Langsung ke konten utama

Paraphilia

Pendahuluan

Voyeurism tercakup dalam kelompok ganguan yang lebih luas yang disebut paraphilia. Mereka  yang menderita gangguan ini memiliki ciri-ciri memiliki hasrat seksual yang menggebu-gebu dan kuat, fantasi-fantasi seksual, atau menampilkan berbagai tingkah-laku yang  melibatkan objek, aktivitas atau situasi yang tak lazim dan menyebabkan stres negatif serta melemahnya fungsi-fungsi sosial, aktivitas kerja dan fungsi-fungsi penting lainnya. Dalam DSM-IV ada delapan gangguan seksual yang tercakup dalam Paraphilia:  exhibitionism, fetishism, frotteurism, pedophilia, sexual masochism, sexual sadism, transvestic fetishism, dan voyeurism. DSM-IV juga memperluas daftar paraphilia dengan kategoori paraphilia yang tidak tergolongkan sevcara khusus mencakup telephone scatologia, necrophilia, partialism, zoophilia, coprophilia, urophilia, dan klismaphilia.

Paraphilia merujuk pada semua kebutuhan yang tak terkendali akan khayalan, tindakan atau objek yang tak lazim dengan tujuan memperoleh kesenangan seksual. Di dalamnya termasuk juga kebiasaan menggunakan benda-benda mati (pakaian, perhiasan dan benda-benda tertentu yang berkaitan dengan lawan jenis), mendapatkan kenikmatan dari kesakitan dan rasa terhina (pada diri sendiri atau orang lain), serta melakukan aktivitas seksual dengan orang yang tidak mau melakukannya. Gangguan paraphilia ditandai oleh empat langkah yang membentuk daur: (1) preokupasi atau ketertarikan dan perhatian pada objek atau adegan seksual yang intensif dan terus-menerus; (2) ritualisasi dalam bentuk melakukan perilaku-perilaku tertentu yang berkaitan dengan aktivitas seksual; (3) Tingkah-laku kompulsif yang terwujud dalam bentu berulangnya perilaku seksual menyimpang; dan (4) perasan sedih, murung, hampa, menderita dan depresi yang kemudian mengarahkannya kembali pada perilaku seksual menyimpang sebagai upaya untuk menghilangkan perasan-perasan negatif yang ditanggungnya.

Voyeurism (voyeurisme) sebagai salah satu bentuk paraphilia mencakup perilaku-perilaku melihat secara sembunyi-sembunyi orang lain yang telanjang, melepas/mengganti pakaian, atau sedang berhubungan seksual, dengan tujuan utama agar terangsang secara seksual. Keterangsangan secara seksual dan kenikmatan seksual yang menyertainya merupaka hasil yang diharapkan diperoleh dalam perilaku mengintip itu. Perilaku voyeurisme mencakup juga perilaku menonton film yang mengandung objek dan adegan-adegan seksual, mengintip celana dalam dan beha, serta dalam derajat yang lebih rendah terwujud dalam perilaku memandangi orang yang dianggap berpotensi menjadi partner seksual. Perilaku curi-curi pandang pada saat ‘nongkrong’ di tempat umum seperti kafe pun dapat disebut sebagai kecenderungan voyeurisme dalam derajat yang rendah.

Gambaran Klinis Parafilia
Dalam DSM IV TR, paraphilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Dengan kata lain, terdapat deviasi (para) dalam ketertarikan seseorang (philia). Fantasi, doronganm atau perilaku harus berlangsung setidaknya selama 6 bulan dan menyebabkan distress. Seseorang dapat memiliki perilaku, fantasi, dan dorongan seperti yang dimiliki seorang paraphilia namun tidak didiagnosis menderita paraphilia jika fantasi atau perilaku tersebut tidak berulang atau bila tidak mengalami distress karenanya.
Banyak orang sering kali mengalami lebih dari satu paraphilia dan pola semacam itu dapat merupakan aspek gangguan kepribadian mental lain, seperti skizofrenia, depresi, atau salah satu gangguan kepribadian. Dari hasil survey di masyarakat, mengindikasikan bahwa sebagian besar pengidap paraphilia adalah laki-laki. Beberapa gangguan yang termasuk ke dalam kelompok paraphilia diantaranya fetishisme, fetishisme transvestik, pedofilia, incest, voyeurisme, eksibisionisme, froteurisme, sadisme dan masokisme seksual.

Fetishisme
Fetishisme adalah ketergantungan pada benda mati untuk menimbulkan gairah seksual. Misalnya sepatu, stoking, benda-benda dari karet seperti jas hujan, sarung tangan, pakaian dari bulu, celana dalam, dan benda-benda lainnya untuk menimbulkan gairah seksual bagi para fetisis. Beberapa orang dapat melakukan tindakan fetishisme mereka sendirian secara diam-diam dengan membelai, menciumi, mengisap, menempelkan di anus, atau hanya menatap benda-benda tersebut sambil melakukan masturbasi. Ada juga yang membutuhkan pasangan untuk menggunakan fetis tersebut sebagai stimulan sebelum melakukan hubungan seks. Fetisis kadang tertarik untuk mengoleksi benda-benda yang diinginkannya dan bahkan mencuri di setiap waktu untuk menambah koleksi mereka. Ketertarikan yang dirasakan fetisis pada benda tersebut dialami secara spontan dan tidak dapat ditahan. Tingkat fokalisasi erotis – status eksklusif dan istimewa yang dimiliki benda tersebut sebagai stimulan seksual – yang membedakan fetishisme dengan ketertarikan yang normal. Gangguan tersebut biasanya berawal dari  masa remaja, biasanya remaja awal. Fetisis seringkali mengidap jenis paraphilia lain seperti pedofilia, sadisme, dan masokisme. Adapun kriteria Fetishisme dalam DSM IV TR, yaitu:
1~ Berulang, intens, dan terjadi dalam kurun waktu setidaknya enam bulan, fantasi, dorongan, atau perilaku yang menimbulkan gairah seksual berkaitan dengan penggunaan benda-benda mati.
2~ Menyebabkan disress dalam fungsi sosial atau pekerjaan.
3~ Benda-benda yang menimbulkan gairah seksual tidak terbatas pada bagian pakaian yang dikenakan lawan jenis atau alat-alat yang dirancang untuk menstimulasi alat kelamin secara fisik, seperti vibrator

Fetshisme Transvestik
Kondisi fetishisme transvestik atau transvestisme yaitu jika seorang laki-laki mengalami gairah seksual dengan memakai pakaian perempuan meskipun ia tetap merasa sebagai seorang laki-laki. Transvestisme bervariasi mulai dari memakai pakaian dalam perempuan dibalik pakaian konvensional hingga memakai pakaian perempuan lengkap. Fetishisme transvestik biasanya diawalai dengan separuh menggunakan pakaian lawan jenis di saat mereka anak-anak atau remaja. Para transvestit adalah heteroseksual, selalu laki-laki, dan secara umum hanya memakai pakaian lawan jenis di waktu tertentu saja dan tidak rutin. Di luar itu mereka cenderung berpenampilan, berperilaku, dan memiliki minat seksual maskulin. Banyak yang menikah dan menjalani kehidupan konvensional. Memakai pakaian lawan jenis biasanya dilakukan secara diam-diam dan hanya diketahui oleh sedikit anggota keluarga. Adapun kriteria Fetishisme Transvestik dalam DSM IV TR, yaitu:
1~ Berulang, intens, dan terjadi dalam kurun waktu setidaknya enam bulan pada laki-laki heteroseksual, fantasi, dorongan, atau perilaku yang menimbulkan gairah seksual berkaitan dengan memakai pakaian lawan jenis.
2~ Menyebabkan disress dalam fungsi sosial atau pekerjaan.
3~ Dapat berhubungan dengan disforia gender dalam kadar tertentu (merasa tidak nyaman dengan identitas gendernya).

Pedofilia
Menurut DSM, pedofil (pedos, berarti “anak” dalam bahas Yunani) adalah orang dewasa yang mendapatkan kepuasan seksual melalui kontak fisik dan sering kali seksual dengan anak-anak prapubertas yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. DSM IV TR mensyaratkan para pelakunya minimal berusia 16 tahun dan minimal 5 tahun lebih tua dari si anak. Namun, penelitian tampaknya tidak mendukung pernyataan DSM bahwa semua pedofil lebih menyukai anak-anak prapubertas, beberapa diantaranya menjadi anak-anak pascapubertas sebagai korbannya, yang secara hukun belum cukup umur untuk diperbolehkan melakukan hubungan seks dengan orang dewasa.
Pedofilia lebih banyak diidap oleh laki-laki daripada perempuan. Gangguan ini seringkali komorbid dengan gangguan mood dan anxietas, penyalahgunaan zat, dan tipe paraphilia lainnya. Pedofilia bisa homoseksual atau heteroseksual. Dalam beberapa tahun terakhir, internet memiliki peran yang semakin besar dalam pedofilia. Para pedofil memanfaatkan internet untuk mengakses pornografi anak dan untuk menghubungi calon-calon korbannya. Kekerasan jarang menjadi bagian dalam pencabulan tersebut meskipun hal itu dapat terjadi, seperti yang kadang menarik perhatian orang dalam bebrbagai besar di media. Namun, meskipun sebagian besar pedofil tidak melukai korbannya secara fisik, beberapa diantaranya sengaja menakut-nakuti si anak dengan, misalnya, membunuh hewan peliharaan si anak dan mengancam akan lebih menyakitinya jika si anak melapor kepada orangtuanya. Pencabulan tersebut dapat terus berlangsung selama beberapa minggu, bulan, atau tahun jika tidak diketahui oleh orang dewasa lain atau jika si anak tidak memprotesnya. Sejumlah kecil pedofil, yang juga dapat diklasifikasikan sebagai sadistis seksual atau berkepribadian antisosial (psikopatik), menyakiti objek nafsu mereka secara fisik dan menyebabakan cedera serius. Mereka bahkan dapat membunuhnya. Para individu tersebut, apakah psikopat atau bukan, mungkin lebih tepat disebut pemerkosa anak dan secara fundamental berbeda dengan pedofil terkait keinginan mereka untuk menyakiti si anak secara fisik minimal sampai mereka mendapatkan kepuasan seksual. Adapun kriteria Pedofilia dalam DSM IV TR:
1~ Berulang, intens, dan terjadi selama periode minimal 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan melakukan kontak seksual dengan seorang anak prapubertas.
2~ Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi tersebut menyebabkan orang yang bersangkutan mengalami distress atau masalah interpersonal.
3~ Orang yang bersangkutan minimal berusia 16 tahun dan 5 tahun lebih tua dari anak yang menjadi korbannya
  
Incest
Incest adalah hubungan seksual antar kerabat dekat yang dilarang untuk menikah. Hal ini paling sering terjadi antara saudara kandung laki-laki dan perempuan. Bentuk paling umum lainnya yang dianggap lebih patologis yaitu antara ayah dan anak. Incest dicantumkan dalam DSM IV TR sebagai subtipe pedofilia. Terdapat dua perbedaan utama antara incest dan pedofilia. Pertama, incest sendiri berdasarkan definisinya dilakukan antaraggota keluarga. Kedua, korban incest cenderung lebih tua dari korban pedofil. Lebih sering kasusnya adalah si ayah mulai tertarik kepada anak perempuannya ketika si anak mulai mengalami kematangan fisik, sedangkan pedofil biasanya tertarik pada anak-anak jelas karena anak tersebut belum mencapai kematangan seksual.

Voyeurisme
Voyeurisme adalah kondisi dimana seseorang memiliki prefensi tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat orang lain yang sedang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual. Tindakan melihat atau mengintip mendorong individu untuk mengalami gairah seksual dan kadang menjadi hal penting agar dapat mengalam gairah seksual. Orgasme seorang voyeus dicapai dengan melakukan masturbasi, baik sambil tetap mengintip atau setelahnya, sambil mengingat apa yang dilihatnya. Kdang seorang voyeur berfantasi melakukan hubungan seksual dengan orang ynag diintipnya, namun hal itu tetap menjadi fantasi dalam voyeurisme, jarang terjadi kontak antara orang yang diintip dan orang yang mengintip. Voyeur sejati, yang hampir seluruhnya laki-laki, tidak merasa bergairah dengan melihat perempuan yang sengaja membuka pakaiannya untuk kesenangan si voyeur. Elemen risiko sepertinya penting karena si voyeur merasa bergairah dengan kmungkinan reaksi perempuan yang diintipnya jika ia mengetahuinya. Voyeurisme biasanya berawal di masa remaja. Ada pemikiran bahwa voyeur merasa takut untuk melakukan hubungan seksual secara langsung dengan orang lain, mungkin karena tidak terampil dalam hubungan sosial. Tindakan mengintip yang mereka lakukan berfungsi sebagai pemuasan pengganti dan kemungkinan memberikan rasa kekuasaan atas orang yang diintipnya. Voyeur sering kali mengidap parafilia lain namun tidak menjadi gangguane. Adapun kriteria Voyeurisme dalam DSM IV TR:
1~ Berulang, intens, dan terjadi selama periode minimal 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan tindakan mengintip orang lain yang sedang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual tanpa diketahui yang bersangkutan.
2~ Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi tersebut menyebabkan orang yang bersangkutan sangat menderita atau mengalami masalah interpersonal.

Eksibisionisme
Eksibisionisme adalah prefensi tinggi dan berulang untuk mendapatkan kepuasan seksual kepada orang yang tidak dikenal yang tidak menginginkannya kadang kepada seorang anak. Gangguan ini umumnya berawal di masa remaja. Seperti halnya pada voyeurisme jarang ada upaya untuk melakukan kontak secara nyata dengan orang yang tidak dikenal tersebut. Gairah seksual terjadi dengan berfantasi memamerkan alat kelaminnya atau benar- benar melakukannya, dan eksibisionis melakukan masturbasi ketika berfantasi atau memamerkannya. Pada sebagian besar kasus ada keinginan untuk mengejutkan atau membuat malu korbannya. Dorongan untk memamerkan alat kelamin sangat kuat dan hampir tidak dapat dikendalikan pada eksibionis, atau flasher, dan tampaknya dipicu oleh kecemasan dan kegelisahan serta gairah seksual. Karena dorongan tersebut bersifat impulsif, tingkah laku memamerkan tersebut dapat dilakukan cukup sering. Para eksibisionis memiliki dorongan yang sangat kuat sehingga pada saat melakukan tindakan tersebut, mereka biasanya tidak memperdulikan konsekuensi sosial dan hukum dari tindakan mereka. Secara umum, eksibisionis adalah orang yang tidak matang dalam mendekati lawan jenisnya dan mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonal. Lebih dari separuh pengidap eksbisionis berstatus menikah, namun memiliki hubungan seksual yang tidak memuaskan dengan pasangan. Adapun kriteria Eksibisionisme dalam DSM IV TR:
1~ Berulang, intens, dan terjadi selama periode minimal 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan memamerkan alat kelamin kepada orang yang tidak dikenal yang tidak menduganya.
2~ Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi tersebut menyebabkan orang yang bersangkutan mengalami distress atau mengalami masalah interpersonal.

Froteurisme
Froteurisme adalah gangguan yang berkaitan dengan melakukan sentuhan yang berorientasi pada bagian tubuh seseorang  yang tidak menaruh curiga akan terjadinya hal itu. Froteur bisa menggosokkan penisnya ke paha atau pantat seorang perempuan atau menyentuh payudara atau alat kelaminnya. Tindakan ini umumnya dilakukan di tempat umum, seperti di dalam bis yang penuh penumpang atau trotoar yang penuh pejalan kaki, yang memudahkan pelaku untuk melarikan diri. Froteurisme belum pernah diteliti secara ekstentif. Gangguan ini tampaknya muncul di awal masa remaja dan umumnya diidap bersama dengan parafilia lainnya. Adapun kriteria Froteurisme dalam DSM IV TR:
1~ Berulang, intens, dan terjadi selama periode minimal 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan menyentuh atau menggosokkan bagian tubuhnya pada orang yang tidak menghendakinya.
2~ Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi tersebut menyebabkan orang yang bersangkutan distress atau mengalami masalah interpersonal.

Sadisme Seksual dan Masokisme Seksual 
Sadisme seksual yaitu prefensi kuat untuk mendapatkan atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menimbulkan rasa sakit atau penderitaan psikologis pada orang lain atau pasangannya. Sedangkan masokisme adalah prefensi kuat untuk mendapatkan atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menjadikan diri sendiri sebagai subjek rasa sakit.
Kedua gangguan ini terjadi dalam gangguan heteroseksual dan homoseksual. Beberapa sadistis dan mesokis adalah perempuan. Gangguan ini mulai muncul di masa dewasa awal dan sebagian besar sadistis dan masokis relatif cukup nyaman dengan praktik seksual mereka yang tidak wajar. Terlepas dari gangguan yang mereka idap, mayoritas sadistis dan mesokis  menjalani kehidupan normal, dan terdapat beberapa bukti bahwa mereka berpenghasilan dan memiliki latar pendidikan yang di atas rata-rata. Mayoritas sadistis dan mesokis menjalin hubungan untuk mendapatkan kepuasan seksual secara timbal balik. Sadistis dapat memperoleh kenikmatan orgasmik sempurna dengan menimbulkan rasa sakit pada pasangannya dan masokis dapat terpuaskan sepenuhnya dengan membiarkan dirinya tersakiti. Adapun kriteria Sadisme dalam DSM IV TR:
1~ Berulang, intens, dan terjadi selama periode minimal 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan tindakan (bukan fantasi) mempermalukan atau menyebabkan penderitaan fisik pada orang lain.

2~ Menyebabkan distress pada orang yang bersangkutan dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau orang tersebut bertindak berdasarkan dorongannya pada orang lain yang tidak menghendakinya

Sedangkan kriteria Masokisme dalam DSM IV TR:
1~ Berulang, intens, dan terjadi selama periode minimal 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan tindakan (bukan fantasi) yang dilakukan oleh orang lain untuk mempermalukan atau memukul dirinya.

2~ Menyebabkan distress pada orang yang bersangkutan dalam fungsi sosial atau pekerjaan 

Faktor Penyebab Parafilia
Seperti dijelaskan Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya Abnormal Psychology, lebih dari 90 persen penderita paraphilia adalah pria. Hal ini tampaknya berkaitan dengan penyebab paraphilia yang meliputi pelampiasan dorongan agresif atau permusuhan, yang lebih mungkin terjadi pada pria daripada wanita. Penelitian-penelitian yang mencoba menemukan adanya ketidaknormalan testoteron ataupun hormon-hormon lainnya sebagai penyebab paraphilia, menunjukkan hasil tidak konsisten. Artinya, kecil kemungkinan paraphilia disebabkan ketidaknormalan hormon seks pria atau hormon lainnya. Di sisi lain, penyalahgunaan obat dan alkohol ditemukan sangat umum terjadi pada penderita paraphilia. Obat-obatan tertentu tampaknya memungkinkan penderita paraphilia melepaskan fantasi tanpa hambatan dari kesadaran. Paraphilia menurut perspektif teori perilaku merupakan hasil pengondisian klasik. Contohnya, berkembangnya bestialiti mungkin terjadi sebagai berikut: Seorang remaja laki-laki melakukan masturbasi dan memperhatikan gambar kuda di dinding. Dengan demikian mungkin berkembang keinginan untuk melakukan hubungan seks dengan kuda, dan menjadi sangat bergairah dengan fantasi demikian.

Hal ini terjadi berulang-ulang dan bila fantasi tersebut berasosiasi secara kuat dengan dorongan seksualnya, mungkin ia mulai bertindak di luar fantasi dan mengembangkan bestilialiti. Lingkungan keluarga dan budaya di mana seorang anak dibesarkan ikut memengaruhi kecenderungannya mengembangkan perilaku seks menyimpang. Anak yang orangtuanya sering menggunakan hukuman fisik dan terjadi kontak seksual yang agresif, lebih mungkin menjadi agresif dan impulsif secara seksual terhadap orang lain setelah mereka berkembang dewasa.  Banyak penderita pedofilia yang miskin dalam keterampilan interpersonal, dan merasa terintimidasi bila berinteraksi seksual dengan orang dewasa. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima penderita pedofilia telah mengalami pelecehan seksual di masa kanak-kanak. Di bawah ini ada beberapa faktor penyebab dari parafilia yang dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain:

Perspektif teori belajar, stimulus yang tidak biasa menjadi stimulus terkondisi untuk rangsangan seksual akibat pemasangannya dengan aktivitas seksual di masa lalu, serta stimulus yang tidak biasa dapat menjadi erotis dengan cara melibatkannya dalam fantasi erotis dan masturbasi.
Perspektif psikodinamika, kecemasan kastrasi yang tidak terselesaikan dari masa kanak-kanak yang menyebabkan rangsangan seksual dipindahkan pada objek atau aktivitas yang lebih aman.
Perspektif multifaktor, penganiayaan seksual atau fisik pada masa kanak-kanak dapat merusak pola rangsangan seksual yang normal.



Sedangkan faktor penyebab langsung terbentuknya penyimpangan seksual parafilia tidak diketahui secara pasti, beberapa dugaan kemunculan gangguan ini :
1~ Pengalaman pelecehan dan kekerasan seksual dimasa kanak-kanak.
2~ Keterdekatan dengan situasi atau objek tertentu secara berulang kali dengan aktivitas seksual.
3~ Hambatan perkembangan dan kesulitan dalam menjalin hubungan dengan beda jenis.
4~ Kecanduan pornografi, beberapa tayangan nyeleneh (aneh) akan memberikan daya tarik seperti magnet yang dapat mempengaruhi psikologis ketergantungan
5~ Pengaruh dari pasangan seksual.
6~ Pelampiasan stress yang tidak tepat sehingga menimbulkan kebiasaan dan pengulangan secara terus-menerus.

7~ Rasa ingin mencoba yang diakibat penyampaian informasi atau persepsi yang salah.

Pandangan Teori Psikologi Terhadap Gangguan Parafilia
Berikut ini ada beberapa pandangan dari teori Psikologi dalam memandang gangguan parafilia.
1. Perspektif Psikodinamika
Parafilia dipandang oleh para teoretikus psikodinamika sebagai tindakan defensif, melindungi ego agar tidak menghadapi rasa takut dan memori yang direpres dan mencerminkan fiksasi di tahap pregenital dalam perkembangan psikoseksual. Orang yang mengidap parafilia dipandang sebagai orang yang merasa takut terhadap hubungan heteroseksual yang wajar, bahkan terhadap hubungan heteroseksual yang tidak melibatkan seks. Perkembangan social dan seksualnya (umumnya laki-laki) tidak matang, tidak berkembang, dan tidak memadai untuk dapat menjalin hubungan social dan heteroseksual orang dewasa pada umumnya.

2. Perspektif Behavioral dan Kognitif
Beberapa teori yang memiliki paradigma behavioral berpendapat bahwa parafilia terjadi karena pengondisian klasik yang secara tidak sengaja menghubungkan gairah seksual dengan sekelompok stimuli yang oleh masyarakat dianggap sebagai stimuli tidak tepat. Meskipun jarang disebutkan dalam literature terapi perilaku, teori ini pertama kali dikemukakan dalam laporan Kinsey yang terkenal mengenai perilaku seksual laki-laki dan perempuan Amerika. Sebagian besar teori behavioral dan kognitif mengenai parafilia yang ada saat bersifat multidimensional dan berpendapat bahwa parafilia terjadi bila sejumlah fakta terdapat dalam diri individu. Riwayat masa kanak-kanak individu yang mengidap parafilia mengungkap bahwa sering kali mereka sendiri merupakan korban pelecehan fisik dan seksual dan dibesarkan dalam keluarga dimana hubungan orang tua-anak mengalami gangguan. Pengalaman harga diri tersebut dapat berkontribusi besar terhadap rendahnya tingkat keterampilan social dan harga diri, rasa kesepian, dan terbatasnya hubungan intim yang sering terjadi pada para pengidap parafilia. Di sisi lain, banyak fakta bahwa banyak pedofil dan eksibisionis memiliki hubungan social-seksual yang wajar mengindikasikan bahwa masalah ini lebih kompleks dari sekedar disebabkan oleh tidak tersedianya sumber seks yang tidak menyimpang. Lebih jauh lagi, keyakinan luasnya bahwa pelecehan seksual dim as kanak-kanak memicu seseorang memiliki perilaku parafilik setelah dewasa perlu dikoreksi berdasarkan penelitian yang menunjukkan bahwa kurang dari sepertiga penjahat seks berusia dewasa yang mengalami pelecehan seksual sebelum mereka berusia 18 tahun. Hubungan orang tua-anak yang menyimpang juga dapat memicu permusuhan atau sikap negative pada umumnya dan kurangnya empati terhadap perempuan, yang dapat meningkatkan kemungkinan untuk menyakiti perempuan. Alkohol dan efek negative sering kali merupakan pemicu tindakan pedofilia, voyeurism, dan eksibisionisme. Hal ini sejalan dengan pengetahuan kita tentang efek alkohol yang menghilangkan berbagai hambatan. Aktivitas seksual menyimpang, seperti halnya penggunaan alkohol, dapat menjadi alat untuk melepaskan diri dari afek negative.

3. Perspektif Biologis
Karena sebagian besar orang mengidap parafilia adalah laki-laki, terdapat spekulasi bahwa androgen, hormone utama pada laki-laki, berperan dalam gangguan ini. Karena janin manusia pada awalnya terbentuk sebagai perempuan dan kelakilakian ditimbulkan oleh pengaruh hormonal terkemudian, mungkin dapat terjadi suatu kesalahan dalam perkembangan janin.

Treatment
Psikoterapi
Teknik yang dapat dipakai adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi dapat dilakukan secara individual dan terapi kelompok, latihan yang diberikan adalah meningkatkan keterampilan sosial, latihan fisik, latihan konsentrasi, mengatasi depresi dan treatmen hormon.

Medikasi
Pemberian obat antiandrogen yang bertujuan untuk menormalkan level hormon testeron. Obat-obat yang digunakan seperti medroxyprogesterone dan cyproterone. Bila individu juga disertai gangguan kecemasan dan depresi jenis SSRIs (selective serotonin reuptake inhibitors) menjadi obat pilihan dokter; fluoxetine atau fluvoxamine.

Pencegahan Sendiri
1~ Stress reduction secara tepat. Tidak melakukan aktivitas seksual yang aneh-aneh sebagai pelampiasan stres. Lakukan hal-hal positif agar penyaluran stres tidak merusak perilaku dan kebiasaan lainnya, perilaku menyimpang dapat teradiktif bila penyaluran stres dengan aktivitas seksual setiap kali dilakukan bila stress menimpa.
2~ Perkuatkan iman, bagaimanapun iman merupakan benteng terbaik sebagai pencegahan penyimpangan perilaku.
3~ Self control. Mengontrol dorongan rasa ingin tahu, mencoba atau pengaruh teman dengan penuh kesadaran dan pengetahuan akan dampak-dampak buruk dari perilaku tersebut.
4~ Tidak surfing atau melihat pornografi yang bebas bisa di dapat dari internet atau media lainnya.

5~ Membiasakan hidup sehat untuk mengurang stres, termasuk olahraga teratur, nutrisi yang seimbang dan pengalaman spiritual dan religius.


Tindakan Prevensi
Karena sebagian besar parafilia ilegal, banyak orang dengan parafilia yang masuk penjara, dan diperintahkan oleh pengadilan untuk mengikuti terapi. Para pelaku kejahatan seks tersebut seringkali kurang memiliki motivasi untuk mengubah perilakunya. Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan terapis untuk meningkatkan motivasi mengikuti perawatan:
1~ Terapis berempati terhadap keengganan untuk mengakui bahwa ia adalah pelanggar hukum.
2~ Terapis dapat memberitahukan jenis-jenis perawatan yang dapat membantu mengontrol perilaku dengan baik dan menunjukkan efek negatif yang timbul apabila tidak dilakukan treatment.
3~ Terapis dapat memberikan intervensi paradoksikal, dengan mengekspresian keraguan bahwa orang tersebut memiliki motivasi untuk menjalani perawatan.
4.Terapis dapat menjelaskan bahwa akan ada pemeriksaan psikofisiologis terhadap rangsangan seksual pasien; dengan demikian kecenderungan seksual pasien dapat diketahui tanpa harus diucapkan atau diakui oleh pasien.


Daftar Pustaka
Davidson, Gerrald C, dkk. (2006). Psikologi Abnormal, Edisi 9. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Nefid, Jeferey S; Rathus, Spencer A; Greene, Beverly. (2000) Abnormal Psychology in a Changing World, New Jersey: Rentice Hall


Postingan populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB V Kesimpulan Dan Saran - Karya Tulis Ilmiah

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan Dari hasil penelitian hubungan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru, dapat disimpulkan : 5.1.1Dari 86 responden sebagian besar remaja pria mempunyai pengetahuan rendah, yaitu sebanyak 44 orang (51,2%).