Langsung ke konten utama

Keberanian Untuk Melawan Rasa Takut


Ini adalah tentang melawan rasa takut dan phobia ...
Kedua hal ini memiliki perbedaan namun saling berhubungan. Rasa takut tidak memastikan seseorang itu phobia tetapi phobia memastikan seseorang itu memiliki rasa takut. Dua hal yang sama, tetapi memiliki perbedaan.
Gemetar, keringat dingin, menangis, berteriak, lemas dan pikiran menjadi kosong sampai terjatuh lemah dan pingsan.
Itu semua adalah berbagai ekspresi atau respon yang diberikan dari rasa ketakutan seseorang.
Mungkin tidak begitu berat jika hanya diselaraskan dengan respon, lalu bagaimana jika rasa ketakutan itu berkembang menjadi sebuah phobia dan memberikan trauma yang sulit untuk disembuhkan?

Pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai rasa takut dan juga hubungannya dengan phobia.
Ide ini tiba-tiba muncul akibat penghuni kamar di lantai 2 ini pergi berlibur dan tinggallah saya sendiri.
Sekitar ada 10 kamar di lantai 2 tempat saya tinggal. Berhubung sekarang sedang libur semester, mereka banyak yang kembali ke kampung halamannya sedangkan saya masih sibuk mengurus keperluan tugas akhir kuliah. Maklumlah yang berlibur adalah adik kelas.
Dibilang takut sebenarnya ada rasa takut, apalagi ketika sadar ternyata malam kemarin hanya kamar saya yang berisi sedangkan kamar yang lain sudah kosong. Tapi rasa takutnya masih bisa diatasi dengan tidur lebih awal dan ketika rutinitas terbangun tengah malam datang, yaaa dipaksa harus tidur lagi. Alhasil saya berhasil melewati 4 malam sendirian dilantai ini.

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap suatu ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan.

Rasa takut ini umum terjadi pada semua manusia normal. Sebagai contoh yang paling sering kita temui adalah rasa takut pada orang yang sedang sakit terutama orang yang sedang sakit parah. Cenderung ada perasaan takut yang mereka alami seperti takut meninggal atau mungkin takut jika penyakitnya tidak akan sembuh. Contoh lainnya seperti pada pasangan yang akan memasuki masa pernikahan, rasa ketakutan pada ibu hamil yang akan melahirkan, rasa ketakutan pada suami yang menunggu proses persalinan istrinya, rasa takut orangtua pada perjalanan liburan sekolah anaknya, ataupun rasa takut seorang wanita yang memiliki pacar seorang angkatan ketika pacarnya ditugaskan menuju medan perang. Hal yang belakangan ini saya jumpai adalah rasa ketakutan saat mempersiapkan skripsi. Saya melihat ketakutan pada teman-teman yang skripsinya belum di acc sehingga merasa takut jika tidak bisa maju skripsi ditambah lagi karna melihat teman-teman lainnya yang sudah menyelesaikan skripsinya, sedangkan ketakutan yang sama juga ditemukan pada mereka yang akan melaksanakan presentasi skripsinya. Perasaan takut yang muncul ketika dia akan memasuk ruangan dan bertemu dengan penguji di dalam. Hal itu dapat terlihat dari ekspresi raut wajah, keringat dan gerakan tubuh yang tidak bisa tenang. Namun, setelah keluar dari ruang sidang dan dinyatakan lulus, maka gambaran dari ekspresi takut tadi hilang.
Ini adalah gambaran dari sekedar sebuah rasa takut. Rasa takut yang bisa muncul dan kemudian hilang ketika berakhir menjadi sebuah kebahagiaan. Lalu... bagaimanakah dengan rasa takut yang berakhir dengan sebuah trauma?
Hal inilah yang saya maksudkan untuk membawa kita pada sebuah teori tentang Phobia.

Marks (dalam Morris dkk, 1987) mengatakan bahwa fobia merupakan bentuk yang spesifik dari takut yang muncul di situasi tertentu, tidak bisa dijelaskan secara rasional, sulit untuk dikontrol dan biasanya situasi yang ditakutkan tersebut selalu dihindari. Fobia adalah rasa takut yang menetap terhadap objek atau situasi dan rasa takut ini tidak sebanding dengan ancamannya (Nevid, 2005). Selanjutnya Neale, dkk (2001) mengatakan bahwa fobia yaitu perasaan takut dan menghindar terhadap objek atau situasi yang realita atau kenyataannya tidak berbahaya.

Yaaa... contohnya adalah ketakutan pada sebuah balon yang sudah terisi udara merupakan hal yang umumnya tidak ditakuti oleh oranglain bahkan balon merupakan objek yang banyak disenangi terutama pada anak-anak. Berbeda halnya jika muncul rasa takut ketika kita dihadapkan pada seekor buaya, rasanya semua orang akan takut kecuali seorang pawang buaya, mungkin buayanya yang akan ketakutan. Namun hal ini ini akan menjadi mengarah pada phobia jika rasa takut itu berlebih bukan hanya berhadapan dengan seekor buaya tetapi perasaan takut itu juga muncul ketika melihat gambar buaya, pahatan buaya atau film dan karya seni apapun yang menggambarkan seekor buaya secara tidak  langsung.

Hampir semua perasaan takut bermula dari masa kanak-kanak karena pada masa ini anak belum memiliki kemampuan berpikir yang baik. Hal ini membuat mereka sangat reseptif dalam mengembangkan rasa takut pada hal-hal yang tidak dikenalnya (Gunawan, 2006). Anak-anak pada umumnya memiliki berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran yang biasanya disebut dengan kecemasan. Pengalaman yang tidak baik dapat menyebabkan anak menjadi panik dan sangat ketakutan. Ketakutan ini dapat semakin buruk dan menyebabkan ganggguan dalam fungsi kehidupan sehari-hari (Mortweet & Christophersen, 2002). Penyebab munculnya ketakutan pada anak disebabkan oleh banyak hal, tetapi menurut Farley (dalam Romans, 2007) ketakutan dasar mungkin disebabkan oleh memori yang samar-samar dari ketidakberdayaan yang berhubungan dengan kondisi yang mengancam dalam kehidupan manusia, seperti diserang, dijatuhkan, dihancurkan dan ditinggalkan. Farley (dalam Romans, 2007) juga mengatakan bahwa genetik dan lingkungan berhubungan dengan ketakutan yang dialami oleh anak-anak. Sejarah keluarga yang berhubungan dengan kecemasan dan depresi kadang-kadang bisa mempengaruhi. Orangtua juga memiliki pengaruh yang besar terhadap anaknya. Jika orangtua memiliki kecemasan maka ia akan menceritakannya kepada anak. Allen (dalam Romans, 2007) setuju bahwa penyebab kecemasan pada anak bervariasi pada setiap usia. Anak yang lebih kecil cenderung takut berpisah atau kehilangan orangtua. Pra remaja dan remaja takut ditolak oleh teman sebaya atau gagal di sekolah.

Menurut Durand & Barlow (2005), ada beberapa penyebab munculnya specific phobia yaitu:
  • Traumatic event ~ Kebanyakan orang yang mengalami specific phobia disebabkan oleh kejadian trauma. Contohnya jika kita digigit oleh anjing, maka kita akan menjadi phobia terhadap anjing.
  • Information transmition ~ Seseorang dapat mengalami specific phobia karena sering mengingat sesuatu yang berbahaya. Misalnya seorang wanita mengalami fobia terhadap ular, padahal wanita tersebut belum pernah bertemu dengan ular. Tetapi, ia sering dibilang atau mendengar bahwa akan ada ular yang berbahaya di rumput yang tinggi. Hal ini membuat wanita tersebut menggunakan sepatu boot untuk menghindari bahaya, walaupun ia berjalan di jalan yang biasa.
  • Sosial dan Kultural ~ Faktor ini sangat kuat dapat mempengaruhi seseorang mengalami specific phobia. Dalam masyarakat tidak dapat diterima jika seorang laki-laki menunjukkan ketakutan dan phobia. Mayoritas specific phobia terjadi pada perempuan.
Saya memiliki phobia pada ketinggian (Acrofobia), kilat dan petir (Brontofobia), air tenang, balon dan suatu hal yang masih belum bisa saya pahami. Perasaan itu bermunculan dari reaksi negatif yang saya dapatkan dan reaksi tersebut terpapar secara berulang sehingga melekat dalam pikiran saya dalam waktu yang lama.
Ada hal khusus yang membuat saya tidak mampu berada pada ketinggian, ataupun ketika saya berada pada ketinggian saya dapat bertahan jika tidak melihat kebagian bawah. Rasa takut itu sering muncul ketika saya sudah berada diketinggian tersebut dan hasil dari rasa takut itu meminta saya untuk loncat dan mengakhiri rasa takut, bukan justru mundur ke belakang. Berbeda jika saya berada di dalam pesawat, mungkin seluruh penumpang akan mengikat saya jika meminta pintu pesawat dibuka. Untuk menghindari hal itu, saya sering menjauh dari ketinggian seperti dari jembatan, gedung tinggi yang terbuka, balkon pada lantai dua dan seterusnya, dll. Ini merupakan contoh dari Information transmition.

Ketika kecil, jika tidak salah saya sudah berada pada bangku TK (Taman Kanak-Kanak) pernah terjadi hujan sangat lebat dan disusul dengan petir yang kuat bersahut-sahutan dirumah asal kelahiran saya. Waktu itu sudah malam dan jika saya tidak salah ingat kami berkumpul diruang tamu dikarenakan mati lampu dan pencahayaan hanya ada diruangan itu. Tidak jelas ingatan saya melampauinya karna umur yang masih sangat kecil, tapi ada seorang anak gadis yang tinggal dirumah kami menjunjung saya menuju kamar. Tepat di depan kamar, sebuah kilat besar menerangi rumah kami dan kemudian disusul dengan petir yang sangat kuat. Masih terekam kuat dimemori ingatan saya bahwa ada percikan seperti api muncul dari bawah tepat didekat kaki saya. Kemudian anak gadis itu menggendong dan membawa saya kembali ke ruang tamu. Hal itu semakin sering muncul di memori saya ketika ada beberapa kejadian orang meninggal karena di sambar petir di kampung halaman saya. Semenjak kejadian itu saya memiliki rasa takut melihat kilat dan takut mendengar petir. Ini merupakan salah satu contoh dari Traumatic event.

Jika untuk air tenang ..... mungkin ada pengaruhnya karna dari kecil saya sangat suka menonton film horor kemudian saya membayangkan berbagai jenis binatang buas yang hidup di air tenang. Pikiran saya mensugesti hal itu sehingga mendapatkan respon rasa takut yang luar bisa dan sangat sulit untuk saya hilangkan sampai saat ini. Terlebih hal itu semakin parah ketika saya berada di bangku SMA. Waktu itu ada perjalanan liburan dari asrama menuju tempat permandian alam yang namanya sudah saya tidak ingat lagi. Dia seperti kolam berenang, hanya saja airnya mengalir dari mata air tapi tidak deras seperti sungai karna sudah dibuat banyak bendungan dengan menggunakan semen sedangkan untuk alirannya hanya sebuah lobang yang tidak begitu besar. Ada banyak kolam yang diisi oleh aliran tersebut dan disalah satu tempat yang saya mandikan adalah awal dari trauma yang masih saya bawa sampai saat ini. Tergantung yang mempercayai mistik atau tidak, tapi pada saat itu saya hampir tenggelam karna tarikan pada kaki saya, padahal kolam itu sejajar dengan sebahu saya. Syukur Puji Tuhan yang sungguh sangat berbaik hati menyelamatkan saya melalui tangan orang-orang yang saat itu menolong saya, entah bagaimana kejadiannya yang jelas saya terbangun dan masih dalam keadaan hidup dengan membawa trauma. Hal ini membuat saya menjadi membenarkan film-film horor yang biasa saya tonton karna ada perasaan pembenaran diri sendiri setelah mendapatkan kejadian yang sama. Hal ini yang dimaksudkan dengan Traumatic event.

Nah...
Pertanyaannya sekarang, apakah Phobia itu tidak bisa disembuhkan?
Jawabannya adalah bisa jika yang terutama dari kamu sendiri mau dan sudah bertekad untuk mengalahkan rasa takut itu. Seperti yang dikatakan oleh Jimmy K Santosa seorang terapis hipnoterapis, NS NLP (Neuro  Linguistic Programming), Touch Therapy, EFT (Emotional Freedom Technique) Ego State Therapy, dan juga Graphology (analisa tulisan tangan)

“Sesederhana apa pun, jangan anggap remeh phobia. Karena nggak cuma bakal nganggu aktivittas dan kehidupan sosial kamu, tapi phobia juga bisa membahayakan jantung kamu! Soalnya serangan jantung dan stroke bisa datang karena cemas berlebihan dan jantung yang berdebar-debar terlalu sering”.

Sebenarnya ada banyak cara untuk menghilangkan phobia kamu, kamu bisa saja mencarinya di berbagai media massa ataupun melalui google. Namun, alangkah lebih baik jika kamu mengkonsultasikan hal ini pada ahlinya jika kamu merasa tidak mampu untuk berjuang sendiri menghilangkan phobia itu. Mungkin dibawah ini adalah salah satu contoh terapi yang akan diberikan seorang psikolog dalam mengatasi phobia, tergantung seorang psikolog tersebut mendiagnosis tingkat phobia kamu. Seperti contoh terapi yang dipaparkan oleh psikolog Henni Norita, adalah:
  1. Hipnoterapi ~ Penderita diberi sugesti-sugesti untuk menghilangkan phobia.
  2. Flooding ~ Teknik ini dilakukan dengan cara ekstrim tapi tidak membahayakan. Penderita phobia yang ngeri dengan anjing (cynophobia) misalnya, dimasukkan ke dalam ruangan dengan beberapa ekor anjing jinak hingga ia tidak ketakutan lagi.
  3. Desentisisasi Sistematis ~ Dilakukan exposure bersifat ringan. Penderita phobia yang takut akan anjing disuruh relaks dan membayangkan berada ditempat cagar alam yang indah dimana si penderita didatangi oleh anjing-anjing lucu dan jinak.
  4. Abreaksi ~ Penderita phobia yang takut pada anjing dibiasakan terlebih dahulu untuk melihat gambar atau film tentang anjing, bila sudah dapat tenang baru kemudian dilanjutkan dengan melihat objek yang sesungguhnya dari jauh dan semakin dekat perlahan-lahan. Bila tidak ada halangan maka dapat dilanjutkan dengan memegang anjing dan bila phobia-nya hilang mereka akan dapat bermain-main dengan anjing. Memang sih bila phobia yang dikarenakan pengalaman traumatis lebih sulit dihilangkan.
  5. Reframing ~ Penderita phobia disuruh membayangkan kembali menuju masa lampau dimana mulanya si penderita mengalami phobia. Setelah ingatan penderita berhasil diarahkan ke tempat itu, ia lalu diminta untuk membayangkan suatu manusia baru yang tidak takut lagi pada phobia-nya.
  6. Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy-CBT). Dalam CBT digunakan tiga teknik ini untuk mencapai tujuan: (1) Didactic component: Pada tahap ini terapis berperan dalam membantu  penderita/klien untuk menyusun pemikiran-pemikiran dan harapan positif untuk tujuan akhir terapi. (2) Cognitive component: Membantu mengidentifikasi pikiran dan asumsi yang mempengaruhi perilaku penderita phobia, khususnya yang dapat mempengaruhi mereka hingga menjadi phobia. (3) Behavioral component: Memodifikasi perilaku penderita phobia agar dapat menunjukkan perilaku yang lebih sesuai ketika harus menghadapi sumber phobia.

 Saya sudah mencoba untuk melakukannya pada diri saya sendiri. Tidak ada perayaan apapun dirumah dengan menggunakan balon karna mama mengerti bahwa saya tidak bisa berinteraksi dengan balon. Bukan tidak menyiksa memiliki phobia yang tidak masuk akal seperti ini, karna hal ini adalah kesempatan yang baik untuk menjadi bulan-bulanan adik-adik saya.Untuk spesifiknya, balon yang dimaksudkan disini adalah balon yang mudah dipecahkan. Bukan hanya perasaan takut yang muncul, tapi benar seperti yang dikatakan pada teori bahwa dada merasa sakit,  jantung semakin berdetak begitu kuat, dan reaksi berteriak bahkan ingin menangis sering muncul. Hal itu sering saya alami saat melihat balon di tempat perbelanjaan umum, ditempat makan dan pada perayaan tertentu. Secara refleks rasa ketakutan itu akan menghasilkan sebuah teriakan dan pejaman mata agar tidak melihat balon tersebut. Tapi rasanya itu semua memang bergantung pada diri kita sendiri. Pada suatu kesempatan, ada banyak balon di kampus untuk dijadikan perayaan atas kelulusan sidang. Memang muncul rasa sesak di dada dan jantung mulai berdetak kuat. Saya mencoba memejamkan mata dan berusaha tidak melihat balon tersebut. Saya mencoba memikirkan dalam-dalam kenapa saya harus takut pada balon, saya bisa menghancurkan balon itu kapan pun saya mau. Saya membuangnya dan melepaskannya agar balon itu terbang jauh, tidak ada yang perlu saya takutkan. Saya membayangkan hal yang indah seperti seni gambar yang menarik jika saya berfoto dengan balon. Baiklah.... kemudian saya membuka mata dan mengambil balon tersebut. Jantung saya masih berdegup kuat dan sesekali saya masih berteriak ketika balon tersebut disodorkan ke arah saya, tapi masih juga saya tetap memberanikan diri memegang penopang balon tersebut. Mungkin ini adalah awal yang baik walaupun saya masih belum memiliki keberanian untuk langsung menyentuh balonnya. Itu semua bisa dirubah jika kita ada kemauan dan mungkin saya harus membiasakan diri berinteraksi dengan balon. Kan kasihan juga anak saya kelak tidak bisa menggunakan balon pada perayaan ulangtahunnya karna mamanya phobia balon.
Untuk ketinggian, saya pernah sekali mencobanya tapi sepertinya itu bukan solusi yang baik karna meloncat ddari ketinggian bukan jawaban dari mengatasi phobia ini.

So... Percayalah bahwa pada dasarnya di dunia ini tidak ada yang lebih sempurna selain manusia dan Tuhan pun sudah mengatakan bahwa manusia adalah penguasa dalam bumi yang diciptakan Tuhan ini. Kamu dan Saya yang memiliki rasa takut dan trauma pada apapun itu, harus memiliki keyakinan bahwa itu bisa kamu hilangkan. Tidak ada yang mudah untuk menghilangkan sesuatu yang selama ini menjadi beban berat dalam hidup kita dan semua itu memang butuh perjuangan, yang penting kita selalu berusaha, yakin bahwa semua akan menjadi seperti yang kita inginkan dan jangan lupa untuk memohon bantuan Tuhan. Seharusnya tidak ada yang perlu kita takutkan selain takut pada Tuhan kita. Semoga Kamu dan Saya bisa mengalahkan segala rasa takut pada hal yang tidak pantas untuk ditakutkan, Semoga...
Pada akhirnya saya mengucapkan terimakasih bagi yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca artikel saya ini, terkhusus bagi kamu yang sudah memberikan kritik dan saran untuk perbaikan artikel saya pada masa yang akan datang.


Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.