Langsung ke konten utama

Transeksualisme



http://duniaamerahh.blogspot.com/ 

Pendahuluan
Apakah saya seorang wanita atau seorang pria?
Mungkin pertanyaan terrsebut sangat mudah untuk dijawab ketika pertanyaan itu diberikan kepada kita karna untuk seseorang yang normal dan paham tentang identitas dirinya akan mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Lalu  bagaimana dengan saudara-saudara kita yang masih kesulitan untuk mendapatkan identitas dirinya? Hal yang sakit dirasakan mereka ketika dihadapkan pada pertanyaan yang sama dan mereka harus bingung untuk memberikan jawaban mengenai identitas jenis kelamin mereka. Terkadang mereka harus sakit hati dan tersinggung bahkan sedih ketika dipanggil dengan sebutan waria, wadam, bencong serta sebutan-sebutan lain. Ingin marah tetapi mungkin tidak bisa karena mereka sendiri masih kebingungan dalam mencari jati diri identitas kelamin mereka. Walaupun begitu, mereka tetaplah manusia biasa sama seperti kita. Mereka memiliki emosi, perassaan dan pikiran.

Untuk beberapa contoh yang umum kita kenal mengalami gangguan identitas jenis kelamin adalah Dorce atau alm.Avi serta tema-temannya yang lainnya. Gangguan itu adalah keinginan untuk memiliki jenis kelamin yang berlawanan dengan kenyataan (wanita ingin menjadi pria dan pria ingin menjadi wanita). Atau keyakinan bahwa seseorang telah masuk kedalam sebuah tubuh dengna jenis kelamin yang salah. Identitas jenis kelamin biasanya mulai ditemukan pada awal masa kanak-kanak (usia 18-24 bulan). Anak laki-laki mengetahui bahwa mereka adalah laki-laki dan anak perempuan mengetahui bahwa mereka adalah anak perempuan. Seorang anak bisa menyukai aktivitas yang kadang terlihat lebih tepat untuk lawan jenisnya. Seorang anak bisa menyukai aktivitas jenis kelamin yang normal masih melihat dirinya sebagai bagian dari seks biologis mereka sendiri. Ini berarti bahwa anak perempuan yang senang bermain baseball dan gulat, tidak memiliki suatu masalah identitas jenis kelamin, jika dia melihat dirinya sebagai wanita dan merasa puas menjadi seorang wanita. Seorang anak laki-laki yang bermain boneka dan lebih suka memasak daripada berolah raga, tidak memiliki masalah identitas jenis kelamin, kecuali jika dia tidak mengenali dirinya sebagai laki-laki atau secara biologis tidak merasa nyaman menjadi seorang laki-laki.

Transeksualisme adalah kondisi dimana seseorang secara psikologis merasa memiliki jender dan identitas seksual yang berbeda dengan kondisi biologis seksual tubuh mereka sebagaimana mereka dilahirkan. Gambarannya berupa adanya suatu hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan tidak nyaman atau tidak sesuai dengan anatomi seksualnya dan menginginkan untuk memperoleh terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan. Diagnosa Transeksualisme dapat ditegakkan bila identitas transeksual ini sudah menetap minimal selama 2 tahun. Penderita kelainan ini percaya bahwa mereka adalah korban dari suatu kecelakaan biologis (yang terjadi sebelum mereka lahir), yang secara kasar terpenjarakan dalam sebuah tubuh yang tidak sesuai dengan identitas jenis kelamin mereka yang sesungguhnya. Penderita mungkin akan mencari pertolongan psikologis, baik untuk membantu mereka dalam mengatasi kesulitan hidup dalam sebuah tubuh yang menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun untuk membantu mereka melewati suatu peralihan jenis kelamin. Penderita lainnya mungkin mencari bantuan dokter ahli dalam pembedahan penggantian seks dan pembedahan plastik. Beberapa penderita mungkin puas dengan perubahan peranan jenis kelamin mereka tanpa harus melakukan pembedahan; dengan bekerja, tinggal, dan berpakaian seperti lawan jenisnya di dalam pergaulan. Mereka mengubah penampilan luar mereka, meminum obat-obat hormonal, dan memperoleh identitas yang memperkuat perubahannya, tanpa perlu melakukan pembedahan yang mahal dan beresiko. Tetapi tidak sedikit penderita yang tampaknya merasa tertolong oleh suatu gabungan dari penyuluhan, terapi hormonal dan pembedahan kelamin. Pada laki-laki, pergantian seks dilakukan melalui pemberian hormon wanita (menyebabkan pertumbuhan payudara dan perubahan tubuh lainnya) dan pembedahan untuk mengangkat penis dan buah zakar dan membuat vagina tiruan. Pada wanita, pergantian seks dilakukan melalui pembedahan untuk mengangkat payudara dan organ reproduktif lainnya (rahim dan indung telur), menutup vagina, dan membuat penis tiruan. Pemakaian hormon laki-laki (testosteron) sangat penting dalam pergantian wanita menjadi laki-laki dan harus dilakukan sebelum pembedahan. Dengan pemberian testosteron, akan tumbuh bulu-bulu di wajah dan suara akan menjadi lebih berat. Penderita yang menjalani pembedahan pergantian seks tidak dapat melahirkan anak, tetapi mereka seringkali dapat merasakan kepuasan dalam hubungan seksualnya. Kemampuan untuk mencapai orgasme seringkali tertahan sebelum pembedahan dan setelah menjalani pembedahan, beberapa penderita untuk pertama kalinya merasakan kenyamanan dalam melakukan hubungan seksual.
Transeksualisme muncul dalam dua panduan diagnostik utama yang dipergunakan oleh tenaga kesehatan jiwa diseluruh dunia, DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang dikeluarkan oleh Asosiaso Psikiater Amerika, dan ICD (International Statistical Classification of Disease and Related Health Problems). ICD-10 menyatukan transeksualisme, transvetisme peranan ganda, dan kelainan identitas gender pada masa kecil dalam kategori gangguan identitas gender dan mendefinisikan transeksualisme sebagai “keinginan untuk hidup dan diterima sebagai anggota anggota jenis kelamin yang lain, biasanya disertai oeh rasa tidak nyaman, perasaan tidak pantas terhadap kelamin anatomik yang dimiliki, dan terdapatnya keinginan untuk menjalani pembedahan dan pengobatan hormonal untuk membuat tubuh dari penderita semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.” DSM tidak membedakan antara gangguan identitas gender dan transeksualisme, dan menjelaskan transvetic fetihisme sebagai fenomena terpisah yang dapat terjadi secara bersamaan dengan transeksualisme. Diagnosis DSM memerlukan empat komponen:
1~Keinginan atau keyakinan bahwa dirinya adalah anggota dari jenis kelamin yang berlainan (yang bukan disebabkan oleh manfaat-manfaat atau keuntungan yang didapatkan oleh jenis kelamin yang berlainan)
2~Bukti-bukti ketidaknyamanan yang menetap, berserta perasaan tidak pantas terhadap jenis kelamin biologis dari individu tersebut
3~Gangguan tersebut tidak terjadi bersamaan dengan kelainan interseks secara fisik.
4~Gangguan tersebut menimbulkan gangguan yang signifikan secara klinis, atau terdapat gangguan yang signifikan pada fungsi sosial, pekerjaan, ataupun bidang-bidang lain.

 http://duniaamerahh.blogspot.com/

Interseks
Umumnya seseorang dilahirkan dengan memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Tapi bagi orang yang memiliki kelainan interseks, sulit menentukan jenis kelaminnya sebagai laki-laki atau perempuan. Hal ini dialami oleh Alice, awalnya ia diperkirakan seorang perempuan. Tapi ketika ia berusia 17 tahun ia belum juga mendapatkan menstruasi. Setelah melakukan tes di rumah sakit diketahui bahwa ia memiliki kromosom XY yang merupakan kromosom laki-laki. Dokter akhirnya melakukan tes lagi dan menemukan di dalam tubuh Alice tidak terdapat rahim, ovarium dan sel telur. Diketahui bahwa Alice memiliki Androgen Insensitivity Syndrome (AIS) yang merupakan salah satu jenis interseks. Interseks adalah sekelompok kondisi yang mana terdapat perbedaan antara alat kelamin eksternal dan alat kelamin internal (testis dan ovarium). Kondisi ini bisa juga disebut sebagai gangguan perkembangan seks, DSDs dan psedohermaphroditism. Secara umum kondisi interseks tidak menyebabkan orang merasa sakit atau menyakitkan, meskipun beberapa jenis tertentu bisa berkaitan dengan masalah serius. Seperti dikutip dari Menstuff.org, Sabtu (20/11/2010) kromosom terkadang tidak selalu mendikte identitas gender seseorang, seperti halnya Alice yang hidup sebagai perempuan meskipun memiliki kromosom XY. Karenanya orang dengan interseks membutuhkan dukungan sosial dan psikologis serta komunikasi yang terbuka dan jujur. Terkadang interseks disebut dengan hermaprodit, yang dalam biologi adalah organisme dengan organ reproduksi jantan dan betina. Namun pada manusia tidak ada istilah untuk kondisi hermaprodit. 

Diperkirakan sekitar 1 persen dari jumlah kelahiran hidup menunjukkan kondisi ambiguitas seksual. Hal ini akan menjadi perhatian khusus beberapa dokter spesialis, termasuk melakukan operasi untuk menyamarkan ambiguitas seksual bayi tersebut. Interseks dibagi menjadi empat kategori berbeda, yaitu:
1~46, interseks XX, yaitu seseorang yang memiliki kromosom perempuan serta ovarium, tapi alat kelamin eksternal yang muncul adalah laki-laki.
2~ 46, interseks XY, yaitu seseorang yang memiliki kromosom laki-laki, tapi alat kelamin eksternal yag terbentuk tidak lengkap atau ambigu seperti perempuan.
3~True gonad intersex, yaitu orang yang memiliki ovarium dan testis, atau kemungkinan memiliki satu ovarium dan satu testis. Orang ini bisa memiliki kromosom XX, XY atau keduanya.
4~Gangguan perkembangan seksual kompleks atau interseks yang belum ditentukan. Gangguan ini kemungkinan akibat konfigurasi kromosom yang berbeda, seperti 45, XO (hanya satu kromosom X) atau 47 kromosom dengan kombinasi XXX atau XXY.

Meskipun ada beberapa sebab yang mendasari kondisi interseks, tapi ada gejala-gajala yang mencakup kondisi ini, yaitu:
1~Ambiguitas alat kelamin pada saat lahir
2~Memiliki mikropenis
3~Clitoromegaly (klitoris yang membesar)
4~Terlihat testis yang tidak turun, yang mungkin bisa berubah menjadi ovarium.
5~Pubertas yang tertunda, tidak mengalami pubertas atau adanya perubahan gejala pubertas.
6~Kelainan elektrolit

Interseks adalah masalah yang kompleks, sehingga pengobatan yang dilakukan pun memiliki konsekuensi jangka panjang dan jangka pendek. Karenanya perlu melihat banyak faktor termasuk penyebab spesifik dari interseks tersebut. Dukungan dari keluarga, lingkungan dan sosialnya sangat diperlukan oleh orang dengan interseks.

http://duniaamerahh.blogspot.com/ 

Orientasi Seksual
Orientasi seksual atau kecenderungan seksual adalah pola ketertarikan emosional, romantis, dan/atau seksual terhadap laki-laki, perempuan, keduanya , tak satupun, atau jenis kelamin lain. American Psychological Association menyebutkan bahwa istilah ini juga merujuk pada perasaan seseorang terhadap "identitas pribadi dan sosial berdasarkan ketertarikan itu, perilaku pengungkapannya, dan keanggotaan pada komunitas yang sama. Orientasi seksual biasanya dikelompokkan menurut gender atau jenis kelamin yang dianggap menarik oleh seseorang, yaitu heteroseksual, homoseksual, dan biseksual. Di antara heteroseksual eksklusif dan homoseksual eksklusif terdapat kelompok-kelompok orientasi seksual antara, termasuk berbagai bentuk biseksualitas. Pembagian ini kadang dianggap tidak pula mencukupi karena ada kelompok orang yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai aseksual . Para seksolog pun menganggap skala linear antara heteroseksual dan homoseksual ini merupakan penyederhanaan yang berlebihan terhadap konsep identitas seksual yang lebih luas.



Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.