Langsung ke konten utama

Homoseksual


http://duniaamerahh.blogspot.com/ 

Pendahuluan 

Homoseksual mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri merek sebagai gay atau lesbian. Homoseksual, sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks. Sedangkan Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada wanita homoseks. Definisi tersebut bukan definisi mutlak mengingat hal ini diperumit dengan adanya beberapa komponen biologis dan psikologis dari seks dan gender, dan dengan itu seseorang mungkin tidak seratus persen pas dengan kategori di mana ia digolongkan. Beberapa orang bahkan menganggap ofensif perihal pembedaan gender (dan pembedaan orientasi seksual).
Homoseksualitas dapat mengacu kepada:
1~Orientasi seksual yang ditandai dengan kesukaan seseorang dengan orang lain mempunyai kelamin sejenis secara biologis atau identitas gender yang sama.
2~Perilaku seksual dengan seseorang dengan gender yang sama tidak peduli orientasi seksual atau identitas gender.
3~Identitas seksual atau identifikasi diri, yang mungkin dapat mengacu kepada perilaku homoseksual atau orientasi homoseksual.

Ungkapan seksual dan cinta erotis sesama jenis telah menjadi suatu corak dari sejarah kebanyakan budaya yang dikenal sejak sejarah awal . Bagaimanapun, bukanlah sampai abad ke-19 bahwa tindakan dan hubungan seperti itu dilihat sebagai orientasi seksual yang bersifat relatif stabil. Penggunaan pertama kata homoseksual yang tercatat dalam sejarah adalah pada tahun 1869 oleh Karl-Maria Kertbeny, dan kemudian dipopulerkan penggunaannya oleh Richard Freiherr Von Krafft-F bing pada bukunya Psychopathia Sexualis. Di tahun-tahun sejak Krafft-Ebing, homoseksualitas telah menjadi suatu pokok kajian dan debat. Mula-mula dipandang sebagai penyakit untuk diobati, sekarang lebih sering diselidiki sebagai bagian dari suatu proyek yang lebih besar untuk memahami Ilmu hayat, ilmu jiwa, politik, gengetika, sejarah dan variasi budaya dari identitas dan praktek seksual. Status legal dan sosial dari orang yang melaksanakan tindakan homoseks atau mengidentifikasi diri mereka gay atau lesbian beragam di seluruh dunia.
http://duniaamerahh.blogspot.com/
  
Pembahasan
Manusia merupakan mahluk yang tidak pernah berhenti berubah. Mulai dari masa prenatal hingga akhir kehidupan selalu terjadi perubahan, baik dalam kemampuan fisik maupun psikologis. Perkembangan kehidupan manusia terjadi secara bertahap, dan setiap tahap perkembangan memiliki karakteristik, tugastugas perkembangan serta risiko-risiko  yang harus dihadapi. Setiap rentang kehidupan seseorang akan selalu  berhadapan dengan tugas-tugas perkembangannya masing-masing dan setiap periode perkembangan dalam kehidupan manusia memiliki peranan yang sangat penting. Havighurst (dalam Hurlock, 1999) mengatakan tugas-tugas yang berhasil dilakukan akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa kepada arah keberhasilan pada tugas perkembangan selanjutnya. Erickson (dalam Bentley, 2007) membagi rentang kehidupan manusia ke dalam delapan tahap perkembangan. Salah satu tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Erickson adalah tahap perkembangan masa dewasa dini. Tahap perkembangan masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun hingga 40 tahun (Hurlock, 1999). Salah satu tugas perkembangan dewasa dini menurut Havighurst dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat dan mencakup untuk memilih pasangan atau memilih teman hidup. Pemilihan pasangan dapat dilakukan invidu dewasa dini melalui pacaran (Duvall, 1985).

Menurut Biran (2001), pada dasarnya hubungan pacaran merupakan sarana untuk semakin mengenal pasangan, meskipun pada masa pacaran kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang lebih menarik tetap terbuka. Individu yang terlibat dalam suatu hubungan percintaan mempunyai harapan agar hubungan tersebut dapat bertahan lama dan terpelihara. Pendapat dari Duvall dan Biran tersebut memberikan batasan bahwa pacaran merupakan aktifitas yang terjadi hanya pada hubungan yang dilakukan oleh dua orang yang memiliki jenis kelamin berbeda saja. Pendapat yang berbeda dinyatakan oleh Savin-Wiliam dan Cohen (1996) bahwa membentuk dan mengembangkan hubungan pacaran sebagai sesuatu hal yang penting bagi dewasa dini, dilakukan oleh semua orang tanpa memandang orientasi seksual mereka. Orientasi seksual merupakan istilah yang mengarah kepada jenis kelamin, dimana seseorang merasakan ketertarikan secara emosional, fisik, seksual dan cinta yang bertahan lama terhadap orang lain tersebut (Caroll, 2005 ).

Orientasi seksual terbagi tiga yaitu heteroseksual, homoseksual dan biseksual. Heteroseksual merujuk kepadaketertarikan terhadap jenis kelamin yang berbeda, sementara itu, homoseksual merujuk kepada ketertarikan terhadap jenis kelamin yang sama dan biseksual merujuk kepada ketertarikan kepada kedua jenis kelamin. Heteroseksual disebut juga dengan istilah straight, sedangkan pria homoseksual dikenal denga istilah gay, dan wanita homoseksual disebut dengan lesbian (Caroll, 2005). Duvall (1985) menyatakan bahwa perilaku pacaran yang dilakukan oleh dewasa dini yang heteroseksual, memberikan cara bagi seorang dewasa dini untuk berinteraksi dengan pasangan, belajar mengenai pasangan, dan membantu dewasa dini belajar mengenai apa yang disukai, dan diterima oleh pasangan. Masa dewasa dini merupakan waktu yang khusus untuk melakukan pacaran, karena pacaran akan dilakukan lebih sungguh-sungguh dalam hubungannya mencari pasangan hidup dan juga karena pada dewasa dini sudah mencapai kematangan seksual (Caroll, 2005).

Pacaran tetap akan dilakukan oleh seseorang yang menunda-nunda perkawinan sampai menemukan pasangan hidup, meski sudah memasuki usia 30-40 tahun. Setelah kehilangan pasangan pun, melalui kematian ataupun perceraian, orang-orang pada umumnya menjalin pacaran kembali dengan tujuan menemukan pasangan. Pacaran adalah sesuatu hal  yang diharapkan oleh masyarakat, mengakibatkan dewasa dini melakukan hal yang sama, karena orang lain yang ada disekitar lingkungan melakukan hal yang sama(Duvall, 1985). Masyarakat akan menganggap ada yang salah dengan seseorang yang tidak berpacaran. Pada gaya dewasa dini, pacaran juga merupakan aktifitas yang tetap dilakukan. Pacaran tidak memandang orientasi seksual seseorang. Savin-William & Cohen (1996) menyatakan bahwa pacaran adalah saat dimana suatu hubungan romantis dibangun, dan dialami. Pacaran memberikan beberapa fungsi yang penting seperti hiburan, rekreasi dan sosialisasi, yang akan menggiring seseorang kepada makna dari sebuah hubungan.  

http://duniaamerahh.blogspot.com/ 

Fakta Menarik Tentang Homoseksual

Mengenai tentang seseorang yang beresiko mengalami homoseksual tidaklah mudah untuk dikenali, terutama untuk pria dan wanita yang bersikap seperti wanita dan pria pada umumnya. Untuk beberapa orang umum, cenderung mudah menanggapi bahwa pria yang berpenampilan dan bertingkah seperti wanita adalah seorang homoseksual. Begitu pula penilaian untuk wanita yang berpenampilan tomboy (berpenampilan dan bertingkah laku seperti pria) adalah seorang homoseksual. Pada faktanya, hal itu cenderung terjadi namun tidak selalu dijadikan penilaian yang benar. Hal yang sangat sulit dinilai jika pria itu adalah gay dan wanita itu adalah lesbi, tetapi pada lingkungan bersosialisasinya mereka bertingkah seperti wanita dan pria biasanya dan bahkan memiliki pasangan/pacar seperti kebiasaan normal lainnya (pria berpacaran dengan wanita dan begitu sebaliknya). Hal itu dipengaruhi karna masih banyak kaum lesbi dan gay yang malu untuk menunjukkan jati dirinya sebenarnya sehingga mereka tetap berpenampilan seperti manusia normal lainnya. Namun untuk komunitas gay dan lesbi, mereka sangat mudah menilai jika seseorang yang mereka jumpai memiliki kesamaan dengan mereka dikarenakan sudah tingginya jam terbang seorang homoseksualitas tersebut dengan komunitas yang sama dengan mereka.

Cara lain kadang dapat membantu untuk mengetahui apakah seseorang itu homoseksual atau tidak, yaitu dengan melihat jari tangan seorang laki-laki, yang disebut dengan digit ratio theory. Beberapa penelitian telah membuktikan keakuratannya. Seorang pria sejati umumnya memiliki jari manis tangan kanan lebih panjang dari jari telunjuknya, hal ini merefleksikan banyak hormon testoteron (hormon laki-laki) dan cenderung lebih hiperaktif, agresif dan tidak suka sesuatu yang lamban. Sebaliknya, jika jari telunjuk tangan kanannya yang lebih panjang dari jari manis, berarti hormon estrogen (hormon wanita) lebih dominan disertai dengan sifat yang cenderung lebih sensitif, lembut, lambat dan emosional yang umumnya sangat dominan pada wanita. Sedangkan mereka yang jari telunjuknya sama panjang dengan jari manisnya, umumnya berperilaku homoseksual (baik pria atau wanita).

Sebuah studi yang dilakukan oleh Wendy M.Brown dan timnya yang dimuat dalam Archieves of Sexual Behavior ikut menguatkan hal tersebut. Dalam studinya, brown menemukan bahwa ada hubungan tidak langsung antara rasio panjang jari manis dan jari telunjuk dengan perilaku lesbian pada wanita. Wanita yang jari manisnya lebih panjang dari jari telunjuknya punya orientasi seksual sesama jenis/menyukai wanita karena hormon testosteronnya lebih tinggi dibandingkan wanita pada umumnya. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa panjang jari manis tangan kanan menunjukkan sifat seorang laki-laki karena pengaruh hormon testoteron. Siapapun orangnya, pria atau wanita jika jari manis tangan kanannya lebih panjang dari jari telunjuknya akan membawa sifat kelaki-lakian.
http://duniaamerahh.blogspot.com/ 

Pandangan Homoseksual dari Aspek HAM

Hak asasi manusia adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia dalam kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1. Dalam perespektif HAM, hubungan seksual yang menyimpang ini menurut hemat menulis tidaklah begitu rendah dan hinanya. Bila kita sadar dari sudut kacamata HAM, manusia sama dihadapan Tuhan dan Hukum. Tidak seorangpun menghendaki dilahirkan kedunia ini dengan keadaan yangmenyimpang, dan juga tidak dibenarkan adanya suatu kaidah hukum apapun membedakan orang yang satu dengan yang lain. Pandangan negara yang telah maju mempraktekan HAM hubungan seksual yang menyimpang tidaklah dianggap perbuatan dosa dan aib, karena itu penyimpangan perilaku seksual telah mendapat pengakuan dan pengaturannya, seperti yang dilakukan di negeri Belanda. Artinya keluarga dapat dibentuk melalui perkawinan oleh mereka yang sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan).

Presiden Amerika Barack Obama memerintahkan semua instansi, lembaga Pemerintah Amerika di luar negeri memberikan diplomasi, bantuan, dan perlindungan terhadap hak-hak Warga Negara Amerika, yang berasal dari kaum gay, lesbian, biseksual dan waria. Dilansir dari VOA, perintah Obama itu tertuang dalam memorandum yang ditandatanganinya, di hari Selasa, 16-12-2011.  Selain itu ia juga memerintahkan Departemen Luar Negeri Amerika dan USAID, melawan kriminalisasi terhadap orang-orang lesbian, gay, biseksual dan transgender di luar negeri, serta membasmi diskriminasi. Tak hanya memerintahkan untuk diberikannya perlindungan terhadap WNA, Obama juga memerintahkan, agar kantor-kantor Pemerintah Amerika di luar negeri untuk melindungi pengungsi dan pencari suaka Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Pada bulan September lalu, pada sidang umum PBB, Obama mengatakan, tidak satupun negara yang boleh menolak hak-hak seseorang berdasarkan orientasi seksual mereka.

Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) mengeluarkan resolusi yang menyatakan tidak boleh ada diskriminasi atau kekerasan terhadap orang berdasarkan orientasi seksual mereka. Resolusi tersebut dikeluarkan setelah melalui perdebatan sengit antara negara-negara Barat melawan negara-negara mayoritas berpenduduk Islam. Bagi negara Barat, resolusi tersebut termasuk bersejarah. Melalui resolusi ini, Dewan HAM PBB mengakui persamaan hak lesbian, gay, biseksual dan transgender. Resolusi yang ini diajukan oleh Afrika Selatan ini diadopsi oleh 23 negara yang mendukung.

  

Pandangan Homoseksual dari Aspek Kejiwaan/Psikis
 
Keterkaitan antara aspek psikis pelaku pezinahan atau homoseksual adalah faktor yang saling mendukung dan saling mempengaruhi otak untuk melakukan perbuatan. Berikut adalah deskripsi kejiwaan pelaku zina atau homoseksual :

Psikis “ Hewani” mendominasi
Maksudnya adalah kejiwaan manusia pelaku sudah tidak manusiawi lagi. Kondisi yang ada ketika melakukan perzinahan baik bagi hetero seksual maupun homo seksual, adalah psikis hewani yang mementingkan pemuas nafsu birahi belaka. Sedangkan manusia, adalah makhluk yang beradab dengan dilengkapi naluri manusiawi dan akal yang ( seharusnya ) sehat.

Psikis yang adktif akan perzinahan
Apabila seseorang melakukan zina atau homoseksual, secara statistic pasti akan mengulanginya lagi (adiktif). Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya penderita HIV / AIDS baik dalam skala nasional maupun internasional. Sedangkan cara penularan virus HIV / AIDS yang paling banyak dijumpai adalah dengan gonta ganti pasangan seksual (baik hetero seksual maupun homoseksual). Cara penularan yang kedua adalah dengan penggunaan jarum suntik yang tidak bersih secara klinis. Dengan demikian, akibat kejiwaan adiktif terhadap perzinahan tersebut, mengakibatkan pada kesehatan fisik si pelaku perbuatan keji tersebut.

Psikis yang ekstra posesif
Hal ini terjadi pada umumnya, didominasi oleh gay/ lesbian. Contoh kasus yang tengah menjadi sorotan public saat ini adalah kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh tersangka Ryan atau Very Idham Afriansyah. Setelah dilakukan uji psikologis oleh Tim Dokter Polri, tersangka Ryan divonis menderita kelainan kejiwaan yang dalam bahasa Ilmu psikologi disebut psikopat, yakni kondisi kejiwaan yang sangat labil dan tidak dapat membedakan perbuatan yang baik atau buruk. Hal tersebut dapat terjadi pada setiap orang yang salah satu pemicunya adalah sifat yang extra posesif ( rasa memiliki terhadap sesuatu yang berlebihan ). Dalam konteks kasus Ryan, extra posesifnya terhadap kekasih gey nya adalah pemicu ia melakukan pembunuhan mutilasi terhadap korban almarhumk Ir. Hery. Dapat disimpulkan, kondisi kejiwaan pelaku perzinahan, terdeteksi bersifat negative dan berdampak pada kesehatan tubuh dan kesehatan psikis itu sendiri.

Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.