Langsung ke konten utama

Apakah Anda Asertif Atau Agresif ???



Waktu itu saya duduk di bangku kuliah semester 5 jurusan kebidanan di salah satu kampus swasta pekanbaru. Saya bukan mahasiswi yang luar biasa, hanya saja saya termasuk mahasiswi yang bisa dikatakan aktif dalam hal berpresentasi dan tanya jawab. Saya juga tidak mengerti kenapa bisa begitu. Rasanya ada sebuah kenikmatan ketika saya bisa berpresentasi didepan banyak orang, kemudian para peserta fokus pada saya, memberikan respon yang baik, wajah mereka terlihat antusias, dan lebih menyenangkan lagi ketika mereka tidak memiliki pertanyaan tapi saat saya bertanya mereka bisa menjawabnya (artinya saya sukses dalam berpresentasi), atau jika mereka memiliki pertanyaan menarik tapi diluar presentasi saya dan tetap berkaitan dengan materi yang saya bawakan (semoga pembaca mengerti maksud saya ^.^).

Nah... dibalik berpresentasi, saya juga memiliki kebiasaan yang mungkin sedikit menjengkelkan untuk beberapa orang. Saya suka bertanya, saya suka menjawab, saya suka menyanggah dan saya suka membantu memberikan pendapat lain. Tidak bisa saya pungkiri, terkadang saya memiliki kebiasaan bertanya tentang hal diluar hasil presentasi mereka tapi tetap kembali berfokus pada materi mereka. Sebagai contoh ketika presentasi yang dibawakan mengenai narkoba, mereka akan memulai presentasi mereka tentang narkoba dan ketika pada sesi pertanyaan saya akan bertanya hal-hal yang tidak mereka bahas pada presentasi tetapi tidak lari dari tema teori mereka. Terkadang hal-hal yang membuat teman-teman kesal karena ketika saya bertanya, jawaban yang mereka berikan cenderung membuat saya tidak puas dan saya meminta jawaban yang lebih baik lagi dan begitulah seterusnya. Tidak jarang beberapa diantara mereka akan kesal ketika saya bertanya bahkan ada yang memesan agar saya tidak bertanya saat mereka presentasi. Hal ini akan menajdi positif bila disikapi secara positif, jika ada yang berpikir positif maka akan senang jika saya bertanya apalagi jika pertanyaan itu sulit, karena itu akan menaikkan nilai presentasi mereka jika mereka bisa menjawabnya. Nah, terkadang hal- hal yang seperti ini bisa menimbulkan kekesalan untuk beberapa orang dan kekesalan tersebut bisa menjadi lebih buruk seperti emosi jika cara penyampaian yang kita gunakan tidak baik.

Saya memiliki kisah tersendiri mengenai hal ini... Saya akan memberikan sebuah cerita dan semoga ini akan mempermudah pembaca untuk memahami tema artikel saya hari ini. Untuk teman saya yang mengerti cerita ini, dibawa senyum ya sayang... pengen share untuk teman-teman yang lain supaya mengambil pelajaran dari kisah kita.


"Jadwal kuliah waktu itu meminta kami untuk berpresentasi mengenai tugas yang sebelumnya sudah diberikan pada kami. Tugas itu diberikan dalam bentuk tim dan setiap tim memiliki tema yang berbeda. Jika saya tidak salah, saat itu tim kami belum mendapatkan jadwal presentasi karena dijadwalkan hanya 2 tim yang maju presentasi. Nah, memang sebelumnya saya sempat memperhatikan salah satu tim dari 2 tim yang akan maju ini memiliki kekurangan. Yaa... mereka terlihat panik dan terlihat kurang persiapan. Saya belum tau pasti presentasi mereka tentang apa, tapi saya pastikan ini akan menjadi presentasi buruk jika pertanyaan- pertanyaan tidak bisa dijawab. Dan singkat cerita presentasi pun dimulai... Tim yang saya katakan kurang memiliki persiapan pun maju lebih dahulu. Dan seperti saya katakan sebelumnya, persiapannya memang cukup buruk karena hanya berat di satu orang saja yang mengerjakan tema itu sehingga informasi tidak bisa dibagi rata pada semua tim. Dimulai dari desain presentasi yang biasa saja sampai pada hasil presentasi mereka memang sungguh membingungkan. Ketika memasuki sesi pertanyaan, saya mencoba memberikan pertanyaan. Mau tidak mau mereka harus menunjuk saya karena tidak ada yang bertanya lagi saat saya tunjuk tangan. Sesaat mereka memikirkan jawaban dari pertanyaan saya tersebut sampai akhirnya mereka mengatakan pada saya jawaban dari pertanyaan itu. Kemudian saya memaparkan hal lain yang masih berhubungan dengan pertanyaan saya dan mengaitkannya dengan jawaban mereka, ini adalah sebagai tanda bahwa saya tidak puas dengan jawaban mereka. Nah setelah berlarut-larut, akhirnya salah satu anggota mengatakan "Maaf" karena mereka tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena persiapan pereka sangat kurang dan mereka kesulitan menjawabnya. Inilah awal permasalahan tersebut, permasalahan karena saya tidak menerima maaf itu dan meminta mereka untuk mengusahakan jawabannya. Terakhir karena memaksakan jawaban tidak akan berhasil, sebagai penutup dari sanggahan saya memberikan kritikan pada mereka agar lain kali mempersiapkan presentasi mereka dengan baik sehingga bisa menjawab pertanyaan yang diberikan pada mereka. Melemparkan jawaban pada tim lain, menjawab dalam waktu yang sangat lama dan menjawab seadanya menandakan bahwa tidak ada persiapan yang baik untuk presentasi ini, dan saya tidak ingat lagi apa yang saya katakan karena itu sudah berlalu cukup lama... Hanya saja saya masih ingat dengan jelas bahwa keributan terjadi ketika dosen sudah keluar dari kelas. Saya tidak menyangka jika kritikan saya tersebut sampai membuat menangis salah satu anggota dari tim yang presentasi tadi. Dia menangis sambil bicara tentang kekesalannya dan sialnya saya malah menjawab komentar-komentarnya sehingga membuatnya semakin lebih kuat berkomentar sambil menangis. Dia tidak menyukai kritikan saya karna itu membuat timnya terlihat buruk didepan dosen"

Nah...
Pada kesempatan ini saya ingin bertanya pada pembaca apakah sikap saya diatas tadi adalah sikap "Asertif" ataukah "Agresif"?
Banyak sekali artikel ataupun beberapa judul buku yang membahas tentang Asertif ini, selain itu kepribadian ini juga diharapkan dapat dimilik oleh banyak orang. Oleh karena itu saya akan membahas mengenai Asertif dan saya akan membuat perbandingannya dengan agresif sehingga para pembaca bisa lebih memahaminya.

Definisi Asertif
Kata asertif berasal dan bahasa Inggris yaitu "to assert" yang berarti positif yaitu menyatakan sesuatu dengan terus-terang atau tegas serta bersikap positif (Fensterheim dan Baer dalam Syarani, 1995). 
Menurut Mallot, dkk (Prabana, 1997), “to assert” artinya sebagai cara menyatakan sesuatu dengan sopan mengenai hal-hal yang menyenangkan maupun yang dirasa mengganggu atau kurang berkenan Sedangkan menurut Ramus dan Nevid (Yogaryjantono, 1991) "to assert" berarti meminta seseorang untuk melakukan sesuatu dengan cara yang akan menambah penghargaan atau mengurangi aversi (rasa enggan). 
Perilaku asertif merupakan terjemahan dari assertif behavior yang mengandung arti suatu tindakan atau perilaku yang dinyatakaan dengan sopan dan bermaksud untuk meminta seseorang berbuat sesuatu agar melakukan apa yang dikehendaki, meminta sesuatu pada orang lain disertai dengan sikap yang sopan, sesuai dengan norma, tenang, dewasa, dan masuk akal.


Aspek - Aspek Perilaku Asertif
Menurut Kelly (1997) dalam Ratna Aspek-aspek perilaku asertif adalah : 
  • Permintaan yaitu kemampuan individu dalam mengemukakan haknya sendiri, meminta pertolongan dan tanggungjawab orang lain tentang suatu hal; 
  • Penolakan yaitu kemampuan individu untuk menolak keinginan, ajakan dan saran yang tidak sesuai dengan diri sendiri; 
  • Pengekspresian diri yaitu kemampuan individu untuk berani mengekspresikan perasaan dan pikiran secara tepat; 
  • Pujian yaitu kemampuan individu dalam memberikan pujian atau penghargaan secara tulus pada orang lain serta sikap individu yang sewajarnya dalam menerima pujian dari orang lain;     
  • Berperan dalam pembicaraan yaitu kemampuan individu untuk memulai atau berinisiatif dalam pembicaraan, ikut serta atau terlibat sekaligus dapat mempertahankan pembicaraan. 
Menurut Rathus dan Nevid (1983) dalam Ajeng, mengemukakan sepuluh aspek dari sertivitas, yaitu : 
  • Bicara asertif 
  • Kemampuan mengungkapkan perasaan; 
  • Menyapa atau memberi salam kepada orang lain; 
  • Ketidaksepakatan yaitu menampilkan cara yang efektif dan jujur menyatakan rasa tidak setuju; 
  • Menanyakan alasan bila diminta untuk melakukan sesuatu; 
  • Membicarakan diri sendiri mengenai pengalaman-pengalaman dengan cara yang menarik; 
  • Menghargai pujian orang lain dengan cara yang sesuai; 
  • Menolak untuk menerima begitu saja yaitu mengakhiri percakapan yang bertele-tele dengan orang yang memaksakan pendapatnya; 
  • Menatap lawan bicara; 
  • Respon melawan takut. 
Hak- Hak Asertif Manusia
Untuk berperilaku asertif, seseorang harus terlebih dahulu mengetahui akan hak – haknya (Rees dan Graham dalam Reputrawati, 1996). Hak-hak asertif manusia tersebut meliputi:
  • Hak bertindak yang tidak melanggar hak-hak orang lain 
  • Hak menjadi asertif atau tidak asertif 
  • Hak menentukan pilihan 
  • Hak berubah 
  • Hak mengontrol badan, waktu, dan kepemilikan 
  • Hak menyatakan pendapat dan kepercayaan 
  • Hak berpikiran baik terhadap diri sendiri 
  • Hak mengajukan permintaan 
  • Hak menyatakan hal-hal yang menyangkut seksualitas 
  • Hak memiliki kebutuhan dan keinginan 
  • Hak berfantasi 
  • Hak memiliki atau memperoleh informasi 
  • Hak memperoleh barang atau pelayanan yang telah dibeli 
  • Hak untuk tidak tergantung dan hidup menyendiri 
  • Hak mengatakan "tidak" 
  • Hak diperlakukan dengan hormat 

Ciri- Ciri Orang Asertif 

Orang asertif adalah orang yang penuh semangat, menyadari siapa dirinya dan apa yang diinginkannya (Fensterheim dan Baer, 1980). Selanjutnya dikatakan bahwa pribadi yang asertif memiliki ciri-ciri: 
  • Merasa bebas untuk mengemukakan dirinya, artinya ia bebas menyatakan perasaan dan pikirannya. 
  • Dapat berkomunikasi dengan sernua orang, artinya dengan orang yang telah maupun dengan yang belum dikenalnya. 
  • Mempunyai pandangan aktif tentang hidupnya, artinya berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya 
  • Bertindak dengan cara yang dihormatinya, artinya dengan menerima keterbatasannya sehingga kegagalan tidak membuatnya kehilangan harga diri. 
Menurut Ranter dan Goldstein (Syarani, 1995) menyebutkan ciri-ciri dari perilaku asertif adalah sebagai berikut: 
  • Dapat menguasai diri yaitu dengan bersikap bebas dan menyenangkan. 
  • Dapat merespon hal-hal yang sangat disukai dan wajar. 
  • Dapat menyatakan kasih sayang dan cintanya pada seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. 
Sedangkan Lazarus (Yogaryjantono, 1991), ciri-ciri asertif adalah sebagai berikut: 
  • Kemampuan memulai, melanjutkan, dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan sukses.  
  • Kemampuan mengatakan "tidak" terhadap sesuatu yang tidak disetujui. 
  • Kemampuan mengajukan permintaan atau bariuan kapada orang lain, jika memang membutuhkan bantuan. 
  • Kemampuan menyatakan perasaan baik perasaan yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. 

Sikap Orang Asertif
Bower dan Bower (Prabana, 1997), orang asertif akan dapat melakukan: 
  • Dapat mengekspresikan kesenangan-kesenangan dan minat pribadi secara spontan 
  • Membicarakan dirinya pada orang lain (prestasi atau keiebihan) pada saat yang diperlukan tanpa melakukan monopoli. 
  • Bersikap ramah dan bersahabat pada orang lain (dapat menyapa dengan sikap ringan tanpa malu-malu). 
  • Menerima pujian dengan cara yang ramah. 
  • Menggunakan ekspresi wajah dan perubahan nada suara sesuai dengan kata- kata yang disampaikan. 
  • Dapat menyatakan ketidaksetujuan secara hahis misalnya dengan mengangkat alis, menggelengkan kepala atau mengubali topik pembicaraan. 
  • Berani meminta penjelasan atas petunjuk atau penjelasan yang membingungkan.
  • Berani menanyakan alasan pada permintaan seseorang yang kurang masuk akal atau kurang beralasan. 
  • Berani secara aktif menyatakan ketidaksetujuan yang telah diyakini sebelumnya pada pendapat seseorang. 
  • Berani rnenuntut hak dan untuk diperlakukan adit tanpa disertai kemarahan bila merasa kurang diperlakukan adil. 
  • Bila mempunyai keluhan, berani memperjuangkan dengan gigih sampai memperoleh kepuasan. 
  • Mampu untuk memberikan alasan pada setiap pendapat yang bertujuan untuk mendebat, bila hal tersebut tidak mengenakkan. 
Menurut Townend (Reputrawati, 1996) asertivitas ditandai dengan kepercayaan diri, memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan perilakunya dinyatakan dengan jujur dan langsung. Tidjan (1995) orang asertif adalah orang yang memiliki harga diri dan pendirian mereka teguh.

 
Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Asertivitas
A. Jenis Kelamin
Menurut Arsante dan Gudykunst (Syarani,1995) menyatakan bahwa pada umumnya pria banyak memiliki sifat-sifat maskulin yaitu kuat, sertif, kompetitif dan ambisius. Penelitian Bee (Yogaryjantono,1991) menambahkan laki-laki cenderung lebih mandiri, tidak mudah terpengaruh dan lebih tenang, perempuan lebih mudah terpengaruh dan lebih bersifat mendidik. Budiman (Widodo,1998) memperkuat pendapat Bee, dengan mengatakan bahwa laki-laki lebih aktif dan lebih rasional sedangkan perempuan lebih pasif, lebih emosional dan lebih submisif. Masalah emosiaonal, dibandingkan wanita, pria sering tidak belajar mengenai kejujuran emosional karena mereka diajarkan sejak dini untuk tidak emosional, wanita sering membesar- besarkan respon emosional terhadap situasi yang dihadapi (Lloyd dalam Syarani,1995). Jenis kelamin yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap perilaku asertif biasanya berhubungan dengan pola asuh, budaya yang melingkupi, serta stereotip yang ada. Berdasarkan uraian tersebut dapat diduga bahwa laki-laki lebih asertif daripada perempuan.

B. Harga Diri
Alberti dan Emmons (Hidayati,1987) mengatakan bahwa orang-oorang yang asertif diasumsikan memiliki konsep diri yang positif. Orang yang memiliki konsep diri positif dengan sifat- sifat penerimaan diri, evaluasi ciri yang positif dan harga diri yang tinggi akan membuat mereka merasa aman dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam kancah sosial. Konsep diri berkolerasi positif dengan perilaku asertif karena harga diri merupakan bagian dari konsep diri artinya seseorang yang harga dirinya rendah maka konsep dirinya rendah (Renaningsih,1992). Rasa percaya diri pada orang yang memiliki konsep diri positif akan memberikan keberanian untuk menyampaikan pikiran dan perasaan yang sebenarnya kepada orang lain tanpa disertai kecemasan, mampu menerima pikiran dan perasaan orang lain. Bloom, dkk dalam Retnaningsih (1992) mengemukakan bahwa antara harga diri dengan asertivitas mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling kait mengkait. Individu yang mempunyai harga diri tinggi akan mampu berperilaku asertif dan kemampuannya dalam berperilaku asertif akan meningkatkan pula harga dirinya. Jadi orang yang konsep dirinya positid biasanya lebih berani mengekspresikan dirinya sendiri, berani menyatakan pendapat tanpa takut dicela sedangkan orang yang konsep dirinya renda akan cenderung merasa tidak aman, tertekan dan kurang percaya diri sehingga ia akan cemas. Keadaan tersebut akan membuat seseorang menjadi sulit dalam menyampaikan ide, perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran kepada orang lain yang akibatnya ia tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan pikiran dan perasaan yang sebanrnya kepada orang lain yang akibatnya ia tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan pikiran dan perasaan yang sebenarnya kepada oranglain, ini yang menjadikan seseorang itu menjadi tidak asertif.

C. Pola asuh orang tua dan lingkungan 
Kualitas perilaku asertif seseorang sangat dipengarahi pengalaman masa anak – anaknya (Andu, 1993). Pengalaman tersebut, yang kebanyakan berupa interaksi dengan orang tua maupun anggota keluarga lainnya, sangat menentukan pola respon seseorang dalam menghiadapi berbagai masalah setelah ia menjadi dewasa kelak. Seorang anak yang selalu mendapat larangan setiap kali melakukan sesuatu, mereka akan membuatnya takut untuk mencoba bertindak atau berbuat lainnya. Adanya larangan yang terus-menerus akan menjadikan seorang anak terlalu berhati-hati dan tidak spontan dalam mengemukakan perasaannya Sehingga anak terbiasa untuk berperilaku tidak asertif. 
Sedangkan menurut Rathus dan Domikus (Prabana, 1997) tingkah laku asertif berkembang secara bertahap sebagai hasil mteraksi antara anak dan orang tua serta orang – orang dewasa lain disekitarnya karena semenjak anak- anak, peran pendidikan perempuan dan laki-laki terlalu dibedakan oleh masyarakat artinya sejak kecil anak laki-laki dibiasakan tegas dan kompetitif. Hasil penelitian Sari (1989) dibuktikan bahwa anak laki – laki lebih tegas, mandiri, tidak begitu tergantung pada kelompok bermainnya maupun pada bantuan orang dewasa, dan mereka lebih berani menghadapi situasi-situasi yang menakutkan daripada anak perempuan. Keadaan tersebut menurut Berzonsky (Prabana,1997) lebih disebabkan karena perbedaan sikap orang tua terhadap anak perempuan dan anak laki-laki. Umumnya orang tua bersikap lembut terhadap anak perempuan dalam berbagai segi. Terhadap kesalahan atau kenakalan biasanya anak perempuan dihadapi dengan ekspresi wajah tidak suka atau dimarahi secara verbal sedangkan pada anak laki – laki lebih banyak dikenai hukuman fisik. Hal ini menyebabkan anak perempuan lebih memperhatikan perasaan orang lain sedangkan anak laki-laki lebih agresif dan asertif. Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat yang menunjukkan bahwa asertivitas bukan milik semua orang karena masyarakat mengajarkan asertivitas kurang sesuai untuk anak perempuan dan adanya tuntutan masyarakat yang menjadikan laki-laki lebih agresif mandiri, dan kompetitif, sehingga anak perempuan lebih pasif terhadap hal-hal yang kurang berkenan dihatinya, tergantung, dan konformis (Yogaryjantono, 1991) sehingga lingkungan memang cukup besar peranannya pada perkembangan individu (Walgito,1997), terutama pada perilaku individu. Kimble (Retnaningsih, 1992) mengemukakan bahwa anak laki-laki lebih tegas dan dominan daripada anak perempuan baik verbal maupun non verbal, hal ini ditunjukkan jika mereka bersama-sama dalam satu situasi, pada keadaan heterogen tersebut akan tampak bahwa anak perempuan lebih tidak asertif jika dibandingkan anak laki-laki. Anak perempuan akan asertif jika mereka dalam satu situasi dengan sesama jenisnya. Sementara itu Kaplan dan Sedney (Hidayati, 1987) menemukan bahwa untuk laki-laki cenderung asertif daripada perempuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa cara pola asuh dan lingkungan berperan dalam menentukan perkembangan perilaku asertif seseorang.


D. Kebudayaan 
Setiap kebudayaan mempunyai aturan yang berbeda-beda, perbedaan ini dapat mempengaruhi pembentukan pribadi masing-masing individu terutama dalam perilaku asertifnya. Prihatin (1987) hasil penelitiannya mengemukakan bahwa mahasiswa Batak lebih asertif dari pada mahasiswa Jawa. Sue, dkk (Reputrawati, 1996) mengatakan bahwa mahasiswa Amerika keturunan Asia pada umumnya lebih introvert, tidak asertif dan pasif jika dibandingkan dengan mahasiswa Amerika keturunan Eropa. Arsante dan Gudykunis (Retnaningsih, 1992) mengemukakan bahwa dalam negara-negara yang mempunyai nilai-nilai kebudayaan maskulin seperti Jepang, Australia, Venezuela, Italia, Meksiko, Inggris, dan Jerman, kompetisi dan perilaku asertif lebih dipentingkan, sebaliknya pada negara-negara yang mempunyai nilai-nilai feminin seperti Swedia, Belanda, Denmark, Chile, Portugal, dan Muangthai lebih mengutamakan Mnurturance (pemeliliaraan) dan belas kasihan. Kebudayaan Jawa menganut dua kaidah atau prinsip yang menentukan pola pergaulan dalam masyarakat, yaitu prinsip kerukunan dan prinsip hormat (Suseno, 1985 ). Sikap orang Jawa yang mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat juga ditanamkam rasa malu, sungkan, dan takut sebagai sikap hormatnya pada orang lain juga untuk menghindari pertikaian atau konflik, bila dikaitkan dengan perilaku asertif, kebudayaan Jawa tersebut kurang mendukung asertivitas masyarakatnya. Di samping itu, sejak kecil anak dididik untuk malu, takut dan sungkan sehingga dapat membentuk rasa percaya diri yang rendah, kurang imsiatif tidak spontan, kurang ekspresif takut untuk mengemukakan pendapatnya maupun perasaannya serta ide- idenya sehingga anak menjadi tidak maju dan kurang berkembang. 

E. Tingkat pendidikan 
Caplow (Yogaryiantono, 1991) mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin ada kecenderungan untuk sukses dalam bekerja. Semakin orang berpendidikan akan semakin mengenal dirinya secara lebih baik, termasuk kelebihan dan kekurangannya, sehingga mereka cenderung mempunyai rasa percaya diri. Dengan pengalaman pendidikan formal yang dialami individu akan berakibat besar terhadap sikap, konsepsi, dan cara berpikir. Dalam bertingkah laku, lebih fleksibel lebih terbuka terhadap pembaharuan, serta ingatan dan perasaannya lebih luas, ini akan membawa seseorang menjadi percaya diri yang orientasi segala perilakunya lebih dititik beratkan pada keputusannya sendiri (Yogaryjantono, 1991). 
Diperkuat dengan hasil penelitian Domikus (1988) menyebutkan bahwa orang yang mempunyai percaya diri yang baik akan lebih dapat berperilaku asertif. Selain itu juga didukung oleh Firth dan Snyder (Prabana 1997) faktor umur dan tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap perkembangan asertivitas.

F. Jenis pekerjaan dan lama kerja 
Penelitian Kiecolt dan Mc Grath (Prabana 1997) menyimpulkan bahwa jenis pekerjaan berpengaruh terhadap asertivitas individu artinya jenis pekerjaan yang banyak melibatkan individu dengan orang lain akan berpengaruh positif terhadap kemampuan seseorang dalam berperilaku asertif karena banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukan. Penelitian tersebut didukung oleh Koentjoro (1987) yang menyatakan bahwa beberapa hal yang diduga mempengaruhi self asertiveness adalah pekerjaan yang banyak menuntut hubungan interpersonal. Selain itu peneiitian Windiatti (Yogaryjantono, 1991) bahwa ada perbedaan tingkat asertivitas wanita karier dengan karakteristik pekerjaan yang berbeda. Lama kerja juga bisa berpengaruh terhadap asertivitas seseorang. Masa kerja yang semakin lama akan menambah pemahaman tentang pekerjaan, menambah kelancaran tugas, dan menambali tanggung jawab. Dengan bertambah kemampuannya tersebut, akan mempunyai perasaan puas terhadap pekerjaannya karena menghasilkan pekerjaan dengan hasil baik dan mendatangkan sikap positif terhadap pekerjaannya. Hal itu sejalan dengan peneiitian yang dilakukan Fensterheim dan Baer (Susanto, 1997) menyatakan bahwa semakin seseorang memiliki tingkah laku asertif dalam hubungannya dengan pekerjaan dan semakin bersedianya untuk menunjukkan dirinya, semakin besar pula kepuasan yang akan diperoleh.

G.  Kondisi sosial ekonomi dan intelegensi 
Faktor sosial dan intelegensi seseorang mempengaruhi tinggi rendahnya asertivitas seseorang. Ditunjukkan oleh hasil peneiitian Sehartz dan Gottman (Retnaningsih, 1992) menunjukkan bahwa individu yang memiliki status sosial ekonomi dan intelegensi yang tinggi pada umumnya tinggi pula nilai asertivitasnya. Johandar (1980) menambahkan bahwa antara intelegensi dan prestasi belajar memiliki korelasi yang positif artinya jika intelegensi semakin tinggi semakin tinggi pula prestasi belajarnya.



Demikianlah penjelasan saya mengenai perilaku Asertif. Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah ilmu pengetahuan para pembaca. Ingatlah bahwa membaca adalah jendela dunia dan teruslah membaca agar kamu bisa menguasai dunia. Mohon maaf untuk kesalahan atau kekurangan dalam artikel ini dan terimakasih untuk kunjungannya. Sampai jumpa lagi pada artikel saya berikutnya.


Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.