Langsung ke konten utama

Manik Depresif



Pendahuluan
Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa depresi dan mania. Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim. Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi, seseorang yang menderita gangguan bipolar memiliki ayunan perasaan (mood swings) yang ekstrim dengan pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap gangguan bipolar bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Saat suasana hatinya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri.

Dahulu, penyakit ini disebut dengan manic-depressive. Suasana hati meningkat secara klinis disebut sebagai mania, atau di saat ringan disebut hipomania. Individu yang mengalami episode mania juga sering mengalami episode depresi, atau episode campuran di saat kedua fitur mania dan depresi hadir pada waktu yang sama. Episode ini biasanya dipisahkan oleh periode suasana hati normal, tetapi dalam beberapa depresi individu dan mania mungkin berganti dengan sangat cepat yang dikenal sebagai rapid-cycle. Episode manik kstrim kadang-kadang dapat menyebabkan gejala psikosis seperti delusi dan halusinasi. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Gangguan bipolar dibagi menjadi bipolar I, bipolar II, cyclothymia, dan jenis lainnya berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan episode suasana hati; kisaran sering digambarkan sebagai spektrum bipolar.

Insiden gangguan bipolar berkisar antara 0,3% - 1,5% yang persentasenya tergolong rendah jika dibandingkan dengan persentase insiden yang dikategorikan skizofernia. Gangguan bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Risiko kematian terus membayangi penderita gangguan bipolar, dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas. Episode pertama bisa timbul mulai dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita gangguan bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi. Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar.

Tanda Dan Gejala
Gangguan bipolar dapat terlihat sangat berbeda pada orang yang berbeda. Gejala bervariasi dalam pola mereka, keparahan, dan frekuensi. Beberapa orang lebih rentan terhadap baik mania atau depresi, sementara yang lain bergantian sama antara dua jenis episode. Gangguan suasana hati sering terjadi pada seseorang, sementara yang lain hanya mengalami sedikit selama seumur hidup. Ada empat jenis episode suasana hati pada penderita gangguan bipolar, yakni mania, hipomania, depresi, dan episode campuran. Setiap jenis episode susasana hati gangguan bipolar memiliki gejala yang unik. Gejala-gejala dari tahap mania gangguan bipolar adalah sebagai berikut:
1~ Gembira berlebihan.
2~ Mudah tersinggung sehingga mudah marah.
3~ Merasa dirinya sangat penting.
4~ Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain.
5~ Penuh ide dan semangat baru.
6~ Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya.
7~ Mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengarnya.
8~ Nafsu seksual meningkat.
9~ Menyusun rencana yang tidak masuk akal.
10~ Sangat aktif dan bergerak sangat cepat.
11~ Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan.
12~ Menghambur-hamburkan uang.
13~ Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan.
14~ Merasa sangat mengenal orang lain.
15~ Mudah melempar kritik terhadap orang lain.
16~ Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari.
17~ Sulit tidur.
18~ Merasa sangat bersemangat, seakan-akan satu hari tidak cukup 24 jam.

Tanda Dan Gejala Hipomania
Hipomania adalah bentuk kurang parah dari mania. Orang-orang dalam keadaan hipomanik merasa gembira, energik, dan produktif, tetapi mereka mampu meneruskan kehidupan sehari-hari dan tidak pernah kehilangan kontak dengan realitas. Untuk yang lain, mungkin tampak seolah-olah orang dengan hipomania hanyalah dalam suasana hati yang luar biasa baik. Namun, hipomania dapat menghasilkan keputusan yang buruk yang membahayakan hubungan, karier, dan reputasi. Selain itu, hipomania sering meningkat menjadi mania penuh dan terkadang dapat diikuti oleh episode depresi berat. Tahap hipomania mirip dengan mania, perbedaannya adalah penderita yang berada pada tahap ini merasa lebih tenang seakan-akan telah kembali normal serta tidak mengalami halusinasi dan delusi. Hipomania sulit untuk didiagnosis karena terlihat seperti kebahagiaan biasa, tapi membawa risiko yang sama dengan mania. Gejala-gejala dari tahap hipomania pada gangguan bipolar adalah sebagai berikut:
1.          Bersemangat dan penuh energi dengan munculnya kreativitas.
2.          Bersikap optimis, selalu tampak gembira, lebih aktif, dan cepat marah.
3.         Penurunan kebutuhan untuk tidur.

Tanda Dan Gejala Depresi Bipolar
Gejala-gejala dari tahap depresi gangguan bipolar adalah sebagai berikut:
1~ Suasana hati yang murung dan perasaan sedih yang berkepanjangan.
2~ Sering menangis atau ingin menangis tanpa alasan yang jelas.
3~ Kehilangan minat untuk melakukan sesuatu.
4~  Tidak mampu merasakan kegembiraan.
5~  Mudah letih, tak bergairah, tak bertenaga.
6~ Sulit konsentrasi.
7~ Merasa tak berguna dan putus asa.
8~  Merasa bersalah dan berdosa.
9~ Rendah diri dan kurang percaya diri.
10~ Beranggapan masa depan suram dan pesimistis.
11~ Berpikir untuk bunuh diri.
12~ Hilang nafsu makan atau makan berlebihan.
13~ Penurunan berat badan atau penambahan berat badan.
14~ Sulit tidur, bangun tidur lebih awal, atau tidur berlebihan.
15~ Mual sehingga sulit berbicara karena menahan rasa mual, mulut kering, susah buang air besar, dan terkadang diare.
16~ Kehilangan gairah seksual.
17~ Menghindari komunikasi dengan orang lain.
Hampir semua penderita gangguan bipolar mempunyai pikiran tentang bunuh diri. dan 30% di antaranya berusaha untuk merealisasikan niat tersebut dengan berbagai cara.

Tanda Dan Gejala Episode Campuran
Episode ini merupakan gangguan bipolar campuran dari kedua fitur gejala mania atau hipomania dan depresi. Tanda-tanda umum episode campuran termasuk depresi dikombinasikan dengan agitasi, iritabilitas, kegelisahan, insomnia, distractibility, dan layangan pikiran (flight of idea). Kombinasi energi tinggi dan rendah membuat suasana hati penderita berisiko tinggi untuk bunuh diri. Dalam konteks gangguan bipolar, episode campuran (mixed state) adalah suatu kondisi di saat tahap mania dan depresi terjadi bersamaan. Pada saat tertentu, penderita mungkin bisa merasakan energi yang berlebihan, tidak bisa tidur, muncul ide-ide yang berlalu-lalang di kepala, agresif, dan panik (mania). Akan tetapi, beberapa jam kemudian, keadaan itu berubah menjadi sebaliknya. Penderita merasa kelelahan, putus asa, dan berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Hal itu terjadi bergantian dan berulang-ulang dalam waktu yang relatif cepat. Alkohol, narkoba, dan obat-obat antipedresan sering dikonsumsi oleh penderita saat berada pada epiode ini. Episode campuran bisa menjadi episode yang paling membahayakan penderita gangguan bipolar. Pada episode ini, penderita paling banyak memiliki keinginan untuk bunuh diri karena kelelahan, putus asa, delusi, dan halusinasi. Gejala-gejala yang diperlihatkan jika penderita akan melakukan bunuh diri antara lain sebagai berikut:
1~ Selalu berbicara tentang kematian dan keinginan untuk mati kepada orang-orang di sekitarnya.
2~ Memiliki pandangan pribadi tentang kematian.
3~ Mengkonsumsi obat-obatan secara berlebihan dan alkohol.
4~ Terkadang lupa akan hutang atau tagihan seperti tagihan listrik dan telepon.
Penderita yang mengalami gejala-gejala tersebut atau siapa saja yang mengetahuinya sebaiknya segera menelepon dokter atau ahli jiwa, jangan meninggalkan penderita sendirian dan jauhkan benda-benda atau peralatan yang berisiko dapat membahayakan penderita atau orang-orang di sekelilingnya.

Pandangan Teori Psikologi Terhadap Gangguan
Teori psikoanalisis
Freud (1917) mengajukan bahwa depresi bermula dari kemarahan yang tidak terkendali akibat pengabaian pada masa bayi karena ibu meninggal, terpisah secara emosional atau kealpaan lainnya. Kehilangan objek yang dicintainya itu mengakibatkan rasa tidak aman, kehampaan, kesedihan dan kemarahan. Kehilangan ini terjadi pada tahap oral perkembangan, ketika bayi yang penuh ketergantungan belum memiliki konsepsi tentang individuasi dari orang tua. Saat menjadi dewasa, individu yang berduka kembali ke tahap oral dan mengintroyeksikan kemarahan mereka tentang pangabaian atau konflik yang tidak selesai pada objek yang hilang menjadi kemarahan terhadap diri mereka sendiri. Pandangan intrapsikis tentang mania dikaitkan dengan rasa takut bahwa kemandirian anak yang meningkat akan membuat orang tua tidak berarti dalam kehidupan anak. Konflik ini menimbulkan situasi ikatan ganda bagi anak. Anak berespon pada sisi mencintai yang ditunjukan orang tuannya, tetapi tumbuh untuk membenci sisi mengendalikan pada orang tuanya. Cinta/kebencian ini menimbulkan ambivalensi dan depresi disertai ego yang lemah dan superego yang lebih dominan, yang pada mania disangkal. Karena manusia merupakan penyangkalan depresi, individu yang mengalami mania didominasi oleh id dengan sedikit manifestasi super ego sampai individu mengalami siklus kembali ke keadaan normal atau fase depresif gangguan bipolar.

Teori kognitif
Individu dalam keadaan manik seringkali memiliki pemikiran akan keyakinan dirinya yang berlebih, seperti dirinya merasa mampu melakukan berbagai hal. Teori aaron beck (1967a. 1967b, 1976) tentang penyebab depresi berkaitan dengan pikiran negatif individu yang depresi. Mereka memandang diri sendiri, dunia, dam masa depan mereka dalam bentuk kegagalan yang menyimpang, dengan secara berulang menginterpretasikan pengalaman sebagai hal yang sulit dan membebani serta menginterpretasi diri mereka sendiri sebagai orang yang tidak konsekuen dan tidak kompeten. Dalam studi mengenai faktor-faktor kognitif, gaya atribusional dan sikap disfungsional bersama dengan peristiwa negatif dalam hidup, memprediksi meningkatnya simtom-simtom depresi pada penderita bipolar (reilly-harrington dkk., 1999)

Teori interpersonal
Para individu yang depresi cenderung memiliki sedikit jaringan sosial dan menganggap jaringan sosial hanya memberikan sedikit dukungan. Berkurangnya dukungan sosial dapat melemahkan kemampuan individu untuk mengatasi berbagai peristiwa hidup yang negatif dan membuatnya rentan terhadap depresi. Kurangnya dukungan sosial tersebut disebabkan oleh fakta bahwa orang-orang yang depresi memicu reaksi negatif dari orang lain. Contohnya, orang-orang dapat menganggap hal-hal ini sebagai sesuatu yang menyebalkan: berbicara sangat lambat, banyak jeda ; jarang melakukan kontak mata ; lebih banyak ekspresi wajah yang negatif dibandingkan ekspresi wajah positif.

Prevensi
Prevensi Primer
Langkah awal adalah dengan mencari gambaran tentang tanda-tanda awal dalam munculnya gangguan bipolar di masa muda. Langkah selanjutnya adalah penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor resiko yang dapat mengembangkan gangguan bipolar pada masa muda.

Prevensi Sekunder
Usaha untuk mencegah perkembangan depresi pada masa kanak-kanak lebih ditekankan pada mereka yang memiliki resiko tinggi, yaitu anak-anak dari para ibu yang depresi. Gelfand dan kelompoknya (1996) mengembangkan program intervensi untuk ibu yang depresi dan bayi mereka. Kunjungan dilakukan perawat yang bertujuan untuk meningkatkan pengasuhan ibu yang mengalami depresi maupun membantu mengembangkan interaksi yang lebih baik antara ibu dan bayinya. Usaha untuk mencegah depresi pada remaja dalam skala besar telah diluncurkan di australia oleh shochet, dadds, dan kelompoknya (2001). Para peneliti mengembangkan 11 sesi yang diberi nama rap (resourceful adolescent program) yang menggabungkan banyak bagian dari terapi kognitif-behavioral juga menargetkan faktor resiko interpersonal dan keluarga. Perawatan kedua menggambungkan rap dengan tiga sesi orang tua untuk mengurangi konflik keluarga dan meningkatkan responsivitas dan kehangatan orang tua.

Prevensi Tersier
Pharmachotherapy. Terdapat asumsi bahwa gangguan bipolar merupakan gangguan yang didasari secara biologis, obat dijadikan perawatan yang utama. Umumnya, diresepkan dengan obat seperti litium karbonat, yang berasal dari garam alami. Obat lain adalah valporic acid/divalporex sodium (depakote). Suatu studi meneliti efektivitas tiga mood stabilizers yang berbeda dalam perawatan gangguan bipolar pada 42 anak-anak dan remaja yang berusia 8-18 tahun (kowatch et al., 2000). Anak-anak secara acak diberikan 6 minggu perawatan dengan lithium, asam valproic, atau carbamazepine. Tingkat tanggapan untuk semua kondisi adalah positif, mulai dari 34 sampai 50 persen, dan ada tidak ada perbedaan yang signifikan di antara kelompok.
Family therapy. Miklowitz dan rekan-rekan (2003) mengembangkan dan menguji intervensi keluarga untuk orang dengan gangguan bipolar. Terapi keluarga termasuk semua anggota keluarga yang masih ada (pasangan, orangtua, dan saudaranya) dan menyediakan pendidikan fisik tentang gangguan bipolar, serta pelatihan dalam komunikasi dan kemampuan pemecahan masalah.

Faktor penyebab
Genetika
Genetika bawaan adalah faktor umum penyebab gangguan bipolar. Seseorang yang lahir dari orantua yang salah satunya merupakan pengidap gangguan bipolar memiliki risiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15 % hingga 30%. Bila kedua orangtuanya mengidap gangguan bipolar, maka berpeluang mengidap gangguan bipolar sebesar 50% - 75%. Kembar identik dari seorang pengidap gangguan bipolar memiliki risiko tertinggi kemungkinan berkembangnya penyakit ini daripada yang bukan kembar identik. Penelitian mengenai pengaruh faktor genetis pada gangguan bipolar pernah dilakukan dengan melibatkan keluarga dan anak kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10% - 15% keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar pernah mengalami satu episode gangguan suasana hati.

Fisiologis
Sistem Neurokimia Dan Gangguan Suasana Hati. Salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap gangguan bipolar adalah terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak. Sebagai organ yang berfungsi menghantarkan rangsang, otak membutuhkan neurotransmitter (saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh lainnya) dalam menjalankan tugasnya. Norepinephrin, dopamin, dan serotonin adalah beberapa jenis neurotransmitter yang penting dalam penghantaran impuls syaraf. Pada penderita gangguan bipolar, cairan-cairan kimia tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang. Sebagai contoh, ketika seorang pengidap gangguan bipolar dengan kadar dopamin yang tinggi dalam otaknya akan merasa sangat bersemangat, agresif, dan percaya diri. Keadaan inilah yang disebut fase mania. Sebaliknya dengan fase depresi yang terjadi ketika kadar cairan kimia utama otak itu menurun di bawah normal, sehingga penderita merasa tidak bersemangat, pesimis, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri yang besar. Seseorang yang menderita gangguan bipolar menandakan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation system (BAS). BAS memfasilitasi kemampuan manusia untuk memperoleh penghargaan (pencapaian tujuan) dari lingkungannya. Hal ini dikaitkan dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert (bersifat terbuka), peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur saraf dalam otak yang melibatkan dopamin dan perilaku untuk memperoleh penghargaan. Peristiwa kehidupan yang melibatkan penghargan atau keinginan untuk mencapai tujuan diprediksi meningkatkan episode mania tetapi tidak ada kaitannya dengan episode depresi. Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada episode mania.

Sistem Neuroendokrin. Area limbik di otak berhubungan dengan emosi dan mempengaruhi hipotalamus yang berfungsi mengontrol kelenjar endokrin dan tingkat hormon yang dihasilkan. Hormon yang dihasilkan hipotalamus juga mempengaruhi kelenjar pituaritas. Kelenjar ini terkait dengan gangguan depresi seperti gangguan tidur dan rangsangan selera. Berbagai temuan mendukung hal tersebut, bahwa orang yang depresi memiliki tingkat dari cortisol (hormon adrenocortical) yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh produksi yang berlebih dari pelepasan hormon rotropin oleh hipotalamus. Produksi yang berlebih dari cortisol pada orang yang depresi juga menyebabkan semakin banyaknya kelenjar adrenal. Banyaknya cortisol tersebut juga berhubungan dengan kerusakan pada hipoccampus dan penelitian juga telah membuktikan bahwa pada orang depresi menunjukkan hipoccampal yang tidak normal. Penelitian mengenai Cushing’s Syndrome juga dikaitkan dengan tingginya tingkat cortisol pada gangguan depresi.

Lingkungan
Gangguan bipolar tidak memiliki penyebab tunggal. Tampaknya orang-orang tertentu secara genetis cenderung untuk mengidap gangguan bipolar, namun tidak semua orang dengan kerentanan mewarisi penyakit berkembang yang menunjukkan bahwa gen bukanlah satu-satunya penyebab. Beberapa studi pencitraan otak menunjukkan perubahan fisik pada otak penderita agngguan bipolar. Dalam penelitian lain disebutkan, poin ketidakseimbangan neurotransmitter, fungsi tiroid yang abnormal, gangguan ritme sirkadian, dan tingkat tinggi hormon stres kortisol. Faktor eksternal lingkungan dan psikologis juga diyakini terlibat dalam pengembangan gangguan bipolar. Faktor-faktor eksternal yang disebut pemicu. Pemicu dapat memulai episode baru mania atau depresi atau membuat gejala yang ada memburuk, namun banyak episode gangguan bipolar terjadi tanpa pemicu yang jelas.

Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (penghargaan) dalam hidup. Contoh dari hubungan perseorangan antara lain jatuh cinta, putus cinta, dan kematian sahabat. Sedangkan peristiwa pencapaian tujuan antara lain kegagalan untuk lulus sekolah dan dipecat dari pekerjaan. Selain itu, seorang penderita gangguan bipolar yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti mengalami banyak kegelisahan atau depresi. Selain penyebab di atas, alkohol, obat-obatan, dan penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya gangguan bipolar. Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang baik dapat mendukung penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan dengan normal. Berikut ini adalah faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya gangguan bipolar :
1~ Stres merupkan peristiwa kehidupan yang dapat memicu gangguan bipolar pada seseorang dengan kerentanan genetik. Peristiwa ini cenderung melibatkan perubahan drastis atau tiba-tiba-baik atau buruk seperti akan menikah, akan pergi ke perguruan tinggi, kehilangan orang yang dicintai, atau dipecat dalam pekerjaan.
2~ Penyalahgunaan zat tidak menyebabkan gangguan bipolar, itu dapat membawa pada sebuah episode dan memperburuk perjalanan penyakit. Obat-obatan seperti kokain, ekstasi, dan amphetamine dapat memicu mania, sedangkan alkohol dan obat penenang dapat memicu depresi.
3~ Obat-obat tertentu, terutama obat-obatan antidepresan, bisa memicu mania. Obat lain yang dapat menyebabkan mania termasuk obat flu, penekan nafsu makan, kafein, kortikosteroid, dan obat tiroid.
4~ Perubahan musiman merupakan episode mania dan depresi sering mengikuti pola musiman. Episode mania lebih sering terjadi selama musim panas, dan episode depresif lebih sering terjadi selama musim dingin, musim gugur, dan musim semi (untuk negara dengan 4 musim).
5~ Kurang tidur atau melewatkan beberapa jam istirahat dapat memicu episode mania.

Pengobatan
Episode mania atau hipomania pada penyakit manik-depresif dapat diobati dengan cara yang sama pada mania akut.  Episode depresi diobati dengan cara yang sama pada depresi. Sebagian besar obat anti-depresi bisa menyebabkan perubahan depresi menjadi hipomania atau mania dan kadang menyebabkan siklus yang cepat.  Karena itu obat-obat tersebut digunakan hanya untuk jangka pendek dan efeknya terhadap suasana hati diawasi secara ketat. Jika terdapat tanda-tanda hipomania atau mania, maka obat anti-depresi segera dihentikan. Anti-depresi yang cenderung menyebabkan perubahan suasana hati adalah bupropion dan maois (monoamine oxidase inhibitors). Kepada penderita penyakit manik-depresif sebaiknya diberikan obat yang bisa menstabilkan suasana hati, misalnya litium atau anti-kejang. Litium tidak memiliki efek terhadap suasana hati yang normal, tetapi mengurangi kecenderungan perubahan suasana hati pada 70% penderita penyakit manik-depresif. Efek samping dari litium adalah tremor, kedutan otot, mual, muntah, diare, kehausan, berkemih berlebihan dan penambahan berat badan. Litium bisa memperburuk jerawat atau psoriasis, menyebabkan kadar hormon tiroid dalam darah menurun dan kadang menyebabkan penderita sering berkemih.  Kadar litium dalam darah yang sangat tinggi bisa menyebabkan sakit kepala, linglung, ngantuk, kejang dan gangguan irama jantung. Efek samping ini lebih sering terjadi pada penderita usia lanjut.
Wanita yang merencanakan hamil, sebaiknya berhenti mengkonsumsi litium, karena bisa menyebabkan kelainan jantung pada janin.

Pengobatan lainnya adalah dengan obat anti-kejang karbamazepin dan divalproeks.
Karbamazepin bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah dan sel darah putih, sedangkan divalproeks bisa menyebabkan kerusakan hati (terutama pada anak-anak). Kedua obat ini terutama efektif diberikan kepada penderita penyakit manik-depresif tipe campuran atau yang siklusnya berganti dengan cepat, yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lainnya. Psikoterapi bisa dilakukan secara individu maupun dalam suatu kelompok. Terapi kelompok membantu penderita dan pasangannya atau keluarganya untuk memahami penyakitnya dan mengahadapinya dengan lebih baik. Fototerapi kadang digunakan untuk penyakit yang lebih ringan atau depresi musiman, yaitu depresi musim dingin-musim gugur dan hipomania musim semi-musim panas. Penderita ditempatkan di ruang tertutup yang disinari dengan cahaya buatan. Cahaya ini dikendalikan sedemikian rupa sehingga menyerupai musim yang diinginkan; siang yang lebih lama untuk musim panas dan siang yang lebih pendek untuk musim dingin.
Jika dosis cahaya terlalu berlebihan, penderita bisa berubah menjadi hipomania atau bisa terjadi kerusakan mata (jarang).

Prognosis
Hampir pada semua kasus, penyakit manik-depresif ini mengalami kekambuhan.
Episodenya kadang berubah dari depresi menjadi mania atau sebaliknya, tanpa periode suasana hati yang normal diantaranya. 15% penderita, terutama wanita, mengalami 4 episode atau lebih setiap tahunnya. Penderita yang sering mengalami kekambuhan, lebih sulit untuk diobati.

Pencegahan
Tidak ada cara pasti untuk mencegah gangguan bipolar. Namun, mendapatkan perawatan di tanda awal gangguan kesehatan mental dapat membantu mencegah gangguan bipolar atau kondisi kesehatan mental lainnya memburuk.  Jika Anda telah didiagnosis dengan gangguan bipolar, beberapa strategi dapat membantu mencegah episode kecil berubah menjadi episode mania atau depresi:
1~ Perhatikan tanda-tanda peringatan. Kenali gejala awal dapat mencegah episode semakin buruk. Anda dan pengasuh Anda mungkin telah mengidentifikasi pola episode bipolar Anda dan apa yang memicu mereka. Panggil dokter jika Anda merasa Anda jatuh ke dalam sebuah episode depresi atau mania. Melibatkan anggota keluarga atau teman-teman dalam mengawasi tanda-tanda gejala.
2~ Hindari obat-obatan dan alkohol. Meskipun Anda mungkin merasa lebih baik, menggunakan alkohol atau narkoba membuat gejala anda lebih mungkin untuk datang kembali.
3~ Minum obat Anda persis seperti yang diarahkan. Obat dapat memiliki efek samping yang tidak diinginkan, dan Anda mungkin merasa tidak bahagia tentang memiliki kondisi kesehatan mental yang memerlukan perawatan seumur hidup. Selama periode ketika Anda merasa lebih baik, Anda mungkin tergoda untuk berhenti pengobatan. Ini dapat memiliki konsekuensi langsung - Anda mungkin menjadi sangat tertekan, merasa ingin bunuh diri, atau menjadi episode hypomanic atau manik. Jika Anda berpikir Anda perlu membuat perubahan, hubungi dokter.
Periksa terlebih dahulu sebelum minum obat lain. Konsultasikan dokter yang memeriksa Anda untuk gangguan bipolar sebelum Anda memakai obat yang diresepkan oleh dokter lain. Kadang-kadang obat lain memicu episode gangguan bipolar atau dapat berinteraksi dengan obat-obatan yang sudah Anda minum untuk mengobati gangguan bipolar.

Terapi diri sendiri
Berikut ini cara-cara untuk membantu diri sendiri dalam penanganan gangguan bipolar:
1~ Dapatkan pengetahuan tentang cara mengatasi gangguan dan hal-hal yang berkaitan dengan gangguan bipolar. Semakin banyak diketahui, semakin baik dalam membantu pemulihan sendiri dari gangguan ini.
2~ Jauhkan stres dengan menjaga situasi keseimbangan antara pekerjaan dan hidup sehat, dan mencoba teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam.
3~ Mencari dukungan dengan memiliki seseorang yang untuk diminta bantuan dan dorongan. Cobalah bergabung dengan kelompok pendukung atau berbicara dengan teman yang dipercaya.
4~ Buatlah pilihan yang sehat. Pola tidur, makan, dan berolahraga dapat membantu menyetabilkan suasana hati. Menjaga jadwal tidur yang teratur sangat penting.
5~ Pemantauan suasana hati secara mandiri dengan melacak gejala dantanda-tanda ayunan suasana hati Anda berayun di luar kendali sehingga dapat menghentikan masalah sebelum dimulai

Daftar Pustaka
Kerig, P.K. ; Ludlow, A. ; Wenar, C. (2012). Development Psychopathology (6th edition). New York : Mc Graw Hill.

Davison, G.C. ; Neale. J.M. ; Kring, A.M. (2006). Psikologi Abnormal (Edisi ke-9). Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

Nevid, J.S; Rathus, S.A; Greene, B.A. (2000) . Abnormal Psychology In A Changing World (4th edition). New Jersey : Prentice Hall.

Nolen, S.&Hoeksemana.Abnormal Psychology (4th edition). New York : Mc Graw Hill International Edition.

Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…