Jumat, 14 November 2014

Hipnotik dan Sedatif



Pendahuluan
Sedatif- Hipnotik adalah golongan obat depresi SSP.  Efeknya bergantung pada dosis, mulai dari yang ringan (menenangkan, menyebabkan kantuk, menidurkan) hingga yang berat (menghilangkan kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati
Sedatif adalah zat-zat yang dalam dosis terapi yang rendah dapat menekan aktivitas mental, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan.
Hipnotik adalah Zat-zat dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur.

Pada awalnya digunakan etanol, kemudian mengguanakan opium yang telah banyak digunakan oleh para dokter. Bromida organik sebagai sedatif-hipnotika dan antikonvulsan diikuti dengan kloral, paraldehid, sulfonal dan uretan. Pada tahun 1903 barbiturat dikenal sebagai depresan dengan aksi depresan pada serebrospinal. Pada dosis terapi, obat sedative menekan aktivitas mental, menurunkan respon terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis.

Mekanisme Kerja Hipnotik
Pada tahun 1977 ditemukan reseptor  benzodiazepin spesifik di permukaan membran neuron, terutama di kulit otak dan lebih sedikit di otak kecil dan system limbis. Barbiturat dan benzodiazepine pada dosis terapi terutama bekerja dengan jalan pengikatan pada reseptor tersebut. Efeknya ialah potensiasi penghambatan neurotransmisi oleh GABA disinaps semua saraf otak dan blokade dari pelepasan muatan listrik.

Fisiologi Tidur
Tidur adalah kondisi fisiologis yang normal, penting, reversibel  tidur yang baik adalah cukup dalam dan lama. Fungsi :
1.         Regenerasi sel-sel tubuh
2.         Memungkinkan pelaksanaan aktivitas pada siang hari dengan baik
3.         Peningkatan daya tahan tubuh
4.         Pelepasan hormon sewaktu tidur
Ciri- ciri :
1.         Penyempitan pupil mata (myosis)
2.         Perlambatan pernapasan
3.         Penurunan aktivitas jantung
4.         Stimulasi aktivitas saluran cerna (penguatan peristaltik dan sekresi  getah  lambung)

Stadia tidur :
Fase non rem atau deep sleep
Disebut juga dgn tidur tenang atau tidur sws (slow wave sleeps). Berlangsung +/- 1 jam. Terdiri dari 4 fase.
Ciri :    denyutan jantung, tek. Darah dan pernapasan teratur. Relaksasi tanpa gerakan otot muka dan mata.
Fase rem ( rapid eye movement ) atau disebut active sleep
Disebut juga dengan tidur paradoksal. Berlangsung 5-15 menit, pada siklus akhir rata-rata 20-30 menit.
Ciri : Aktivitas mirip dengan keadaan sadar & aktif, gerakan mata cepat ke satu arah, jantung dan tekanan darah dan pernafasan turun naik, aliran darah ke otak bertmbah & otot-otot mengendor.

Penggolongan Obat Sedatif-Hipnotik
Secara klinis obat-obatan sedatif – hipnotik digunakan sebagai obat-obatan yang berhubungan dengan sistem saraf pusat seperti tatalaksana nyeri akut dan kronik, tindakan anesthesia, penatalaksanaan kejang serta insomnia. Obat-obatan sedatiif hipnotik diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yakni:

1.    Benzodiazepin
Benzodiazepin adalah obat yang memiliki lima efek farmakologi sekaligus, yakni anxiolisis, sedasi, anti konvulsi, relaksasi otot melalui medulla spinalis, dan amnesia retrograde. Benzodiazepin banyak digunakan dalam praktik klinik. Keunggulan benzodiazepin dari barbiturat yaitu rendahnya tingkat toleransi obat, potensi penyalahgunaan yang rendah, margin dosis aman yang lebar, rendahnya toleransi obat dan tidak menginduksi enzim mikrosom di hati. Benzodiazepine telah banyak digunakan sebagai pengganti barbiturate sebagai pramedikasi dan menimbulkan sedasi pada pasien dalam monitoring anestesi. Dalam masa perioperative, midazolam telah menggantikan penggunaan diazepam. Selain itu, benzodiazepine memiliki antagonis khusus, yaitu flumazenil.

Mekanisme Kerja
Efek farmakologi benzodiazepine merupakan akibat aksi gamma-aminobutyric acid (GABA) sebagai neurotransmitter penghambat sehingga kanal klorida terbuka dan terjadi hiperpolarisasi post sinaptik membran sel dan mendorong post sinaptik membrane sel tidak dapat dieksitasi. Hal ini menghasilkan efek anxiolisis, sedasi, amnesia retrograde, potensiasi alcohol, antikonvulsi dan relaksasi otot skeletal. Efek sedative timbul dari aktivasi reseptor GABAA sub unit alpha-1 yang merupakan 60% dari reseptor GABA di otak (korteks serebral, korteks sereblum, thalamus). Sementara efek ansiolitik timbul dari aktifasi GABA sub unit alpha 2 (Hipokampus dan amigdala). Perbedaan onset dan durasi kerja diantara benzodiazepine menunjukkan perbedaan potensi (afinitas terhadap reseptor), kelarutan lemak (kemampuan menembus sawar darah otak dan redistribusi jaringan perifer) dan farmakokinetik (penyerapan, distribusi, metabolism dan ekskresi). Hampir semua benzodiazepine larut dalam lemak dan terikat kuat dengan protein plasma. Sehingga keadaan hipoalbumin pada cirrhosis hepatis dan chronic renal disease akan meningkatkan efek obat ini. Benzodiazepine menurunkan degradasi adenosine dengan menghambat transportasi nukleosida. Adenosine penting dalam regulasi fungsi jantung (penurunan kebutuhan oksigen jantung melalui penurunan detak jantung dan meningkatkan oksigenase melalui vasodilatasi arteri koroner) dan semua fungsi fisiologi proteksi jantung.

Efek Samping
Kelelahan dan mengantuk adalah efek samping yang biasa pada pengunaan lama benzodiazepine. Sedasi akan mengganguaktivitas setidaknya selama 2 minggu. Penggunaan yang lama benzodiazepine tidak akan mengganggu tekanan darah, denyut jantung, ritme jantung dan ventilasi. Namun penggunaannya sebaiknya hati-hati pada pasien dengan penyakit paru kronis. Penggunaan benzodiazepine akan mengurangi kebutuhan akan obat anestesi inhalasi ataupun injeksi. Walaupun penggunaan midazolam akan meningkatkan efek depresi napas opioid dan mengurangi efek analgesiknya. Selain itu, efek antagonis benzodiazepine, flumazenil, juga meningkatkan efek analgesic opioid.

Contoh obat
a.      Midazolam
Midazolam merupakan benzodiazepine yang larut air dengan struktur cincin  yang stabil dalam larutan dan metabolism yang cepat. Obat ini telah menggantikan diazepam selama operasi dan memiliki potensi 2-3 kali lebih kuat. Selain itu afinitas terhadap reseptor GABA 2 kali lebih kuat dibanding diazepam. Efek amnesia pada obat ini lebih kuat dibandingkan efek sedasi sehingga pasien dapat terbangun namun tidak akan ingat kejadian dan pembicaraan yang terjadi selama beberapa jam. Larutan midazolam dibuat asam dengan pH < 4 agar cincin tidak terbuka dan tetap larut dalam air. Ketika masuk ke dalam tubuh, akan terjadi perubahan pH sehingga cincin akan menutup dan obat akan menjadi larut dalam lemak. Larutan midazolam dapat dicampur dengan ringer laktat atau garam asam dari obat lain.

Farmakokinetik : Midazolam diserap cepat dari saluran cerna dan dengan cepat melalui sawar darah otak. Namun waktu equilibriumnya lebih lambat disbanding propofol dan thiopental. Hanya 50% dari obat yang diserap yang akan masuk ke sirkulasi sistemik karena metabolisme porta hepatik yang tinggi. Sebagian besar midazolam yang masuk plasma akan berikatan dengan protein. Waktu durasi yang pendek dikarenakan kelarutan lemak yang tinggi mempercepat distribusi dari otak ke jaringan yang tidak aktif begitu juga dengan klirens hepar yang cepat. Waktu paruh midazolam adalah antara 1-4 jam lebih pendek daripada waktu paruh diazepam. Waktu paruh ini dapat meningkat pada pasien tua dan gangguan fungsi hati. Pada pasien dengan obesitas, klirens midazolam akan lebih lambat karena obat banyak berikatan dengan sel lemak. Akibat eliminasi yang cepat dari midazolam, maka efek pada CNS akan lebih pendek dibanding diazepam.

b.     Diazepam
Diazepam adalah benzodiazepine yang sangat larut dalam lemak dan memiliki durasi kerja yang lebih panjang dibandingkan midazolam. Diazepam dilarutkan dengan pelarut organic (propilen glikol, sodium benzoat) karena tidak larut dalam air. Larutannya pekat dengan pH 6,6-6,9. Injeksi secra IV atau IM akan menyebabkan nyeri.

Farmakokinetik : Diazepam cepat diserap melalui saluran cerna dan mencapai puncaknya dalam 1 jam (15-30 menit pada anak-anak). Kelarutan lemaknya yang tinggi menyebabkan Vd diazepam lebih besar dan cepat mencapai otak dan jaringan terutama lemak. Diazepam juga dapat melewati plasenta dan terdapat dalam sirkulasi fetus. Ikatan protein benzodiazepine berhubungan dengan tingginya kelarutan lemak. Diazepam dengan kelarutan lemak yang tinggi memiliki ikatan dengan protein plasma yang kuat. Sehingga pada pasien dengan konsentrasi protein plasma yang rendah, seperti pada cirrhosis hepatis, akan meningkatkan efek samping dari diazepam.

c.      Lorazepam
Lorazepam memiliki struktur yang sama dengan oxazepam, hanya berbeda pada adanya klorida ekstra pada posisi orto 5-pheynil moiety. Lorazepam lebih kuat dalam sedasi dan amnesia disbanding midazolam dan diazepam sedangkan efek sampingnya sama.

Farmakokinetik : Lorazepam dikonjugasikan dengan asam glukoronat di hati menjadi bentuk inaktif yang dieksresikan di ginjal. Waktu paruhnya lebih lama yaitu 10-20 jam dengan ekskresi urin > 80% dari dosis yang diberikan. Karena metabolismenya tidak dipengaruhi oleh enzim mikrosom di hati, maka metabolismenya tidak dipengaruhi oleh umur, fungsi hepar dan obat penghambat enzim P-450 seperti simetidin. Namun onset kerja lorazepam lebih lambat disbanding midazolam dan diazepam karena kelarutan lemaknya lebih rendah.

2.    Barbiturat
Barbiturat selama beberapa saat telah digunakan secara ekstensif sebagai hipnotik dan sedative. Namun sekarang kecuali untuk beberapa penggunaan yang spesifik, barbiturate telah banyak digantikan dengan benzodiazepine yang lebih aman, pengecualian fenobarbital yang memiliki anti konvulsi yang masih sama banyak digunakan. Secara kimia, barbiturate merupakan derivate asam barbiturate. Asam barbiturate (2,4,4-trioksoheksahidropirimidin) merupakan hasil reaksi kondensasi antara ureum dengan asam malonat. Efek utama barbiturate ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hypnosis, koma sampai dengan kematian. Efek antisietas barbiturate berhubungan dengan tingkat sedasi yang dihasilkan. Efek hipnotik barbiturate dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu. Efek anastesi umumnya diperlihatkan oleh golongan tiobarbital dan beberapa oksibarbital untuk anastesi umum. Untuk efek antikonvulsi umumnya diberikan oleh barbiturate yang mengandung substitusi 5- fenil misalnya fenobarbital.

Farmakokinetik
Barbiturat secarra oral diabsorpsi cepat dan sempurna dari lambung dan usus halus ke dalam darah. Secra IV barbiturate digunakan untuk mengatasi status epilepsy dan menginduksi serta mempertahankan anestesi umum. Barbiturate didistribusi secra luas dan dapat melewati plasenta, ikatan dengan protein plasma sesuai dengan kalarutan dalam lemak. Barbiturat yang mudah larut dalam lemak, misalnya thiopental dan metoheksital, setelah pemberian secara IV, akan ditimbun di jaringan lemak dan otot. Hal ini akan menyebabkan kadarnya dalam plasma dan otak turun dengan cepat. Barbiturate yang kurang lipofilik misalnya aprobarbital dan fenobarbital, dimetabolisme hampir sempurna di dalam hati sebelum diekskresi di ginjal. Pada kebanyakan kasus, perubahan pada fungsi ginjal tidak mempengaruhi eliminasi obat. Fenobarbital diekskresikan ke dalam urin dalam bentuk tidak berubah sampai jumlah tertentu (20-30%) pada manusia. Faktor yang mempengatuhi biodisposisi hipnotik dan sedatif dapat dipengaruhi oleh berbagai hal terutama perubahan pada fungsi hati sebagai akibat dari penyakit, usia tua yang mengakibatkan penurunan kecepatan pembersihan obat yang dimetabolisme yang terjadi hampir pada semua obat golongan barbiturat.

Kontraindikasi 
Barbiturate tidak boleh diberikan pada penderita alergi barbiturate, penyakit hati atau ginjal, hipoksia, penyakit Parkinson. Barbiturate juga tidak boleh diberikan pada penderita psikoneurotik tertentu, karena dapat menambah kebingungan di malam hari yang terjadi pada penderita usia lanjut.

3. Nonbarbiturat- nonbenzodiazepin
Propofol
Propofol adalah substitusi isopropylphenol yang digunakan secara intravena sebagai 1% larutan pada zat aktif yang terlarut, serta mengandung 10% minyak kedele, 2,25% gliserol dan 1,2% purified egg phosphatide. Obat ini secara struktur kimia berbeda dari sedative-hipnotik yang digunakan secara intravena lainnya. Penggunaan propofol 1,5-2,5 mg/kg BB (atau setara dengan thiopental 4-5 mg/kg BB atau methohexital 1,5 mg/kgBB) dengan penyuntikan cepat (<15 detik) menimbulkan turunnya kesadaran dalam waktu 30 detik. Propofol lebih cepat dan sempurna mengembalikan kesadaran dibandingkan obat anesthesia lain yang disuntikkan secra cepat. Selain cepat mengembalikan kesadaran, propofol memberikan gejala sisa yang minimal pada SSP. Nyeri pada tempat suntikan lebih sering apabila obat disuntikkan pada pembuluh darah vena yang kecil. Rasa nyeri ini dapat dikurangi dengan pemilihan tempat masuk obat di daerah vena yang lebih besar dan penggunaan lidokain 1%.

Mekanisme Kerja : Propol relative selektif dalam mengatur reseptor GABA dan tampaknya tidak mengatur ligand-gate ion channel lainnya. Propofol dianggap memiliki efek sedative hipnotik melalui interaksinya denghan reseptor GABA. GABA adalah salah satu neurotransmitter penghambat di SSP. Ketika reseptor GABA diaktivasi, penghantar klorida transmembran meningkat dan menimbulkan hiperpolarisasi di membran sel post sinaps dan menghambat fungsi neuron post sinaps. Interaksi propofol (termasuk barbiturate dan etomidate) dengan reseptor komponen spesifik reseptor GABA menurunkan neurotransmitter penghambat. Ikatan GABA meningkatkan durasi pembukaan GABA yang teraktifasi melalui chloride channel sehingga terjadi hiperpolarisasi dari membrane sel.

Farmakokinetik : Propofol didegradasi di hati melalui metabolism oksidatif hepatic oleh cytochrome P-450. Namun, metabolismenya tidak hanya dipengaruhi hepatic tetapi juga ekstrahepatik. Metabolism hepatic lebih cepat dan lebih banyak menimbulkan inaktivasi obat dan terlarut air sementara metabolism asam glukoronat diekskresikan melalui ginjal. Propofol membentuk 4-hydroxypropofol oleh sitokrom P450. Propofol yang berkonjugasi dengan sulfat dan glukoronide menjadi tidak aktif dan bentuk 4 hydroxypropofol yang memiliki 1/3 efek hipnotik. Kurang dari 0,3% dosis obat diekskresikan melalui urin. Waktu paruh propofol adalah 0,5-1,5 jam.

Ketamin
Ketamin adalah derivate phencyclidine yang meyebabkan disosiative anesthesia yang ditandai dengan disosiasi EEG pada talamokortikal dan sistem limbik. Ketamin memiliki keuntungan dimana tidak seperti propofol dan etomidate, ketamine larut dalam air dan dapat menyebabkan analgesic pada dosis subanestetik. Namun ketamin sering hanya menyebabkan delirium.

Mekanisme Kerja : Ketamin bersifat non-kompetitif phenycyclidine di reseptor N-Methyl D Aspartat (NMDA). Ketamin juga memiliki efek pada reseptor lain termasuk reseptor opioid, reseptor muskarinik, reseptor monoaminergik, kanal kalsium tipe L dan natrium sensitive voltase. Tidak seperti propofol dan etomide, katamin memiliki efek lemah pada reseptor GABA. Mediasi inflamasi juga dihasilkan local melalui penekanan pada ujung saraf yang dapat mengaktifasi netrofil dan mempengaruhi aliran darah. Ketamin mensupresi produksi netrofil sebagai mediator radang dan peningkatan aliran darah. Hambatan langsung sekresi sitokin inilah yang menimbulkan efek analgesia.

Farmakokinetik : Farmakokinetik ketamin mirip seperti thiopental yang memiliki aksi kerja singkat, memiliki aksi kerja yang relatif singkat, kelarutan lemak yang tinggi, pK ketamin adalah 7,5 pada pH fisiologik. Konsentrasi puncak ketamin terjadi pada 1 menit post injeksi ketamin secara intravena dan 5 menit setelah injeksi intramuscular. Ketamin tidak terlalu berikatan kuat dengan protein plasma namun secara cepat dilepaskan ke jaringan misalnya ke otak dimana konsentrasinya 4-5 kali dari pada konsentrasi di plasma.

Dekstromethorpan
Dekstromethorphan adalah NMDA antagonis dengan afinitas ringan yang paling sering digunakan sebagai penghambat respon batuk di sentral. Obat ini memiliki efek yang seimbang dengan kodein sebagai antitusif tetapi tidak memiliki efek analgesic. Tidak seperti kodein, obat ini tidak menimbulkan efek sedasi atau gangguan sistem gastrointestinal. DMP memiliki efek euphoria sehingga sering disalahkan. Tanda dan gejala penggunaan berlebihan DMP adalah hipertensi sistemik, takikardia, somnolen, agitasi, ataxia, diaphoresis, kaku otot, kejang, koma, penurunan suhu tubuh. Hepatotoksisitas meningkat pada pasien yang mendapat DMP dan asetaminofen.

Interaksi obat
Reaksi obat , kombinasi barbiturat dengan depresan SSP lainmisal etanol akan meningkatkan efek depresinya. Antihistamin, isoniazid, metilfenidat, dan penghambat MAO juga dapat menaikkan efefk depresi barbiturate. Interaksi obat yang paling setring melibatkan hipnotik-sedatif adalah interaksi dengan obat depresan susunan saraf pusat lain, yang menyebabkan efek aditif. Efek aditif yang jelas dapat diramalkan dengan penggunaan minuman beralkohol, analgesic narkotik, antikonvulsi, fenotiazin dan obat-obat anti depresan golongan trisiklik.

Nama Obat
Bentuk Sediaan
Dosis Dewasa (mg)
Amobarbital
Kapsul,tablet,injeksi,bubuk
30-50; 3x
Aprobarbital
Eliksir
40; 3x
Butabarbital
Kapsul,tablet,eliksir
15-30 ; 3-4x
Pentobarbital
Kapsul,eliksir,injeksi,supositoria
20 ; 3-4x
Sekobarbital
Kapsul,tablet,injeksi
30-50 ; 3-4x
Fenobarbital
Kapsul,tablet, eliksir,injeksi
15-40 ; 3x

Daftar Pustaka
Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

Kecemasan Berpisah Pada Anak



Pendahuluan
Pernahkah anda melihat seorang anak yang menangis sangat kencang atau berteriak-teriak sambil marah saat anak tersebut digendong oleh oranglain ketika diambil dari ibunya?
Atau ketika anak tersebut ditinggal oleh ibunya walau hanya sebentar atau dalam jarak yang tidak jauh?
Atau ketika si ibu akan berangkat kekantor atau pergi sebentar keluar rumah?
Ya.... Pasti sangat  sering anda menemukan seorang anak yang seperti itu dalam kehidupan sehari- harinya.
Hal ini dikenal sebagai separation anxiety atau kecemasan saat berpisah ketika ibu meninggalkan si kecil bersama pengasuhnya di rumah.
Atau kecemasan saat si kecil ditinggal sendirian oleh ibunya walaupun hanya sebentar saja.
Kecemasan ini merupakan bagian normal dari fase perkembangan sikecil.

Separation anxiety adalah normal untuk bayi berusia sekitar 8 bulan, paling hebat diantara usia 10 dan 18 bulan, dan biasanya sembuh diusia 2 tahun.
Kehebatan dan durasi separation anxiety seorang anak bervariasi sebagian tergantung pada hubungan orang tua-anak.
Biasanya, separation anxiety pada seorang anak yang kuat dan sehat menempel pada orangtua lebih cepat sembuh dibandingkan seorang anak yang kedekatannya kurang kuat.
Separation anxiety merupakan perkembangan emosional sikecil dimana ia belum terlalu memahami bahwa walaupun seseorang atau suatu benda tidak terlihat atau tersembunyi, bukan berarti hilang. Keadaan ini dikenal dengan istilah object permanence.
Saat si kecil berusia 8 bulan hingga memasuki usia 1 tahun , ia akan tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri. Namun pada usia tersebut, ia belum dapat mengerti akan perpisahannya dengan ibu.
Hal inilah membuat si kecil cemas dan panik, sehingga ia menjadi marah dan sedih saat ibu pergi meninggalkannya, walau ibu hanya sekedar beranjak ke dapur atau mandi.

Usia timbulnya kecemasan pada anak bervariasi, biasanya antara usia 18 bulan hingga 2,5 tahun, namun ada juga yang tidak mengalaminya.
Beberapa peristiwa yang membuat si kecil stres dapat memicu timbulnya kecemasan saat berpisah dengan ibu, misalnya pindah rumah, memiliki pengasuh baru, punya adik, dan lainnya.
Berapa lama kecemasan berpisah ini berlangsung, tergantung pada temperamen anak dan respon ibu.
Pada beberapa kasus, kecemasan berpisah dapat berlangsung dari masa bayi hingga usia sekolah dasar.
Kecemasan ini juga dapat mengganggu aktivitas normal si kecil yang nantinya akan berkembang menjadi gangguan kecemasan yang lebih dalam.
Namun jika kecemasan berpisah ini terjadi pada anak yang usianya lebih tua, mungkin disebabkan oleh masalah lain, misalnya kemungkinan adanya abusing atau bullying.
Saat si kecil menolak berpisah dengan ibu, hal ini merupakan pertanda adanya kedekatan atau ‘attachment’ yang sehat antara ibu dan anak.
Secara bertahap, nantinya si kecil akan memahami bahwa ibu akan selalu kembali setelah pergi sebentar, dan hal ini akan memberikan rasa nyaman pada si kecil dan memberi kesempatan perkembangan kemandiriannya.

Beberapa tahap kecemasan berpisah adalah normal dan dialami hampir setiap anak-anak, khususnya pada anak yang sangat kecil.
Sebaliknya, gangguan kecemasan berpisah adalah kegelisahan berlebihan yang melebihi apa yang diharapkan untuk tingkat perkembangan anak.
Kecemasan berpisah dipertimbangkan sebagai gangguan jika berlangsung setidaknya sebulan dan menyebabkan gangguan yang sangat berarti atau merusak fungsi.
Durasi pada gangguan tersebut menggambarkan keparahannya.
Beberapa tekanan hidup, seperti kematian seorang keluarga, teman, atau binatang peliharaan atau pindah wilayah atau pindah sekolah, bisa memicu gangguan tersebut. Genetika yang mudah kena kegelisahan juga umumnya memainkan sebuah peranan kunci.

Penyebab
Anak dengan gangguan ini mengalami gangguan hebat ketika dipisahkan dari rumah atau dari orang yang mereka sayangi.
Separation anxiety terjadi suatu waktu ketika bayi mulai tahu bahwa orangtua mereka adalah pribadi yang unik.
Karena mereka memiliki ingatan yang tidak lengkap dan tidak peka pada waktu, anak kecil ini takut setiap kepergian orangtua mereka kemungkinan tetap.
Separation anxiety sembuh sebagaimana perkembangan anak yang kecil pada ingatan dan menjaga gambar orangtua di pikiran ketika mereka pergi.
Anak tersebut mengingat kembali bahwa di masa lalu orangtua akan kembali.
Mereka seringkali perlu tahu dimana orang–orang dan terlalu sibuk dengan rasa takut bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi baik terhadap mereka atau terhadap orang yang mereka kasihi.
Bepergian sendiri membuat mereka tidak nyaman, dan mereka bisa menolak untuk datang ke sekolah atau kemah atau untuk mengunjungi rumah teman.
Beberapa anak tidak bisa tinggal sendirian di dalam sebuah ruangan, melekat pada orang tua atau membuntuti orangtua di sekitar rumah.
Kesulitan pada waktu tidur adalah sering terjadi.
Anak dengan gangguan kecemasan berpisah bisa mendesak seseorang tetap tinggal di ruangan sampai mereka tertidur.
Mimpi buruk bisa memperlihatkan ketakutan anak tersebut, seperti kerusakan pada keluarga melalui kebakaran atau bencana alam.

Gejala
Karena seorang anak yang memiliki gangguan ini seringkali menghindari sekolah, sebuah tujuan segera pada pengobatan memungkinkan anak tersebut untuk kembali ke sekolah.
Dokter, orangtua, dan anggota sekolah harus bekerja sebagai tim untuk memastikan anak tersebut segera kembali ke sekolah. Psikoterapi pribadi dan keluarga dan obat-obatan yang mengurangi kegelisahan bisa memainkan sebuah peranan penting.
Separation anxiety pada usia normal tidak menyebabkan bahaya jangka panjang terhadap anak tersebut.
Separation anxiety yang berlangsung melebihi usia 2 tahun bisa atau tidak bisa menjadi sebuah masalah bergantung pada jarak perbedaan dengan perkembangan anak tersebut.
Hal ini normal untuk anak untuk merasakan beberapa ketakutan ketika meninggalkan pra sekolah atau taman kanak-kanak.
Perasaan ini harus berkurang dengan waktu.
Jarang, rasa takut berlebihan pada perpisahan menghalangi seorang anak menghadiri perawatan anak atau pra sekolah atau menjaga seorang anak bermain secara normal dengan teman sebaya.
Kegelisahan ini umumnya tidak normal (gangguan separation anxiety.
Pada kasus ini, orangtua harus mencari perawatan medis untuk anak tersebut.

Efek Stress Pada Anak-Anak
Perubahan yang sangat menekan pada kehidupan seorang anak, seperti pindah wilayah, perceraian orangtua, atau kematian anggota keluarga atau binatang peliharaan, bisa memicu gangguan penyesuaian.
Gangguan penyesuaian adalah akut tetapi reaksi yang dibatasi waktu terhadap lingkungan yang menekan.
Anak tersebut bisa mengalami gejala-gejala gelisah (misal, gugup, khawatir, dan takut), gejala-gejala pada depresi (misal, menyedihkan atau perasaan putus asa).
Atau masalah-masalah perilaku.
Gejala-gejala dan masalah-masalah tersebut mereda sebagaimana berkurangnya tekanan.
Gangguan stress posttraumatic adalah reaksi yang lebih ekstrem dan bisa terjadi setelah bencana alam (seperti angin topan, tornado, atau gempa bumi), kecelakaan, kematian, atau tindakan tidak berperikemanusiaan pada kekerasan, termasuk penyiksaan anak, anak tersebut biasanya gagal dalam upayanya untuk menghindari ingatan peristiwa tersebut, menderita keadaan gelisah yang terus menerus, bisa kembali mengalami peristiwa traumatic ketika bangun (flashback) atau tidur (mimpi buruk).
Intervensi krisis biasanya diperlukan, dalam bentuk periode yang diperluas pada terapi perseorangan, kelompok, atau keluarga. Pengobatan dengan obat-obatan pengurang gelisah kemungkinan diperlukan.

Cara Mengatasinya
1~ Waktu adalah segalanya. Saat si kecil berusia 8 bulan – 1 tahun, sebaiknya ibu tidak mengantarkan si kecil ke daycare dengan orang yang tidak dikenal, karena pada rentang usia ini, biasanya rasa cemasnya muncul. Pun sebaiknya ibu tidak meninggalkan si kecil saat ia lelah, lapar atau belum istirahat. Jika memungkinkan, sebaiknya ibu mengatur waktu keberangkatan setelah si kecil tidur atau makan.
2~ Latihan. Berlatih berpisah dengan mengenalkan orang dan tempat baru. Jika ada pengasuh baru, ajaklah untuk bermain bersama saat di dalam kamar.
3~ Tetap tenang dan konsisten. Ciptakan ritual yang sama sebelum ibu pergi dengan mengatakan kata-kata yang menyenangkan, sayang dan tegas. Tunjukkan keyakinan pada si kecil. Yakinkan si kecil bahwa ibu akan kembali dan jelaskan berapa lama sampai ibu kembali dengan konsep yang dipahami olehnya, misalnya sampai makan malam, karena seusia ini si kecil belum paham benar dengan waktu.
4~ Menepati janji. Hal ini sangat penting untuk membentuk rasa yakin pada anak dan agar anak bisa melalui saat berpisah dengan ibu.
5~ Orangtua harus tidak membatasi atau membatalkan perpisahan dalam reaksi separation anxiety karena melakukannya sehingga bisa membahayakan perkembangan dan kematangan anak tersebut.
6~ Ketika orangtua siap untuk meninggalkan rumah (atau meninggalkan anak tersebut pada pusat perawatan anak), mereka harus memastikan orang tersebut dengan siapa mereka meninggalkan anak tersebut untuk mengalihkan anak tersebut dengan mainan, sebuah mainan, atau kegiatan lain. Dengan demikian, orangtua harus tinggal di rumah tetapi di ruangan yang berbeda, mereka harus tidak segera kembali dalam reaksi terhadap tangisan, tetapi sebaliknya harus memanggil anak tersebut dari ruangan lain. Ini mengajar anak tersebut bahwa orangtua masih ada meskipun anak tersebut tidak melihat mereka.
7~ Separation anxiety kemungkinan memburuk ketika seorang anak lapar atau lelah, sehingga memberi makan anak tersebut dan membiarkan anak tidur sebentar sebelum meninggalkan mereka bisa juga membantu.

Laman

 

DUNIA MERAH Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting