Langsung ke konten utama

Gangguan Somatoform




Pendahuluan
Kata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”. Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform berbeda dengan malingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga berbeda dengan gangguan factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas. Gangguan somatoform merupakan suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis. Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

Individu yang mengalami gangguan somatoform lebih sensitif terhadap sensasi fisik, dimana ia menginterpretasikannya sebagai hal yang dapat membahayakan dirinya (Kirmayer dkk., 1994 ; Rief dkk., 1998) . Berbagai macam rasa sakit, tidak merasa nyaman, dan disfungsi merupakan manifestasi kecemasan yang tidak realistis dalam sistem-sistem tubuh. Sesuai dengan faktor kecemasan yang tinggi, penderita gangguan somatoform memiliki level kortisol tinggi yang mengindikasikan bahwa mereka dalam keadaan dibawah tekanan (Rief dkk., 1998). Itulah sebabnya, gangguan ini sangat berkaitan dengan gangguan kecemasan dan gangguan panik.

Terdapat penelitian bahwa faktor genetik dapat mempengaruhi munculnya gangguan ini dimana terdapat hubungan keluarga antara laki-laki yang memiliki gangguan kepribadian antisosial dengan perempuan yang mengalami gangguan somatoform. Hal tersebut dapat menunjukkan kemungkinan bahwa terdapat dasar genesis yang membuat laki-laki dan perempuan itu mengalami gangguan-gangguan tersebut (Cale & Lilienfeld, 2002 ; Guze et al., 1986). Terlebih lagi simtom somatik dan simtom antisosial pada perempuan memiliki kecendurungan kesamaan.

Kontribusi lain yang dapat memungkinkan untuk menimbulkan gangguan termasuk interaksi personal, kognitif, dan proses belajar. Pada orang neurotisisme yang tinggi yang berasal dari beberapa jenis latar belakang keluarga dapat mengembangkan kecenderungan untuk salah menafsirkan sensasi tubuh mereka sebagai ancaman atau bahkan ketidakmampuan. Hal ini sangat mungkin terjadi dalam keluarga di mana anak sering melihat model (orang di keluarga) yang mengeluh sakit, dimana anak belajar bahwa mengeluh tentang gejala fisik dapat menyebabkan menerima simpati dan perhatian dari orang lain (social reinforcement/ penguatan sosial) dan bahkan untuk menghindari tanggung jawab (Lezzi et al., 2001). 

Terdapat kemungkinan siklus yang terjadi pada penderita yang pada dasarnya sangat sensitif terhadap sensasi sentuhan. Dimana jika individu berfikir bahwa dirinya lemah, memiliki toleransi yang rendah terhadap rasa sakit dan stres, dan selektif dalam hal sensasi yang ada pada tubuhnya (diasumsikan menjadi sehat adalah sama dengan tanpa adanya sensai pada tubuh), ia akan menghindari melakukan aktifitas sehari-hari yang membutuhkan banyak energi termasuk kegiatan fisik. Ironisnya adalah menurunnya aktifitas tubuh akan membawa individu memiliki tubuh yang tidak fit yang dimana akan meningkatkan sensasi yang menganggu pada tubuhnya. Maka dari itu semakin selektif dalam menerima sensasi yang ada pada tubuh dapat menjadikan sensasi tersebut terasa lebih intensif (Rief et al., 1998).

Bagaimana pandangan pendekatan psikoanalisis terhadap gangguan somatoform? Apabila kita melihat kepada sejarah dimana Freud dapat mengembangkan teori psikoanalisisnya, hal tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pasiennya yang menderita gangguan somatoform yang pada saat itu dikenal sebagai gangguan histerikal.

Freud menjelaskan bagaimana gangguan ini bisa dapat terjadi dimana selama masa falik pada anak, Freud percaya bahwa seorang anak perempuan mengembangkan keinginan yang dinamakan Electra Complex. Setiap anak perempuan mengalami pengalaman perasaan seksual terhadap ayahnya dimana disaat yang bersamaan harus berkompetisi dengan ibunya untuk mendapatkan kasih sayang ayah. Kesadaran bahwa kuatnya kekuasaan akan ibu menyebabkan ia menekan keinginan tersebut. Freud juga percaya apabila pada fase awal perasaan seksual tersebut orang tua bereaksi berlebihan seperti dengan memberi anak hukuman konflik Electra tidak dapat terselesaikan akan menyebabkan ia memiliki kecemasan seksual selama hidupnya. Saat perasaan seksual ini muncul, ia mengalami penglaman tidak sadar dimana persaan tersebut akan disembunyikan baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Dari hal tersebut Freud menyimpulkan wanita yang secara tidak sadar menyembunyikan perasaan seksualnya akan menutupinya dengan simtom fisik.

Berbeda dengan pandangan dari pendekatan kognitif dimana teori kognitif somatisasi menunjukkan bahwa orang-orang dengan gangguan ini cenderung mengalami sensasi tubuh yang lebih kuat daripada orang lain, untuk membayar perhatian lebih dari orang lain untuk gejala fisik, untuk membuat bencana gejala ini. Misalnya, orang tersebut mungkin memiliki sedikit kasus gangguan pencernaan tetapi mengalaminya sebagai nyeri dada yang parah dan menafsirkan rasa sakit sebagai tanda bahwa serangan jantung. Interpretasi seseorang dari pengalamannya mungkin memiliki pengaruh langsung pada proses psikologis, dengan meningkatkan denyut jantungnya atau tekanan darah, dengan demikian mempertahankan dan memperburuk rasa sakitnya. Lebih lanjut, kognisinya akan mempengaruhi cara dia menyajikan gejala kepada dokter dan keluarganya. sebagai hasilnya, dokter mungkin meresepkan obat atau perintah tes diagnostik lebih kuat, dan anggota keluarga dapat lebih mengekspresikan simpati, memaafkan orang tersebut dari melepas tanggung jawab, dan sebaliknya mendorong perilaku pasif.

Deskripsi
Sebagai kelompok, gangguan somatoform sulit untuk mengenali dan mengobati karena pasien sering memiliki sejarah panjang pengobatan medis atau bedah dengan dokter yang berbeda. Selain itu, gejala fisik tidak berada di bawah kendali kesadaran pasien, sehingga ia tidak sengaja mencoba membingungkan dokter atau menyulitkan proses diagnosis.

Macam-Macam Gangguan Somatoform
Gangguan Somatoform
Gangguan somatisasi merupakan gangguan dengan karakteristik berbagai keluhan atau gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat dengan menggunakan hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Keluhan somatic yang tejadi berkali-kali berupa sakit kepala, lelah, alergi, sakit perut, dada dan punggung, gangguan yang berhubungan dengan kelamin, jantung berdebar dan sering juga terjadi simtom konversi, kesulitan menstruasi, ketidak pedulian seksual. Gangguan somatisasi ini biasanya dimulai sebelum usia 30. Pada wanita, gangguan ini dapat terdiri dari menstruasi tidak teratur, menorhagia, atau muntah selama kehamilan. Pada pria, mungkin ada gejala seperti ereksi atau disfungsi ejakulasi. Baik wanita maupun pria dapat dikenakan ketidakpedulian seksual.

Gangguan konversi
Gangguan konversi merupakan gangguan yang Ditandai dengan suatu perubahan besar dalam fungsi fisik atau hilangnya fungsi fisik, meski tidak ada temuan medis yang dapat ditemukan sebagai penyebab simtom atau kemunduran fisik tersebut. Simtom-simtom tersebut tidak dibuat dengan sengaja. Simtom fisik biasanya timbul dengan tiba-tiba pada situasi penuh tekanan. Misalnya tangan tentara yang tiba-tiba lumpuh saat pertempuran hebat. Beberapa simtom yang muncul seperti : kelumpuhan, epilepsi, masalah dengan koordinasi, kebutaan, tunnel vision (hanya bisa melihat apa yang berada tepat di depan mata), tuli, tidak bisa membaui atau kehilangan rasa pada anggota badan (anestesi). Simtom yang ditemukan biasanya tidak sesuai dengan kondisi medis yang mengacu. Misalnya orang yang menjadi “tidak mampu” berdiri atau berjalan di lain pihak dapat melakukan gerakan kaki lainnya secara normal. Tidak seperti gangguan somatisasi, gangguan konversi dapat dimulai pada usia berapapun.

Gangguan Nyeri
Gangguan nyeri ditandai oleh adanya rasa sakit yang parah sebagai fokus perhatian pasien. Ini kategori gangguan somatoform mencakup berbagai pasien dengan berbagai penyakit, termasuk sakit kepala kronis, masalah punggung, artritis, nyeri otot dan kram, atau nyeri panggul. Dalam beberapa kasus rasa sakit pasien tampaknya sebagian besar karena faktor psikologis, tetapi dalam kasus lain rasa sakit ini berasal dari suatu kondisi medis serta psikologi pasien. Gangguan ini tampaknya lebih umum pada orang dewasa yang lebih tua, dan rasio seks adalah hampir sama, dengan rasio perempuan-ke-laki-laki dari 2:1.

Hypochondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform yang ditandai oleh ketakutan yang berlebihan atau keasyikan dengan memiliki penyakit serius yang bertahan meskipun pengujian medis telah di lakukan. Ia sebelumnya disebut neurosis hypochondriacal. Meskipun hypochondriasis biasanya dianggap sebagai gangguan orang dewasa muda, sekarang semakin diakui pada anak-anak dan remaja. Hal ini juga dapat berkembang pada orang tua tanpa sejarah sebelumnya yang berhubungan dengan ketakutan kesehatan. Kelainan ini menyumbang sekitar 5% dari pasien penyakit jiwa, dan sama sering terjadi pada pria dan wanita. Hypochondriasis dapat bertahan selama beberapa tahun. Gangguan ini sering berkorelasi dengan peristiwa stres dalam kehidupan pasien.

Gangguan Tubuh Dismorfik
Gangguan tubuh dismorfik adalah kategori baru dari gangguan somatoform. Hal ini didefinisikan sebagai sebuah kekhawatiran/ketakutan dengan cacat yang dibayangkan atau berlebihan dalam penampilan. Sebagian besar kasus melibatkan fitur pada wajah pasien atau kepala, tapi bagian tubuh lainnya-terutama yang berhubungan dengan daya tarik seksual, seperti payudara atau alat kelamin yang juga-mungkin menjadi fokus perhatian. Gangguan tubuh dismorfik dianggap sebagai suatu kondisi kronis yang biasanya dimulai pada akhir usia belasan. Pasien dengan gangguan tubuh dismorfik memiliki sejarah mencari atau mendapatkan operasi plastik atau prosedur lain untuk memperbaiki atau mengobati cacat. Beberapa bahkan mungkin memenuhi kriteria untuk gangguan delusi jenis somatik.

Gangguan Somatoform pada anak dan remaja
Yang paling umum gangguan somatoform pada anak-anak dan remaja,adalah gangguan konversi, meskipun gangguan tubuh dismorfik yang dilaporkan lebih sering. Konversi reaksi dalam kelompok usia ini biasanya mencerminkan stres dalam keluarga atau masalah dengan sekolah daripada gangguan kejiwaan jangka panjang. Beberapa psikiater berspekulasi bahwa remaja dengan gangguan konversi sering memiliki orang tua terlalu protektif atau overinvolved dengan bawah sadar perlu melihat anak mereka seperti sakit, dalam banyak kasus gejala putra atau putrinya menjadi pusat perhatian keluarga.

Kriteria Diagnostik
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatoform
a~ Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
b~ Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
1~ Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
2~ Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
3~ Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
4~ Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
c~ Salah satu (1)atau (2):
1~ Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2~ Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
d~ Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
a~ Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
b~ Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
c~ Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
d~ Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
e~ Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.
f~ Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
a~ Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala¬gejala tubuh.
b~ Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
c~ Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
d~ Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
e~ Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
f~ Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
a~ Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
b~ Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
c~ Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
a~ Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis.
b~ Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
c~ Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
d~ Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
e~ Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
a~ Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
b~ Salah satu (1)atau (2)
1~ Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2~ Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
c~ Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
d~ Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
e~ Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
f~ Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura)

Penyebab Dan Gejala
Keluarga stres
Keluarga stres diyakini menjadi salah satu penyebab paling umum dari gangguan somatoform pada anak-anak dan remaja. Konversi gangguan dalam kelompok usia ini juga dapat dihubungkan dengan fisik atau seksual penyalahgunaan dalam keluarga asal.

Parental pemodelan
Somatisasi dan gangguan hypochondriasis dapat mengakibatkan bagian dari refleksi alam bawah sadar pasien atau meniru perilaku orangtua. Ini "peniru" perilaku sangat mungkin jika orang tua pasien berasal keuntungan sekunder yang cukup besar dari gejala nya.

Pengaruh Budaya
Pengaruh budaya tampak mempengaruhi rasio jenis kelamin dan lokasi tubuh gangguan somatoform, serta frekuensi mereka dalam populasi tertentu. Beberapa budaya (misalnya, Yunani dan Puerto Rico) melaporkan tingginya tingkat gangguan somatisasi antara pria daripada adalah kasus untuk Amerika Serikat. Selain itu, peneliti menemukan tingkat lebih rendah dari gangguan somatisasi antara orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Orang di Asia dan Afrika lebih mungkin untuk melaporkan beberapa jenis sensasi fisik (misalnya, membakar tangan atau kaki, atau perasaan semut merangkak di bawah kulit) daripada Barat.

Faktor biologis
Faktor genetik atau biologis mungkin juga berperan. Misalnya, orang yang menderita gangguan somatisasi juga mungkin berbeda dalam cara mereka memandang dan rasa sakit proses.

Diagnosa
Diagnosis yang akurat dari gangguan somatoform adalah penting untuk mencegah operasi yang tidak perlu, tes laboratorium, atau perawatan lain atau prosedur. Karena gangguan somatoform yang terkait dengan gejala fisik, pasien sering didiagnosa oleh dokter umum maupun oleh psikiater. Dalam banyak kasus diagnosis dibuat di sebuah klinik medis umum. Diagnosis gangguan somatoform memerlukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk mengecualikan kondisi medis dan neurologis, atau untuk menilai keparahan mereka pada pasien dengan gangguan sakit. Sebuah pemeriksaan rinci sangat diperlukan bila gangguan konversi adalah diagnosis mungkin, karena beberapa kondisi neurologis-termasuk multiple sclerosis dan myasthenia gravis telah salah didiagnosis sebagai gangguan konversi. Beberapa pasien yang menerima diagnosis gangguan somatoform akhirnya terus mengembangkan gangguan neurologis. Selain mengesampingkan penyebab medis untuk gejala-gejala pasien, dokter yang sedang mengevaluasi pasien untuk gangguan somatisasi akan mempertimbangkan kemungkinan diagnosis psikiatri lain atau tumpang tindih gangguan kejiwaan. Gangguan somatoform sering hidup berdampingan dengan gangguan kepribadian karena hubungan ayam dan telur antara penyakit fisik dan beberapa jenis struktur karakter atau ciri kepribadian. Pasien dengan gangguan somatisasi sering mengalami serangan panik atau agoraphobia bersama-sama dengan gejala fisik mereka. Selain gangguan kecemasan atau kepribadian, biasanya dokter akan mempertimbangkan depresi berat sebagai diagnosis mungkin ketika mengevaluasi pasien dengan gejala gangguan somatoform. Gangguan nyeri dapat berhubungan dengan depresi, dan gangguan tubuh dismorphic mungkin berhubungan dengan obsesif-kompulsif penyakit.

Pencegahan
Generalisasi mengenai pencegahan gangguan somatoform sulit karena sindrom mempengaruhi kelompok usia yang berbeda, bervariasi dalam pola gejala dan ketekunan, dan hasil dari masalah yang berbeda penyesuaian dengan budaya sekitarnya. Secara teori, memungkinkan ekspresi rasa sakit emosional pada anak-anak, bukan menganggapnya sebagai "lemah," mungkin mengurangi keuntungan sekunder dari gejala fisik yang menarik perawatan atau perhatian orang tua.

Pengobatan
Hubungan dengan dokter perawatan primer
Karena pasien dengan gangguan somatoform sering memiliki sejarah medis yang panjang, hubungan jangka panjang dengan seorang praktisi perawatan dipercaya primer (PCP) adalah perlindungan terhadap perlakuan yang tidak perlu serta kenyamanan kepada pasien. PCPs Banyak lebih memilih untuk menjadwalkan janji singkat secara teratur dengan pasien dan menjaga rujukan ke spesialis untuk minimum. Praktek ini juga memungkinkan mereka untuk memantau pasien untuk gejala fisik baru atau penyakit. Namun, beberapa PCPs bekerja dengan seorang konsultan kejiwaan.

Obat
Pasien dengan gangguan somatoform kadang-kadang diberikan obat anti ansietas dan obat antidepresan jika mereka telah didiagnosa dengan suasana hati yang hidup bersama atau gangguan kecemasan. Secara umum, bagaimanapun, itu dianggap praktik yang lebih baik untuk menghindari pemberian resep obat untuk pasien ini karena mereka cenderung menjadi psikologis tergantung pada mereka. Namun, gangguan dismorfik tubuh sebagai telah berhasil diobati dengan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) antidepresan.

Psikoterapi
Pasien dengan gangguan somatoform tidak dianggap kandidat yang baik untuk psikoanalisis dan bentuk-bentuk wawasan yang berorientasi psikoterapi. Mereka bisa mendapatkan keuntungan, namun, dari pendekatan suportif terhadap pengobatan yang ditujukan untuk mengurangi gejala dan stabilisasi kepribadian pasien. Beberapa pasien dengan gangguan nyeri manfaat dari terapi kelompok atau kelompok dukungan, khususnya jika jaringan sosial mereka telah dibatasi oleh gejala rasa sakit mereka. Terapi kognitif-perilaku juga digunakan kadang-kadang untuk mengobati gangguan sakit. Terapi keluarga biasanya dianjurkan untuk anak-anak atau remaja dengan gangguan somatoform, terutama jika orang tua tampaknya akan menggunakan anak sebagai fokus untuk mengalihkan perhatian dari kesulitan lainnya. Bekerja dengan keluarga pasien sakit kronis juga membantu menghindari memperkuat ketergantungan dalam lingkungan keluarga. Hypnosis adalah teknik yang kadang-kadang digunakan sebagai bagian dari pendekatan psikoterapi umum untuk gangguan konversi karena dapat memungkinkan pasien untuk memulihkan ingatan atau pikiran yang berhubungan dengan timbulnya gejala-gejala fisik.

Pengobatan Alternatif
Pasien dengan gangguan somatisasi atau gangguan sakit dapat dibantu dengan berbagai terapi alternatif termasuk akupuntur, hidroterapi, terapi pijat, meditasi, obat botani, dan pengobatan homeopati. Menghilangkan gejala, termasuk rasa sakit, dapat terjadi pada tingkat fisik, serta pada tingkat mental, emosional, dan spiritual.

Prognosa

Prognosis untuk gangguan somatoform tergantung, sebagai suatu peraturan, pada usia pasien dan apakah gangguan ini kronis atau episodik. Secara umum, gangguan somatisasi dan gangguan dismorfik tubuh jarang menyelesaikan sepenuhnya. Hypochondriasis dan gangguan sakit dapat mengatasi jika ada perbaikan yang signifikan dalam kesehatan keseluruhan pasien dan keadaan hidup, dan orang dengan kedua gangguan akan melalui periode ketika gejala menjadi lebih ringan (remisi) atau menjadi lebih buruk (eksaserbasi). Gangguan konversi cenderung cepat diselesaikan, tetapi bisa kambuh sekitar 25% dari semua kasus.

Daftar Pustaka
dr. Engelberta Pardamean, SpKJ, 2007. Gangguan Somatoform. Symposium sehari kesehatan jiwa dalam rangka menyambut hari kesehatan jiwa sedunia. Ikatan Dokter Indonesia

Jeffrey S. Dkk. 2003. Psikologi Abnormal Jilid I. Jakarta. Erlangga

Kellner, R. (1991). Psychosomatic syndromes and somatic symptoms. Washington, DC: American Psychiatric Press.

Kovacs, M. (1982). Children's depression inventory. North Tonawanda, NY: Multi-Health Systems, Inc.

Landgraf, J. M., Abetz, L., & Ware, J. E. (1996). The Child Health Questionnaire (CHQ) user's manual. Boston, MA: The Health Institute, New England Medical Center.

Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…