Langsung ke konten utama

Kleptomania


Pendahuluan
Kleptomania (bahasa Yunani: κλέπτειν, kleptein, "mencuri", μανία, "mania") adalah penyakit jiwa yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri. Benda-benda yang dicuri oleh penderita kleptomania umumnya adalah barang-barang yang tidak berharga, seperti mencuri gula, permen, sisir, atau barang-barang lainnya. Sang penderita biasanya merasakan rasa tegang subjektif sebelum mencuri dan merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mereka melakukan tindakan mencuri tersebut. Tindakan ini harus dibedakan dari tindakan mencuri biasa yang biasanya didorong oleh motivasi keuntungan dan telah direncanakan sebelumnya. Penyakit ini umum muncul pada masa puber dan ada sampai dewasa. Pada beberapa kasus, kleptomania diderita seumur hidup. Penderita juga mungkin memiliki kelainan jiwa lainnya, seperti kelainan emosi, Bulimia Nervosa, paranoid, schizoid atau borderline personality disorder. Kleptomania dapat muncul setelah terjadi cedera otak traumatik dan keracunan karbon monoksida.

Kegagalan rekuren untuk menahan impuls untuk mencuri barang-barang yang tidak diperlukan untuk pemakaian pribadi atau yang memiliki arti ekonomi, benda-benda yang diambil sering kali dibuang, dikembalikan secara rahasia, atau disembunyikan. Orang kleptomania mungkin merasa marah atau balas dendam, mereka juga tidak mempertimbangkan kemungkinan penangkapan meskipun penahanan yang berulang menyebabkan penderitaan dan rasa malu. (Kaplan dan Sadock, 1997 : 224)

Orang dengan klpetomania tidak mencuri untuk alasan ekonomis. Barang-barang yang mereka curi pada umumnya bukanlah barang barang yang mereka butuhkan karena bukan barang tersebut yang menjadi sasaran mereka melainkan tindakan mencuri itu sendirilah yang merupakan sasaran. (Kaplan dan Sadock, 1997).

Mereka mencuri tidak direncanakan dan tidak melibatkan orang lain. Ketidak mampuan seseorang menolak dorongan berulang untuk mencuri barang- barang yang sebenarnya tidak diperlukan untuk kegunaan pribadi atau yang dicuri bukan karena nilai uangnya. Tindakannya mengikuti pola tertentu yaitu merasakan ketegangan tepat sebelum mencuri dan diikuti rasa puas atau lega saat pencurian dilakukan (Mc. Elroy dan Arnold, 2001)

Gangguan yang ditandai oleh kegagalan menahan dorongan yang berulang untuk mencuri sesuatu yang tidak menghasilkan uang. Barang itu kemudian dibuang, diberikan kepada orang lain atau dikumpulkan. (PPDGJ III, 1993)

Kleptomania di derita paling banyak ditemukan pada wanita secara umum, rata-rata usia berkisar 20-35 tahun dengan durasi gangguan selama 16 tahun, diperikirakan hanya sekitar 0,6% dari populasi mengidap gangguan ini. Kemunculan kleptomania secara pasti tidak dapat diketahui namun kleptomania mempunyai korelasi dengan ganggaun yang dialami individu sebelumnya seperti obsessive-compulsive Disorder (7%) dan bulimia nervosa (65%). Beberapa penelitian psikoanalisa menyebutkan bahwa kleptomania disebabkan oleh perbagai permasalahan dan fase masa kanak-kanak yang tidak berjalan dengan semestinya, akibatnya dorongan mencuri merupakan salah satu cara dorongan untuk mengembalikan masa tersebut. Penderita kleptomania melaporkan bahwa rata-rata awal kemunculan gangguan tersebut pada usia 5 tahun. Secara pasti sebab-sebab kemunculan kleptomania masih dalam perdebatan, namun diperkirakan ketidakseimbangan zat kimia serotonin di dalam otak diduga penyebab bentuk abnormalitas ini.

Pendekatan Psikologis
Kleptomania dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya ialah sebagai wadah pemenuhan kepuasaan. Dilihat dari kacamata ilmu jiwa, kleptomania merupakan sebuah impuls abnormal untuk mencuri. Ini merupakan penyakit mental patologis. Seperti gangguan pengendalian impuls lainnya, kleptomania ditandai oleh ketegangan yang memuncak sebelum tindakan, diikuti oleh pemuasan dan peredaan ketegangan dengan atau tanpa rasa bersalah, penyesalan, atau depresi selama tindakan. Mencuri adalah tidak direncanakan dan tidak melibatkan orang lain.

Walaupun pencurian tidak terjadi jika kemungkinan akan ditangkap, orang kleptomania tidak selalu mempertimbangkan kemungkinan penangkapan mereka, kendatipun penahanan yang berulang menyebabkan penderitaan dan rasa malu. Orang kleptomania mungkin merasa bersalah dan cemas setelah mencuri, tetapi mereka tidak marah atau balas dendam. Selain itu, jika benda yang dicuri adalah sasaran, diagnosis bukan kleptomania, karena kleptomania tindakan mencuri itu sendirilah yang menjadi sasarannya.

Seperti yang dikemukan diawal pembahasan ini bahwa kebanyakan dari penderita adalah para remaja, disaat masa pubertas hingga orang dewasa. Dalam pandangan psikologi, masa remaja merupakan masa dimana seseorang tengah asyik untuk mencoba-coba berbagai hal, dari yang bermanfaat bagi dirinya hingga hal-hal yang dapat memberikan kepuasan dalam dirinya. Ketika seorang remaja mencoba-coba tindakan tersebut dan dia mendapatkan “reward” berupa kepuasan dalam dirinya, maka ia cenderung terus melakukan tindakan tersebut, apapun resikonya. Seperti yang dikemukakan dalam teori Operant Conditioning bahwa seseorang cenderung mempertahankan perilakunya apabila ia mendapatkan reward dari tindakannya tersebut. Reward bagi seseorang jelas tidak terbatas hanya pada bentuk materi. Kepuasan diri dan pemenuhan hasrat mencari sensasi dapat menjadi reward yang besar bagi seseorang. Dalam pandangan psikoanalisa, seseorang mempunyai dorongan-dorongan dari alam bawah sadar yang biasa disebut dengan “id”. Dorongan-dorongan tersebut cenderung mengajak manusia melakukan keburukan. Pandangan Freud tentang manusia adalah pada dasarnya manusia merupakan kumpulan-kumpulan hasrat jahat. Selain “id” manusia juga memiliki eksekutor yang disebut dengan “ego”. Ego bertindak sebagai eksekutor dari dorongan-dorongan yang diberikan id dan dirasionalisasikan oleh “super ego” sehingga yang tersalurkan lewat ego merupakan tindakan yang telah mengalami “diskusi” antara id dengan super ego.

“Super ego” memberikan pertimbangan yang lebih baik pada ego dalam melakukan sebuah keputusan dan tindakan dari semua hasrat/ keinginan-keinginan alam bawah sadar. Penderita Kleptomania mempunyai id yang cukup kuat untuk mengajaknya melakukan tindakan pengambilan barang seseorang. Dorongan-dorongan tersebut seolah membujuk penderita bahwa dengan mengambil barang orang lain, maka ia akan mendapatkan hal menyenangkan yang dapat membuatnya bahagia. Namun bukan berarti super ego tidak bertindak dalam meminimalisir tindakan tersebut, bahwa sebenarnya penderita masih menyadari norma-norma dan dan moral dalam bermasyarakat hanya saja saat melakukan tindakan tersebut, penderita seolah tengah “dirasuki” sehingga pada saat melakukan tindakan tersebut seolah ia tidak sadarkan diri, terhanyut oleh id-nya untuk mengambil barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan atau bahkan ia dapat membelinya sendiri. Super ego akan timbul setelah ia melakukan tindakan tersebut, perasaan bersalah terkadang  juga menghantui menderita kleptomania, sehingga timbulah depresi pada penderita yang terkadang penjadi penyebab tindakan bunuh diri. Saat sadar ia menyadari tindakannya itu tidak baik dan membuatnya terpuruk dimasyarakat, namun ia tidak dapat mencegah tindakannya tersebut saat ia sudah mulai melakukan aksi-nya dalam mengambil barang orang lain. Karena sensasi-lah yang ia cari, ketegangan saat melakukan dan perasaan puas saat tindakannya telah selesai dan ia merasa telah berhasil, bahkan seolah aktualisasi dirinya telah tercapai.

Pendekatan Sosial
Kleptomania merupakan salah satu gangguan mental. Hambatan-hambatan yang berkaitan dengan kesehatan mental ialah banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya mengalami gangguan mental. Disamping itu banyak orang yang menderita gangguan mental tidak mau menerima perawatan apapun. Pada penderita kleptomania, orang tersebut bisa jadi sadar bahwa perilakunya merugikan masyarakat dan ia merasa malu untuk bersosialisasi, namun terkadang peran masyarakat pula lah yang diperlukan.

Sebagian orang masyarakat ada yang tidak mengetahui bahwa kleptomania merupakan suatu gangguan mental. Mereka berfikir orang-orang yang melakukan klepto merupakan seorang pencuri, sehingga penderita pun dikucilkan dan dicemooh. Sebagian masyarakat yang lain pun bisa jadi mengetahui gangguan mental kleptomania ini, namun karena berbagai faktor seperti sulitnya mencari seorang psikolog, tidak adanya fasilitas-fasilitas yang memadai, kekurangan biaya,  sehingga pengobatan dan perawatan tidak dilakukan. Dengan adanya pendeskriminasian pada masyarakat, maka akan timbul perilaku menarik diri, merasa diri paling bersalah, malu untuk bersosialisasi, dan masih banyak hal lain yang mengekang perilaku sosalisasi penderita. Penderita akan menjadi pribadi yang cenderung pendiam, menyendiri, tidak mau berkomunikasi dan mengenal orang lain, menjadi orang yang introvert, merasa masyarakat sekitar memandang hina pada dirinya sehingga tidak ada keinginan untuk membina sosialisasi. Namun faktor eksternal pun terlibat seperti, menjauhnya masyarakat dari penderita kleptomania, timbulnya jugdement masyarakat pada penderita yang terkadang hal ini justru memicu penderita untuk tetap melakukan tindakan klepto-nya, penderita merasa tidak ada lagi yang percaya dengan dirinya, maka timbullah stress bahkan depresi berat.

Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui berbagai gangguan mental termasuk kleptomania dan cara pengobatannya, sehingga baik masyarakat maupun penderita dapat terbebas dari perasaan bersalah dan tindakan yang salah terhadap penderita.

Pendekatan Spiritual
Dalam ajaran agama, mencuri merupakan perbuatan tercela yang dapat merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Namun kita harus dapat membedakan antara tindakan mencuri dengan kleptomania. Mencuri adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terencana. Berbeda halnya dengan kleptomania, penderita tidak menyadari perbuatannya tersebut. Terjadinya tindakan mengambil barang orang lain karena adanya dorongan-dorongan dan sensasi yang terjadi saat melakukan pengambilan barang tersebut dan adanya kepuasan saat selesai melakukan tindakan tersebut. Umumnya dalam ajaran agama, perbuatan mencuri yang dilakukan dengan sengaja dan sadar merupakan perbuatan yang berdosa. Berbeda halnya dengan seseorang yang melakukan tindakan tersebut dalam keadaan tidak berakal atau adanya gangguan jiwa, termasuk perbuatan yang tidak dipahami bahwa akan mengakibatkan dosa. Contohnya perbuatan mencuri yang dilakukan oleh orang gila atau oleh seorang anak kecil yang belum memahami bahwa mengambil milik oranglain adalah perbuatan yang dilarang oleh agama.

Hal yang sama juga berlaku pada penderita kleptomania, pada saat melakukan tindakan tersebut, penderita mengalami kehilangan kesadaran untuk dapat mengontrol diri dan sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Diketahui bahwa penyebab tindakan terjadinya keptomania dikarenakan timbulnya gangguan kecemasan dan hati yang tidak tenang. Maka dianjurkan kepada penderita kleptomania untuk dibantu semakin mendekatkan dirinya kedalam ajaran agama. Karna penderita kleptomania tidak selalu dalam keadaan tidak sadar. Setelah penderita melakukan kegiatan mencuri, maka kesadaran penderita akan kembali dan cenderung akan menimbulkan penyesalan yang mendalam karna sudah mencuri. Oleh karena itu, dengan mendekatkan diri kedalam ajaran agama, diharapkan agar kiranya penderita semakin mampu untuk lebih mengontrol dirinya dan semakin mampu untuk membawa ketenangan dalam pikiran dan hatinya. Kepercayaan dalam keagamaan, diharapkan mampu membawa Tuhan dalam setiap keadaan apapun dan diharapkan Tuhan menjadi penyembuh dari berbagai penyakit hati dan gangguan jiwa seseorang. Sehingga kehidupan seseorang pun menjadi lebih tentram dan damai serta terhindar dari berbagai penyakit.

Gejala Utama Kleptomania

1~ Pengulangan mencuri benda-benda yang tidak dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan atau kadang benda-benda itu diberikan untuk orang lain. Benda-benda yang diambil adalah benda-benda yang tidak mempunyai nilai, tidak berharga.
2~ Peningkatan dorongan secara terus-menerus sebelum mencuri
3~ Timbul rasa senang ketika mencuri berhasil dilakukan
4~ Proses mencuri tersebut tidak dimotivasi oleh rasa marah atau keinginan untuk balas dendam dan tidak disebabkan oleh delusi dan halusinasi
5~ Perilaku tersebut tidak disebabkan oleh conduct disorder, manic episode pada gangguan bipolar, atau gangguan kepribadian antisosial.

Gambaran Umum Tentang Kleptomania
a~ Adanya rasa tegang sebelum melakukan pencurian dan timbul rasa puas setelah melakukannya.
b~ Pencurian dilakukan sendiri (solitary act) tidak bersama orang lain dan tidak ada yang membantunya.
c~ Individu tampak cemas, murung, dan merasa bersalah ketika mencuri. Tetapi itu tidak bisa mencegah seorang kleptomania untuk berhenti melakukan pencurian lagi.
d~ Tidak semua kesempatan digunakan untuk mencuri.

Penyebab Kleptomania
Sebenarnya kleptomania ini bukanlah suatu kecenderungan yang dibawa lahir, namun hal ini terjadi karena proses pengkondisian dari lingkungan social. Analisa mengenai kuat dan lemahnya penanaman nilai dapat dilihat dari jenis benda yang ia ambil, tempat ia mengambil dan cara ia mengambilnya. Dari hal ini dapat dilihat bahwa kleptomania terjadi karena mental seorang individu tidak terbiasa untuk menunda keinginan dirinya, keinginan untuk mendapatkan kepuasan dengan cepat dan tidak memperdulikan perasaan orang lain yang akan kehilangan benda tersebut.

Pada kasus- kasus yang terungkap, anak- anak ini mengatakan melakukannya tanpa disadari dan di rumah tiba-tiba ia menemukan benda milik temannya, yang kemudian ”lupa” ia kembalikan. Terkadang mereka menceritakan hal ini tanpa ekspresi bersalah, karena toh hal ini merupakan ketidaksengajaan. Atau ada juga yang menceritakan dengan berurai air mata dan dengan nada suara penuh penyesalan. Namun intinya adalah mereka ingin dipahami dan mereka tahu bahwa orang tua mereka akan melindungi mereka sehingga tidak akan dituntut oleh orang lain.

Yang paling berbahaya adalah karena kleptomania dapat memunculkan sifat baru yang negative, seperti berkata bohong, menyangkal, menyalahkan orang lain, tidak bertanggung jawab, memanipulasi fakta yang kesemuanya akan bermuara pada pembentukan sifat kurang peka terhadap kondisi perasaan orang lain atau yang lebih parah adalah tingkah laku yang anti social atau psikopat.  Adapun yang menjadi penyebab timbulnya penyakit ini antara lain sebagai berikut :

Faktor psikodinamika
Gejala kleptomania cenderung terjadi ketika stress yang bermakna, misalnya kehilangan, perpisahan, akhir hubungan yang berarti. Kleptomania juga sering terjadi pada usia remaja dan anak-anak, hal itu dilakukan karena :
1~ Sebagai cara untuk memulihkan hubungan antara ibu dan anak yang hilang.
2~ Sebagai tindakan agresif.
3~ Sebagai pertahanan rasa takut dilukai.
4~ Sebagai cara pemulihan atau penambahan harga diri.
5~ Sebagai reaksi terhadap rahasia keluarga.

Faktor biologis
Terjadi karena penyakit otak DNA retadarsi mental, dimana ditemukan keadaan neorologis fokal, atropi otak kortikal dan pembebasan lateral serta gangguan metabolisme monoamin khususnya serotonia.

Menangani Penderita Kleptomania
Dalam menangani penderita kleptomania, pemberian hukuman hanya akan menghentikan sementara tingkah laku ini, karena saat dorongan dari dalam dirinya kembali muncul, maka otaknya akan ia arahkan untuk berusaha memenuhi keinginannya. Seperti yang terjadi pada kasus criminal lain, seorang pelaku malah menjadi semakin hati-hati dalam menjalankan aksinya.  Seorang anak yang diduga memiliki kecenderungan kleptomania, harus ditangani secara serius hingga benar-benar terbentuk pemahaman yang permanen mengenai tujuan dari hidupnya secara umum, sehingga ia akan dapat memahami mengapa ada konsep kepemilikan, mengapa seseorang harus memiliki skala prioritas untuk ia penuhi sekalipun orang tuanya memiliki dana yang cukup untuk memenuhinya, aktivitas apa yang sebaiknya ia lakukan di usianya saat ini.

Sesi konseling yang dilakukan harus dilakukan bersama seluruh keluarga inti, sehingga setiap anggota keluarga dapat saling mengingatkan jika dibutuhkan. Ketidakberhasilan dalam penanganan seringkali disebabkan kekurang kompakan kedua orang tua dan orang dewasa yang biasa ia temui, dengan usianya yang masih anak-anak sehingga dimaklumi atau ditutupi. Anak pun sebaiknya tahu bahwa tingkah laku ini tidak dapat diterima oleh semua lingkungan social, walaupun usianya masih anak-anak, sehingga setiap orang dewasa yang dikenalnya dapat secara konsisten memberikan reaksi yang sama saat tingkah laku ini akan muncul. Adapun penanganan penderita kleptomania ini adalah sebagai berikut :
1~ Sebagaimana dengan masalah penguasaan diri lainnya penderita kleptomania harus mengakui perbuatannya secara terbuka. Segala sesuatu yang dirahasiakan akan memperkuat dorongan untuk melakukannya.
2~ Ia membutuhkan dorongan teman dan perlu membentuk tim pendukung; kepada merekalah ia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Misalkan, sebelum ia pergi mengunjungi toko, ia harus menghubungi seorang teman dan memintanya mengecek setelah ia keluar dari toko.
3~ Ia harus mengakui ketidakmampuannya di hadapan penciptanya dan melihat masalah ini sebagai problem. Dengan kata lain, ia harus melawan keinginannya untuk menyangkali masalah. Dianjurkan agar penderita semakin mendekatkan diri kedalam ajaran agama dan dengan jujur mengakui segala kekurangannya dan memohon bantuan para pemuka agama untuk semakin menyadarkannya. Diharapkan cara ini semakin memberikan ketentraman dalam jiwa penderita.
4~ Konseling dan Psikoterapi : Berbagai psikoterapi telah digunakan untuk mengobati gangguan ini, tetapi tidak jelas mana yang terbaik. Terapi keluarga mungkin juga penting, karena gangguan ini bisa sangat mengganggu keluarga.
5~ Farmakoterapi : Prozac, antidepresan yang meningkatkan kadar serotonin, telah ditemukan berguna dalam beberapa kasus kleptomani.

Jika seorang anak berusia SD memiliki kecenderungan kleptomania, yang perlu dilakukan adalah evaluasi penanaman pemahaman nilai di usia balita :
1~ Pembentukan pemahaman aturan kepemilikan. Bagaimana pembentukan pemahaman aturan kepemilikan sejak ia berusia balita, karena saat anak bisa berjalan sehingga ia mulai dapat secara bebas mengambil benda yang menarik perhatiannya, maka konsep mengenai kepemilikan sudah dapat dikenalkan pada anak. Hal ini akan berlanjut terus sampai ia berusia kurang lebih 5-6 tahun atau sebelum masuk sekolah dasar.
2~ Penerapan aturan dalam keluarga. Penerapan aturan terutama di dalam keluarga terhadap pemenuhan keinginan, keinginan apakah yang dengan segera dipenuhi orang tua, keinginan apakah yang ditangguhkan oleh orang tua, apakah orang tua cukup adil di dalam memenuhi kebutuhan anak atau tiap anak yang dimiliki. Bagaimana konsistensi orang tua terhadap implementasi pembatasan untuk memenuhi keinginan anak, apakah hal ini juga berlaku untuk orang tua, apakah hanya anak saja yang diberikan pengertian harus berhemat atau selektif dalam mengajukan permintaan, sementara mereka melihat orang tua sendiri selalu dapat memenuhi kebutuhan pribadinya padahal bagi mereka hal ini pun bukan kebutuhan yang mendesak ?
3~ Gaya hidup keluarga. Bagaimana orang tua menerapkan gaya hidup keseharian di dalam keluarga, sederhana, mewah, hemat atau boros ? Berapa uang jajan yang diterima anak, tempat belanja yang biasa dikunjungi keluarga, bagaimana menanamkan konsep sebagai kolektor? Hal ini termasuk teladan yang diperlihatkan orang tua, misalnya apakah orang tua termasuk yang cukup hati-hati dalam menjaga hak diri dan hak orang lain?

Upaya menghindari munculnya kecenderungan ini pada anak kita, maka para orang tua perlu menyadari bahwa :
1~ Tidak ada batasan usia yang terlalu dini untuk memulai mengenalkan mengenai aturan social, dimulailah dari memberikan “judul” dari setiap tingkah laku yang dilakukan orang dewasa dengan anak, misalnya : meminjam, berterima kasih, meminta ijin, meminta maaf, menyesal, bercanda, menegur, memarahi, memberikan umpan balik, dll. Sehingga anak memahami latar belakang tingkah laku itu muncul untuk melatih pengendalian emosi mereka.
2~ Tidak membiasakan anak/ bayi untuk terlalu fanatic pada suatu benda atau merek tertentu, biasakan mereka untuk menggunakan benda berdasarkan fungsi dan alasan kesehatan daripada harganya.
3~ Pilihlah lingkungan social pertama pada anak, jangan meremehkan teman sebayanya yang memiliki banyak mainan di rumahnya, adalah wajar jika seorang anak akan membandingkan milik dirinya dengan milik temannya yang akan membuatnya iri ataupun ingin memiliki benda tersebut. Orang tua perlu cermat jika anak membawa ke rumah mainan ataupun benda yang tidak dibelikan orang tua tapi diklaim anak sebagai miliknya. Jika ia mengaku membeli sendiri harus dipastikan darimana uang yang ia gunakan. Jika memiliki anak balita dengan kecenderungan mulai mudah berkata kurang jujur dan mengarang cerita, orang tua perlu secara intensif melakukan pendampingan saat proses bermainnya. Jika perlu harus bekerja sama dengan gurunya di sekolah.

Treatment
Efek jera dengan mempermalukan penderita kleptomania di depan umum bila ia tertangkap basah melakukan pengutilan (pencurian) tidak akan mengubah kebiasaan tersebut. Tidak ada treatment yang paling efektif dalam penyembuhan gangguan ini, walaupun demikian beberapa treatment dapat diberikan disesuaikan dengan kondisi pada pasien.

Medikasi

Antidepressant
Jenis obat yang digunakan termasuk selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). Termasuk didalamnya; fluoxetine (Prozac), paroxetine (Paxil, Paxil CR), fluvoxamine, dan sebagainya. Bila terjadi efek samping segeralah beritahu kepada dokter.


Benzodiazepines
Jenis obat yang bekerja langsung pada sistem susunan syaraf pusat (CNS; central nervous system), sering juga disebut sebagai tranquilizers. Termasuk di dalamnya; clonazepam (Klonopin) dan alprazolam (Xanax). Pemberian obat ini haruslah melalui kontrol ketat dari dokter, penggunaan obat ini terlalu panjang dan dalam dosis tinggi dapat mengakibatkan ketergantungan secara fisik maupun mental.

Mood stabilizers
Obat ini memberikan ketenangan bila terjadi perubahan mood berupa dorongan-dorongan kuat untuk mengutil/mencuri timbul secara mendadak. Jenis obat ini adalah; lithium (Eskalith, Lithobid).

Anti-seizure medications
Adalah jenis obat untuk mengatasi gangguan mental yang muncul kembali, jenis obat topiramate (Topamax) dan asam valproic (Depakene) dilaporkan memberi pengaruh yang positif bagi penderita gangguan kleptomania.

Jenis obat lainnya
Naltrexone (Revia), adalah jenis opioid yang tidak berbahaya yang dapat berfungsi memblok bagian-bagian otak untuk merasakan kesenangan berupa perilaku-perilaku yang teradiktif

Psikoterapi
Terapi yang digunakan dalam penyembuhan kleptomania adalah cognitive-behavioral therapy (CBT), terapi keluarga, terapi psikodinamika, self-group therapy dan rational emotive therapy. Pada CBT individu diharapkan dapat mengindentifikasi perilaku yang salah, pikiran negatif dan mengubah pikiran dan perilaku tersebut secara lebih sehat. Pada cognitive-behavioral therapy dan rational emotive therapy diberikan beberapa perlakuan seperti covert sensitization, dimana individu direkam secara diam-diam ketika melakukan pengutilan, hasil rekaman tersebut akan diperlihatkan kepada individu dengan pengarahan konsekuensi sosial terhadap perilakunya itu. Aversion therapy merupakan sesi dimana individu berusaha mengatur pernafasan secara tepat, menahan nafas untuk beberapa saat ketika rasa tidaknyaman muncul yang diakibatkan oleh dorongan-dorongan tersebut kemabli muncul


Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.