Langsung ke konten utama

Psikopat

Pendahuluan

Psikopat atau psikopati disebut juga sosiopatik karena dari perbuatan-perbuatannya masyarakat menderita dan dirugikan. Penderita psikopat pada umumnya tidak menyadari bahwa dirinya ada kelainan, dan tidak merasakan sendiri penyakitnya. Penderita psikopat seolah-olah tidak memiliki hati nurani dan suka berbuat seenaknya tanpa memedulikan kepentingan orang lain.

Psikopat adalah bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral selalu konfik dengan norma sosial dan hukum yang diciptakan oleh angan-angannya sendiri, Kartini Kartono,1989.

Psikopat(i) dipakai untuk menggambarkan manifestasi psikopatologis di dalam prilaku dan perbuatan individu, Gunnarsa S.S., 1985.

Psikopat adalah kelainan prilaku khususnya berbentuk perilaku yang antisosial, yaitu tidak memedulikan norma-norma sosial (Sarwono, sarlito Wirawan, 2000).

Mendiagnosis Psikopat
1~ Mencocokkan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang ditetapkan Prof. Hare. Pencocokan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan perilaku pasien dari waktu ke waktu.
2~ Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewat pemindaian menggunakan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian.
3~ Wawancara menggunakan metode DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial.
4~ Memperhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.
5~ Melakukan psikotes. Psikopat biasanya memiliki IQ  yang tinggi.
6~ Melakukan tes pengetahuan. Psikopat biasanya memeliki pengetahuan yang luas.
7~ Jika Anda memiliki anak berumur 3 tahun yang terlalu jenius, dan seharusnya anak tersebut tidak mungkin sejenius itu, maka bisa jadi anak Anda psikopat.

Penyebab Psikopat
Menurut Kartini Kartono (1989)penyebab utama psikopat, yaitu:
1~ Tidak mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya pada masa muda.
2~ Pada tahun-tahun pertama kehidupan (0-3 tahun), tidak pernah memperoleh kemesraan dan kelembutan dari lingkungannya.
Akibatnya:
1~ Kehilangan dan kemampuan untuk menberikan cinta kasih dan simpati kepada orang lain.
2~ Kehilangan perasaan sosial dan kemanusiaan
3~ Tidak mampu menjalin hubungan antar manusia
4~ Diliputi perasaan tidak senang dan tidak puas.
5~ Diliputi rasa kebencian, dendam, curiga, penolakan, rasa dikejar-kejar dan dituduh, gelisah, tegang, ketakutan, kacau balau, dan dibayangi pikiran yang kegila-gilaan.
6~ Akhirnya terjadi disintegrasi dan disorganisasi keperibadian, yang ditandai dengan memiliki rasa sosial dan rasa rasa kemanusiaan yang wajar.

Menurut Gunarsa, singgih D., dan Ny.Gunarsa Singgih D.(1985), asal usul psikopat ditinjau dari sudut psikodinamika dan genetika bersumber dari kelakuan menyimpang pada masa anak dan kenakalan remaja. Tanda-tandanya sebagai berikut:
1~ Tidak pernah membentuk keterikatan yang baik dengan orang tua atau pengganti orang tua.
2~ Suka melawan terhadap hal-hal yang dilarang oleh masyarakat karena biasa dimanja dan merasa diperlakukan tidak adil.
3~ Membutuhkan penerimaan orang laindan ada persalahan bersalah, tetapi tidak terjalin dengan baik dalam pribadi keseluruhannya.

Biologis
Hare sendiri memeriksa seorang pasien pria, berusia 46 tahun bernama AI yang menunjukkan semua gejala psikopat. Hasilnya adalah bahwa pada AI ditemukan kelainan di otak, yaitu bahwa AI tidak dapat memisahkan stimulus yang bersifat rasional dari yang emosional. Semua stimulus diolah sekaligus oleh belahan otak kiri (pusat rasio) dan otak kanannya (pusat emosi). Karena itu menurut Hare seorang psikopat bukan sekedar berbohong atau hipokrit (munafik), tetapi ada sesuatu yang lebih serius di baliik itu, yaitu ada kelainan di otaknya (Hare, 1999).

Psikis
Menurut Kirkman, mereka yang berkepribadian psikopat mempunyai latar belakang masa kecil yang tidak memberi peluang untuk perkembangan emosinya secara optimal. Anak-anak yang tidak dididik dan diasuh sedemikian rupa sehingga emosinya berkembang dengan baik, akan tumbuh menjadi orang-orang yang tidak bisa berempati dan tidak mempunyai kata hati (consceince). Dengan perkataan lain, mereka akan menjadi orang dengan kepribadian Psikopat.

Sosial
Seseorang yang psikopat biasanya cuek pada norma-norma sosial, tak peduli pada aturan, dan pemberontak. Kepribadiannya yang sulit ditebak, bisa terlihat dari ketidakstabilannya dalam hubungan interpersonal, citra diri, serta selalu bertindak menuruti kata hati. Tanpa peduli perbuatannya itu salah atau benar, mengganggu orang atau tidak. Orang seperti ini cenderung impulsif (melakukan sesuatu tanpa pikir panjang), dan berpikiran negatif serta memiliki sifat pendendam.

Spiritual
Adanya sikap  dan perilaku  yang menampakkan suatu yang dipandang baik oleh orang lain, padahal di dalam hatinya tersembunyi kebusukan, keburukan, dan kebobrokan. Apa yang ditampakkan tidak sama dengan apa yang dirasakan di dalam kalbunya. Indikator gangguan kepribadian antara lain adalah suka menipu, menyembunyikan kejalekan di dalam hatinya, perbuatannya  dalam kefasikan atau dosa, sikapnya suka berdusta.

Jenis-Jenis Psikopat
Menurut Hervey Checkley, dalam bukunya The Mask of Sanity (1941), ada empat jenis psikopat :

Primary Psychopath yang bergeming pada hukuman, penahanan, tekanan, atau celaan. Mereka punya cara sendiri untuk memaknai kata dan kehidupan.
Secondary Psychopath adalah pengambil resiko, dan juga lebih tanggap terhadap tekanan, mudah cemas dan merasa bersalah.
Distempered Psychopath cenderung mudah marah dan bila kumat, tingkah mereka mirip penderita epilepsi (ayan), cenderung jadi pecandu obat, kleptomania, pedofilia, bahkan bisa jadi pembunuh dan pemerkosa berantai.
Charismatic Psychopath adalah si pembohong yang menarik dan menawan, selalu dianugerahi bakat tertentu, tapi memanfaatkannya untuk memperdaya yang lain. Pemimpin agama sekte tertentu yang mendorong pengikutnya bunuh diri bisa jadi contoh.

Perspektif Aliran- Aliran
Psikoanalisis
Terjadi karena dorongan-dorongan bawah sadar terhadap pemuasan id ditambah dengan rendahnya kontrolnya ego sehingga id lebih dominan dan akhirnya dia melakukan segala cara untuk memuaskan id nya seperti membunuh dan menyakiti orang lain, atau menipu. Disamping itu, orang yang menderita gangguan tersebut mempunyai super ego yang tumpul sehingga ia tidak merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya meskipun perilakunya sudah banyak merugikan orang lain.

Behavioristik
Teori behavioristik memandang bahwa gangguan kepribadian psikopat disebabkan oleh proses belajar yang salah selama rentang kehidupannya. Ia tidak memahami perilaku mana yang benar dan perilaku mana yang salah. Anak yang tidak pernah mendapatkan reward atas hasil baik yang ia lakukan justru ia selalu mendapatkan perilaku dan pengalaman yang tidak menyenangkan saat melakukan perbuatan yang baik maupun yang buruk. Maka anak tersebut belajar bahwa tidak ada yang namanya benar. Tetapi, apapun yang ia lakukan akan sama saja dampaknya.

Humanistik
Dalam teori humanistik, gangguan tersebut disebabkan oleh terhambatnya dan tidak tercapainya proses menuju aktualisasi diri yang sehat. Seseorang yang menderita gangguan tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Baik kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan akan rasa cinta dan dicintai.

Kognitif
Psikopat terjadi karena mengalami distorsi kognitif. Ia berfikir bahwa ia dapat mendapatkan apa saja yang ia mau dengan melakukan apa saja yang ia inginkan untuk membawanya kepada sesuatu yang ia innginkan tersebut meskipun perilakunya membawa pengaaruh atau efek buruk bagi orang lain.

Gejala
1~ Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
2~ Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
3~ Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
4~ Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
5~ Sikap psikopat di usia dewasa.
6~ Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
7~ Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
8~ Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
9~ Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
10~ Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
11~ Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.

Bentuk Psikopat
Menurut beberapa ahli, dibedakan empat bentuk psikopat, yaitu:
a~ Tipe simpatik, tetapi tidak bertanggung jawab.
b~  Tipe pendendam dan pemberontak, tipe ini orangnya gemar memusuhi dan memberontak terhadap hal-hal yang tidak disenangi.
c~ Tipe hipokondris dan tidak adekuat.
d~ Tipe anti sosial

Onset
Onset gangguan adalah sebelum usia 15 tahun. Anak perempuan biasanya memiliki gejala sebelum pubertas, dan anak laki-laki biasanya lebih awal. (Kaplan & Sadock)

Prevalensi
Prevalensi gangguan kepribadian adalah 3 persen pada laki-laki dan 1 persen pada wanita. Keadaan ini paling sering ditemukan pada daerah perkotaan yang miskin dan di antara penduduk yang berpindah-pindah dalam daerah tersebut. Anak laki-laki dengan gangguan berasal dari keluarga yang lebih tinggi. Dibandingkan anak perempuan dengan gangguan. Di dalam populasi penjara, prevalensi gangguan kepribadian psikopat mungkin setinggi 75 persen. Suatu pola familial ditemukan di mana gangguan lima kali lebih sering pada sanak saudara derajat pertama dari laki-laki. (Kaplan & Sadock)

Terapi
Jika pasien gangguan kepribadian psikopat diimobilisasi (sebagai contohnya, di masukkan di dalam rumah sakit), mereka seringkali dapat menjalani psikoterapi. Dalam proses terapi, dukungan dari kelompok sangat menentukan perubahan perilaku. Oleh sebab itu, maka terapi kelompok lebih dapat menghilangkan gangguan di bandingkan dengan memasukannya kedalam penjara. Sebelum terapi dimulai, sangat penting untuk dibuat batasan-batasan yang kuat terlebih dahulu. Ahli terapi harus menemukan suatu cara untuk menghadapi perilaku merusak diri sendiri pada klien. Dan untuk mengatasi rasa takut klien gangguan kepribadian psikopat terhadap keintiman, ahli terapi harus menggagalkan usaha klien untuk melarikan diri dari perjumpaan dengan orang lain dalam melakukan hal itu, ahli terapi menghadapi tantangan memisahkan kendali dari hukuman dan memisahkan pertolongan dan konfrontasi dari isolasi sosial dan ganti rugi.

Farmakoterapi. Farmakoterapi digunakan untuk menghadapi gejala yang diperkirakan akan timbul seperti kecemasan, penyerangan, dan depresi. Tetapi karena klien seringkali merupakan penyalahguna zat, obat harus digunakan secara bijaksana. Jika klien menunjukan bukti-bukti adanya gangguan defisit atensi/ hiperaktifitas, psikostimulan, seperti methylphenidate (ritalin), mungkin digunakan. Harus di lakukan usaha untuk mengubah metabolisme katekolamin dengan obat-obatan dan untuk mengendalikan perilaku impulsif dengan obat antiepileptik, khususnya jika bentuk gelombang abnormal ditemukan pada EEG.

Prevensi
Kirkman, yang percaya bahwa psikopat terbentuk karena salah asuh pada masa kecil, berpendapat bahwa psikopat bisa dicegah dengan indikasi kelainan kepribadian itu bisa dideteksi sedini mungkin dan diberi asuhan sedemikian rupa sehingga meminimalkan resiko individu dari kekurangan afeksi pada masa kecilnya yang akan meyebabkan berkembangnya perilaku yang merugikan dari seorang psikopat. (Kaplan & Sadock)

Daftar Pustaka

Anuz, Husein, Dr.Sp.Kj. Psikopat Dalam Keluarga.Proceeding Seminar Nasional Psikopat : 2006 Jan 21-22, Jakarta-Indonesia; 2006.

Hidayat,A. Aziz Alimul. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Surabaya: Salemba Medika.

Maslim, Rusdi, Dr. Sp. Kj. Deteksi Psikopat Dengan Tes Mmpi-Indonesia. Proceeding Seminar Nasional Psikopat : 2006 Jan 21-22, Jakarta-Indonesia; 2006.

Oebit, Tjut Meura Salma, Dr. Sp. Kj. Mengapa Seseorang Menjadi Psikopat. Proceeding Seminar Nasional Psikopat : 2006 Jan 21-22, Jakarta-Indonesia; 2006.

Sarwono, Sarlito Wirawan,Prof. Dr.; Antara Psikopat Dan Sosiopat: Kajian Dalam Jurnal-Jurnal Barat. Proceeding Seminar Nasional Psikopat : 2006 Jan 21-22, Jakarta-Indonesia; 2006.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1983. Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suyati, Sri. Dkk. 1995. Psikologi Industri Dan Sosial, Semarang : Pustaka Jaya.

Tutut, Lestari, Yadi; Psikopat Monster Berwajah Malaikat. Majalah Kesehatan Keluarga Dokter Kita 2006 Jan- Ed1. 2006.


Tutut, Lestari, Yadi; Ciri Psikopat. Majalah Kesehatan Keluarga Dokter Kita 2006 Jan- Ed1. 2006.

Postingan populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB V Kesimpulan Dan Saran - Karya Tulis Ilmiah

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan Dari hasil penelitian hubungan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru, dapat disimpulkan : 5.1.1Dari 86 responden sebagian besar remaja pria mempunyai pengetahuan rendah, yaitu sebanyak 44 orang (51,2%).