Langsung ke konten utama

Mungkin Kesenangan Bukan Kebahagiaan

Di waktu yang lalu saya berada dibangku ini untuk menuliskan kalimat per kalimat tentang kebahagiaan.
Seharusnya menjadi sebuah kalimat yang panjang dan akhirnya berbentuk menjadi artikel dengan kata-kata yang saya susun sebaik mungkin.
Tapi hanya sanggup menjadi sebuah draf.
Menulis dan kemudian dihapus, kemudian ditulis dan lagi-lagi dihapus.
Akhirnya berhenti tanpa akhir yang jelas dan tanpa ada inti dari cerita tersebut.
Tidak ada ...


Apa yang harus saya jelaskan tentang kebahagiaan?
Saya bahkan tidak mengerti dengan artinya.
Mencari-cari dan kemudian membaca berbagai artikel dari para ahli, psikologi dan dari penulis lainnya tentang kebahagian.
Mereka mengatakan ini dan itu, mereka mengatakan sesuatu hal yang berbeda dan sesuatu yang bisa nyaris sama.
Tapi aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.

Perasaan nyaman?
Perasaan senang?
Perasaan tentram?
Mereka mengatakan itu adalah bagian dari kebahagiaan.
Benarkah?
Bagaimana dengan sebuah pernikahan?
Ketika menjelang pernikahan, ketika ditanya pada pasangan yang saling mencintai dan saling menginginkan satu sama lain maka mereka akan mengatakan bahagia.
Mereka merasakan nyaman, senang, tentram dan bukankah itu berarti mereka bahagia?
Lalu bagaimana ketika pernikahan mereka ternodai, terkhianati atau pernikahan mereka berakhir?
Apakah mereka tidak mengingat ketika mengatakan mereka bahagia?
Apakah tidak ada tersisa kenangan atau bagian kecil dari kebahagiaan itu untuk menjadi pengerat mereka?
Tidak ada...


Bagaimana dengan cita-cita?
Banyak diantaranya ketika ditanya apa yang akan membuat mereka bahagia?
Akan banyak yang mengatakan ketika mereka menggapai cita-cita mereka.
Yaaa... semua manusia yang sehat memang memiliki tujuan dan cita-cita dihidup ini.
Lalu ketika mereka sudah mendapatkan cita-cita mereka apakah mereka sudah bahagia?
Bagaimana ketika cita-cita yang diimpikan selama bertahun-tahun tiba-tiba hanya bisa dia nikmati dalam waktu yang singkat?
Lalu ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cita-citakan?
Perjuangan mereka untuk menggapai cita-cita itu dan kenyataannya bukanlah takdirnya untuk mendapatkannya sehingga dia kalah ketika hampir menggapainya?
Apakah mereka bahagia?
Apakah mereka akan menginginkan cita-cita itu lagi sebagai alasan mereka bahagia?


Bagaimana dengan kelahiran?
Jika kelahiran itu diinginkan, yang akan berbahagia bukan hanya wanita yang melahirkan melainkan ikut serta suami dan seluruh keluarga akan merasakan kebahagiaan itu.
Terkhusus kepada pasangan yang mendapatkan karunia itu, mereka akan mengatakan bahagia..
Tepat sekali, mereka akan menangis bahkan mungkin berteriak kegirangan untuk sebuah kelahiran.
Mereka akan mencium serta memeluk anak itu dan memberikan nama terbaik untuk anak yang mereka anggap karunia itu.
Setiap masa kecil anak itu akan dipenuhi dengan ciuman dan kasih sayang karna gerak langkah, suara dan tingkah anak kecil yang sungguh menggemaskan itu.
Lalu bagaimana ketika anak itu bertumbuh menjadi anak yang nakal?
Lalu bagaimana ketika anak itu tidak memberikan kebanggaan pada orangtunya?
Lalu bagaimana ketika anak itu mendatangkan banyak masalah dan sering menyusahkan keluarganya?
Apakah bisa dipastikan mereka mampu mengatakan bahwa mereka bahagia?
Bisakah mereka mengingat kembali perasaan bahagia saat mereka mendapatkan anak itu?
Bisakah mereka kembali merasakan perasaan bahagia yang dulu disaat masa sekarang?
Bisakah anda merasakan kebahagiaan yang sama saat melahirkan anak kedua, ketiga, keempat dan seterusnya?
Faktanya, anda yang sedang membaca dan setiap orang yang akan anda tanya, 'kurang lebih' akan melupakan itu.

Bagaimana dengan jatuh cinta?
Bagaimana dengan hubungan percintaan?
Yahhhh..
Pada saat pria itu menyatakan cintanya kepada kamu dan meminta kamu menjadi pacarnya, kemudian kamu akan menerimanya karna kamu juga mencintai pria itu.
Perlahan diawal hubungan itu maka kamu akan selalu tersenyum dan selalu tersenyum dan ingin segala manusia di dunia ini tau bagaimana perasaanmu saat itu.
Perasaan Bahagia...
Kamu menyebutnya bahagia ketika teman kamu bertanya kepada kamu.
Kamu akan menceritakan pada temanmu itu apa yang membuat kamu sangat bahagia ketika berpacaran dengan dia.
Kamu akan menceritakan bagaimana pria itu memperlakukan kamu dengan segala tindakannya yang selalu membuat kamu jatuh cinta dan jatuh cinta.
Kamu akan mengatakan bahwa kamu sangat bahagia sekali (hanya sekali), merasa sangat nyaman dan perasaan itu seakan tidak pernah kamu rasakan ketika menjalin percintaan dengan pria lain.
Kamu terbang dan membawa perasaan bahagia itu seakan perasaan bahagia itu akan selamanya begitu, karna tidak akan ada yang bisa merubahnya.
Kandas............
Kamu tidak mempersiapkan diri bagaimana kehilangan kebahagiaan itu.
Tamatlah hidupmu dan hancurkanlah perasaanmu.
Ketika kamu sudah mendapatkan rasa sakit itu, lagi dan lagi sampai akhirnya kamu kehilangan kenyamanan, ketentraman dan kehilangan cinta itu.
Bisakah kamu mengatakan kamu bahagia?
Atau bisakah kamu merasakan kembali rasa bahagia yang persis sama dengan perasaan bahagia yang waktu itu kamu umbarkan pada banyak orang?
Tidak !!!
Saya sudah mengerti itu dan kamu akan merusak sebagian kecil kepercayaan kamu akan kebahagiaan.

Bagaimana dengan deretan mobil mewah dan termahal di dunia?
Bagaimana dengan rumah mewah dengan barang-barang termahal di dalamnya?
Bagaimana dengan keinginan untuk membeli barang-barang mahal apapun dan semua dapat terbeli?
Bagaimana dengan perusahaan dengan cabang yang berserakan di berbagai negara atau dipenjuru kota?
Bagaimana dengan dengan ribuan atau jutaan bahkan ratusan hektar tanah?
Bagaimana dengan penghasilan melimpah bahkan sampai tidak terhitung berapa banyak lagi jumlahnya?
Bagaimana dengan perhiasan melimpah? Pakaian mewah?
Bagaimana dengan pria yang menginginkan dikelilingi para wanita cantik dan seksi?
Apakah itu Kebahagiaan?


Masih banyak contoh lainnya.
Mungkin kamu juga bisa mengingat kembali yang mungkin bisa kamu jadikan kebenaran akan gagasan ini.

Akan ada yang mengatakan bahwa, "Ya... Saya bahagia kok."
"Tentu, itu adalah kebahagiaan dan saya bisa mengingat kebahagiaan itu"
"Hidup saya sudah bahagia kok dan tidak ada yang kurang lagi dari hidup saya"

Bisa saja benar dan bisa saja salah yang saya katakan.


Mungkin bagi saya bahagia itu adalah senang dan senang itu adalah bahagia.
Hari ini saya akan mengatakan bahwa saya bahagia karna bisa menyelesaikan pendidikan saya dengna nilai bagus dan tepat pada waktunya.
Ketika saya melanjutkan studi dan kemudian saya menyelesaikannya dengan nilai bagus dan tepat pada waktunya, apakah saya bahagia?
Entahlah... itu terasa seperti sebuah perasaan senang dan saya tidak bisa merasakan kembali perasaan pertama saat menyelesaikan study saya.
Mendapatkan hadiah barang yang sungguh saya inginkan, jika saya mengatakan bahagia apakah saya akan bahagia juga ketika ada 3 orang lagi yang memberikan barang yang sama?

Mungkin ini hanya sisa dari kebingungan saya karna tidak bisa menyelesaikan artikel yang lalu tentang kebahagiaan.
Ingin mengutip dari artikel oranglain pun rasanya tidak sanggup karna tidak selaras dengan perasaan dan logika saya.

Mungkin untuk sementara semuanya hanya kesenangan bukan kebahagiaan.

Dan kebahagiaan itu ...


Rasanya kebahagiaan itu adalah bersyukur.


Sepertinya itu adalah arti yang masuk akal untuk saya saat ini.


Bagaimana dengan kamu ?



Postingan populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…