Langsung ke konten utama

Antipsikotik



Pendahuluan
Antipsikotik (juga disebut neuroleptics) adalah kelompok obat- obatan psikoaktif umum tetapi tidak secara khusus digunakan untuk mengobati psikosis yang ditandai oleh skizofernia. Obat antipsikotik memiliki beberapa sinonim antara lain neuroleptik dan transquilizer mayor. Seiring waktu berbagai antipsikotik telah dikembangkan. Antipsikotik generasi pertama yang dikenal sebagai antipsikotik tipikal ditemukan pada 1950-an. Sebagian besar obat-obatan pada generasi kedua yang dikenal sebagai antipsikotok atipikal baru-baru ini telah dikembangkan, meskipun anti-psikotik atipikal pertama clozapine ditemukan pada 1950-an, dan diperkenalkan secara klinis pada 1970-an. Kedua kelas obat-obatan cenderung untuk memblokir reseptor di otak jalur dopamin tetapi obat-obatan antipsikotik mencakup berbagai target reseptor. Dopamin merupakan salah satu neurotransmitter pada manusia yang sangat berperan pada mekanisme terjadinya gangguan psikotik. Dopamin sendiri diproduksi pada beberapa area di otak, termasuk subtantia nigra  dan area ventral tegmental. Dopamin jua merupakan neurohormon yang dihasilkan oleh hipotalamus. Fungsi utama hormon ini adalah menghambat pembentukan prolaktin dan lobus anterior kelenjar pituitary. Domain memiliki banyak fugsi di otak, termasuk peran pentingnya pada perilaku dan kognisi, pergerakan volunter, motivasi, penghambat produksi prolaktin (berperan dalam masa menyusui), tidur mood, perhatian, dan proses belajar. Dopaminergik neurom (neuron yang menggunakan dopamin sebagai neurotransmitter) utamanya terdapat pada area ventral tegmental (AVT) pada midbrain, substantia nigra pars compacta dan nucleus arcuata pada hipotalamu, jalur dopaminergik merupakan jalur  neural pada otak yang mengirimkan dopamin dari satu regio di otak ke regio lainnya.

Jalur Dopaminergik
Jalur Mesolimbic
Jalur mesolimbic mengirimkan dopamin dari area ventral tegmental (AVT) ke nucleus accumbens. AVT terletak pada daerah midbrain dan nucleus accumbens pada sistem limbic.
Jalur Mesocortical
Jalur mesocortical mengirimkan dopamine dari AVT ke frontal korteks. Gangguan pada jalur ini berhubungan dengan skizofrenia.
Jalur Nigrostriatal
Jalur nigrostrialtal mengirimkan dopamin dari subtantia nigra ke striatum. Jalur ini berhubungan dengan control motorik dan degenerasi pada jalur ini berhubungan dengan penyaikit parkinson.
Jalur Tuberoinfundibular
Jalur tuberoinfundibular mengirimkan dopamin dari hipotalamus ke kalenjer pituitary. Jalur ini mempengaruhi hormon  tertentu termasuk prolaktin.

Khasiat Fisiologi Dan Penggunaan
Antipsikotika memiliki sejurnlah kegiatan fisiologi, yakni:
a~ Antipsikotis. Obat-obat ini digunakan untuk gangguan jiwa dengan gejala psiko­tis, seperti schizofrenia, mania, dan depresi psikotis. Di samping itu, obat-obat ini digu­nakan untuk menangani gangguan perilaku serius pada pasien demensia dan dengan handikap rohani, juga untuk keadaan gelisah akut (excitatio) dan penyakit lata (p. Gilles de la Tourette).
b~ Anxiolitis, yaitu mampu meniadakan rasa bimbang, takut, kegelisahan, dan agre­si yang hebat. Oleh karena itu, adakalanya obat ini digunakan dalam dosis rendah sebagai minor tranquillizer pada kasus-kasus besar, di mana benzodiazepin kurang efek­tif, misalnya pimozida dan thioridazin. Berhubung efek sampingnya, penggunaan antipsikotika dalam dosis rendah sebagai anxiolitika tidak dianjurkan.
c~ Antiemetis berdasarkan perintangan neurotransmisi dari CTZ (Chemo Trigger Zone) ke pusat muntah dengan jalan blokade reseptor dopamin, Karena sifat inilah, obat ini sering digu­nakan untuk melawan mual dan muntah yang hebat, seperti pada terapi sitostatika; sedangkan pada mabuk-jalan tidak efektif. Obat dengan daya antiemetis kuat adalah proklorperazin dan thietilperazin. Obat lain dengan daya antimual yang baik dalam dosis rendah adalah klorpromazin, perfe­nazin, triflupromazin, flufenazin, halope­ridol (dan metoklopramida).
d~ Analgetis. Beberapa antipsikotika me­miliki khasiat analgetis kuat, antara lain levomepromazin, haloperidol, dan drope­ridol (Thalamonal). Tetapi obat ini jarang digunakan sebagai obat antinyeri, kecuali droperidol. Obat lainnya dapat memper­kuat efek analgetika dengan jalan mening­katkan ambang-nyeri, misalnya klorproma­zin. Klorpromazin dan haloperidol adakala­nya juga digunakan pada sedu (hiccup) yang tak henti-henti dan gangguan keseimbangan bila obat lain tidak ampuh.

Klasifikasi Antipsikotik
Penemuan obat generasi yang lebih baru biasanya ditujukan untuk mengoreksi kekurangan obat sebelumnya atau untuk memperoleh obat yang lebih efektif serta memiliki efek samping yang lebih kecil. Tujuan ini berhasil diraih oleh obat antipsikotik generasi kedua. Menurut sebuah studi teranyar, dipublikasikan dalam Journal of Clinical Psychiatry edisi Desember 2007, antipsikotik generasi kedua yang diberikan secara intramuscular, ternyata efektif mengurangi agitasi dan lebih minim efek ekstrapiramidal-nya dibanding dengan antipsikotik generasi pertama.

Antipsikotik Tipikal (Antipsikotik Generasi Pertama)
Antipsikotik tipkal atau dikenal APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual/ peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. (Nantingkaseh , 2007).
Obat-obat yang termasuk antipsikosis tipikal adalah sebagai berikut :
1~ Derifat Fenotiazin : Chlorprimazine, Fluphenazine, Perphenazine, Prochlorperazine, Thioridazine, Trifluoperazine, Mesoridazine, Periciazine, Promazine, Triflupromazine, Levomeprimazine, Promethazine, Pimozide.
2~ Derifat Butirofenon : Haloperidol, Droperidol
3~ Derifat Thioxanthenes : Chlorprothixene, Flupenthixol, Thiothixene, Zuclopenthixol



Chlorpromazine (CPZ)
Turunan dari phenotiazine yang mewakili efek seluruh derivate phenotiazine
adalah chlorpromazine atau CPZ, turunan dari rantai aliphatic, salah satu obat
antipsikotik yang sering digunakan sebab paling berefek luas sehingga dikatakan
largactil (Large action).
Nama dagang : – Cepezet – Meprosetil – Promactil – Largactil
Dosis :
Anak > = 6 bulan : Sizoprenia/psikosis : Oral : 0,5-1 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam; Anak yang lebih tua mungkin membutuhkan 200 mg/hari atau lebih besar; im, iv: 0,5-1 mg/kg/dosis setiap 6-8 jam, < 5 tahun (22,7 kg): maksimum 75 mg/hari
Mual muntah ; Oral : 0,5-1 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam bila diperlukan; im, iv : 0,5-1 mg/kg/dosis setiap 6-8 jam, < 5 tahun (22,75 kg) : maksimum 40 mg/hari, 5-12 tahun (22,7-45,5 jg) : maksimum 75 mg/hari.
Dewasa : Shcizoprenia/psikosis; Oral : 30-2000 mg/hari dibagi dalam 1-4 dosis, mulai dengan dosis rendah, kemudian sesuaikan dengan kebutuhan. Dosis lazim : 400-600 mg/hari, beberapa pasien membutuhkan 1-2 g/hari. im.,iv.: awal: 25 mg, dapat diulang 25-50 mg , dalam 1-4 jam, naikkan bertahap sampai maksimum 400 mg/dosis setiap 4-6 jam sampai pasien terkendali; Dosis lazim : 300-800 mg/hari. Cegukan tidak terkendali : Oral, im.: 25-50 mg sehari 3-4 kali. Mual muntah : Oral : 10-25 mg setiap 4-6 jam, im.,iv., : 25-50 mg setiap 4-6 jam.
Orang tua : Gejala-gejala perilaku yang berkaitan dengan demensia: awal : 10-25 mg sehari 1-2 kali, naikkan pada interval 4-7 hari dengan 10-25 mg/hari, naikkan interval dosis, sehari 2x, sehari 3 kali dst. Bila perlu untuk mengontrol respons dan efek samping; dosis maksimum : 800 mg.
Indikasi
Mengendalikan mania, terapi shcizofrenia, mengendalikan mual dan muntah, menghilangkan kegelisahan dan ketakutan sebelum operasi, porforia intermiten akut, terapi tambahan pada tetanus. Cegukan tidak terkontrol, perilaku anak 1-12 tahun yang ekplosif dan mudah tersinggung dan terapi jangka pendek untuk anak hiperaktif.
Kontraindikasi
Hipersensitifitas terhadap klorpromazin atau komponen lain formulasi, reaksi hipersensitif silang antar fenotiazin mungkin terjadi, Depresi SSP berat dan koma.
Efek samping
Kardiovaskuler : hipotensi postural, takikardia, pusing, perubahan interval QT tidak spesifik.
SSP : mengantuk, distonia, akathisia, pseudoparkinsonism, diskinesia tardif, sindroma neurolepsi malignan, kejang.
Kulit : fotosensitivitas, dermatitis, pigmentasi (abu-abu-biru).
Metabolik & endokrin : laktasi, amenore, ginekomastia, pembesaran payudara, hiperglisemia, hipoglisemia, test kehamilan positif palsu.
Saluran cerna : mual, konstipasi xerostomia.
Agenitourinari : retensi urin, gangguan ejakulasi, impotensi.
Hematologi : agranulositosis, eosinofilia, leukopenia, anemia hemolisis, anemia aplastik, purpura trombositopenia.
Hati : jaundice.
Mata : penglihatan kabur, perubahan kornea dan lentikuler, keratopati epitel, retinopati pigmen.
Interaksi
1~ Dengan Obat Lain : Efek klorpromazin dapat ditingkatkan oleh delavirdin, fluoksetin, mikonazol, paroksetin, pergolid, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirol dan inhibitor CYP2D6 lainnya.
2~ Klorpromazin memperkuat efek penekan terhadap SSP dari analgesik narkotik, etanol, barbiturat, antidepresan siklik, antihistamin, hipnotik-sedatif.
3~ Klorpromazin dapat meningkatkan efek amfetamin, betabloker tertentu, dekstrometorfan, fluoksetin, lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir, antidepresan trisiklik dan substrat CYP2D6 lainnya.
4~ Klorpromazin dapat meningkatkan efek /toksiksitas antikolinergik, antihipertensi,litium, trazodon, asam valproat. Penggunaan bersama antidepresan trisklik dapt mengubah respons dan meningkatkan toksisitas.
5~ Kombinasi dengan epinefrin akan dapat menimbulkan hipotensi. Kombinasi dengan antiaritmia, cisaprid, pimosid, sparfloksacin dan obat-obat yang memperpanjang interval QT akan dapat meningkatkan resiko aritmia.
6~ Kombinasi dengan metoklopramid akan dapt meningkatkan resiko gejala ekstrapiramidal. Klorpromasin mungkin menurunkan efek substrat prodrug CYP2D6 seperti kodein, hirokodon, oksikodon dan tramadol.
7~ Klorpromasin mungkin dapat menghambat efek antiparkinson levodopa dan mungkin dapat menghambat efek pressor epinefrin.
8~ Dengan Makanan : Etanol, valerian, St John's wort, kava-kava, gotu kola dapat meningkatkan efek depresi SSP.
Mekanisme kerja
Memblok reseptor dopaminergik di postsinaptik mesolimbik otak. Memblok kuat efek alfa adrenergik. Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dandan emesis.
Bentuk sediaan
Tablet 25 mg, 100 mg, Injeksi 25mg/ml, 2ml
Parameter Monitoring
Gambaran vital : profil lipid, glukosa darah puasa/Hgb A1c, indeks berat badan, status mental, skala normal gerakan yang tidak disadari, gejala ekstrapiramidal.

Flufenazin
Flufenazin (modecote, moditen/) adalah turunan –CH2OH dan trifluoperazin (1959) dengan sifat hampir sama. Daya antimual dan sedatifnya ringan.
Nama dagang : Permitil, Prolixin, Apo-Fluphenazine, Moditen HCl, PMS-Fluphenazine
Dosis
Anak : Oral : 0,04 mg/kg/hari.
Dewasa : psikosis : Oral : 0,5-10 mg/hari dibagi dalam beberapa dosis dengan interval 6-8 jam, beberapa pasien mungkin membutuhkan peningkatan dosis sampai 40 mg/hari.; i.m.: 2,5-10 mg/hari dibagi dalam beberapa dosis dengan interval 6-8 jam. (dosis parenteral 1/3-1/2 dosis oral); im. Dekanoat : 12,5 mg setiap 2 minggu. 12,5 mg dekanoat setiap 3 minggu = 10 mg HCl/hari.
Indikasi : Mengendalikan gangguan psikotik dan shcizofrenia.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap flufenazin atau komponen formulasi lainnya. Mungkin terjadi reaktivitas silang antara fenotiazin. Depresi SSP berat, koma, kerusakan otak subkortikal, diskrasia darah, penyakit hati.
Efek samping
Kardiovaskular : takikardia, tekanan darah berfluktuasi, hiper/hipotensi, aritmia, udem.
SSP : parkinsonisme, akathisia, distonia, diskinesia tardif, pusing, hiper refleksia, sakit kepala, udem serebral, mengantuk, lelah, gelisah, mimpi aneh, perubahan EEG, depresi, kejang, perubahan pengaturan pusat temperatur tubuh.
Kulit : dermatitis, eksim, eritema, fotosensitifitas, rash, seborea, pigmentasi, urtikaria.
Metabolik & endokrin : perubahan siklus menstruasi, nyeri payudara, amenorea, galaktoria, ginekomastia, perubahan libido, peningkatan prolaktin.
Saluran cerna : berat badan bertambah, kehilangan selera makan, salivasi, xerostomia, konstipasi, ileus paralitik, udem laring.
Genitourinari : gangguan ejakulasi, impotensi, poliuria, paralisis kandung urin, enurisis,
Darah : agranulositosis, leukopenia, trombositopenia, nontrombositopenik purpura, eosinofilia, pansitopenia.
Hati : cholestatic jaundice, hepatotoksik.
Otot-saraf : tangan gemetar, sindroma lupus eritamatosus, spasme muka sebelah.
Mata : retinopati pigmen, perubahan kornea dan lensa, penglihatan kabur, glaukoma,
Pernafasan : kongesti hidung, asma.
Interaksi
Dengan Obat Lain : InhibiCYP2D6 : chlorpromazin, delavirdin, fluoksetin, mikonazol, paroksetin, pergolid, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirol meningkatkan efek flufenasin. Flufenasin memperkuat efek penekanan terhadap SSP dari analgesik narkotik, etanol, barbiturat, antidepresan siklik, antihistamin, hipnotik-sedatif. Flufenasin dapat meningkatkan efek/toksisitas antikolinergik, antihipertensif, litium, trazodon, asam valproat. Penggunaan bersama antidepresan trisklik dapat mengubah respons dan meningkatkan toksisitas. Kombinasi flufenasin dengan epinefrin akan dapat menimbulkan hipotensi. Kombinasi dengan antiaritmia, cisaprid, pimosid, sparfloksacin dan obat-obat yang memperpanjang interval QT, akan dapat meningkatkan resiko aritmia. Kombinasi dengan metoklopramid akan dapat meningkatkan resiko gejala ekstrapiramidal.
Fenotiasin akan menghambat aktivitas guanetidin, levodopa dan brokriptin. Barbiturat, merokok akan dapat meningkatkan metabolisme flufenasin di hati. flufenasin dan antipsikotik potensi rendah lainnya dapat menghambat efek presor epinefrin.
Dengan Makanan : Kombinasi dengan dong quai dan St John's wort (Hypericum perforatum) akan meningkatkan efek penekanan terhadap SSP dan dapat menimbulkan fotosensitivitas, Kombinasi dengan kava-kava (Piper methysticum), gotu kola (Centella asiatica) valerian akan meningkatkan efek penekanan terhadap SSP.
Mekanisme kerja
Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak. Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dan emesis.
Bentuk sediaan
Injeksi Sebagai Dekanoat, 25 mg/ml, Tablet Sebagai HCl, 1 mg, 2,5 mg, 5 mg, 10 mg
Parameter monitoring
Gambaran vital : profil lipid, glukosa darah puasa/Hgb A1c, indeks berat badan, status mental, skala normal gerakan yang tidak disadari, gejala ekstrapiramidal.

Perphenazine
Derivat-fenotiazin dengan rantai-sisi pipe­razin ini (1957) berdaya antipsikotis kuat dengan daya anti-adrenergis dan antisero­tonin relatif lemah. Kerja antikolinergisnya ringan sekali. Obat ini juga berkhasiat anti­emetis kuat. GEP sering timbul.
Reasorbsinya di usus baik, BA-nya hanya ca 35% karena FPE tinggi. PP-nya di atas 90%, t1/2-nya ca 9 jam. Dalarn hati, zat ini dirom­bak menjadi metabolit yang kurang aktif. Perfenazin mengalami siklus enterohepatis.
Dosis: oral 2-3 dd 2-4 mg, maks 24 mg sehari, im. 100 mg (dekanoat/ enanthat, preparat depot) setiap 2-4 minggu.
Trifluoperazin (Stelazin, Terfluzin) adalah derivat yang atom-Cl digantikan -CF3 de­ngan efek yang lebih kurang sama dengan perfenazin.
Dosis: oral permulaan 5 mg sehari, dan dinaikkan setiap 2-3 hari dengan 5 mg sam­pai maksimum 90 mg. Sebagai obat anti­mual dan tranquillizer 2 dd 1-3 mg.
Flufenazin (Modecate, Moditen) adalah turunan-CH20H dari trifluoperazin dengan sifat hampir sarna. Daya antimual dan sedatifnya ringan. Flufenazin terutama digunakan sebagai injeksi kerja-panjang guna menjamin pengobatan. Plasma t1/2-nya dari senyawa -HCl, -enantat dan -dekanoat­nya masing-masing rata-rata 8 jam, 3,6 hari, dan 8 hari. GEP sering terjadi, efek anti-ko­linergis dan sedasifnya ringan. Esternya dapat mengakibatkan depresi serius.
Dosis: pada psikose akut i.m. 1,25 mg (HCl), lalu setiap 4-8 jarn 2-5 mg sampai gejala terkendali, pemeliharaan 25 mg enan­tat setiap 2 minggu, atau 25 mg dekanoat setiap 3-4 minggu.

Pimozide
Derivat-difenilbutilpiperidin ini diturunkan dari droperidol (1969) dan memiliki khasiat antipsikotis kuat dan panjang. Efek terapi baru nyata sesudah beberapa waktu, tetapi bertahan agak lama (1-2 hari). Obat ini tidak layak diberikan pada keadaan eksitasi dan kegelisahan akut, yang memerlukan sedasi langsung. Lagi pula efek sedasinya lebih ringan dibandingkan obat-obat lain. Pimo­zida khusus digunakan pada psikose kronis jangka-panjang.
Resorpsinya di usus lambat dan variabel. Plasma t1/2-nya panjang: 55-150 jam; pada pasien schizofrenia rata-rata 55-150 jam. Sifat­nya sangat lipofil dan hanya sedikit dirom­bak dalam hati. Ekskresinya sangat lambat, karena selalu diresorpsi kembali oleh tubuli. Akhirnya ca 40% dikeluarkan lewat kemih terutama berupa metabolit dan 15% dengan tinja secara utuh.
Efek sampingnya berupa umum, GEP se­ring terjadi, adakalanya nampak perubahan jantung (ECG) dan aritmia.
Dosis: oral 1 dd 1-2 mg, dinaikkan secara berangsur-angsur setiap 2 minggu sampai maksimum 6 mg sehari.
Penfluridol (Semap) adalah derivat ­piperidin pula (1971) dengan kerja sangat panjang (ca 7 hari) dan terutama berkhasiat antidopaminerg kuat. Efeknya dimulai relatif cepat, sesudah 1-2 hari. GEP sering terjadi .
Dosis: 1 x seminggu 10-20 mg, berangsur-angsur dinaikkan sampai maksi­mum 60 mg seminggu.
Fluspirilen (lmap) adalah derivat-pipe­ridin long-acting pula, yang harus diberikan parenteral i.m. 1 x seminggu 1-10 mg.

Thioridazine
Salah satu fenothiazin pertama ini dengan rantai-sisi piperidin (1958) memiliki khasiat antipsikotis dan sedatif yang baik, sehingga sering digunakan pada pasien2 yang sukar Iidur. Obat ini digunakan pula pada neurose hebat dengan depresi, rasa takut, dan kete­gangan, serta depresi dengan kegelisahan. Kerja anti-adrenergisnya lebih kuat, juga efek antihistamin, antikolinergis, dan anti­serotoninnya. Resorpsinya di usus baik dan lengkap, tetapi BA-nya hanya 65% akibat FPE besar. PP-nya di atas 95%, t1/2-nya 10-24 jam. Ekskresinya berupa metabolit lewat tinja (50%) dan kemih (30%).
Efek samping yang terpenting adalah ge­jala antikolinergis kuat dan hipotensi orto­statis, GEP dan hepatitis yang jarang terjadi.
Dosis: oral 2-4 dd 25-75 mg (garam-HCD maksimum 800 mg sehari, sebagai tranquil­lizer 2-3 dd 15-30 mg. Periciazin (Neuleptil) adalah derivat­piperidin pula dengan efek antipsikotis agak ringan dan efek anti-adrenergis dan antiserotonin kuat.
Dosis: oral 2-3 dd 10-20 mg (garam-tar­trat), maksimum 90 mg/hari, pada manula dimulai dengan 5 mg/hari, yang berangsur­-angsur dinaikkan sampai 20-30 mg/hari.

Haloperidol
Haloperidol, merupakan obat yang efektif untuk penanganan berbagai gangguan psikotik seperti hiperaktivitas, agitation, dan mania. Haloperidole efektig untuk mengobati gejala positif pada skizofrenia walaupun kurang efektif untuk gejala negative skizofrenia. Haloperidol juga dapat digunakan untuk pengobatan gangguan neurologis seperti Gilles de la Tourette syndrome, Huntington’s chorea and acute/chronic brain syndrome
Nama dagang : – Lodomer – Serenace – Haldol
Dosis :
Anak-anak : (3-12 tahun) Oral : Awal : 0,05 mg/kg/hari atau 0,25-0,5 mg/hari dibagi dalam 2-3 dosis; peningkatan 0,25-0,5 mg setiap 5-7 hari maksimum 0,15 mg/kg/hari.
Dosis lazim pemeliharaan :
1~ Agitasi/hiperkinesia : 0,01-0,003 mg/kg/hari, sehari satu kali.; Gangguan nonpsikosis : 0,05-0,075 mg/kg/hari dibagi dalam 2-3 dosis;
2~ Gangguan psikosis : 0,05-15 mg/kg/hari dibagi dalam 2-3 dosis.
3~ Anak-anak 6-12 tahun: Gangguan psikosis/sedasi : i.im. sebagai laktat: 1-3 mg/dosis setiap 4-8 jam ditingkatkan sampai maksimum 0,15 mg/kg/hari; ubah ke terapi oral sesegera mungkin.
Dewasa : Psikosis : Oral : 0,5-5 mg, sehari 2-3 kali, maksimum lazimnya 30 mg/hari. I.m. sebagai laktat : 2-5 mg setiap 4-8 jam sesuai kebutuhan; Sebagai dekanoat : awal 10-20 x dosis harian oral, diberikan dengan interval 4 minggu.
Dosis pemeliharaan : 10-15 kali dosis awal oral, digunakan untuk menstabilkan gejala psikiatri.
Delirium di unit perawatan intensif: IV= 2-10 mg; dapat diulang secara bolus setiap 20-30 menit sampai dicapai kondisi tenang, kemudian berikan 25% dosis maksimum setiap 6 jam, monitor EKG dan interval QT. IV intermiten = 0,03-0,15 mg/kg setiap 30 menit sampai 6 jam. Oral = Agitasi : 5-10 mg; infus iv. 100mg/100 ml D5W (dextrosa 5%), kecepatan 3-25 mg/jam. Agitasi berat = setiap 30-60 menit 5-10 mg oral atau 5 mg im., dosis pemeliharaan total 10-20 mg.
Orang tua : Awal 0,25-0,5 mg oral sehari 1-2 kali, tingkatkan dosis 0,25-0,5 mg/hari setiap interval 4-7 hari, Naikkan interval pemberian sehari 2 kali, sehari 3 kali dan seterusnya bila diperlukan untuk mengontrol efek samping.
Indikasi
Penanganan shcizofrenia, sindroma Tourette pada anak dan dewasa, masalah perilaku yang berat pada anak.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap haloperidol atau komponen lain formulasi, penyakit Parkinson, depresi berat SSP, supresi sumsum tulang, penyakit jantung atau hati berat, koma.
Efek samping
Kardiovaskular : takikardia, hiper/hipotensi, aritmia, gelombang T abnormal dengan perpanjangan repolarisasi ventrikel, torsade de pointes (sekitar 4%).
SSP : gelisah, cemas, reaksi ekstrapiramidal, reaksi distonik, tanda pseudoparkinson, diskinesia tardif, sindroma neurolepsi malignan, perubahan pengaturan temperatur tubuh, akathisia, distonia tardif, insomnia, eforia, agitasi, pusing, depresi, lelah,sakit kepala, mengantuk, bingung, vertigo, kejang.
Kulit : kontak dermatitis, fotosensitifitas, rash, hiperpigmentasi, alopesia
Metabolik & endokrin : amenore, gangguan seksual, nyeri payudara, ginekomastia, laktasi, pembesaran payudara, gangguan keteraturan menstruasi, hiperglisemia, hipoglisemia, hiponatremia;
Saluran cerna : berat : mual muntah, anoreksia, konstipasi, diare, hipersalivasi, dispepsia, xerostomia.
Saluran genito-urinari : retensi urin, priapisme;
Hematologi : cholestatic jaundice, obstructive jaundice;
Mata : penglihatan kabur,
Pernafasan : spasme laring dan bronkus;
Lain-lain : diaforesis dan heat stroke.
Interaksi
Dengan Obat Lain : Efek haloperidol meningkat oleh klorokuin, propranolol, sulfadoksin-piridoksin, anti jamur azol, chlorpromazin, siprofloksacin, klaritromisin, delavirdin, diklofenak, doksisiklin, aritromisin, fluoksetin, imatinib, isoniasid, mikonazol, nefazodon, paroksetin, pergolid, propofol, protease inhibitor, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirole, telitromisin, verapamil, dan inhibitor CYP2D6 atau 3A4. Haloperidol dapat meningkakan efek amfetamin, betabloker tertentu, benzodiazepin tertentu, kalsium antagonis, cisaprid, siklosporin, dekstrometorfan, alkaloid ergot, fluoksetin, inhibitor HMG0CoA reductase tertentu, lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir, sildenafil , takrolimus, antidepresan trisiklik, venlafaksin, dan sunstrat CYP2D6 atau 3A4. Haloperidol dapat meningkatkan efek antihipertensi, SSP depresan, litium, trazodon dan antidepresan trisiklik. Kombinasi haloperidol dengan indometasin dapat menyebabkan mengantuk, lelah dan bingung sedangkan dengan metoklopramid dapat meningkatkan resiko ekstrapiramidal. Haloperidol dapat menghambat kemampuan bromokriptin menurunkan konsentrasi prolaktin. Benztropin dan antikholinergik lainnya dapat menghambat respons terapi haloperidol dan menimbulkan efek antikholinergik.
Barbiturat, karbamazepin, merokok, dapat meningkatkan metabolisme haloperidol.
Haloperidol dapat menurunkan efek levodopa, hindari kombinasi. Efek haloperidol dapat menurun oleh aminoglutetimid, karbamazepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin, rifamisin dan induser CYP3A4 lainnya. Efek haloperidol dapat menurun oleh aminoglutetimid, karbamazepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin, rifamisin dan induser CYP3A4 lainnya.
Dengan Makanan : Etanol meningkatkan depresi SSP, Valerian St John's wort, kava-kava, gotu kola dapat meningkatkan depresi SSP.
Mekanisme kerja
Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak. Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dan emesis.
Bentuk sediaan
Injeksi Sebagai Dekanoat, 50 mg/ml, 1 ml; Larutan Injeksi Sebagai Laktat, Tablet 1,5 mg, 2 mg, 5 mg.
Parameter monitoring
Gambaran vital : profil lipid, glukosa darah puasa/Hgb A1c, indeks berat badan, status mental, skala normal gerakan yang tidak disengaja, gejala ekstrapiramidal.

Antipsikotik Atipikal
Adapun contohnya antara lain : Clozapine, Olanzapine, Risperidone, Quetiapine, Ziprasidone, Amisulpride, Asenapine, Paliperidone, Llioperidone, Zotepine, Sertindole. 

Klozapin
Merupakan salah satu golongan obat ini yang menunjukkan efek antipsikosi lemah. Profil farmakologiknya atipikal bila dibandingkan antipsikosis yang lain. Terutama resiko timblnya efek samping ekstrapiramidal obat ini sangat minimal, dan kadar prolaktin serum pada manusia tidak ditingkatkan. Diskinesia Tardif belum pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang diberi obat ini, walaupun beberapa pasien telah diobati hingga 10 tahun. Dibandingkan terhadap psikotropik yang lain, klozapin menunjukkan efek dopaminergik lemah, tetapi dapat mempengaruhi fungsi saraf dopamine pada system mesolimbik-mesokortikal otak; yang berhubungan dengan fungsi emosional dan mental yang lebih tinggi, yang berbeda dari dopamine neuron di daera nigrostriatal (daerah gerak) dan tuberinfundibular (daerah neuroendokrin). Klozapin efektif untuk mengontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif (iritabilitas) maupun yang negative (social disinterest dan incompetence, personal neatness). Efek yang bermanfaat terlihat dalam waktu 2 minggu, diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu berikutnya. Obat ini berguna untuk pengobatan pasien yang refrakter dan terganggu berat selama pengobatan. Selain itu, karena risiko efek samping ekstrapiramidal yangs sangat rendah, obat ini cocok untuk pasien yang menunjukkan gejala ekstrapiramidal yang berat bila diberikan antipsikosis yang lain, maka penggunaannya hanya dibatasi pada pasien yang resisten atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis yang lain. Pasien yang diberi klozapin perlu dipantau jumlah sel darah putihnya setiap minggu.
 Efek Samping Dan Intoksikasi. Agranulositosis merupakan efek samping utama yang yang ditimbulkan pada pengobatan dengan klozapin. Pada pasien yang mendapata klozapin selama 4 minggu atau lebih, resiko terjadinya kira-kira 1,2%. Gejala ini paling sering timbul 6-18 minggu setelah pemberian obat. Pengobatan dengan obat ini tidak boleh lebih dari 6 minggu kecuali bila terlihat adanya perbaikan. Efek samping lain yang dapat terjadi antara lain hipertermia, takikardia, sedasi, pusing kepala, hipersalivasi. Gejala takar lajak meliputi antara lain: kantuk, letargi, koma, disorientasi, delirium, takikardia, depresi napas, aritmia, kejang dan hipertemia.
Farmakokinetik. Klozapin diabsorbsi secara cepat dan sempurna pada pemberian per oral; kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira 1,6 jam setelah pemberian obat. Klozapin secara ekstensif diikat protein plasma (>95%), obat ini dimetabolisme hampir sempurna sebelum diekskresi lewat urin dan tinja, dengan waktu paruh rata-rata 11,8 jam.

Olanzapine (Zyprexa)
Digunakan untuk mengobati gangguan psikotik termasuk skizofrenia, akut manic episode, dan pemeliharaan dari gangguan bipolar. Dosis 2,5-20 mg per hari.

Risperidone (Risperdal)
Indikasi
Terapi shcizofrenia, mania akut, mania yang berkaitan dengan gangguan bipolar I
Dosis:
Anak dan remaja : Autis : awal 0,25 mg pada waktu tidur titrasi sampai 1 mg/hari (0,1 mg/kg/hari). Sizofrenia : awal : 0, 5 mg sehari 1-2 kali, bila dibutuhkan dinaikkan bertahap sampai 2-6 mg/hari. Gangguan mania bipolar: awal: 0,5 mg, naikkan sampai 0,5-3 mg/hari; Autism : awal o,25 mg pada saat tidur, naikkan sampai 1 mg/hari.
Dewasa : Shcizofrenia : dosis awal ; 0,5- 1 mg sehari 2 kali, naikkan perlahan sampai kisaran optimal 3-6 mg/hari. Mania bipolar : awal : 2-3 mg, dosis tunggal, bila perlu sesuaikan dengan dosis 1 mg/hari, kisaran dosis : 1-6 mg/hari.
Orang tua : awal : 0,25-1 mg dibagi dalam 2 dosis. Penyesuaian dosis pada gagal ginjal dan hati : oral : awal 0,25-0,5 mg sehari 2 kali. 
Farmakologi
Berikatan dengan reseptor serotonin 5HT2 dan Dopamin D2 di otak dan perifer. Ikatan dengan reseptor dopamin 20 kali lebih rendah dibandingkan ikatan dengan reseptor 5-HT2. Penambahan aktivitas antagonis reseptor serotonin pada aktivitas antagonis reseptor dopamin (mekanisme klasik neuroleptik) dipercaya memperbaiki gejala negatif psikosis dan menurunkan insidens efek samping ekstrapiramidal. Reseptor alfa 1, alfa2 adrenergik, reseptor histamin juga diantagonis dengan afinitas kuat. Risperidon mempunyai afinitas rendah atau sedang terhadap reseptor 5-HT1c, 5-HT1d dan5-HT1a, sedangkan terhadap reseptor D1 afinitasnya rendah dan tidak mempunyai afinitas terhadap reseptor muskarinik, beta1 dan beta2. Absorpsi oral cepat dan baik, makanan tidak berpengaruh; injeksi absorbsi awal <1%, penglepasan utama terjadi sekitar 3 minggu dan dipertahankan 4-6 minggu. Vd 1-2 l/kg, ikatan protein risperidon 90%, 9-hidroksirisperidon 77%. Metabolisme lewat hati secara ekstensif. Bioavailabilitas larutan 70%,  tablet 66% . Waktu paruh eliminasi oral 20 jam. Orang dengan metabolisme ekstensif : T½  risperidon 3 jam,  9-hidroksirisperidon 21 jam. Orang dengan metabolisme buruk ; T½ riperidon 20 jam, 9 hidroksi risperidon 30 jam. T½ injeksi 3-6 hari. T maks oral dalam 1 jam,  9-hidroksirisperidon : ekstensif metaboliser 3 jam, metaboliser yang jelek 17 jam. Ekskresi lewat urin 70%, lewat feses 15%.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap risperidon atau komponen-komponen lain sediaan.
Efek samping
Frekuensi>10% : SSP : insomnia, agitasi, cemas, sakit kepala, gejala ekstra piramidal, pusing(injeksi); Saluran cerna : berat badan naik; Pernapasan : rinitis(injeksi). Frekuensi 1-10% : KV : hipotensi, terutama ortostatik, takikardia, SSP : sedasi, pusing, gelisah, reaksi distoni, pseudoparkinson, diskinesia tardif, sindroma neurolepsi malignan, perubahan pengaturan suhu tubuh, nervous, lelah, somnolen, halusinasi. Dermatologi : fotosensitivitas, rash, kulit kering, seborea, akne. Endokrin-metabolisme : amenore, galaktorea, ginekomastia, disfungsi seks. Saluran cerna : konstipasi, xerostomia, dispepsia, muntah, nyeri abdominal, mual, anoreksia, diare, perubahan berat badan.
Interaksi obat
Efek risperidon dapat ditingkatkan oleh korpromazin, delavirdin, fluoksetin, mikonazol, paroksetin, pergolid, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirol dan inhibitor CYP2D6 lainnya. Risperidon meningkatkan efek hipotensif antihipertensi. Klozapin menurunkan bersihan risperidon. Kombinasi dengan metoklopramid akan dapat meningkatkan resiko gejala ekstrapiramidal. Efek levodopa dapat diantagonis oleh risperidon, Karbamasepin menurunkan konsentrasi serum risperidon.
Mekanisme aksi
Klozapin menurunkan bersihan risperidon. Kombinasi dengan metoklopramid akan dapat meningkatkan resiko gejala ekstrapiramidal. Efek levodopa dapat diantagonis oleh risperidon, Karbamasepin menurunkan konsentrasi serum risperidon.

Quetiapine (Seroquel)
Digunakan terutama untuk mengobati gangguan bipolar dan skizofrenia, dan “off-label” untuk mengobati kronis insomnia dan sindrom kaki resah, melainkan obat penenang yang kuat. Dosis dimulai pada 25 mg dan terus sampai maksimum 800 mg per hari, tergantung pada keparahan dari gejala (s) sedang dirawat.

Ziprasidone (Geodon)
Disetujui pada tahun 2006 untuk mengobati gangguan bipolar. Dosis 20 mg dua kali sehari pada awalnya sampai 80 mg dua kali sehari. Termasuk efek samping yang berkepanjangan Interval QT di jantung, yang dapat berbahaya bagi pasien dengan penyakit jantung atau mereka yang memakai obat lain yang memperpanjang interval QT.

Amisulpride (Solian)
Selektif dopamin antagonis. Dosis yang lebih tinggi (lebih dari 400 mg) bertindak atas post-sinaptik reseptor dopamin yang mengakibatkan pengurangan dalam gejala positif skizofrenia, seperti psikosis. Dosis yang lebih rendah, bagaimanapun, bertindak atas dopamin autoreceptors, mengakibatkan peningkatan dopamin transmisi, memperbaiki gejala negatif skizofrenia. Dosis rendah amisulpride juga telah terbukti mempunyai antidepresan dan anxiolytic efek non-pasien skizofrenia, menyebabkan dysthymia dan fobia sosial. Amisulpride belum disetujui untuk digunakan oleh Food and Drug Administration di Amerika Serikat.

Asenapine
Adalah 5-HT2A-dan D2-reseptor antagonis yang sedang dikembangkan untuk pengobatan skizofrenia dan mania akut berhubungan dengan gangguan bipolar. Derivatif dari risperidone yang disetujui pada tahun 2006.

Ilioperidone (Fanapt)
Ilioperidone (Fanapt) – Disetujui oleh FDA pada 6 Mei 2009.

Zotepine
Sebuah antipsikotik atipikal diindikasikan untuk skizofrenia akut dan kronis. Ini disetujui di Jepang sekitar tahun 1982 dan Jerman pada tahun 1990, masing-masing.

Sertindole
Dikembangkan oleh perusahaan farmasi Denmark H. Lundbeck .. Seperti antipsikotik atipikal yang lain, itu diyakini telah antagonis aktivitas pada reseptor dopamin dan serotonin di otak.

Cara Kerja
Kerja antipsikotika neuroleptika berupa penghambatan reseptor dopamine dan/atau serotonin. Banyak di antara obat-obat ini menghambat reseptor kolinergik, adrenergik dan histamin, dengan berbagai efek samping.
1~ Kerja antipsikotik: Obat-obat neuroleptika mengurangi ha­lusinasi dan agitasi dari skizofren dengan cara menghambat reseptor dopamin sistem mesolimbik otak. Obat-obat ini juga mempunyai efek menenangkan dan mengurangi gerakan fisik spontan. Berbeda dengan obat-obat depresan SSP, seperti barbiturat, neuroleptika tidak menekan fungsi intelektual pasien dan koordinasi motorik terganggu minimal. Efek antipsikotik biasanya terlihat setelah beberapa minggu, menunjukkan bahwa efek terapi berhubungan dengan perubahan sekunder dalam jalur kortikostriata.
2~ Efek ekstrapiramidal: Gejala Parkinson, akatisia (kegelisa­an motorik) dan diskinesia tardif (postur Ieher, badan atau ekstremitas yang tidak benar) terjadi pada pengobatan kronis. Gejala-gejala parkinson yang tidak diinginkan ini barangkali disebabkan penghambatan reseptor dopamin dalam jalur grostriata. Insidens ini rendah dengan klozapin dan risperidor.
3~ Efek antiemetik: Kecuali dengan tioridazin, umumnya obat neuroleptika mempunyai efek antiemetik melalui penghambatan reseptordopminergik D2 di daerah picu kemoresep medula Gambar 13. ­menyimpulkan penggunaan antiemetik obat neuroleptika bersama dengan penggunaan obat lain untuk mual.
4~ Efek antimuskarinik: Semua neuroleptika terutama tioridazin dan klorpromazin menyebabkan efek antikolinergik, termasuk penglihatan kabur, mulut kering, sedasi, bingung dan penghambatan gerakan otot polos pencernaan dan kandung kemih sehingga terjadi konstipasi dan retensi urin.
5~ Efek lain: Penghambat reseptor a-adrenergik menyebabkan hipotensi statik dan pusing. Neuroleptika juga mengubah mekanisme pengatur suhu dan dapat menghasilkan poikilothermia (suhu tubuh berubah sesuai lingkungan). Dalam hipofisis neuroleptika menghambat reseptor D2, sehingga pelepasan prolaktin meningkat.

Obat-obat tambahan
Bila penggunaan antipsikotika kurang menghasilkan efek yang diinginkan, ada­kalanya ditambahkan adjuvansia, misalnya suatu benzodiazepin, garam litium , anti­depresiva, atau karbamazepin.
1~ Benzodiazepin dengan kerja agak pan­jang, seperti diazepam, dapat untuk semen­tara ditambahkan pada antipsikotika de­ngan efek sedatif ringan guna menanggu­langi rasa takut dan gelisah. Penggunaannya tidak boleh dihentikan dengan mendadak melainkan harus secara berangsur untuk menghindarkan psikose dan konvulsi reak­tif (rebound).
2~ Litium berguna sebagai tambahan bila terdapat komponen afektif (mania). Efeknya yang baik berupa berkurangnya gejala psikose, kegelisahan, dan perbaikan kontak sosial, dapat tercapai setelah 2-4 minggu. Dosis antipsikotikum biasanya dapat diku­rangi.
3~ Antidepresiva trisiklis, misalnya amitriptilin, adakalanya dapat ditam­bahkan pada depresi yang timbul sesudah psikose. Berhubung kombinasi saling mem­perkuat daya kerja dan toksisitas kedua obat, harus diwaspadai meningkatnya efe antikolinergis, seperti ileus paralytis dan delirium.
4~ Karbamazepin adakalanya berguna sebagai adjuvans bila terdapat kegelisahan dan gangguan kelakuan hebat. Obat epilep­si ini menurunkan kadar darah antipsiko­tika.

Pemilihan Sediaan
Berbeda dengan antibiotic, obat golongan ini merupakan obat simtomatik.  Disini pemilihan obat ditujukan untuk sejauh mungkin menghilangkan gejala penyakit dalam rangka pemulihan kesehatan mental penderita, obat dengan efek samping seringan mungkin, dan bebas interaksi merugikan dengan obat lain yang mungkin diperlukan. Pemilihan sediaan obat antipsikosis dapat didasarkan atas strukur kimia serta efek farmakologik yang menyertainya. Berhubung perbedaan antargolongan antipsikosis lebih nyata daripa perbedaan masing-masing obat dalam golongannya, maka cukup dipilih salah satu obat dari tiap golongan untuk tujuan tertentu. Menonjolnya salah satu gejala umumnya bukan merupakan patokan dalam pemilihan obat. Tidak perlu mengenal semua obat psikotik untuk pengobatan jangka panjang, tetapi 1 atau 2 obat dari tiap kelompok perlu dikenal secara baik efeknya maupun efek sampingnya. Pedoman terbaik dalam memilih obat secara individual ialah riwayat respons pasien terhadap obat. Kecendurungan pengobatan saat ini ialah meninggalkan obat antipsikosis berpotensi rendah, misalnya klorpromazin, dan tioridazin, kearah penggunaan obat berpotensi tinggi, misalnya tiotiksen, haloperidol dan flufenazin. Pada saat ini penggunaan klozapin dibatasi hanya diindikasikan pada pasien yang gagal diobati dosis tinggi antipsikosis konvensional dan yang mengalami diskinesia Tardif berat; sehubungan dengan efek agranulositosis dan kejang yang disebabkannya.
Sebagai pedoman pemilihan antipsikosis dapat disebutkan hal-hal sebagai berikut:
1~ Bila resiko tidak diketahui atau tidak ada komplikasi yang diketahui sebelumnya maka pilihan jatuh pada fenotiazin berpotensi tinggi ;
2~ Bila kepatuhan penderita (compliance) dalam menggunakan obat tidak terjamin, maka pilihan jatuh pada flufenazin oral dan kemudian tiap dua minggu diberikan suntikan flufenazin enantan dan ekanoat;
3~ Bila penderita mempunyai riwayat penyakit kardiovaskular atau stroke sehingga hipotensi merupakan hal yang membahayakan maka pilihan jatuh pada fenotiazin piperazin atau haloperidol;
4~ Bila karena alasan usia atau factor penyakit, terdapat resiko efek samping gejala ekstrapiramidal yang nyata, maka pilihan jatuh pada tioridazin;
5~  Tioridazin tidak boleh digunakan apabila terdapat gangguan ejakulasi;
6~ Bila efek sedasi berat perlu dihindari, maka pilihan jatuh pada haloperidol atau fenotiazin piperazin;
7~ Bila penderita mempunyai kelainan hepar atau cenderung menderita ikterus, haloperidol merupakan obat yang paling aman pada stadium awal pengobatan.
Pemilihan jenis obat anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekuivalen.misalnya contoh sebagai berikut: CPZ dan Thioridazine  yang efek sedative  kuat, terutama digunakan terhadap sindrom psikosis dengan gejala dominan: gaduh gelisah, hiperaktif, susah tidur, kekacauan pikiran, perasaan, perliaku, dan lain sebagainya. Sedangkan Trifluoroperazine, Fluphenzine dan Haloperidol yang efek samping sedatif lemah digunakan terhadap Sindrom psikosis dengan gejala dominan : apatis, menarik diri, persaan tumpul, kehilangan minat, dan inisiatif, hipoaktif, waham halusinasi dan lain-lain. Tetapi obat yang terakhir ini paling mudah menyebabkan gejala ekstrapiramidal, pada pasien yang rentan terhadap efek samping tersebut,  perlu digantikan dengan Thioridazine (dosis ekuivalen) di mana efek samping ekstrapiramidalnya sangat ringan. Untuk Pasien yang sampai timbul “Tardive Dyskinesia” obat antipsikotik yang tanpa efek samping ekstrapiramidalnya adalah Clozapine

Daftar Pustaka

Mutschler Ernst. 1991. Dinamika Obat. Bagian Farmakologi dan Toksikologi. Penerbit ITB. Bandung.

Mycek, Mary J. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Widya Medika. Jakarta.

Tjay Tan Hoan. 2002. Obat-Obat Penting. PT. Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia. Jakarta.

Ganiswara Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Toksikologi. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta.

Katzung G. Bertram. 2002. Farmakologi dasar dan Klinik Edisi 2. Penerbit Saalemba Medika. Jakarta.

Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…