Langsung ke konten utama

Gay (Homoseksual)



 

Pendahuluan
Gay adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk orang homoseksual atau sifat- sifat homoseksual. Istilah ini awalnya digunakan untuk mengungkapka perasaan “bebas/tidak terikat”, “bahagia” atau “cerah dan menyolok. Kata ini mulai digunakan untuk menyebut homoseksualitas mungkin semenjak akhir abad ke-19 M, tetapi  menjadi lebih umum pada abad ke-20. Dalam bahasa inggris modern, gay digunakan sebagai akta sifat dan kata benda merujuk pad aorang terutama pria gay dan aktivitasnya, serta budaya yang diasosiasikan dengan homoseksualitas. Pada akhir abad ke-20, istilah “gay” telah direkomendasikan oleh kelompok-kelompok besar LGBT dan paduan gaya penulisan untuk menggambarkan orang-orang yang tertarik dengan orang lain yang berkelamin sama dengannya. Pada waktu yang hampir bersamaan, penggunaan menurut istilah barunya dan penggunaannya secara peyoratif menjadi umum pada beberapa bagian dunia. Di Anglosfer, konotasi ini digunakan kaum muda untuk menyebut “sampah” atau “bodoh” (misalnya pada kalimat: “hal tersebut sangat gay”). Dalam konteks ini, kata gay tidak memiliki arti “homoseksual” sehingga bisa digunakan untuk merujuk benda tak bergerak atau konsepsi abstrak yang tidak disukai. Dalam konteks yang sama, kata “gay” juga digunakan untuk merujuk kelemahan atau ketidakjantanan. Namun, saat digunakan dalam konteks ini, apakah istilah gay masih memiliki konotasi terhadap homoseksualitas, masih diperdebatkan dan dikritik dengan kasar.

Sejarah

Gambar kartun dari majalah punch tahun 1857 yang mengilustrasikan penggunaan "gay" sebagai bahasa gaul eufemisme untuk pelacur. Seorang wanita berkata kepada wanita lain (yang terlihat murung), "Sudah berapa lama dirimu menjadi gay?" Sebuah poster di dinding adalah porster La Traviata, sebuah opera mengenai seorang pelacur. Kata gay sampai di Inggris pada abad ke-12 M dari bahasa prancis kuno gai, yang dipastikan berasal dari sumber jerman. Hampir sepanjang keberadaannya dalam bahasa Inggris, kata gay diartikan sebagai "gembira", "bebas/ tidak terikat", "cerah dan menyolok". Kata gay sangat umum digunakan menurut pengertian di atas dalam berbagai percakapan dan literatur. Misalnya, masa optimisme pada tahun 1980an masih sering dijuluki sebagai Gay Nineties.. Judul balet Perancis tahun 1938, Gaite Parisienne (Parisian Gaiety atau "Keriangan penduduk Paris"), yang menjadi film Warner Bros tahun 1941 dengan judul The Gay Parisian.juga mengilustrasikan konotasi tersebut. Barulah pada abad ke-20, kata tersebut mulai digunakan secara spesifik untuk pengertian "homoseksual", meskipun sebelumnya sudah memiliki konotasi seksual. Kata benda abstrak gaiety secara umum masih bebas dari konotasi seksual dan dulunya pernah digunakan untuk nama-nama berbagai tempat hiburan; misalnya W.B. Yeats mendengar Oscar Wilde berceramah di Gaiety Theatre di Dublin. Kata ini mungkin baru diasosiasikan dengan amoralitas sejak abad ke-14 M, selanjutnya memiliki asosiasi yang pasti pada abad ke-17. Pada akhir abad ke-17, kata ini memiliki arti spesifik "kecanduan akan kesenangan dan pemborosan", yang merupakan perluasan dari makna utamanya yaitu "bebas/ tidak terkekang" yang menyiratkan "tidak dibatasi kekangan moral". Seorang wanita gay adalah pelacur, seorang pria gay adalah playboy, sebuah rumah gay adalah rumah bordil.
Penggunaan gay dalam pengertian "homoseksual" awalnya berasal dari perluasan konotasi seksual dari pengertian "bebas/ tidak terkekang dan tidak dibatasi", yang mengimplikasikan kerelaan untuk mengabaikan kebiasaan seksual yang konvensional atau terhormat. Penggunaan ini memiliki dokumentasi paling awal pada tahun 1920-an dan terdapat bukti penggunaannya sebelum abad ke-20 M, meskipun sebenarnya pada masa itu, kata gay lebih umum digunakan untuk kehidupan tanpa kekangan secara heteroseksual, sebagaimana tersirat pada sebuah frase yang dulu sempat umum digunakan: "gay Lothario” atau pada judul buku dan film The Gay Falcon (1941), yang menceritakan seorang detektif playboy yang mempunyai julukan Gay di awal namanya. Demikian juga dengan lagu aula musik tahun 1880-an karyaGilbert dan MacDermott:

"Charlie Dilke Upset the Milk" – "Master Dilke upset the milk/When taking it home to Chelsea;/ The papers say that Charlie's gay/Rather a wilful wag!"

Lagu itu mengisahkan perilaku heteroseksual Tuan Charles Dilke yang tidak senonoh. Hingga pertengahan abad ke-20, seorang jejaka yang berusia pertengahan akan dideskripsikan sebagai gay, mengindikasikan bahwa ia tidak "memiliki ikatan (terhadap pasangan)" sehingga bebas, tanpa ada implikasi terhadap homoseksualitas. Penggunaan ini juga bisa diterapkan pada wanita. Strip komik Inggris berjudul Jane, yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1930-an, menggambarkan petualangan Jane Gay. Jauh sebelum mengimplikasikan homoseksualitas, kata gay merujuk pada gaya hidup merdeka Jane yang memiliki banyak pacar pria. Selain itu, julukan gay di belakang nama Jane berfungsi untuk membuat nama karakter tersebut mirip dengan nama Lady Jane Grey. Bagian Miss Furr & Miss Skeene (1922) karya Gertrude Stein kemungkinan merupakan publikasi pertama yang masih dapat ditelusuri dari penggunaan kata gay yang merujuk pada sebuah hubungan homoseksual. Linda Wagner-Martin (dalam Favored Strangers: Gertrude Stein and her Family (1995)) mengomentari karya tersebut sebagai "menunjukkan pengulangan terselubung dari kata gay, digunakan dengan tujuan seksual untuk pertama kalinya dalam sejarah kebahasaan", dan Edmund Wilson (1951, dikutip oleh James Mellow dalam Charmed Circle (1974)) menyetujuinya. Contohnya: Mereka adalah ... gay, mereka mempelajari sedikit hal yaitu hal-hal untuk menjadi gay, ... mereka benar-benar gay. —Gertrude Stein, 1922.

Bringing Up Baby (1938) adalah film pertama yang menggunakan kata gay secara terang-terangan untuk merujuk homoseksualitas. Pada adegan saat semua pakaian seorang karakter pria yang diperankan oleh Cary Grant dikirim ke tukang cuci, ia terpaksa memakai jubah dengan hiasan bulu milik wanita. Saat karakter lain menanyakan perihal jubah yang ia pakai, ia menjawab, "Karena tiba-tiba saja aku mendadak menjadi gay!" Oleh karena film itu adalah film bertema umum yang ditayangkan pada masa kata "gay" masih tidak lumrah digunakan untuk merujuk homoseksualitas oleh mayoritas penonton bioskop, kalimat tersebut juga bisa diinterpretasikan sebagai "aku baru saja memutuskan unuk melakukan sesuatu yang tidak karuan". Kata ini terus digunakan dengan arti dominan "bebas/ tidak terkekang", sebagaimana termuat pada judul film The Gay Divorcee (1934), sebuah film musikal tentang sebuah pasangan heteroseksual.

Perubahan Menjadi Homoseksual (Gay)
 
Pada pertengahan abad ke-20 M, kata gay telah digunakan untuk merujuk gaya hidup hedonistik dan tidak terkekang, sementara straight yang menjadi antonimnya (sebelumnya diartikan dengan konotasi "keseriusan, kehormatan, dan kekonvensionalan") juga memiliki konotasi spesifik untuk heteroseksualitas. Pada kasus gay, konotasi-konotasi lain seperti "ketidakkaruan" dan "menyolok/ menarik perhatian" dalam hal cara berpakaian ("pakaian gay") diasosiasikan dengan camp dan kewanita- wanitaan. Asosiasi tersebut dipastikan secara bertahap turut mempersempit ruang arti istilah gay hingga ke pengertiannya yang dominan saat ini, yang pada mulanya hanyalah merupakan pengertian sampingan. Gay adalah istilah yang lebih disukai karena istilah-istilah lainnya, seperti Queer, terasa menghina. Homoseksual dianggap sebagai istilah klinis, semenjak orientasi seksual yang sekarang disebut “homoseksualitas” pada masa itu didiagnosa sebagais ebuah penyakit mental dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Pada pertengahan abad ke-20 di inggris, homoseksual pada pria dianggap ilegal hingga dikeluarkannya Sexual Offences Act 1967, yaitu bahwa mengidentifikasi seseorang sebagai homoseksual secara terbuka akan dianggap sebagai tindakan yang sangat tidak sopan dan akan didakwa sebagai aktivitas kriminal yang serius. Namun, dalam ketentuan tersebut, tidak ada penyataan yangmenggambarkan aspek manapun dari homoseksualitas yang dianggap sesuai dalam kemasyarakatan yang beradab. Sebagai konsekuensinya, sejumlah eufemisme digunakan untuk menjuluki orang yang diduga homoseksual. Misalnya adalah gadis sproty dan pemuda artistik dengan memberi tekanan khusus pada kata sifat yang sebenarnya tidak memiliki kaitan apa-apa dengan tujuan penggunaannya.Tahun enam-puluhan (1960an) merupakan tahun-tahun yang menandai perubahan arti dominan dari kata gay, yang semula adalah "bebas/ tidak terkekang" menjadi "homoseksual" yang hingga kini digunakan. Dalam film drama-komedi Inggris berjudul Light up the sky (1960) yang disutradarai oleh Lewis Gilbert, film komedi mengenai sebuah skuat dalam Pasukan Inggris, terdapat satu adegan yang berlangsung dalam sebuah tenda yang kacau-balau, saat karakter yang dimainkan oleh Benny Hill mengusulkan tos setelah makan malam. Ia memulai, "Aku ingin mengusulkan ..." ([[bahasa Inggris|Inggris= "mengusulkan" (propose) juga memiliki pengertian "melamar") sambil menunjuk seorang teman yang makan malam bersamanya, dimainkan oleh sidney tafler, yang langsung menyela dengan bertanya "Untuk siapa?", karena ia mengira sedang dilamar. Tokoh yang diperankan Benny Hill menjawab, "Tidak padamu, kamu bukan typeku", kemudian ia mencemooh, "Oh, aku tidak tahu, kamu agaknya diam-diam gay."

Tahun 1963, pengertian baru untuk kata "gay" telah dikenal cukup luas sehingga digunakan oleh Albert Ellis (psikolog) dalam bukunya The Intelligent Woman's Guide to Man-Hunting. Demikian juga Hubert Selby, Jr dalam novelnya (1964) yang berjudul Last Exit to Brooklyn, menulis bahwa seorang karakter "bangga menjadi seorang homoseksual dengan merasa lebih superior secara intelektual dan estetis dibandingkan mereka (terutama wanita) yang bukan gay..." Namun, penggunaan kata gay menurut pengertian lama masih kerap digunakan dalam kultur populer, termasuk tema lagu serial TV kartun The Flintstones (1960-1966), para penonton diyakinkan bahwa mereka akan "memperoleh gay masa kuno". Juga pada lagu milik Herman’s Hermits (1966) yang berjudul "No Milk Today", yang masuk ke dalam 10 lagu terpopuler di Ingggris dan Top 40 di Amerika Serikat, memiliki lirik "No milk today, it was not always so / The company was gay, we'd turn night into day." Pada Juni 1967, judul berita untuk ulasan album the Beatles yang berjudul Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band pada koran harian Inggris The Times menyebutkan, "The Beatles membangkitkan harapan akan kemajuan musik pop dengan LP baru mereka yang bebas (gay)". Pada tahun yang sama, The Kinks merekam lagu "David Watts". Lagu tersebut "secara eksplisit" mengisahkan kecemburuan seorang pelajar sekolah, tetapi juga memiliki lelucon terselubung. Sebagaimana yang ditulis oleh Jon Savage pada "The Kinks: The Official Biography", judul lagu tersebut sebenarnya adalah nama seorang promotor homoseksual yang mereka temui, yang tertarik pada seorang remaja putra, yaitu adik penulis lagu Ray Davies; dan kalimat "he is so gay and fancy free" menegaskan ambiguitas arti kata gay pada masa tersebut, meskipun pengertian yang baru hanya diperuntukkan mereka yang memahami. Pada akhir 1970an, episode pertama The Mary Tyler Moore Show secara lugas menampilkan Phyllis, tetangga bawah tangga Mary Richards yang straigh, secara dingin mengecam Mary yang berusia 30 tetapi masih "young and gay" (lit. "muda dan bebas"). Dapat dipastikan bahwa pengertian homoseksual dari kata "gay" merupakan bentuk perkembangan pengertian tradisionalnya, sebagaimana yang diuraikan di atas. Namun, terdapat klaim bahwa gay merupakan singkatan dari "Good As You" (lit. "Baik Sebagaimana Dirimu"), tetapi tidak ada bukti yang mendukung: hal ini merupakan sebuah backronym erimologi rakyat.

Homoseksualitas (Gay)

Orientasi, identitas, dan kebiasaan seksual
American Psychological Association mendefinisikan orientasi seksual sebagai "suatu pola tetap mengenai ketertarikan emosional, romantika, dan/atau seksual pada pria, wanita, atau keduanya", "sepanjang suatu kontinuum (rangkaian kesatuan), dari ketertarikan khusus untuk jenis kelamin yang berbeda hingga ketertarikan khusus untuk jenis kelamin yang sama". Orientasi seksual juga dapat "didiskusikan dalam kaitannya dengan ketiga kategori: heteroseksual (memiliki ketertarikan emosional, romantika, atau seksual terhadap orang dengan jenis kelamin berbeda), gay/lebian (memiliki ketertarikan emosional, romantika, atau seksual terhadap orang dengan jenis kelamin sama), dan biseksual (memiliki ketertarikan emosional, romantika, atau seksual terhadap pria dan wanita sekaligus)". Menurut Rosario, Schrimshaw, Hunter, Braun (2006), "perkembangan identitas seksual seorang lesbian, gay, atau bisexual (LGB) adalah sebuah proses yang kompleks dan seringkali rumit. Tidak seperti anggota kelompok minoritas lainnya (seperti etnis dan ras minoritas), kebanyakan individu LGB tidak dibesarkan dalam sebuah komunitas yang sama dengannya, yang darimana ia seharusnya bisa belajar mengenai identitas mereka, serta yang dapat memperkuat dan mendukung identitas mereka. Malahan, para individu LGB biasanya dibesarkan dalam komunitas yang tidak peduli atau malah secara terbuka bersikap kasar terhadap homoseksualitas". Aktivis hak-hak gay dari Britania yang bernama peter tatchell telah berargumen bahwa istilah gay merupakan sebuah ekspresi kultural biasa yang mencerminkan status homoseksualitas dalam masyarakatnya, dan menyatakan bahwa "Queer, gay, homoseksual... dalam pandangan jangka panjang, itu semua hanyalah identitas sementara. Suatu hari, kami tidak akan membutuhkan istilah-istilah itu lagi". Jika seseorang melakukan aktivitas seksual dengan pasangan berjenis kelamin sama tetapi tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai gay, istilah semacam 'yang tertutup, 'discreet', atau 'bi-curios' bisa ia gunakan. Sebaliknya, seseorang dapat mengidentifikasi sebagai gay tanpa melakukan hubungan seksual dengan pasangan berjenis kelamin sama. Kemungkinan lain adalah mengidentifikasi sebagai gay secara sosial saat menjadi selibat atau saat menanti pengalaman homoseksual pertama. Lebih lanjut, seorang biseksual juga dapat mengidentifikasi diri sebagai "gay", tetapi orang-orang menganggap gay dan biseksual sebagai istilah yang sama-sama khusus. Terdapat juga orang yang tertarik pada jenis kelamin yang sama tetapi tidak melakukan aktivitas seksual sesama jenis atau mengidentifikasi sebagai gay; mereka dapat disebut sebagai aseksual, meskipun aseksual secara umum berarti "tidak memiliki ketertarikan" atau "tertarik secara heteroseksual tetapi tidak menjalani aktivitas seksual".

Terminologi
Beberapa orang menolak istilah homoseksual sebagai label identitas karena terdengar terlalu klinis; mereka percaya istilah tersebut terlalu berfokus pada tindakan secara fisik dibandingkan romantika atau ketertarikan, atau terlalu mengingatkan pada masa saat homoseksualitas dianggap sebagai penyakit mental. Sebaliknya, beberapa orang menolak istilah gay sebagai label identitas karena mereka menganggap konotasi yang melekat pada kata tersebut tidak menyenangkan atau disebabkan konotasi negatif slang yang digunakan di seluruh dunia. Pemandu gaya, sebagaimana organisasi Associated Press, memilih untuk menggunakan kata gay daripada homosexual:
Gay: Digunakan untuk menggambarkan pria dan wanita yang tertarik pada jenis kelamin yang sama, meskipun lesbian menjadi istilah yang lebih umum digunakan untuk menyebut wanita. Lebih disukai untuk digunakan daripada istilah homoseksual kecuali dalam konteks klinis atau mengacu pada aktivitas seksual

Komunitas Gay dan komunitas LGBT
Pada pertengahan tahun 1980-an di Amerika Serikat, terdapat suatu usaha penuh semangat yang dilakukan oleh suatu komunitas -yang selanjutnya dikenal sebagai komunitas gay- untuk menambahkan istilah lesbian pada nama semua organisasi gay yang melayani homoseksual pria maupun wanita, dan untuk menggunakan terminologi gay dan lesbian, atau lesbian/gay saat merujuk komunitas tersebut. Akhirnya, organisasi-organisasi seperti the National Gay Task Force berubah nama menjadi National Gay and LEsbian Task Task Force. Bagi para lesbian feminis yang berapi-api, huruf "L" sangat penting untuk ditampilkan sebelum huruf "G", sebab jika terjadi sebaliknya, hal tersebut dianggap akan menjadi simbol baru mengenai dominasi pria atas wanita, meskipun beberapa wanita homoseksual yang lainnya lebih memilih untuk menggunakan istilah wanita gay. Pada tahun 1990an, muncul kesadaran lain untuk mencantumkan juga terminologi biseksual, transgender, interseks, dan yang lainnya, yang mencerminkan perdebatan antar komunitas: apakah kaum-kaum minoritas seksual lainnya itu juga menjadi bagian dari gerakan hak-hak asasi manusia yang sama. Kebanyakan organisasi-organisasi berita memakai variasi istilah yang digunakan, yang tercermin pada isi berita yang mereka keluarkan.

Observasi Tentang Homoseksualitas (Gay)
 
Isay (dalam Savin-William & Cohen) menyatakan bahwa jatuh cinta merupakan faktor yang penting dalam menolong seseorang gay untuk merasa nyaman dengan identitas dirinya sendiri. Menurut Silverstein, adanya pacaran pada gay akan membantu seorang gay dalam pemilihan identitas diri sebagai seorang gay, dan membuat  gay merasa lebih lengkap sebagai seorang gay (dalam Savin-Williams & Cohen, 1996). Gay yang memiliki pacar akan memiliki harga diri yang lebih tinggi, penerimaan diri yang lebih tinggi, dan akan lebih terbuka kepada lingkungan mengenai identitas diri sebagai seorang gay (Savin-Williams & Cohen, 1996). Aktifitas pacaran yang dilakukan oleh pasangan gay tidak jauh berbeda dengan pacaran yang dilakukan oleh pasangan straight, yang membedakan hanyalah penerimaan lingkungan terhadap hubungan tersebut (Caroll, 2005). Pacaran pada pasangan straight dapat ditunjukkan atau diberitahukan kepada lingkungan tanpa adanya rasa takut dan malu. Berbeda halnya dengan pasangan gay, mereka lebih memilih untuk menyembunyikan hubungan yang mereka jalani terhadap lingkungannya (Papalia, 2007). Beberapa lingkungan masyarakat masih menolak keberadaan kaum gay. Di Indonesia, secara formal ada stigma terhadap perilaku homoseksual yang mengharamkan hubungan sesama jenis (Oetomo, 2003). Masyarakat Indonesia secara umum masih berpijak pada budaya Timur yang masih sulit menerima keberadaan homoseksual. Kondisi penerimaan lingkungan terhadap hubungan  gay menyebabkan hubungan yang dijalani dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Alasan ketakutan ketahuan oleh masyarakat, terutama di tempat kerja/sekolah/kuliah dan di tempat tinggal menjadi beban pacaran pada gay (Oetomo, 2003).

Biran (2001) menyatakan bahwa hubungan dengan pacar tentu saja tidak semulus yang diduga sebelumnya. Dalam menjalani suatu hubungan pasti banyak hal-hal yang menjadi faktor penghalang antara keduanya untuk menciptakan hubungan yang harmonis, salah satunya adalah munculnya kecemburuan (jealousy) dan persaingan (Ahrnt, 2001). Kecemburuan paling sering muncul diantara dua orang yang memang sudah terlibat dalam suatu hubungan romantis (Hansen dalam Hendrick, 1992). Kecemburuan sering dilihat sebagai salah satu dari perasaan yang kuat, lazim dan juga menjemukan, yang terdapat di dalam suatu hubungan yang intim (Aune & Comstok dalam Demirtas, 2006). Kecemburuan juga merupakan masalah yang sering ditekankan dalam penelitian terhadap pernikahan dan terapi-terapinya (Buunk, dalam Demirtas, 2006). Dengan kata lain, dalam suatu hubungan, baik itu pacaran maupun dalam pernikahan, kecemburuan merupakan suatu emosi yang sering terjadi. Carol (2005) menyebutkan kecemburuan ini sebagai sisi gelap dari cinta (the dark side of love). Sama hal dengan berpacaran, perasaan cemburu tidak hanya dialami oleh kaum straight saja, tetapi kaum gay juga dapat mengalami hal yang sama (Buss, 2000). Kecemburuan bukanlah suatu emosi yang sederhana. Pada dasarnya kecemburuan yang timbul adalah merupakan ketakutan akan kehilangan sesuatu atau seseorang dari suatu hubungan yang bermakna terhadap rival atau saingannya (Salovey, 1991). Perasaan cemburu dapat bervariasi pada masing-masing individu seperti merasakan takut atau cemas; yanglainnya merasa marah atau kesal. Kecemburuan dapat hadir dalam semua konteks budaya, tetapi apa yang membangkitkan perasaan cemburu itu, berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya. Orang-orang yang  mengalami sedikit kecemburuan dalam hubungan mereka ditemukan merasa lebih aman, dan keamanan dalam hubungan ini cenderung meningkat seiring dengan perkembangan hubungan pasangan, sehingga semakin lama suatu hungan terjalin, maka kecenderungan untuk merasa cemburu akan semakin menurun (Knox, dalam Caroll, 2005).

Salovey (1991) menyatakan bahwa kecemburuan sebenarnya memiliki konstribusi positif yang cukup penting dalam suatu hubungan. Sebagai contoh  kecemburuan ditemukan berhubungan dengan rasa cinta yang kuat dan juga dapat meningkatkan komitmen diantara pasangan (White, dalam Salovey, 1991). Preifer (2007) kemudian menambahkan bahwa kecemburuan dapat memiliki konsekuensi positif dan negatif terhadap suatu hubungan, tergantung kepada frekuensi kecemburuan yang dialami. Jika derajat frekuensi kecemburuan kecil, hal ini dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pasangan jika itu dipersepsikan sebagai bentuk perhatian kepada pasangan bahkan dapat meningkatkan ketertarikan kepada pasangan. Sebaliknya, frekuensi yang tinggi atau berlebihan dari kecemburuan dapat mengarahkan individu kepada kecemburuan yang sifatnya merusak. Kecemburuan yang sifatnya merusak ini dapat mengarah kepada berakhirnya suatu hubungan, terjadinya berbagai macam bentuk kekerasan, dan bahkan dapat mengarah kepada pembunuhan, baik itu kepada diri sendiri, pasangan atau saingan (Buss, 2000).

Kaum gay berbeda dengan kaum straight dalam hal frekuensi hubungan seksual yang mereka jalani. Suatu studi mengatakan bahwa laki-laki gay tujuh kali lebih mungkin melakukan hubungan seksual di luar pasangan mereka, dan studi lainnya menyatakan bahwa ini merupakan temuan yang umum (Buss, 2000). Banyak gay yang walaupun sudah menjalin hubungan pacaran, perilaku promiscuous tetap ada pada diri mereka. Promiscuous merupakan keadaan pada seseorang yang akan melakukan hubungan seksual dengan siapa saja tanpa ada pertimbangan. Gay akan melakukan hubungan seksual dengan pria mana saja
yang disukai (Miracle, 2008). Hal ini berpengaruh kepada kecemburuan pada diri gay tersebut. Salovey (1991) dalam percobaanya menemukan bahwa kelompok laki-laki homoseksual ditemukan memiliki tingkat kecemburuan yang lebih rendah secara seksual dibandingkan dengan kelompok laki-laki heteroseksual. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Buunk (Dijkstra, 2001) bahwa semakin banyak seorang gay memiliki pasangan seksual pada masa lalunya, maka semakin rendahlah tingkat kecemburuan seksual yang ada dalam dirinya. Situasi akan berbeda ketika gay tersebut secara seksual permisif, atau tidak menujukkan perilaku  promiscuous. Hal ini akan berdampak kepada kecemburuan yang mungkin timbul. Mengingat ada kecenderungan dalam diri gay untuk melakukan perilaku promiscuous, yang mungkin saja terdapat dalam pasangannya, kecemburuan yang ada di dalam diri gay tersebut akan semakin terbangkitkan ketika mereka dihadapkan kepada rival atau saingan mereka dan merasa terancam apabila pasangannya meninggalkan mereka (Silverstein, 2003). Atau sebaliknya, para pasangan gay menghilangkan kecemburuan mereka dengan cara sama-sama mengizinkan pasangannya untuk melakukan perilaku seksual dengan pihak lain (Buss, 2000).

Dalam sebuah kutipan karya tulis tentang hasil obeservasi tentang kepribadian gay, JR seorang gay 25 tahun menjelaskan persetujuan dalam pacaran yang mereka jalin :

”...kami menyadari bahwa kami jarang bertemu karena jarak kami yang cukup jauh. Kami sama-sama mengetahui bahwa suatu saat ketika nafsu memuncak, hal itu terkadang harus dilepaskan. Saya disini, dan dia disana, boleh bebas melakukan hubungan seksual dengan siapa saja daripada harus mati karena curigaan. Yang penting harus ingat selalu menggunakan kondom. Selain itu juga, dalam melakukan hubungan seksual itu jangan sampai hal tersebut membuat kami jatuh cinta dengan selingkuhan kami itu...” (12 Februari 2009)

Berdasarkan artikel dari hasil wawancara diatas dapat dilihat bahwa untuk menghindari kecurigaan serta kecemburuan yang berlebihan, JR dan pasangannya sama-sama melakukan persetujuan untuk dapat melakukan hubungan seks dengan orang lain selama hal tersebut tidak mengancam hubungan romantis diantara mereka. Keputusan ini tidak diambil secara satu pihak saja, sehingga antara JR dan pasangannya tidak terlalu menujukkan kecemburuan yang tinggi. Buss (2000) menyatakan bahwa kecemburuan pada gay semakin memuncak ketika mereka dihadapkan kepada rival atau saingan mereka. Hal ini dikarenakan karena  gay memiliki jumlah yang terbatas dalam pemilihan pasangan. Susahnya untuk menemukan pasangan tersebut berhubungan dengan jumlah gay yang ada jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pria straight yang ada (Miracle, 2008). Pendapat tersebut didukung oleh beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti, yaitu diantaranya Kinsey (dalam Caroll, 2005) menemukan 37% dari jumlah pria yang menjadi sampel dalam penelitian tersebut mengaku pernah melakukan hubungan seksual dengan pria lain dalam hidupnya, namun hanya 4% yang benar-benar mengaku gay. Mackay (dalam Caroll, 2005) juga menyatakan bahwa antara 3 sampai 4% dari populasi pria di dunia, merupakan gay.

Jumlah  gay yang sangat sedikit dibandingkan dengan kaum straight, membuat para gay harus bekerja keras dalam mempertahankan hubungan mereka (Kurdek, dalam Caroll 2005). Gay juga lebih susah menemukan pacar dan mengembangkan hubungan seksualitas mereka, karena stigma mengenai gay dan tidak mudah menentukan pria mana yang memiliki potensi menjadi pasangan mereka (Caroll, 2005). Sehingga kecemburuan yang dirasakan lebih besar daripada pasangan straight dan bahkan mungkin memunculkan perilaku yang tidak lazim dalam mengatasi kecemburuan mereka, salah satunya adalah melakukan pembunuhan atau bunuh diri karena rasa cemburu (Pines-Ayala Malakh, 1998). Kaum gay di Indonesia masih merupakan kaum minoritas. Rendahnya populasi kaum gay menyebabkan rasa cemburu dan posesif menjadi sifat dasar gay saat menjalin hubungan dengan sesamnya. Mereka akan sangat marah jika pasangannya terlihat kencan dengan orang lain (Aditya, 2009). Buss (dalam Caroll, 2005) menyatakan bahwa dalam pasangan heteroseksual, laki-laki lebih memiliki kecemburuan seksual (sexual jealousy) yang lebih tinggi yaitu dimana ketika mereka meyakini bahwa pasangan wanitanya melakukan hubungan seksual dengan pria lain, sementara itu wanita lebih berfokus pada kecemburuan emosional (emotional jealousy).  Pria straight memiliki kecemburuan seksual yang lebih tinggi kepada pasangan wanitanya dikarenakan pria straight menyakini bahwasannya wanita bisa jatuh cinta kepada seseorang tanpa melakukan hubungan seksual, tetapi ketika seorang wanita telah melakukan hubungan seksual dengan pria lain, ini mengartikan bahwa wanita tersebut pasti telah jatuh cinta kepada pria selingkuhannya. Begitu juga halnya dengan wanita straight, memiliki kecemburuan emosional yang lebih tinggi kepada pasangan prianya, karena mereka meyakini bahwa pria dapat melakukan hubungan seksual dengan tanpa harus jatuh cinta dengan pasangannya, tetapi ketika seorang pria sudah jatuh cinta dengan wanita lain, pria tersebut sudah pasti melakukan hubungan seksual dengannya (Dijkstra, 2001).

Robert Bringle (dalam Buss, 2000) menyatakan bahwa untuk pasangan gay yang melibatkan dua orang laki-laki, memiliki kecemburuan seksual yang lebih rendah. Dia juga menemukan bahwa laki-laki  gay dalam penelitiannya melaporkan hanya sedikit kecemburuan yang terjadi ketika mereka melihat pasangan mereka berciuman atau melakukan perselingkuhan dengan laki-laki lain. Hal tersebut juga didukung oleh Michael Bailey (dalam Caroll 2005) yang menyatakan bahwa laki-laki gay merasa lebih kecewa ketika mengetahui pengkhianatan emosional yang dilakukan pasangannya. Pendapat dari Buss dan Michael tersebut, bertolak belakang dengan kedua kasus di atas. Dimana Ryan dan Wellington melakukan pembunuhan karena merasa cemburu pasangannya akan melakukan hubungan seksual dengan para korban.

Dalam penulisan dari hasi observasi yang saya kutip, peneliti dari penulisan karya tulis yang saya kutip menemukan fenomena yang lain sehubungan dengan kecemburuan seksual. Peneliti telah melakukan percakapan personal dengan AN (29) dan WJ (20) yang merupakan seorang gay yang telah memiliki pacar. AN telah 3 bulan lebih menjalani hubungan dengan IV (24). Berikut pernyataan dari AN terhadap hubungannya dengan IV,

”’Saya tahu kalau dia itu udah punya pacar juga, namanya IQ . Saya juga tahu hampir tiap malam si IQ itu menemaninya tidur. Bagi saya, tidak masalah dia mau melakukan hubungan seks dengan si IQ, karena saya juga sadar, saya tidak selalu ada untuk menemaninya tidur, berada di sampingnya tiap malam, karena aktifitas saya yang padat. Tetapi satu hal yang saya minta darinya, ketika saya butuh dirinya untuk berbagi, dia harus ada untuk saya. Meskipun itu hanya melalui telepon. Walaupun saya tahu dia pasti melakukan hubungan seksual, saya hanya bisa berpesan sambil bercanda, ”Jangan nakal ya disana.” Hanya itu yang saya katakan kepadanya.”  (13 Juni 2009)

Melalui percakapan di atas dapat dilihat bahwa AN sama sekali tidak menujukkan adanya masalah walaupun pacarnya telah memiliki pacar lain yang telah melakukan hubungan seksual dengan rivalnya. Serupa dengan apa yang dinyatakan AN, WJ menyatakan :

”... bagiku lebih baik jika pacarku melakukan hubungan seksual dengan yang lain jika dibandingkan apabila pacarku jatuh cinta dan menaruh perhatian yang hampir sama seperti yang diberikan pacarku. Yah, karena aku juga melakukan hal yang sama dan aku tidak mau munafik...” (28 Agustus 2009)

Berdasarkan wawawancara diatas dapat dilihat, sama seperti AN, WJ juga menunjukkan kecemburuan yang lebih tinggi secara emosional daripada secara seksual. Buss (2000) menyatakan bahwa bagi pasangan  gay, kedekatan emosional yang dilakukan pasangannya dengan orang lain, dirasakan lebih mengancam bagi gay tersebut. Hubungan yang telah dibangun akan dapat berakhir dikarenakan pasangannya telah jatuh cinta dengan orang lain meskipun mungkin tanpa adanya hubungan seksual sebelumnya antara pasangannya dengan pihak ketiga tersebut. Kecemburuan juga dapat termanifestasikan melalui perilaku-perilaku seperti perilaku detective dan protective yang berusaha untuk mencari-cari tahu apa yang telah pasangannya lakukan (Preifer, 2007). Hal tersebut dilakukan oleh seorang individu untuk membenarkan perasaan curiga yang ada dalam diri mereka. Hal ini disebut sebagai suspicious jealousy (Salovey, 1991).

Hasil observasi awal mengenai kecemburuan yang ditampakkan oleh T (23) terhadap pasangannya R (22) yaitu dengan cara memeriksa pesan-pesan singkat yang terdapat di handphone R, selalu bertanya jika terdapat nomor baru yang tidak dikenalnya, dan sering untuk menelepon secara tiba-tiba untuk memastikan bahwa pasangannya tidak berselingkuh. Berdasarkan pengakuan R (22) terhadap peneliti, R menyatakan :

”... abang merasa T itu sangat cemburu dan posesif. Entah mengapa  terkadang kecurigaannya memang benar terhadap abang, tetapi terkadang itu membuat kami sering bertengkar karena tuduhan-tuduhannya yang kelewatan. Dia suka sekali memeriksa sms di hp ku dan hanya karena sms di hp saja, kami bisa berantem dek. Kalau udah berantam, diam-diaman, baru T itu bilang tidak mau kehilangan abang, tidak rela abang jadi milik orang lain. Terkadang suka terlintas pikiran untuk meninggalkannya tetapi terkadang tidak sampai hati juga” (22 Juli 2009)

Berdasarkan wawancara di atas dapat dilihat bahwa T yang merupakan pasangan dari R menujukkan perilaku-perilaku yang sifatnya mencurigai  pasangannya. R mengakui bahwa pasangannya memiliki pikiran-pikiran yang negatif terhadap dirinya. Hal ini mengindikasikan adanya suspicious jealousy pada diri T. Suspicious jealousy yang berlebihan yang ada pada diri T membuat R jenuh dengan hubungan yang ia jalin dengan T Berdasarkan fenomena diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kaum gay juga mengalami kecemburuan dalam hubungan yang mereka jalani. Kecemburuan yang dialami gayberbeda antara satu dengan yang lainnya. Beberapa menunjukkan kecemburuan seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecemburuan emosional. Pada pasangan gay lainya menujukkan bahwa ketidaksetiaan emosional yang dilakukan pasangannya dirasakan lebih mengancam bagi hubungan mereka, sehingga beberapa pasangan gay merasakan kecemburuan emosional yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecemburuan seksual. Fenomena lainnya juga memperlihatkan, meskipun pasangan tidak melakukan perselingkuhan, kecurigaan-kecurigaan yang berlebihan kepada pasangannya tersebut yang akhirnya mengarah kepada suspicious jealosy, juga dialami oleh beberapa pasangan gay. Untuk itulah peneliti tertarik untuk melihat bagaimana kecemburuan yang ada pada gay yang berpacaran.

Faktor Penyebab Terjadinya Homoseksualitas (Gay)

Untuk penyebab terjadinya homoseksualitas tidak bisa dijelaskan dengan mudah karna begitu sulit untuk menemukan kepastian mengapa kelainan seks ini dapat terjadi pada seorang pria yang menyukai sesama jenisnya. Ada artikel dan buku bacaan yang mencoba mengulas mengapa penyimpangan seksualitas ini dapat terjadi, tapi masih tetap pada pro dan kontra yang menyertainya. Terkhusus pada beberapa objek yang menyakini bahwa hal itu adalah hal yang normal dan sungguh dibenarkan dalam memberikan variasi dalam kehidupan, sedangkan tetap ada objek lain yang mengatakan bahwa itu adalah kelainan yang dianggap tidak normal dan dinajiskan dalam golongan dan kalangan apapun. Demikianlah, saya akan tetap mencoba memaparkan faktor penyebab terjadinya homoseksualitas pada pria yang saya rangkum dari beberapa artikel yang sudah saya coba pelajari :

Aspek Biologis
Jika dipandang dari aspek biologis, seorang psikolog Henny E. Wirawan, Psi., M. Hum berpendapat bahwa perilaku gay muncul karena perbedaaan struktur otak. Struktur otak bagian kiri dan kanan pada laki-laki normal sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Sebaliknya, struktur otak bagian kanan dan kiri pada laki-laki gay tidak terlalu tebal dan tegas pemisahannya. Selain itu, beliau menambahkan pula bahwa faktor keturunan pun bisa menjadi pemicu timbulnya perilaku gay meskipun tidak terlalu dominan. Faktor keturunan yang dimaksud adalah adanya kemungkinan jika seorang gay juga mempunyai anggota keluarga (kakek atau paman) yang berorientasi seksual serupa dengannya.
Terlebih lagi, para psikolog barat berpendapat bahwa perilaku menyimpang ini disebabkan oleh hormon estrogen yang lebih banyak daripada hormon androgen atau testoteron. Hormon estrogen ini sendiri merupakan suatu hormon yang diproduksi oleh rahim wanita untuk merangsang pertumbuhan organ seks perempuan atau lebih dikenal dengan organ seks sekunder yang juga mengatur siklus menstruasi. Sedangkan hormon androgen atau testoteron merupakan hormon yang diproduksi tubuh lelaki untuk merangsang pertumbuhan organ seks pria. Pendapat yang dikemukakan para psikolog barat ini pun langsung dibantah tegas oleh seorang psikolog bernama Prof. Dr. Malik Badri, M. Hum. Beliau berpendapat bahwa lelaki yang mempunyai hormon estrogen lebih banyak tidak menderita homoseksual. Lebih-lebih hal ini juga didukung oleh seorang Dosen Psikologi dan Konseling di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, Rusdhi Kasman M.Si. Beliau menyatakan bahwa kadar hormon estrogen yang lebih banyak dalam tubuh laki-laki tidak menentukan seseorang menjadi homoseksual. Hormon tersebut hanya mempengaruhi perilaku seseorang menjadi lebih feminin tetapi tidak menentukan seseorang menjadi homoseksual.
Berdasarkan uraian diatas, jelaslah bahwa perilaku homoseksual tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika kita mendukung pendapat bahwa perilaku ini memang dipicu oleh faktor keturunan, berarti secara tidak langsung kita sudah menganggap bahwa Tuhan tidak adil. Padahal sesungguhnya Tuhan tidak menciptakan seorang manusia pun untuk menjadi seorang gay.

Aspek Sosial
1~Pola asuh orang tua sangat mempengaruhi perkembangan psikologis dan menentukan kehidupan masa depan seorang anak. Pola asuh yang benar tentu sangat penting agar seorang anak bisa mendapat kehidupan yang benar pula. Sebaliknya, pola asuh yang salah bisa berdampak buruk dan memicu perilaku menyimpang pada seorang anak. Sebagai contoh, apabila seorang anak laki-laki pernah dikecewakan oleh perilaku seorang ayah atau mungkin ditelantarkan, maka keinginannya untuk meneladani ayahnya akan sirna. Hal yang buruk bisa saja terjadi jika jalinan kasih sayang antara seorang anak lelaki dengan ayahnya tidak terbina dengan baik. Akhirnya si anak akan berusaha mencari bentuk kasih sayang yang lain. Jikalau kasih sayang itu dia dapatkan dari ‘pria’ yang salah, dampaknya bisa saja perilaku seksual yang menyimpang pun akan mengisi kekosongan kasih sayang yang selama ini dia butuhkan. Selain pola asuh yang demikian, masih ada lagi pola asuh yang salah yang membuat perilaku anak lelaki menyimpang. Hal ini bisa terlihat ketika orang tua menginginkan anak perempuan. Mereka cenderung akan memperlakukan anak lelakinya seperti anak perempuan. Jika hal ini terus dilakukan, maka psikologis anak lelaki tersebut akan terganggu sehingga ia akan berperilaku sesuai dengan tingkah laku anak perempuan dan memicu penyimpangan pada orientasi seksualnya.
2~Pelecehan seksual terhadap anak laki-laki memberikan dampak negatif terhadap pembentukan kepribadiannya. Hal ini nampak apabila seorang anak lelaki pernah mendapat pelecehan seksual atau memalukan sehingga membuat ia tidak lagi mempercayai pria. Bahkan bisa saja hal ini akan membuat si anak berusaha mencari ‘pria’ yang bisa memberikannya perlindungan dan kenyamanan. Selain itu, beberapa kaum gay mengalami penyimpangan seksual karena pernah mengalami rasa sakit atau kecewa yang sangat mendalam dari lawan jenisnya. Akibatnya, mereka jera untuk berhubungan dengan lawan jenis dan memilih untuk menjalin hubungan dengan teman sejenisnya.
3~Faktor lingkungan dapat menjadi pemicu yang cenderung memiliki potensi yang dominan. Kesalahan dalam memilih lingkungan pergaulan akan memberikan akibat yang sangat fatal. Kesalahan yang dimaksud adalah cara, tempat, serta orang-orang yang dijadikannya teman bergaul. Contoh hal pemicu perilaku ini antara lain : terlalu dekat dan sering tidur satu ranjang dengan sesama jenis, tinggal di lingkungan yang tidak ada lawan jenis seperti di lingkungan penjara, sering memperlihatkan auratnya satu sama lain, bergaul dekat dengan komunitas gay, adanya asusmi bahwa bergaul dengan sesama jenis lebih menyenangkan dan nyaman daripada dengan lawan jenis, merasa nyaman bergaul dengan teman sesama jenisnya sehingga salah mengartikan persahabatan, dan sering menonton video porno sehingga timbul keinginan untuk mempraktekannya dengan sesama jenis agar tidak menimbulkan resiko yang besar.

Dampak Dari Homoseksualitas (Gay)
 

Pertama, hilangnya tujuan pernikahan. Kaum lelaki menjadi benci terhadap wanita hingga tak mampu untuk menggauli mereka. Perbuatan ini jelas bertentangan dengan tujuan dari pernikahan yaitu memperbanyak keturunan. 
 
Kedua, timbulnya berbagai macam penyakit. Penyakit yang biasa muncul akibat perilaku ini antara lain HIV, AIDS, Siphilis, Chlamydia, Herpes, kanker anus, kencing nanah, kutil pada alat kelamin, dan lainnya.

Ketiga, menyebabkan gangguan mental. Perilaku ini bisa menyebabkan pelaku menjadi pemurung. Bahkan ada pula yang mengalami gangguan kejiwaan seperti psikopat. Masih ingat dengan peristiwa pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang gay bernama Ryan? Itu merupakan salah satu contoh dampak negatif dari perilaku ini.
Keempat, melemahkan organ tubuh. Hubungan seksual yang menyimpang akan melemahkan sumber-sumber pengeluaran mani dan sperma hingga bisa menyebabkan kemandulan. Selain itu, daya pikir juga menurun karena fungsi-fungsi simpul syaraf tidak bekerja dengan baik.
Kelima, dikucilkan dari pergaulan. Keberadaan kaum gay di tengah masyarakat jelas lebih banyak mendapat pertentangan karena perbuatan mereka telah melanggar aturan, norma, hukum, budaya, dan agama.

Pencegahan

Berdasarkan pembahasan yang sudah diuraikan diatas, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya homoseksulitas pada pria. Hal ini spesifik dikhususkan pada pencegahan di usia dini terutama pada usia 18-24 bulan dimana seorang anak mulai belajar mengenai identitas jenis kelaminnya. Dalam hal ini orang tua diharapkan untuk mampu mendampingi anak dalam memahami identitas jenis kelaminnya. Dan dalam pertumbuhannya, diharapkan kiranya orang tua selalu memberikan nuansa harmonis pada anak untuk membantu pertumbuhan perkembangan pikirannya. Dengan menunjukkan keharmonisan terutama dalam keharmonisan sebagai pasangan suami istri akan memberikan sugesti pada anak bahwa menikah dengan lawan jenis adalah hal yang membahagiakan dan menyenangkan. Pemberian kasih sayang dan pola asuh yang benar terhadap anak akan mengurangi tingkat trauma sehingga anak tumbuh dengan psikologis yang baik dan benar. Terutama dalam mengambil peran seorang ayah, sungguh dianjurkan jika seorang suami mampu menjadi figur ayah yang baik. Karna beberapa penelitian memaparkan bahwa anak laki-laki cenderung meniru perbuatan ayahnya dan begitu pula dengan wanita yang cenderung meniru perbuatan ibunya. Ketika seorang suami menunjukkan sikap sebagai seorang suami yang baik pada istrinya dihadapan anak laki-lakinya dan ketika seorang ayah mampu menjadi seorang pria yang memiliki figur baik untuk anak laku-lakinya akan semakin meningkatkan perkembangan emosional dan psikologi yang baik bagi anak laki-laki. Setelah itu, orangtua juga harus mampu memberikan pendidikan seks dengan cara yang benar disaat anak laki-laki sudah mulai bertumbuh dan mulai mengalami perubahan pada tubuhnya. Jawablah pertanyaan anak laki-laki anda dengan benar dan menggunakan bahasa yang baik ketika dia bertanya tentang seksualitas atau tentang organ-organ tubuhnya. Dan yang terakhir, diharpkan agar orangtua mampu menghindari lingkungan pergaulan yang tidak baik dari anak laki-lakinya. Dimulai dengan membiasakan anak laki-lakinya bermain dengan teman sebayanya dan berteman dengan anak laki-laki lainnya. Seorang anak harus tumbuh dan berkembang bersamaan dengan anak-anak lainnya yang memiliki pertumbuhan yang sama dengannya.

Pengobatan

Untuk pengobatannya, belum dapat dipastikan bagaimana mengobati seseorang yang sudah terlanjur memiliki kelainan perilaku seperti ini. Hal itu dikarenakan masih diyakini bahwa perbuatan seksual yang dilakukan oleh kaum gay adalah perbuatan yang dilakukan secara sadar. Ketika mereka melakukan kegiatan seks itu berulang, maka dapat dipastikan bahwa pelaku penyimpangan ini merasa nyaman dengan kegiatan seks yang dilakukan sesama jenis ini. Sungguh mengalami kesulitan jika seseorang berada pada tahap kenyamanan walaupun tingkat kenyamanan mereka berada pada perilaku yang menyimpang dan salah.

Gay yang disebabkan karena gangguan fungsi otak sulit disembuhkan karena pola kerja, zat-zat otak, dan pola cetakan sambungan saraf otak yang telah terbentuk. Demikian juga gay yang disebabkan karena gangguan perkembangan psikoseksual masa anak-anak, hampir pasti tidak dapat disembuhkan. Untuk kedua hal tersebut perlu dilakukan upaya serius dan perawatan intensif dengan harapan (mungkin) dapat mengurangi kuatnya ikatan perilaku homoseksnya.

Untuk gay karena pengaruh kultular sosial dan lingkungan masih mungkin disembuhkan menjadi heteroseksual, yaitu dengan menjauhi lingkungan atau pengaruh perilakunya. Tentu semua tergantung pada motivasinya penderita, kuat tidaknya kemauan untuk berubah, dan mau tidaknya lepas dari pengaruh sosialkultur atau lingkungannya. Pengobatan kombinasi dari penyuluhan, pendekatan diri kepada Tuhan, terapi hormonal, dan pembedahan kelamin kemungkinan akan menyembuhkan penderita atau mendapatkan kesembuhan yang lebih optimal.


Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…