disertai terispnya cairan ketuban yang ebrcampur feses dan obat-obatan yang diminum ibu selama masa kehamilan.
  6. Kekebalan tubuh : terjadi karena kemungkinan adanya interaksi gangguan kekebalan tubuh (autoimun) dengan faktor lingkungan yang menyebabkan autisme. 
  7. Keracunan : keracunan yang banyak dicurigai adalah karena keracunan logam berat timah hitam (Plumbun), arsen, antimony, cadmium, dan merkuri yang berasal dari polusi udara, air ataupun makanan. 
Tanda dan Gejala Awal Autis
Diagnosis Autis sepertinya mudah tetapi dalam praktek sehari-hari relatif sulit. Sehingga seringkali di antara beberapa ahli pun sering berbeda pendapat tentang dignosis gangguan perkembangan dan perilaku pada anak yang sama. Seringkali pada anak yang sama seorang anak didiagnosis berbeda oleh banyak dokter ahli seperti Autis, Autis ringan, bukan Autis, gejala Autis atau observasi Autis.

Autis adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.  Gangguan perilaku ini dapat dioptimalkan sejak dini bila dapat dilakukan deteksi dini yang baik dan benar. Seringkali seorang anak didiagnosis sudah terlambat sehingga membuat prognosis dan terapi tidak optimal.

Cara Mendeteksi Dini Gejala Autis
The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut:
  1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
  2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, mendada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
  3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
  4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
  5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima lampu merah diatas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme, tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidispliner yang dapat meliputi; dokter saraf abak, dokter tumbuh kembang anak, dokter alergi anak, psikologi, terapi wicaram paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autis.


Detekeksi Dini Autis
Meskipun sulit namun tanda dan gejala autisme sebenarnya sudah bisa diamati sejak dini bahkan sejak sebelum usia 6 bulan.

1. Deteksi Dini Autis Pada Masa Kehamilan
Sampai sejauh ini dengna kemajuan teknologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi resiko autisme sejak dalam kandungan. Terdapat beberapa pemeriksaan biomolekuler pada janin bayi untuk mendeteksi autisme sejak dini, namun pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian.

2. Deteksi Dini Pada Saat Lahir Hingga Usia 5 Tahun
Autisme agak sulit di diagnosis pada usia bayi tapi amatlah pentung untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa paskar kesehatan pun meyakini bahwa merupakan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikan apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin muda. Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia :

Usia 0 - 6 Bulan
  • Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
  • Terlalu sensitif, cepat terganggu/ terusik
  • Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
  • Tidak "babling"
  • Tidak ditemukan senyuman sosial diatas wo minggu
  • Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
  • Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

Usia 6 - 12 Bulan
  • Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
  • Terlalu sensitif, cepat terganggu/ terusik
  • Gerakan tangan dan kaki berlebihan
  • Sulit bila digendong
  • Tidak "Babbling"
  • Menggigit tangan dan badan orang lain secar berlebihan
  • Tidak ada kontak mata
  • Perkembangan motor kasar/ halus sering tampak normal

Usia 1 - 2 Tahun
  • Kaku bila digendong
  • Tidak mau bermain permainan sederhana (cilukba atau da-da)
  • Tidak mengeluarkan kata
  • Tidak tertarik pada boneka
  • Memperhatikan tangannya sendiri
  • Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/ halus
  • Mungkin tidak dapat menerima makanan cair

Usia 2 - 3 Tahun
  • Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
  • Melihat orang sebagai "benda"
  • Kontak Mmata terbatas
  • Tertari pada benda tertentu
  • Kaku bila digendong

Usia 4 - 5 Tahun
  • Sering didapatkan ekolia (membeo)
  • Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
  • Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
  • Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
  • Temperamen tantrum atau agresif


3. DETEKSI AUTISM DENGAN CHAT (Checklist Autism in Toddlers, di atas usia 18 bulan)
- Terdapat beberapa perangkat diagnosis untuk screening (uji tapis) pada penderita autism sejak usia 18 bulan yang banyak dipakai di pusat kesehatan anak di dunia yaitu CHAT (Checklist Autism in Toddlers). CHAT dikembangkan di Inggris dan telah digunakan untuk penjaringan lebih dari 16.000 balita. Pertanyaan berjumlah 14 buah meliputi aspek-aspek : imitation, pretend play, and joint attention.

- Menurut American of Pediatrics, Committee on Children With Disabilities. Technical Report : The Pediatrician’s Role in Diagnosis and Management of Autistic Spectrum Disorder in Children. Pediatrics !107 : 5, May 2001)

Bagian A
Alo-anamnesis (keterangan yang ditanyakan dokter dan diberikan oleh orang tua atau orang lain yang biasa mengasuhnya :
  • A1 - Senang diayun-ayun atau diguncang guncang naik-turun (bounced) di lutut ?
  • A2 - Tertarik (memperhatikan) anak lain ?
  • A3 - Suka memanjat benda-benda, seperti mamanjat tangga ?
  • A4 - Bisa bermain cilukba, petak umpet ?
  • A5 - Pernah bermain seolah-olah membuat secangkir teh menggunakan mainan berbentuk cangkir dan teko, atau permainan lain ?
  • A6 - Pernah menunjuk atau menerima sesuatu dengan menunjukkan jari ?
  • A7 - Pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke sesuatu agar anda melihat ke sana ?
  • A8 - Dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil mainan atau balok-balok) ?
  • A9 - Pernah memberikan suatu benda untuk menunjukkan sesuatu 
  • B1 - Lalu perhatikan reaksi anak, apakah selama pemeriksaan anak menatap/ kontak mata dengan pemeriksa?
  • B2 - Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu di ruangan pemeriksaan sambil mengatakan : "Lihat,itu ada bola atau apa saja mainan lain yang ada ditempat itu" perhatikan mata anak, apakah anak melihat ke benda yang ditunjuk. bukan melihat tangan pemeriksa.
  • B3 - Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas/ cangkir dan teko. Katakan pada anak anda " "Apakah kamu bisa membuatkan secangkir susu untuk mama?" Diharapkan anak seolah- olah membuat minuman, mengaduk, menuang, meminum atau anak mampu bermain seolah-olah menghidangkan makanan, minuman, bercocok tanam, menyapu, mengepel, dll.
  • B4 - Tanyakan pada anak : "Coba tanyakan mana "nama benda yang bisa dikenali anak dan ada disekitar kita". Apakah anak menunjuk dengan jarinya? atau sambil menatap wajah anda ketika menunjuk ke suatu benda?
  • B5 - Dapatkah anak anda menyusun kubus/ balok menjadi suatu menara?

Bagian B --> Pengamatan :
Interpretasi
  • Risiko tinggi menderita autis : bila tidak bisa melakukan A5, A7, B2, B3 dan B4
  • Risiko kecil menderita autis : tidak bisa melakukan A7 dan B4
  • Kemungkinan gangguan perkembangan lain : Tidak bisa melakukan >3
  • Dalam batas normal : tidak bisa melakukan <3

Keterangan pertanyaan A5, A7 dan B2, B3 dan B4 paling penting. Anak yang tidak bisa melakukan hal-hal tersebut ketika di uji 2 kali (jarak 1 bulan) semua kemudian terdiagnosis sebagai autis ketika berumur 20-42 bulan. Tetapi anak dengan keterlambatan perkembangan yang menyeluruh juga tidak bisa melakukannya. Oleh kerena itu, perlu menyingkirkan kemungkinan retardasi mental.

Tanda dan Gejala Anak yang Sudah Autis
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

1. Gangguan Dalam Komunikasi Verbal Maupun Nonverbal
  • Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.
  • Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.
  • Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain (“bahasa planet”)
  • Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
  • Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya.
  • Bicaranya monoton seperti robot
  • Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
  • Mimik datar



2.  Gangguan Dalam Bidang Interaksi Sosial
  • Menolak atau menghindar untuk bertatap muka.
  • Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli.
  • Merasa tidak senang atau menolak dipeluk.
  • Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
  • Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain.
  • Saat bermain bila didekati malah menjauh.
  • Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya.

3. Gangguan Dalam Bidang Interaksi Sosial
  • Bermain sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama.
  • Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi.
  • Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya.
  • Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya
  • Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura-pura.
  • Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak.
  • Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.

4. Gangguan Perilaku
  • Sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya
  • Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah.
  • Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding.
  • Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri.
  • Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.

5. Gangguan Perasan dan Emosi
  • Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata.
  • Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. 
  • Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.
  • Tidak dapat berbagi perasaan (empati) dengan anak lain.



6. Gangguan Dalam Persepsi Sensoris
  • Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
  • Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja
  • Bila mendengar suara keras, menutup telinga
  • Menangis setiap kali dicuci rambutnya
  • Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu
  • Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.

Diagnosis Autis
  1. Diagnosis Autis adalah dianopsis klinis tidak ada satu pemeriksaan lain berupa laboratorium ataupun tes yang dapat memastikannya. Diagnosis klinis adalah mengamati secara langsung riwayat perkembangan sebelumnya dan pengamatan yang cermat tentang berbagai perkembangan yang ada.  Menegakkan diagnosis autis memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autis.
  2. Diagnosa yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya.
  3. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autism yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis.
  4. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
  5. Karena karakteristik dari penyandang autis ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autis.
  6. Tes alergi IgG4, tes rambut, tes bioresonansi dan berbagai tes lainnya untuk memastikan penyebab makanan yang mengganggu autis tidak sensitif dan sebaiknya tidak dilakukan. Banyak klinisi yang mengirimkan tes IgG4 yang harus dikirm ke Amerika Serikat). tes ini sendiri tidak direkomendasikan oleh FDA (Food Drug Administration America), hal itu tertulis kecil di bagian bawah hasil pemeriksaan. Untuk memastikan penyebab alergin atau reaksi simpang makanan adalah dengan eliminasi provokasi. 
  7. Sedangkan pemeriksaan lain seperti EEG, CT scan, MRI atau tes kultur feses, dan pemeriksaan feses lainnya hanya sebatas untuk kepentingan penelitian. Bukan untuk dilakukan tindakan rutin.
  8. Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autis akan mengalami kesulitan dalam mendiagnosa autis. Kadang-kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autis dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.

Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan. Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autis dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.

DIAGNOSIS AUTIS BERDASARKAN DSM IV (Diagnostic and Statistic manual)
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
  • Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
  • Kesulitan bermain dengan teman sebaya
  • Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
  • Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
  • Tidak/ terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
  • Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/ inisiasi, egosentris
  • Bahasa aneh & diulang-ulang/ stereotip
  • Cara bermain kurang variatif/ imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (min.1):
  • Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
  • Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
  • Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda



Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autis. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autis untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.

Autis sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumenscreening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
  1. Childhood Autism Rating Scale (CARS) : Skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal.
  2. The Checklis For Autism in Toddlers (CHAT) : Berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
  3. The Autism Screening Questionare : Adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka.
  4. The Screening Test For Autismin Two-YearsOld: Tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.

Diagnosis Banding Autisme
  1. Referensi baku yang dipakai untuk menjelaskan jenis autisme adalah standar Amerika DSM revisi keempat (Diagnostic and Statistical Manual) yang memuat kriteria yang harus dipenuhi dalam melakukan diagnosa autisme. Diagnosa ini hanya dapat dilakukan oleh tim dokter atau praktisi ahli bersadarkan pengamatan seksama terhadap perilaku anak autisme dan disertai konsultasi dengan orang tua anak.
  2. Pada kenyataanya, sangat sulit untuk membagi kategori atau jenis autisme mengingat jarang ditemukan antara satu dan lain penyandang autisme yang mempunyai gejala yang sama. Setiap penyandang autisme mempunyai ke-’khas’-annya sendiri-sendiri. Dengan kata lain ada 1001 jenis atau mungkin satu juta satu jenis autisme di dunia ini yang tidak dapat diperinci satu persatu.
  3. Istilah yang lazim dipakai saat ini oleh para ahli adalah ‘kelainan spektrum autisme’ atau ASD (Autism Spectrum Disorder). Anak yang telah didiagnosa dan masuk dalam kategori PDD mempunyai persamaan dalam hal kekurangmampuan bersosialisasi dan berkomunikasi akan tetapi tingkat kelainan-nya (spektrum-nya) berbeda satu dengan lainnya. Terdapat begitu banyaknya jenis atau ciri penyandang autisme, sehingga lebih berupa rangkaian dari kelabu muda sekali hingga kelabu tua sekali (sangat bervariasi).
  4. Penggunaan istilah autisme berat/parah dan autisme ringan dapat menyesatkan karena jika dikatakan berat atau parah orang tua dapat merasa frustasi dan berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya lagi. Sebaliknya jika dikatakan ringan atau tidak parah maka orang tua merasa senang dan juga dapat berhenti berusaha karena merasa anaknya akan sembuh sendiri. Pada kenyataannya, baik ringan ataupun berat, tanpa penanganan terpadu dan intensif, penyandang autisme sulit mandiri. Meskipun sejauh nini belum ada pembagian tegas untuk menunjukkan derajat autism, apakah ringan, sedang atau berat.



Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
  1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
  2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
  3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
  4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
  5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autis.

Sindrom Rett's
Sindrom rett adalah penyakit degeneratif, ketidakmampuan yang semakin hari semakin parah (progresif). Hanya menimpa anak perempuan. Pertumbuhan normal lalu diikuti dengan kehilangan keahlian yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik- khususnya kehilangan kemampuan menggunakan tangan yang kemudian berganti menjadi pergerakan tangan yang berulang-ulang (seperti mencuci tangan mulai pada umur 1 hingga 4 tahun. Gejala dapat dimulai usia 6 bulan hingga usia 18 bulan :
  • Pertumbuhan kepala lambat
  • Kehilangan kemampuan menggunakan gerakan tangan
  • Berkembang seperti gejala khas autisme

Gangguan Disintegratif Pada Kanak-Kanak (Childhood Disintegrative Disorder / CDD)
Pertumbuhan yang normal pada usia 2 tahun pertama (seperti: kemampuan komunikasi, sosial, bermain dan berperilaku), namun secara bermakna kemampuan itu terganggu sebelum usia 10 tahun yang terganggu diantaranya adalah kemampuan :
  • Bahasa
  • Kemampuan Sosial
  • Kemampuan buang air besar dan buang air kecil di toilet
  • Bermain
  • Kemampuan motorik
  • Gejala tambahan, menunjukkan fungus abnormal sedikitnya dua hal dari: interaksi sosial, komunikasi
  • Pola perilaku terbatas : perhatian dan aktifitas



Sindrom Asperger's
Asperger’s Syndrome gejala khas yang timbul adalah gangguan intteraksi sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan dan aktifitasis. Mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, sedikitnya dua gejala dari :
  • Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi non verbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap bada, gerak isyarat)
  • Tidak bisa bermain dengan anak sebaya
  • Gangguan dalam menikmati minat atau keberhasilan
  • Kurangnya hubungan sosial dan emosional

Gangguan Perkembangan Pervasif (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified / PDD-NOS)
Biasa disebut Autis yang tidak umum dimana diagnosis PDD-NOS dapat dilakukan jika anak tidak memenuhi kriteria diagnosis yang ada (DSM-IV) akan tetapi terdapat ketidakmampuan pada beberapa perilakunya.

Multisystem Developmental Disordes (MSDD)
Beberapa ahli perkembangan anak menggunakan klarifikasi yang disebut sebagai Zero to three’s Diagnostic Classification of Mental Health and Development Disorders of Infacy and early Childhood. DC-0-3 menggunakan konsep bahwa proses diagnosis adalah proses berkelanjutan dan terus menerus, sehingga dokter yang merawat dalam pertambahan usia dapat mendalami tanda, gejala dan diagnosis pada anak. Diagnosis tidak dapat ditegakkan secara cepat, tapi harus melalui pengamatan yang cermat dan berulang-ulang. Dalam penegakkan diagnosis harus berkerjasama dengan orangtua dengan mengamati perkembangan hubungan anak dengan orangtua dan lingkungannya. Konsep DC 0-3 tersebut digunakan karena pengalaman kesulitan dalam mendiagnosis Autism di bawah 3 tahun, khususnya yang mempunyai gejala yang belum jelas. Faktor inilah yang menyulitkan apabila anak didiagnosis autism terlalu dini, padahal dalam perkembangannya mungkin saja gangguan perkembangan tersebut ada kecenderungan membaik atau menghilang. Sehingga kalau anaknya didiagnosis Autism adalah sesuatu yang berat bagi orang tua, seolah-olah sudah tidak harapan bagi si anak. MSDD adalah diagnosis gangguan perkembangan dalam hal kesanggupannya berhubungan, berkomunikasi, bermain dan belajar. Gangguan MSDD tidak menetap seperti gangguan pada Autistis Spectrum Disorders, tetapi sangat mungkin untuk terjadi perubahan dan perbaikkan. Pengertian MSDD meliputi gangguan sensoris multipel dan interaksi sensori motor. Gejala MSDD meliputi :
  • Gangguan dalam berhubungan sosial dan emosional dengan orang tua atau pengasuh.
  • Gangguan dalam mempertahankan dan mengembangkan komunikai
  • Gangguan dalam proses auditory
  • Gangguan dalam proses berbagai sensori lain atau koordinasi motorik

Pemeriksaan Yang Dilakukan
Tidak ada satupun pemeriksaan medis yang dapat memastikan suatu diagnosis Autis pada anak. Tetapi terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi dan strategi pengobatan. Tetapi sebaiknya pemeriksaan tersebut dilakukan bila hanya mencurigai adanya gangguan organik pada penderita.
  1. PENDENGARAN: Bila terdapat gangguan pendengaran harus dilakukan beberapa pemeriksaan Audio gram and Typanogram.
  2. ELEKTROENSEFALOGRAM (EEG): EEG untuk memeriksa gelombang otak yang mennujukkan gangguan kejang, diindikasikan pada kelainan tumor dan gangguan otak..
  3. SKRENING METABOLIK: Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan darah dan urine untuk melihat metabolisme makanan di dalam tubuh dan pengaruhnya pada tumbuh kembang anak. Beberapa spectrum autism dapat disembuhkan dengan diet khusus.
  4. MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI) DAN COMPUTER ASSITED AXIAL TOMOGRAPHY (CAT SCAN): MRI atau CAT Scans sangat menolong untuk mendiagnosis kelainan struktur otak, karena dapat melihat struktur otak secara lebih detail
  5. PEMERIKSAAN GENETIK: Pemeriksaan darah untuk melihat kelainan genetik, yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan. Beberapa penelitian menunjukkkan bahwa penderita autism telah dapat ditemukan pola DNA dalam tubuhnya.



Observasi Secara Langsung
observasi langsung, interaksi dan penilaian wawancara :
Informasi tentang emosi anak, sosial, komunikasi, kemampuan kognitif melalui pengamatan langsung apada anak secara cermat dan lama dan inteview  kepada orangtua tentang riwayat tahapan perkembangan anak dari sejak usia 0 bulan sampai sekarang.

1. Penilaian Fungsional
Tujuan untuk mengetahui bagaimana bisa terjadi perubahan perilaku (seperti perilaku motorik yang aneh). Berdasarkan pertimbangan itu bahwa perubahan perilaku adalah suatu cara untuk berkomunikasi dengan lingkungan. Penilaian fungsional termasuk wawancara, observasi langsung dan interaksi secara langsung untuk mengetahui apakah anak menderita autisme atau dikaitkan ketidakmampuan dalam komunikasi melalui perilaku anak. Penilaian secara fungsional ini akan membantu dalam perencanaan intervensi atau terapi okupasi yang harus diberikan.
- Penilaian dasar bermain : Melibatkan orang tua, guru, pengasuh atau anggota keluarga lainnya untuk mengamati situasi permainan yang dapat memberikan informasi hubungan sosial, eomosional, kognitif dan perkembangan komunikasi. Dengan mengetahui kebiasaan belajar anak dan pola interaksi melalui penilaian permainan, pengobatan secara individual dapat direncanakan.
- Peranan orangtua dalam deteksi dini : Dalam perkembangannya menjadi manusia dewasa, seorang anak berkembang melalui tahapan tertentu. 
- Diantara jenis perkembangan, yang paling penting untuk menentukan kemampuan intelegensi di kemudian hari adalah perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah visuo-motor, serta perkembangan berbahasa. Kemudian keduanya berkembang menjadi perkembangan sosial yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan.
- Walaupun kecepatan perkembangan setiap anak berbeda-beda, kita harus waspada apabila seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan atau penyimpangan perkembangan. Untuk mendeteksi keterlambatan, dapat digunakan 2 pendekatan :
  1. Memberikan peranan kepada orang tua, nenek, guru atau pengasuh untuk melakukan deteksi dini dan melaporkan kepada dokter bila anak mengalami keterlambatan atau gangguan perkembangan dan perilaku. Kerugian cara ini adalah bahwa orang tua sering menganggap bahwa anak akan dapat menyusul keterlambatannya dikemudian hari dan cukup ditunggu saja. Misalnya bila anak mengalami keterlambatan bicara, nenek mengatakan bahwa ayah atau ibu juga terlambat bicara, atau anggapan bahwa anak yang cepat jalan akan lebih lambat bicara. Kadang-kadang disulitkan oleh reaksi menolak dari orang tua yang tidak mengakui bahwa anak mengalami keterlambatan bicara.
  2. Pendekatan lainnya adalah dengan deteksi aktif, membandingkan apakah seorang anak dapat melakukan fungsi bahasa yang sesuai dengan baku untuk anak seusianya. Pendekatan kedua juga mempunyai kelemahan yaitu akan terlalu banyak anak yang diidentifikasi sebagai “abnormal” karena bicara terlambat. Sebagian besar diantaranya memang secara alamiah akan menyusul bicara dikemudian hari. Bahkan kadang-kadang masih ditemukan dokter atau dokter anak yang masih menganggap bukan kelainan, dan dikatakan kepada pasien: “Tidak apa-apa, ditunggu saja”.
- Peranan orang tua untuk melaporkan kecurigaannya dan peran dokter untuk menanggapi keluhan tersebut sama pentingnya dalam penatalaksanaan anak. Bila dijumpai keterlambatan atau penyimpangan harus dilakukan pemeriksaan atau menentukan apakah hal tersebut merupakan variasi normal atau suatu kelainan yang serius. Jangan berpegang pada pendapat :”Nanti juga akan berkembang sendiri” atau “Anak semata-mata hanya terlambat sedikit” tanpa bukti yang kuat, yang akan mengakibatkan diagnosis yang terlambat dan penatalaksanaan yang semakin sulit.

2. END POINT
  • Untuk memastikan diagnosis Autis hanya dengan diagnosis klinis atau dengan mengenali secara cermat riwayat perkembangan anak sejak lahir dan pengamatan perkembangan anak saat sekarang
  • Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan tambahan lain hanya diperlukan untuk sebatas penelitian atau kalau dicurigai adanya kelainan di susunan saraf pusat atau fungsi organ lainnya. Gangguan fungsi organ yang khas pada Autis jarang terjadi. Sebaiknya beragai pemeriksaan yang tidak perlu tidak dilakukan, karena beban biasya yang sangat besar tetapi tidak terlalu penting manfaatnya berkaitan dengan pengobatan.
  • Pemeriksaan mencari penyebab alergi atau reaksi simpang makanan lain hanya dengan melakukan eliminasi provokasi makanan BUKAN DENGAN TES ALERGI. 
  • Ternyata banyak sekali anak yang hanya mengalami sebagian kecil gejala tersebut. Kelompok anak ini bukanlah penderita Autis dan normal tetapi dalam kehidupan sehari hari sangat mengganggu terutama gangguan konsentrasi di sekolah. Jumlah penderita yang masuk area abu-abu ini sangat banyak seperti fenomena gunung es.Pada keadaan tertentu kelompok seperti ini divonis Autis Ringan atau gejala Autis. Sebenarnya tidak ada Diagnosis Autis ringan atau gejala Autis,  biasanya diagnosis ini diberikan oleh dokter yang ragu-ragu dalam diagnosisnya.  Kelompok anak seperti ini sering terjadi pada penderita alergi atau hipersensitifitas makananan.


Aduh lumayan rumit juga ternyata materinya.
Saya juga sedikit kebingungan untuk beberapa materi.
Tapi yang saya harapkan disini adalah untuk memberikan materi yang membuat kita memahami gejala- gejala anak kita yang berkemungkinan besar terkena autis.
Bagi para pembaca yang tidak memahami sepenuhnya tentang materi ini jangan terlalu pusing untuk memaksa memahaminya.
Yang terpenting para pembaca fokus pada bagian memahami gejala/tandanya saja, sehingga ketika itu terlihat ada pada anak kita, langkah yang terpenting untuk kita lakukan adalah segera membawa anak ke tenaga medis khusus anak.
Jadilah orangtua yang bijaksana dan teliti mengamati tumbuh kembang anak kita.
Jangan bersikap cuek dan seakan semua akan baik-baik saja pada nantinya, cepatlah bertindak untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang terlihat tidak normal atau kelak kita akan menyesal disaat semuanya sudah terlambat.
Terimakasih banyak untuk kunjungannya dan sampai bertemu kembali pada artikel berikutnya.


Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.