Langsung ke konten utama

Depresi Pada Anak

 

Pendahuluan
Depresi adalah suatu gangguan kedaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apati, pesimisme, dan kesepian1. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan. Gangguan alam perasaan (mood atau afek) pada anak dan remaja semakin dikenali sehingga insiden depresi meningkat secara dramatis dalam 40--50 tahun terakhir ini. Depresi pada anak dan remaja jarang dikenal di Amerika Utara sebelum 1970, karena anak dianggap terlalu muda untuk mengalami yang berhubungan dengan depresi atau alam perasaan, rasa bersalah, dan percaya diri yang rendah. Di Amerika, penyakit ini dilaporkan telah mengenai beribu-ribu anak di bawah usia 18 tahun. Remaja diharapkan dapat melalui periode ketegangan dan badai kehidupan (storm and stress) yang ditandai dengan perubahan alam perasaan sebagai bagian dari perkembangan normal. Kasus depresi pada anak sebenarnya banyak, tetapi sering tidak terdiagnosis (underrecognised), karena tidak semua penderita mengeluh sedih. Insiden anak prapubertas diperkirakan 1,5--2,5% dan menjadi 4--5% pada masa remaja. Dalton dan Forman melaporkan insiden gangguan depresi berat pada anak prapubertas 1,8%, remaja 3,5--5%, dan anak perempuan lebih banyak dari laki-laki.

Klasifikasi Depresi
Klasifikasi gangguan depresi sangat bervariasi. Dahl dan Brent membagi gangguan depresi dalam tiga kategori, yaitu:
1~Gangguan depresi berat (Mayor depressive disorder) Perasaan sedih selama 2 minggu, jemu, atau lekas marah (irritable) disertai 4 gejala lain menurut kriteria DSM-IV.
2~Gangguan distimik (Dysthymic disorder) Suatu bentuk depresi yang lebih kronis (paling tidak 1 tahun) tanpa ada bukti suatu episode depresi berat. Dahulu disebut depresi neurosis.
3~Gangguan afektif bipolar atau siklotimik (Bipolar affective illness or cyclothymic disorder).

Gambaran Klinis dan Diagnosis
 
Gambaran klinis yang tampak pada anak dipengaruhi oleh usia dan pengalaman psikologis anak. Hingga usia 7 tahun, umumnya anak belum dapat mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata, tetapi hanya dengan tingkah laku. Komunikasi verbal anak yang belum berkembang akan mempersulit diagnosis depresi pada anak sebelum usia 7 tahun. Komunikasi non-verbal seperti ekspresi wajah dan postur tubuh dapat membantu menegakkan diagnosis depresi pada anak yang lebih muda. Anak yang lebih muda akan menunjukkan fobia, gangguan cemas perpisahan, keluhan somatik, dan perubahan tingkah laku. Semakin meningkat usia anak, semakin meningkat keluhan anhedonia, variasi diurnal, keputusasaan, retardasi psikomotor, dan halusinasi. Menurut Ryan et al (1987), gambaran depresi pada anak yang menonjol adalah keluhan somatik, agitasi psikomotor, cemas perpisahaan, dan fobia. Sedangkan pada anak remaja adalah anhedonia, hipersomnia, putus asa, perubahan berat badan, dan penyalahgunaan obat. Pada anak dengan depresi psikotik, gambaran klinis yang lebih dominan adalah halusinasinya, sedangkan pada anak remaja dan dewasa delusinasinya. Diagnosis depresi pada anak maupun dewasa tidak sejelas seperti pada penyakit lain. Tidak ada tes khusus yang dapat membantu menentukan bahwa seseorang individu menderita depresi, dan sangat sedikit yang dapat ditentukan penyebabnya. Untuk mendiagnosis depresi pada anak, dibutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan penderita dewasa. Dalam proses menegakkan diagnosis depresi, harus dilibatkan kedua orangtua dan anak itu sendiri. Orangtua anak hanya melaporkan tanda luarnya saja, seperti lekas marah (irritable), prestasi sekolah menurun, menyingkir dari kegiatan sosial atau aktivitas yang menyenangkan, dan anak lebih merasakan tanda dalam (inward sign) seperti perasaan yang tertekan, rasa bersalah, rasa tak berharga, dan pikiran bunuh diri. 

Kriteria diagnostik berdasarkan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 1994 fourth edition). Dikatakan gangguan depresi berat bila sedikitnya ada 5 gejala selama priode 2 minggu pegamatan yang disertai perubahan fungsi berupa:
1~ Alam perasaan terdepresi atau mudah tersinggung, atau
2~ Hilangnya minat atau kesenangan, desertai sedikitnya 4 gejala berikut:
3~ Anak gagal mencapai BB yang diharapkan;
4~ Insomnia atau hipersomnia tiap hari;
5~ Retardasi psikomotor atau agitasi;
6~ Kelelahan atau kehilangan tenaga setiap hari;
7~ Rasa tidak berdaya atau rasa bersalah yang tidak wajar;
8~ Tidak mampu berfikir atau berkonsentrasi;
9~ Fikiran akan kematian yang berulang (recurrent).
Gejala tersebut harus menimbulkan ganggauan sosial atau akademik dan bukan efek langsung alkohol atau kondisi medis umum, misalnya hipotiroidisme. Diagnosis depresi berat tidak dapat ditegakkan dalam 2 bulan setelah kehilangan seseorang yang dicintai, kecuali jika ditemukan gangguan fungsional yang nyata, rasa tidak berharga, ingin bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi prikomotor.

Kormobiditas
 
40-70% dari depresi pada anak dan remaja memiliki sedikitnya satu gangguan lain (Cicchetti & Toth, 1998; dalam Wenar & Kerig, 2008). Gejala dari kecemasan dan depresi menunjukkan korelasi yang tinggi, 60 75% anak yang depresi memiliki komorbiditas dengan gangguan kecemasan. Komorbiditas gangguan depresi dapat terjadi dengan gangguan lainnya, selama masa perkembangan anak sehingga menjadi “double depression.” Kombinasi antara dysthymia dan major depression yang saling berasosiasi sehingga menghasilkan hasil yang negatif (Wenar & Kerig, 2008). 14-36% depresi pada laki-laki dapat menjadi conduct disorder dan perlawanan seperti perilaku agresif antisosial (Mitchell et al., 1988; dalam Wenar & Kerig, 2008). Komorbiditas conduct disorder dan aggression berasosiasi dengan banyak hasil negatif (Harrington et al., 1991). Anak dengan depressive conduct disorder lebih depresi dan kurang agresif daripada conduct disorder (Wenar & Kerig, 2008).

Perbedaan gender
Pada anak perempuan biasanya depresi disertai dengan kecemasan, sedangkan pada anak laki-laki diasosiasikan dengan perilaku mengacaukan, termasuk ADHD dan CD (Kessler, Avenevoli & Merikangas, 2001; dalam Wenar & Kerig, 2008).
Perbedaan usia
Depresi pada masa preschool tidak menunjukkan adanya kegelisahan, pada masa sekolah bisa terjadi dengan conduct disorder, dan depresi pada remaja dapat terlihat misalnya perilaku penyalahgunaan atau gangguan makan (Wenar & Kerig, 2008).

Etiologi
 
Proses etiologi yang mendasari terjadinya depresi pada anak-anak tidak jelas. Namun, ada bukti kuat bahwa depresi berjalan dalam keluarga. Anak yang lahir dari orang tua yang depresi menunjukkan peningkatan resiko depresi dua sampai empat kali lipat dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari orang tua tanpa depresi. Demikian pula, orang dewasa yang memiliki kerabat depresi, menunjukkan peningkatan tingkat gangguan depresi. Faktor genetik ditemukan memiliki pengaruh terhadap etiologi depresi. Dari penelitian keluarga dan anak kembar ditemukan bahwa kontribusi faktor genetik meningkat seiring usia, dan genetik merupakan faktor penting pada depresi remaja, sedangkan depresi pada anak kecil lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan (Ball, Rice, & Thapar, 2000). Selain faktor genetik, faktor psikososial ditengarai menyumbang faktor resiko pada depresi anak. Ada hubungan yang signifikan antara stres hidup seperti perceraian orang tua dengan depresi anak. Kurangnya dukungan sosial yang memadai dan konflik keluarga juga telah terbukti berkaitan dengan gangguan depresi pada anak-anak, dan ini digabungkan dengan peristiwa kehidupan yang signifikan, mungkin mempengaruhi seorang anak untuk depresi. Hal ini juga penting mengingat bahwa anak-anak dengan kondisi fisik seperti kanker, gangguan endokrin, epilepsi, asma dan gangguan usus iritasi juga dapat mengembangkan depresi. Obat-obatan, seperti prednisolone dan cortison dan pengobatan terkait, juga dapat meningkatkan resiko depresi (Ball, Rice, & Thapar, 2000). Menurut Wenar & Kerig (2008), etiologi depresi pada anak, yaitu:

Biologis
Faktor genetik
Anak-anak, remaja, dan dewasa yang memiliki hubungan dekat dalam artian keluarga dan sanak saudara memiliki resiko tinggi dalam kaitannya dengan depresi, dengan persentase 20 45%. Biarpun begitu, secara sederhana dapat dilihat bahwa depresi juga dapat terjadi karena faktor keturunan dan juga lingkungan. Faktanya, kecendurungan faktor genetik muncul tidak spesifik pada depresi, tetapi lebih pada adanya gangguan termasuk kecemasan (anxiety) dan fobia.
Neurochemistry
Menurut teori, seseorang yang mengalami depresi kadar serotonin dalam neurotarnsmitternya mengalami penekanan. Pengobatan dengan anti depresan akan meningkatkan kadar serotonin tersebut. Pengobatan tersebut terbukti efektif dalam mengatasi depresi pada remaja.
Struktur otak dan fungsinya
Sebuah penelitian otak menjelaskan bahwa depresi berkaitan dengan pergerakan dari hemisphere kiri yang lambat. Hemisphere kiri menunjukkan pergerakan yang lebih meliputi proses yang mempengaruhi secara positif, ketika terjadi underactivated, hemisphere kanan akan lebih aktif dan mambangkitkan berlebihan serta mempengaruhi secara negatif.

Individu
Perhatian
Seorang anak yang proses internalisasi dalam dirinya dapat dikatakan gagal, di mana kurangnya rasa kasih sayang dalam perkembangannya juga akan mempengaruhi kognitif, emosional, dan proses biologisnya yang dikaitkan dengan depresi. Blatt (2004; Blatt & Homann, 1992; dalam Wenar & Kerig, 2008) mengemukakan tentang attachment theory yang dikaitkan dengan depresi, yaitu:
1~ Dependent or analitic depression. Merupakan karakteristik yang berupa perasaan dari kesendirian dan ketidakberdayaan karena takut ditinggalkan. Anak dengan depresi ini memiliki hubungan atau kelekatan yang sangat kuat dengan orang tuanya dan perlu adanya perhatian dan pengasuhan.
2~ Self critical or introjective depression. Karakteristik berupa perasaan tidak berharga, rendah, merasa gagal, dan bersalah. Anak dengan karakteristik ini memiliki pendirian yang kuat, takut untuk mendapat kritikan dari orang lain, perfeksionis, dan khawatir tidak dimaafkan oleh orang lain.

Perspektif kognitif
Model kognitif ini berpusat pada cognitive triad, yang terdiri dari ketidakberhargaan (“aku tidak baik”) yang ditandai dengan rendahnya tingkat harga diri, ketidakberdayaan (“aku tidak bisa berbuat apa-apa”) yang dijelaskan dengan konsep self efficacy di mana anak tidak cukup berani untuk menunjukkan kemampuannya dan sedikit pengalaman, dan keputusasaan (“ini akan selalu seperti ini”) (Wenar & Kerig, 2008). Cognitive schemata yang negatif memberikan pengaruh tidak hanya keadaan sekarang saja tetapi juga masa yang akan datang pada anak. Schemata adalah keadaan mental yang stabil dalam hal ini persepsi pada anak terhadap dirinya, pengalamannya masa lalu, dan harapan di masa yang akan datang (Dodge, 1993; dalam Wenar & Kerig, 2008).

Perkembangan emosional
Depresi tidak hanya terjadi pada anak yang memiliki kemampuan meniru yang rendah termasuk adanya masalah dalam dirinya, tetapi mereka juga sulit dalam menunjukkan emosinya sehingga berpotensi terjadinya stress (Rudolph et al., 1994; Zahn-Waxler, Klimes-Dougan, & Slattery, 2000; dalam Wenar & Kerig, 2008). Faktor yang dapat mempengaruhi emosi pada anak misalnya, pola interaksi orang tua pada anak juga keterlibatannya terutama yang cukup berpengaruh adalah depresi pada ibu (Wenar & Kerig, 2008).

Keluarga
Families of Depressed Children
Emosi yang ada di lingkungan keluarga berpengaruh terhadap perkembangan depresi pada anak dan remaja (Sheeber et al., 1997; dalam Wenar & Kerig, 2008). Anak yang depresi dijelaskan bahwa keluarga mereka penuh dengan konflik, negatif, dan kurangnya kontrol, kohesif atau kedekatan serta dukungan (Kaslow, Deering, & Racusin, 1994; dalam Wenar & Kerig, 2008).

Parental Loss
Kehilangan orang tua memberikan pengalaman yang berefek pada fungsi dalam diri anak dan berisiko terjadinya depresi. Dalam sebuah penelitian, depresi terjadi 2 kali lebih tinggi pada perempuan yang memiliki pengalaman traumatik berpisah dengan ibunya, misalnya dilupakan, disakiti, atau dibuang/ditinggalkan, kemudian berpisah karena meninggal atau karena adanya suatu penyakit ataupun perceraian (Brown, Bifulco, & Harris, 1987; dalam Wenar & Kerig, 2008).

Children of Depressed Mothers
Sekitar 40% anak dengan ibu yang depresi didiagnosa juga akan mengalami depresi. Dalam sebuah penelitian yang mengindikasikan efek dari maternal depression dilihat dari gender, dikatakan ibu yang mengalami depresi risiko dari perkembangan depresi tersebut menunjukkan bahwa anak perempuan lebih tinggi daripada anak laki-laki (Sheeber, Davis, & Hops, 2002; dalam Wenar & Kerig, 2008). Namun ada pendapat bahwa tidak benar adanya transmisi depresi antargenerasi dari orang tua ke anak. Meskipun mungkin saja faktor penyebabnya adalah genetik, tetapi penyebab lain yang lebih berpengaruh adalah gaya pengasuhan orang tua pada anak (Wenar & Kerig, 2008).

Sosial
Lingkungan sosial yang kurang nyaman dapat menyebabkan seorang anak menjadi depresi. Kurangnya kemampuan bersosialisasi dan merasa sendiri pada anak dapat menjadi suatu penyebab juga terjadinya depresi (Harter & Marold, 1994; dalam Wenar & Kerig, 2008) khususnya pada anak perempuan (Oldenburg & Kerns, 1997; dalam Wenar & Kerig, 2008). Perilaku menyerang dan negatif yang berjauhan dengan orang tua, kelompok sosial, dan guru akan menyebabkan konflik interpersonal dan adanya penolakan. Penyerangan membuat anak melakukan perlawanan dan perilaku negatif sehingga akan mempengaruhi perkembangannya, termasuk pengalaman dari faktor sosial dan akademik. Kegagalan dan penolakan akan menurunkan harga diri anak, sedangkan penolakan dari kelompok sosial akan menurunkan kemampuan akademik, dan rendahnya tingkat harga diri anak berasosiasi dengan timbulnya depresi pada anak juga pada remaja (Wenar & Kerig, 2008).

Budaya
Dalam konteks budaya ini meliputi kemiskinan, life stress, dan ethnicity (Wenar & Kerig, 2008).

Diagnosis Banding
 
Depresi harus dibedakan dengan kesedihan yang normal dan gangguan psikiatris lainnya. Sebelum diagnosis psikiatris ditegakkan, kondisi organik yang mirip ataupun yang menimbulkan gejala-gejala psikiatris harus disingkirkan terlebih dahulu seperti gangguan organik, intoksikasi zat, ketergantungan dan abstinensi, distimia, siklotimia, gangguan kepribadian, berkabung, serta gangguan penyesuaian. Keadaan seperti ini sangat bervariasi, tergantung umur. Karenanya, pengetahuan tentang perkembangan anak normal dan penyakit fisik dengan manifestasi psikiatris sangat diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosis yang akurat. Anak prasekolah yang menunjukkan gejala depresi perlu dievaluasi kemungkinan adanya suatu keganasan, child neglect/abuse, gangguan cemas perpisahan, dan gangguan penyesuaian diri dengan alam perasaan (mood) terdepresi. Anak prapubertas diagnosis bandingnya mencakup gangguan cemas perpisahan, gangguan cemas yang amat sangat (overanxious disorder), dan gangguan konduksi. Anak remaja juga perlu dibedakan dari penyalahgunaan obat, gangguan cemas, dan fase awal skizofrenia,. Juga perlu ditentukan apakah gangguan afektif yang timbul merupakan primer atau sekunder.

Asesmen
 
Proses asesmen digunakan untuk menyadari adanya simptom depresi pada seorang anak (dilakukan pada anak, orang tua, dan guru). Kazdin (1990, dalam Walker, 1992) menyatakan bahwa orang tua adalah sumber utama dalam menggali informasi pengetahuan mengenai anak, yaitu perilaku depresi anak, setting waktu dan tempat perilaku depresi muncul, penyebab depresi, dan dalam menentukan bentuk penanganan yang akan diberikan kepada anak. Pengukuran self-report pada anak yang mengalami depresi dapat ditunjukkan dari korelasi antara variabel perilaku bunuh diri dan ide melakukam bunuh diri, keputusasaan, self-esteem yang rendah, atribusi negatif, dan kesalahan pola asuh orang tua (adanya penganiayaan) (Haley, Fine, Marriage, Moretti, & Freeman, 1985; Kazdin, French, Unis, Esveldt-Dawson, 1983; Kazdin, French, Unis, Esveldt-Dawson & Sherick, 1983; Kazdin, Moser, Colbus, & Bell, 1985; Sacco & Graves; 1984; dalam Walker, 1992).

Metode Asesmen
Data self-report, wawancara klinis (terstruktur dan semi-terstruktur), observasi perilaku, peer report, dan laporan lain (orang tua dan guru) adalah instrumen untuk melakukan asesmen (Walker, 1992). Asesmen depresi pada anak harus melibatkan interview dengan anak beserta orang tua atau pengasuh (caregiver). Informasi dari orang tua pun terkadang belum cukup, karena informasi yang diberikan dapat dipengaruhi oleh mood. Sehingga ada baiknya juga mencari informasi dari informan lain seperti guru (Ball, Rice, & Thapar, 2000). Asesmen pada anak yang dilakukan dalam proses interview menurut Ball, Rice, & Thapar, (2000):
1~ Bagaimana perilaku yang muncul? Bagaimana dia berhubungan dengan orang lain?
2~ Mengobservasi suasana hati. Apakah dia sedih, menarik diri, atau cepat marah?
3~ Apakah ada pikiran untuk bunuh diri?
4~ Menilai isi pikirannya, termasuk citra diri, rasa bersalah, merasa tak  berharga.
5~ Memeriksa keyakinan yang abnormal, pikiran dan halusinasi.
6~ Apakah anak menganggapnya sebagai masalah? Apakah dia mau membantu?

Salah satu self-report yang digunakan dapat digunakan untuk melakukan asesmen depresi pada anak adalah Children’s Depression Inventory (CDI). CDI dikembangkan oleh Konvacs (1981, 1985; dalam Walker, 1992) dan telah dimodifikasi menjadi Beck Depression Inventory (BDI; Beck, Ward, Mendelson, Mock, & Erbaugh, 1961; dalam Walker, 1992). CDI terdiri dari 27 item kuisioner yang didesain untuk mengukur perilaku, pikiran, atau perasaan yang dapat mengindikasikan depresi pada anak (contohnya, kesedihan, tidur, atau gangguan nafsu makan). CDI dapat mengasesmen respon-respon anak yang kemudian dapat diindikasikan apakah anak memiliki simpton depresi atau tidak. Perilaku yang terindikasi tersebut sekurang-kurangnya terjadi selama 2 minggu terakhir (Walker, 1992).

Sampel item Children’s Depression Inventory (CDI) (Konvacs, 1985; dalam Walker, 1992):
1.         ____  I am sad once in a while.
____  I am sad many times.
____  I am sad all the time.
2.         ____  Nothing will work out for me.
____  I am not sure if things will work out for me.
____  Things will work out for me.
3.         ____  I do most things OK.
____  I do many things wrong.
____  I do everything wrong.
4.         ____  I have fun in many things.
____  I have fun in some things.
____  Nothing is fun at all.

Intervensi
Pharmacotherapy
Dalam sebuah studi diindikasi bahwa anti depresan (SSRI) dapat mengurangi gejala depresi pada anak. Namun dalam pemakaian SSRI pada anak di mana terjadi kejadian yang tidak diinginkan maka akan memberikan efek seperti kegelisahan dan iritasi, gangguan tidur (insomnia), gastrointestinal discomfort, mania, dan juga reaksi psikotik (De Vane & Sallee, 1996; dalam Wenar & Kerig, 2008). Dilaporkan juga terdapat peningkatan pemikiran untuk bunuh diri pada anak yang mengonsumsi antidepresan sekitar 2-3% (U.S. Food and Drug Administration, 2004; dalam Wenar & Kerig, 2008).

Psikoterapi dengan pendekatan psikodinamika
Tritmen psikodinamika untuk depresi ini fokus terhadap masalah yang mendasar pada kepribadian. Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengurangi self-critism dan negative self-representations serta membantu anak untuk berkembang lebih baik dalam menyesuaikan dengan defense mechanism yang mungkin akan terus berlanjut pada perkembangan emosionalnya. Dengan anak yang lebih muda, terapi dilakukan fokus terhadap perubahan cara pandang anak agar dapat menggunakan kognitifnya secara dewasa dengan cara diskusi. Dari sebuah penelitian, hasilnya menyatakan jika tritmen ini dirasa efektif khususnya dalam mengatasi masalah seperti depresi dan kecemasan (Wenar & Kerig, 2008).

Terapi kognitif-perilaku
Terapi untuk anak yang depresi ini merupakan terapi yang sangat efektif (Stark et al., 2000; dalam Wenar & Kerig, 2008). Intervensi yang termasuk role-playing ini adalah untuk mengajarkan diri si anak mengenai hubungan interpersonal dan teknik dalam menyelesaikan masalah, kognitif yang positif dibangun kembali untuk menjawab pemikiran yang salah dan bagaimana teknik penguatan dalam diri (Wenar & Kerig, 2008).

Terapi Interpersonal
Tindakan interpersonal yang diasumsikan karena adanya gangguan dalam hubungan diprediksi sebagai inti dari depresi, di mana juga adanya psychopatology yang berkembang. Interpersonal Therapy (IPT) bertujuan membantu individu mengembangkan kemampuannya secara lebih baik dalam mengartikan dan meniru masalah interpersonal pada suatu laporan, fokus pada intervensi (Wenar & Kerig, 2008).

Terapi Keluarga
Dujovne, Barnard, and Rapoff (1995; dalam Wenar & Kerig, 2008) memeriksa kefektifan beberapa tritmen yang berbeda pada depresi masa anak-anak. Mereka menyimpulkan jika tritmen keluarga sangat memerlukan pertimbangan, memberikan tugas di suatu situasi keluarga, hubungan antara anak dengan orang tua, dan depresi pada orang tua yang berkembang sebagai suatu gangguan yang beragam. Konsisten dengan penelitian tersebut, Lewinsohn’s (1996; dalam Wenar & Kerig, 2008) menemukan bahwa keefektifan intervensi cognitive-behavioral pada anak depresi dipertinggi dengan menghadirkan intervensi dari orang tua (Wenar & Kerig, 2008). Intervensi pada anak ini dilakukan dengan terapi individu dan grup dalam meningkatkan emosi positif dan memunculkan harapan, merestrukturisasi kembali gangguan schemata dan mempertinggi kemampuan sosialnya. Intervensi bertujuan mengurangi segala efek yang menimbulkan stress termasuk efek dari lingkungan yang dapat berkembang menjadi depresi (Wenar & Kerig, 2008).

Menurut Ball, Rice, & Thapar (2000), intervensi yang dapat dilakukan pada anak yang mengalami depresi adalah:
Initial management
Keterlibatan anak dan keluarga sangat penting dan merupakan aliansi teraputik efektif yang harus dibangun terlebih dahulu pada awal treatment. Initial management meliputi 3 strategi utama. Pertama, edukasi tentang depresi, manifestasi klinis dan treatment, serta harus melibatkan anak, keluarga, dan mendapatkan ijin dari sekolah. Kedua, mengidentifikasi stressor atau masalah yang menjadi pemicu. Ini harus ditangani dengan intervensi yang baik atau pendekatan problem solving terstruktur. Ketiga, jika depresi itu ringan, dapat dilakukan pendekatan dengan mengadakan pertemuan rutin dengan diskusi yang simpatik bersama anak dan keluarganya, dan memberikan dukungan. Pada kasus lain dengan depresi yang lebih berat lebih difokuskan pada bentuk treatment yang dibutuhkan.

CBT
CBT merupakan pendekatan terstruktur yang bertujuan untuk memonitor dan menantang depresi kognitif, untuk meningkatkan aktivitas, untuk meningkatkan jumlah kejadian positif dan interaksi dalam kehidupan anak, dan menggunakan self reinforcement untuk mengkonsolidasikan coping skill. Secara keseluruhan, CBT bertujuan untuk memperbaiki perasaan (mood) dengan memodifikasi kognisi yang depresi dan pola prilaku. CBT bisa dilakukan pada anak dengan depresi ringan atau sedang, tetapi tidak pada depresi berat. CBT juga efektif untuk mencegah kekambuhan.

Antidepressant medication
Terdapat sejumlah penelitian penggunaan anti depresan pada anak-anak dan remaja. Meskipun banyak penelitian menyarankan penggunaan anti depresan seperti imipramine dan amitriptyline yang mampu menurunkan depresi (hanya dilakukan pada jumlah sampel yang kecil). Tricyclic anti depresan tidak direkomendasikan pada awal treatment karena tidak lebih efektif daripada placebo. Lebih jauh lagi, dapat beresiko pada overdosis, sehingga sekarang jarang digunakan. Medikasi lain dengan penggunaan serotonin re-uptake inhibitor (SSRI) anti depresan seperti fluoxetine. SSRI harus digunakan pada lini pertama terapi anti depresan, dipertimbangkan untuk depresi berat atau kronis dan yang tidak mampu merespon CBT.

Intervensi lain
Intervensi lain yang bisa dilakukan seperti pelatihan keterampilan sosial dan terapi keluarga. Keterampilan sosial melibatkan pelatihan keterampilan interpersonal untuk meningkatkan interaksi sosial positif. Terapi keluarga bertujuan untuk memodifikasi pola interaksi keluarga dan sistem kepercayaan keluarga.

Menurut Wagner, et al (2004), hasil penelitian mereka menyatakan bahwa gejala depresi mayor pada anak dapat dikurangi dengan penggunaan cythalophram. Cythalophram adalah obat antidepresan dari serotonin re-uptake inhibitor (SSRI). Kemudian Harrington, Whittaker, & Shoebridge (1998), menyatakan hasil penelitian yang mereka dapatkan adalah intervensi psikologi yang dilakukan  secara individu akan lebih efektif untuk membantu anak dengan gejala depresi daripada terapi keluarga.  Terapi kognitif-behavioral dinilai lebih efektif untuk mengatasi simptom depresi serta gangguan depresi ringan. Usaha untuk mencegah perkembangan depresi pada masa kanak-kanak adalah fokus pada banyaknya risiko, yaitu anak dengan ibu yang depresi. Shochet & Dadds, (2001; dalam Wenar & Kerig, 2008), mengembangkan intervensi dengan 11 sesi yang dinamakan RAP (Resourceful Adolescent Program) yang manggabungkan banyak elemen yang menjamin terapi kognitif-perilaku (CBT) (misalnya, membangun kembali pemikiran positif, penegasan kekuatan yang ada) sebagai target risiko interpersonal dan keluarga dan faktor pelindung. Kondisi tritmen kedua digabungkan dengan RAP dengan 3 sesi orang tua yang diharapkan dapat mengurangi konflik keluarga dan meningkatkan kehangatan dan respon serta rasa bertanggung jawab orang tua pada anak (Wenar & Kerig, 2008).

Daftar Pustaka
Alloy, L. B., Riskind, J. H., & Manos, M. J. (2005). Abnormal Psychology. New York ; McGraw-Hill Companies, Inc.
Ball, C., Rice, F., & Thapar, A. (2000). Childhood Depression: Why Is Depression and Why Is It Important to Recognize?. Journal Current Peadiatrics.
Fassler DA. Childhood Depression. J Am Acad child adolesc psychiatry 1977. Dikutip dari: http://www.aacad.org/whatsnew/fassler.htm.
Harrington RC. Child Psychiatry. Medicine 1996.
Harrington. R., Whittaker, J., & Shoebridge, P. (1998). Psychological Treatment of Depression in Children and Adolescent: A review of Treatment Research. The British Journal of Psychiatry, 173: 291-298.
Hazel, Philip. (2002). Depression in Children. BMJ, 325: 229–230.
Kearney, C. S. (2006). Casebook in Child Behavior Disoders 3rd Edition. Canada: Thomson Wadsworth.
Kaplan HI, Sadock BJ. Buku saku psikiatri klinik. Terjemahan. Jakarta: Binarupa Aksara, 1994.
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebh JA. Sinopsis Psikiatri. Edisi ke-7, Terjemahan. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997.
Weissman MM, Wolk S, Golgstein RB, dkk. Depressed adolescents grown up. JAMA 1999.
Wagner, et al. (2004). A Randomized, Placebo-Controlled Trial of Citalopram for the Treatment of Major Depression in Children and Adolescents. American Journal of Psychiatry, 161: 1079-1083.
Walker, C. G., & Robert, M. C. (1992). Handbook of Clinical Psychology Second Edition. Canada: John Wiley & Sons.
Wenar, C. (1994). Developmental Psychopathology From Infancy through Adolescence. United States: McGraw-Hill, Inc.
Wenar, C., & Kerig, P. (2000). Developmental Psychopathology: From Infancy Through Adolescense Fourth Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Wenar, C., & Kerig, P. (2008). Developmental Psychopathology: From Infancy Through Adolescense Fifth Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.


Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.