Langsung ke konten utama

Lesbian (Homoseksual)



 

Pendahuluan
Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional, atau secara spiritual. Mulanya Lesbian di kategorikan sebagai penyakit fisik, lambat laun lesbian disebut-sebut sebagai penyakit sosial. Di zaman modern sekarang ini, lesbian sudah menjadi alternatif style bagi kalangan tertentu.
Beberapa istilah yang sering digunakan dalam lesbian adalah butch, femme, andro dan no label lesbian. Butch merupakan istilah dalam komunitas LGBT untuk mendeskripsikan sifat, gaya, perilaku, ekspresi, persepsi diri dan sebagainya yang bersifat maskulin dalam seorang wanita. Dalam konteks sebuah hubungan, butch seringkali dipakai sebagai pasangan dari femme, yang pada umumnya lebih bersifat feminin tanpa karakter tomboy, walaupun terdapat beberapa kasus dimana butch berpasangan dengan butch, dan femme dengan femme. Sebutan andro yaitu lesbian yang bisa dibilang abu-abu karena dari segi penampilan dan hubungan mereka bisa dibilang tidak total butchy atau femme sedangkan No label sebutan untuk seorang lesbian yang tidak masuk dalam kategori butch juga femme.

Sejarah Homoseksual (Lesbian)
 
“Homoseksualitas  di  kalangan  wanita  disebut  cinta  lesbis  atau  lesbianisme. Seperti yang  Kartini  Kartono  dalam  buku  Psikologi Abnormal  dan  Abnormalitas  Seksual  ungkapkan  bahwa  lesbian  atau lesbianisme berasal  dari  kata  Lesbos  yaitu  pulau  di  tengah  Lautan  Egeis yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita.” (Kartono, 2009 : 249)

“Konon siapa saja yang lahir di pulau itu nama belakangnya akan di ikuti kata Lesbia, namun tidak semua orang yang memakai nama tersebut adalah lesbian. Mereka meneruskan kebiasaan tersebut untuk menghormati leluhur sebelumnya dan agar kebiasaan itu tidak hilang oleh waktu karena semakin zaman terus berkembang orang-orang pun lebih mengenal istilah lesbian  sebagai  lesbian.  Dalam  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia  (KBBI), lesbian adalah wanita  yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual sesame jenisnya; wanita homoseks.” (Edisi kedua, 1995)

Sekian abad hubungan antar kaum hawa ini jarang sekali terjadi dan bisa  dimaklumi  karena  hubungan  antar  kaum  lesbian  ini  lebih  bisa tersimpan  dengan  rapat  dan  rapi  daripada  kaum  gay.  Bisa  jadi  karena kaum feminisme lebih pintar mengeksplorasi cinta yang mereka dapatkan. Terkadang  apa  yang  dirasakan  kaum  hawa  tidak  mudah  di  terjemahkan oleh  kaum  adam.  Karena wanita  dianugrahi  sifat  dasar  yang  lembut dan sensitifitas  yang  cukup  tinggi.  Fenomena  hubungan  sejenis  lesbian memang  bukan  hal  yang  baru  dalam  gaya  hidup  masyarakat  metro modern.  Meskipun  keberadaannya  masih  terbilang  sangat  rahasia  karena hubungan  lesbian  sangat  sulit  untuk  diditeksi. 

Lesbian  terlatar  belakangi dari banyak hal, misalnya karena bentukan orang tua yang menginginkan mereka  tumbuh  menjadi  lelaki,  pengaruh  lingkungan  serta  karakteristik yang memaksa mereka tumbuh menjadi gadis tomboy dan pada akhirnya membawa mereka lebih dekat dengan pribadi maskulin. Tidak  hanya  dari  faktor-faktor  yang  seperti  diatas  sebutkan  saja, faktor  lain  yang  menyebabkan  hal  tersebut  terjadi  karena  trauma  yang diberikan  orang  tua  kepada  sang  anak.  Contohnya  kurang  perhatian  dari seorang ibu atau sakit hati kepada laki-laki yang menyebabkan wanita itu membenci  laki-laki dan pada akhirnya dia berbalik  arah  ke  kaum wanita yang dia anggap bisa lebih mengerti dirinya dibandingkan laki-laki. Dapat juga  karena  ”dia”  merasa  nyaman  dengan  satu  wanita  hingga  muncul hasrat lain  yang  hadir dalam  hatinya  karena  kedekatan akibat dari saling cerita  atau curhat yang  dapat  memicu  terjadinya  lesbian.  Faktor-faktor seperti itu yang akhirnya terakumulasi menjadi sebuah babak baru dalam percintaan mereka. Menjadi seorang lesbian bukanlah pilihan hidup yang harus dijalani dengan kata lain komunitas lesbian ini memang tidak dapat menolak  dengan  apa  yang  terjadi  pada  dirinya.  Mereka  terjebak  dalam dunia  yang mengharuskan mereka memilih jalan  tersebut dengan batasan norma dan etika yang ada meskipun masyarakat menolak keadaan mereka itu.  Komunitas  lesbian  tumbuh  berkembang  di  negara  Belanda,  disana mereka  bebas  menunjukkan  hubungan  sejenis.  Lain  halnya  dengan Indonesia  yang menjunjung tinggi nilai-nilai  ketimuran, karena  itu untuk menditeksi keberadaan mereka pun sangat sulit.

Sejarah Homoseksual (Lesbian) di Barat (Eropa)
Dalam sejarahnya di masa lalu, keberadaan kaum lesbian di Barat (Eropa) bukan hanya dilarang oleh masyarakat dan institusi agama, tetapi juga dilarang secara hukum dan di kriminalkan oleh negara. Dengan dasar pembenaran  atau  interpretasi  dari  teks  Injil  atau  ajaran  kristiani  (kisah Sodom dan Gomora), kaum lesbian dianggap sebagai kaum yang berdosa dan  dikutuk  oleh  Tuhan  sehingga  harus  dimusnahkan.  Karena  itu seseorang  yang  diketahui  sebagai  seorang  homoseksual  (lesbian)  akan dihukum sampai mati oleh  keluarganya atau oleh masyarakat sekitar dan juga  oleh  negara  sesuai  dengan  Undang-Undang  atau  hukum  yang diberlakukan  pada  masa  itu.  Ini  terjadi  di  Belanda  pada  tahun  1730-an, dimana  kaun  lesbian  mengalami  banyak  sekali  kekerasan  baik  dari keluarga, masyarakat, instuisi agama dan negara. Pada  tahun  1960-an  kaum  lesbian  (hampir  seluruh Eropa)  secara tegas  menuntut  kesamaan  hak  dengan  warga  negara  lainnya  tanpa membedakan  orientasi  seksualnya.  Di  Amsterdam,  pada  tanggal  4  Mei 1970  Aksi  Kelompok  gay  Muda  Amsterdam  (Amsterdamse  Jongeren Aktiegroep  Homoseksualiteit)  melakukan  aksi  peringatan  nasional  untuk para  korban  meninggal  akibat  kekerasan  yang  dialami  korban homoseksual. Peringatan ini dilakukan di Bundaran Dam (tugu peringatan perang dunia ke II yang mengorbankan nyawa ribuan orang secara sia-sia yang  terletak  di  jalan  Damrak  pusat  kota  Amsterdam)  namun  polisi membubarkan  aksi  ini  dan  menangkap  beberapa  aktivis  dengan  tuduhan telah mengganggu ketertiban umum.
Pada  bulan  Mei  1979,  dicetuskan  dari  ide  anggota  Center  for Culture and Recreation sebuah organisasi lesbian yang didirikan pertama kali  di  Amsterdam  tahun  1946  untuk  mendirikan  sebuah  monument peringatan bagi  kaum homoseksual  yang bekerja sama dengan kelompok gay dari Partai Sosialist Pasifist (The Gay Group of The Pasifist Socialist Party).  Ide  ini  mendapat dukungan  dari  kelompok  gay  dan  lesbian,  baik dari individu maupun kelompok yang terdiri dari 7152 group lesbian dan gay  juga  dukungan  dan  antusiasme  dari  dunia  internasional.  Untuk merealisasikannya, dilakukan pencarian dana dengan membentuk Komite Pencarian  Dana  (Fund  Raising  Committee)  yang  beranggotakan  para aktivis gay dan lesbian, politisi, seniman dan aktivis keagamaan. Setelah  delapan  tahun  menggalang  dana,  dana  yang  terkumpul sebesar 180.000 Euro. Dana tersebut diperoleh dari  sumbangan  individu, organisasi lesbian dan gay, serta kegiatan-kegiatan seperti festival seni di musim semi, festival paradiso tahun 1980, festival homomonu-month pada Oktober 1981, pementasan Nigth Before Day Break pada bulan Desember 1986. Serta sumbangan dari Parlemen Belanda sebesar 45.500 Euro ketika kontruksi monument sudah mulai dipasang, bahkan Perdana Menteri pun memberikan  konstribusi  yang  sangat  besar  dalam  pembangunan
monument ini.

Teori-teori Homoseksual (Lesbian) Menurut Para Ahli Seksualis
 
Beberapa  teori  menarik  tentang  lesbian  yang  peneliti  kutip  dari para ahli seksualis sebagai berikut :

Menurut John D’Emilio
John  D’Emilio  adalah  ahli  sejarah  terkemuka  mengatakan bahwa lesbian bukan merupakan bawaan lahir. Dia menyatakan bahwa wanita lesbian  tidak  selalu  ada. Sebaliknya  hawa  mereka  (lesbian)  adalah produk  sejarah  dan  telah  muncul  dalam  era  sejarah  tertentu. Kemunculan mereka terkait dengan hubungan kapitalisme tetapi sudah pada  perkembangan  historis  kapitalisme  dan  lebih  khususnya  lagi dengan  sistem  kerja bebas  yang  telah  memungkinkan  sejumlah  besar perempuan  dalam  abad  kedua  puluh  menyebut  diri  mereka  lesbian. Jadi lesbian merupakan produk sejarah yang muncul karena perubahan ekonomi pada abad ke 17 dan 18 ketika kapitalisme dan industrialisasi menarik  orang-orang  muda  dari  pedesaan  tradisional  masuk  ke perkotaan. Pergeseran ini  mengubah  makna  keluarga  dari  kehidupan  privasi menjadi  dunia  kerja  publik.  Perubahan  ini  menggiring  orang-orang untuk menemukan  kebahasiaan emosional, cinta, keintiman dan seks. Intinya dunia  kapitalisme dan industrialis memberikan pilihan-pilihan erotis  tergadap  seksualitas.  Ketersediaan  pekerjaan  memungkinkan banyak  orang berinteraksi  positif,  bahkan  mulai  ada  tempat-tempat dimana mereka bisa berkumpul, berbaur dan berinteraksi.

Menurut Kathy
Teori  John  D’Emilio  didukung  oleh  Kathy  yang  menurutnya kapitalisme  telah mengantarkan  era  baru  kebebasan.  Kebebasan membuat individu mulai mencari  kehidupan pribadi  kebahagiaan dan kepuasan  yang  didasarkan  pada  jenis  kelamin  yang  pada  akhirnya membawa mereka untuk mengidentifikasi sebagai orang-orang lesbian.

Menurut Havelock Ellis
Sejalan  dengan  teori  lesbian  dari  sisi  kapitalisme,  industrialisasi dan urbanisasi diatas, pada abad ke-19 muncul ilmu kelamin atau studi ilmiah  seksual.  Havelock  Ellis  adalah  seorang  seksolog  yang berpendapat  bahwa  lesbian  merupakan  bawaan  dari  lahir  yang  tidak dapat dihindari.

Menurut Lisa Duggan
Masih  berdasarkan  ilmu  perkelaminan  diatas,  konstribusi munculnya  penyimpangan  seksual  perempuan  dikarenakan  adanya keinginan segelintir orang ingin dibedakan dari mayoritas. Jadi mereka menjadi lesbian karena ingin berbeda dengan orang lain.

Menurut Kraaft-Ebbing’s
Peneliti yang ahli dibidang Psychopathia Sexualis ini menegaskan bahwa  sebenarnya  sampai  tahun  1880-an  pengkategorin homoseksualitas  kata  lesbian  itu  belum  ada. Para  ahli  lah  yang kemudian  memilah-milah  jenis  kelamin  manusia  berdasarkan pandangan medis, sehingga muncul kata gay. Lesbian, dyke dan lain- lain.

Menurut Martha Vicinus
Pandangan  yang  berbeda  muncul  dari  Martha,  menurutnya erotisme  seks  sebenarnya  sudah  ada  dari  sejak  manusia  dilahirkan. Orang-orang memulainya dari persahabatan romantis. Hal ini ditandai dengan saling menulis surat cinta satu sama lain yang mengungkapkan kekaguman  satu  sama  lain.  Pendapatnya  ditegaskan  oleh  Smith Rosenberg,  bahwa  hubungan  persahabatan  romantisme  itu  biasanya akan  berlanjut dengan  mengirimi  bunga,  hadiah  ,  catatan,  puisi, pertukaran ikat rambut sebagai tanda peningkatan hubungan intens.

Ciri-ciri Homoseksual (Lesbian)
 
Sebelum  mengenal  kata  lesbian,  kita  tahu  bahwa  lesbian  adalah istilah  untuk  wanita  penyuka  sejenis.  Lesbian,  kelainan  seksual  ini  telah melanda  lapisan  masyarakat  dan  bahkan terorganisir  dengan  sangat  kuat dan rapi. Jutaan masyarakat di Amerika, Eropa sampai masyarakat miskin di  berbagai  kawasan  kumuh  pun  trekena  kelainan  seksual  ini.  Termasuk Indonesaia  yang  saat  ini  kelainan  seksual  lesbian  telah  berkembang dimana-mana,  salah  satunya  Bandung  yang  diduga  sebagai  kota  dengan
komunitas  lesbian  terbesar  dengan  mulai  diperlihatkannya  keberadaan mereka  di umum maka  orang-orang  pun  sudah  sedikit  banyak  telah menyadari keberadaan komunitas ini. Kelainan  seksual  ini  bercirikan  masing-masing  jenis,  maksudnya perempuan  senang  mengadakan  hubungan  dengan  perempuan  lain. Dibawah ini adalah ciri-ciri remaja bergejala lesbian :
1~Remaja  ini  lebih  senang  bergaul  dengan  anak-anak  berjenis  kelamin yang sama dan berusia dibawahnya.
2~Biasanya anak ini takut berbicara dengan lawan jenisnya.
3~Berpakaian  seperti  atau  menyenangi  kegiatan  yang  biasa  dikerjakan laki-laki.
4~Wanita lesbian cenderung berpenampilan maskulin, tapi tidak semua lesbian berpenampilan maskulin. Keba­nyakan lesbian yang maskulin ini merasa, dirinya laki-laki tapi terjebak dalam tubuh perempuan.
5~Banyak juga dijumpai lesbian yang gayanya seperti perempuan normal, cenderung feminim, bahkan lebih feminim dari perempuan yang normal. Tingkah lakunya mungkin bisa saja lebih halus dari perempuan normal pada umumnya.
6~Biasanya penampilan feminine terkesan dingin. Selalu ketergantungan sama pasangan, tidak mandiri, sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya.
7~Cenderung sensitif dan dingin kepada laki-laki. Tapi ini bukan ciri yang akurat, hanya ciri inilah yang kebanyakan muncul.

Istilah- Istilah Dalam Homoseksual (Lesbian)
 
Istilah-istilah bagi para lesbian ada tiga jenis yaitu :

1~Butch atau butchy,  biasanya  dilabelkan  pada  pasangan  yang  lebih dominan dalam hubungan  seksual. Butch lebih digambarkan sebagai sosok  yang  tomboy,  agresif,  aktif,  melindungi  dan  biasanya  berlaku sebagai laki-laki.
2~Femme,kata Femme digunakan dalam komunitas transgender (gender yang  berpindah-pindah,  misalnya  dulu  laki-laki  lalu  menjadi perempuan). Kata ini berasal dari bahasa Perancis yang berarti “as a women”,  tapi  oleh  banyak  kalangan  diganti  menjadi  pemale.  Lalu berubah  jadi Femme yang  digambarkan  sebagai  sosok  yang  sangat peminim  (kewanitaan).  Dengan  memakai  baju  seperti  wanita  dan berprilaku  sebagai  wanita.  Dalam  hubungan  lesbian, femme ini berperan sebagai sang wanita.
3~Andro, dilabelkan  pada  orang  yang  diwaktu-waktu  tertentu  bisa berperan sebagai butchy atau femme. Sebutan  untuk  lesbian  sebenarnya  masih  ada  dan  cukup  diketahui oleh orang-orang diluar komunitasnya, dan dari penelitian tersebut peneliti mengetahui  istilah lines dan lesbiola juga  dipakai  untuk  menyebut  para lesbian  yang  keberadaannya tidak  ingin diketahui atau untuk mengelabui orang-orang  yang  berada  disekitanya  agar  pembicaraan  mereka  tidak dimengerti. Oleh karena itu komunitas ini lebih menghargai bila seseorang menyebutkan istilah tersebut dibandingkan dengan sebutan lesbian sendiri. Istilah tersebut hingga  saat  ini  belum diketahui  darimana  datangnya  kata itu muncul.


Faktor Penyebab Homoseksual (Lesbian)
 
1~Seperti adanya pengaruh dan kebiasaan dalam keluarga. Misalnya pada masa kanak-kanak ia melihat perlakuan yang tidak baik ayahnya kepada ibu, sehingga timbul rasa tidak tenang berdekatan dengan seorang lelaki.
2~Pertumbuhan psikisnya tidak diarahkan sebagai perempuan. Mungkin karena orangtuanya mengi­nginkan anak lelaki tetapi yang lahir perempuan. Akibatnya perlakuan terhadap dia, perlakuan terhadap seorang lelaki.
3~Penyebab lainnya, bisa juga karena mendapat perlakuan seksual yang tidak wajar dari lawan jenis dan mengakibatkan trauma. Sehingga lebih menyukai sesama jenis.
4~Akibat pengaruh pergaulan yang mengarahkan pada hal-hal yang lebih mencintai dan menyayangi pada sesama jenis. Sehingga menjadi kebiasaan dan sudah tidak asing lagi terhadap pasangan yang sesama jenis.
5~Lalu kurangnya perhatian dari faktor internal maupun eksternal yang dibutuhkan oleh pelaku, sehingga lebih memilih untuk mencari perhatian dengan berperilaku yang berbeda tersebut.

Dampak Negatif Homoseksual (Lesbian)
1~Kelainan jiwanya akibat mencintai sesama jenis, akan membuat jiwanya tidak stabil, dan timbul tingkah laku yang aneh-aneh.
2~Gangguan yang dapat melemahkan daya pikir, kemauan dan semangat.
3~Masyarakat menjadi terganggu dengan adanya perilaku mereka yang bertingkah di luar batas kodratnya dan berpikir untuk lebih memilih dengan memberantas tingkah laku mereka.
4~Mencemarkan nama baik orang tua dan keluarganya. Sehingga keluarganya dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya dan menjadi bahan pembicaraan oleh orang-orang sekitar.
5~Teman atau sahabatnya menjadi merasa malu karena memiliki teman yang berperilaku tidak sehat tersebut dan menjadi lebih memilih untuk tidak bergaul dengan mereka.

Cara Mengatasi Perilaku Homoseksual (Lesbian)
1~Lesbian yang disebabkan lingkungan, tidak kronis, dan tidak berat, masih bisa dibantu dalam membelokkan orientasi seksualnya. Untuk melakukannya perlu terapi serta menciptakan lingkungan yang benar-benar bisa mendukung. Bisa jadi seorang lesbian justru bisa menjadi biseksual (mencintai baik pria maupun wanita).
2~Binaan yang paling tepat adalah dari sisi nurani, misalnya keagamaan, konseling psikologis, juga terus berkreasi secara positif.
3~Tanamkan motivasi dalam diri agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang menyimpang.
4~Harus memiliki konsisten dalam beribadah.
5~Untuk mengubah perilaku penyimpangan ini juga tidak mudah, pelaku harus bersedia dan benar-benar ingin mengubah diri. Jadi masalah ini banyak tergantung pada diri sendiri dan lingkungannya.
6~Orangtua adalah yang paling wajib mengantisipasi hal itu. Banyak orangtua yang justru kurang peduli bila melihat anak perempuan atau anak laki-lakinya menyimpang dalam hal berpakaian atau bersikap.
7~Usahakan membawa dia ke tempat pengobatan khusus yang menangani masalah tersebut seperti psikoterapi. Dengan cara pendekatan seperti itu, maka perlahan-lahan dia memiliki pikiran positif untuk menjauhi dan tidak merasa takut akan hal-hal yang membuatnya merasa tertekan.
8~Butuh terapi rutin untuk menumbuhkan rasa empati dan mengalihkan rasa emosi yang melatih diri meredam perasaan ingin melakukan perilaku penyimpangan tersebut.
9~Berikan dorongan dan dukungan dari keluarga serta orang-orang terdekatnya, dan jagalah pergaulan dengan sesama wanita yang menarik hatinya.
10~Bergaul sewajarnya saja, bahkan bila dianggap membahayakan, usahakan menghindari banyak pertemuan dengan mereka.
11~Mulailah dengan mengurangi pertemuan dengan orang yang bersangkutan atau yang membuat dia merasa ke arah negatif jika bergaul dengan kelompok tersebut.
12~Janganlah terpengaruh oleh budaya barat yang mencoba mempengaruhi pikiran dan budaya pakaian yang cenderung mengikuti budaya mereka.
13~Tinggalkan media, internet dan buku-buku tentang penyimpangan seksual. Buang semua buku-buku, foto atau gambar yang akan mengingatkan pada perbuatan lesbi.
14~Berikan dia rasa yang nyaman untuk bisa menceritakan apa yang membuatnya merasa terdorong mengikuti perilaku penyimpangan tersebut. Dan berikan dorongan dan respon yang baik agar dia bisa bertukar pikiran dengan kita sehingga keinginan untuk menjadi pelaku lesbi dapat berkurang bahkan lebih cepat menghilang.

Homoseksual (Lesbian) di Kota Bandung
 
Tidak  ada  yang  mengetahui  darimana  akar  perkembang  lesbian  di kota Bandung, beberapa sumber mengatakan lesbian lahir di kota Bandung seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman  yang terus berubah. Perkembangan teknologi pun menjadi salah satu penyebab penyebarannya, dimana  kemampuan  teknologi  saat  ini  sangat  menjamin  orang  untuk mendapatkan informasi dengan mudah. Biasanya komunitas ini melakukan perkenalan lewat jejaring sosial di internet seperti Facebook yang sekarang memang sedang banyak di gandrungi orang, Friendster, Twitter, Blog, dan MiRC serta situs pribadi untuk komunitasnya. Semua itu mereka lakukan untuk tetap dapat menjaga ke eksistensian komunitasnya di dunia maya. Untuk  di  dunia  nyata  sendiri,  komunitas  ini  senang  untuk  ”unjuk gigi”  di  depan  masyarakat  dengn  sering  ”nongkrong”  di  tempat-tempat ramai. Di Bandung ini khususnya, komunitas ini biasanya ”nongkrong” di Tony  Jack  Bandung  Indah  Plaza  (BIP)  orang-orang  atau  komunitas  ini menyebutnya  komunitas  TJ  (Tony  Jack).  Paris  Van  Java  (PVJ),  Dago Plaza (Dapla) dan tempat hiburan malam Planet atau lebih dikenal dengan komunitas PL ini juga menjadi tempat biasa mereka kumpul untuk sekedar ngobrol atau sharingdengan teman-teman di komuntasnya tersebut. Hampir setiap tempat hiburan malam menjadi tempat bagi komunitas ini, karena mereka dengan berada ditempat ramai seperti itu kemungkinan keberadaan  mereka  di  Bandung  dapat  diterima  dengan  baik.  Biasanya komunitas ini sering keluar dan berkumpul setiap sabtu malam atau malam minggu,  bila  hari-hari  biasa  (Senin  sampai  Jumat)  tempat-tempat  yang disebutkan  diatas  tersebut  tidak  terlalu  ramai.  Dengan  munculnya  disana mereka  sudah  berani  menampakkan  diri  dan  tidak  menghiraukan pandangan orang lain.

 

Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…