Senin, 27 Oktober 2014

Pikosomatis


 
Tentang seorang gadis yang kebetulan tinggal dalam satu gedung dengan saya tetapi berada pada kamar yang berbeda. Kamar kami kebetulan berada pada lantai 2 gedung tersebut. Gadis itu adalah seorang mahasiswi disalah satu universitas swasta yang ada dimedan. Cukup unik mengenai kisah gadis ini. Awalnya dia sangat sering mengunci diri dikamar, apalagi ada banyak kamar yang masih kosong dilantai 2 tersebut. Masih pertemuan awal dan kami sempat mengobrol dikamar saya. Cukup singkat dan cukup mudah terpancing sampai akhirnya dia menceritakan tentang pengalaman dia dikeluarga dan cukup dipahami cara dia mengekspresikan ketidaktertarikannya tentang keluarganya. Dia merasa sakit hati dengan cara kedua orangtuanya yang tidak bisa memberikan dia kebebasan berpendapat dan sikap keras orangtuanya yang menuntut dia harus mematuhi semua perintah orantuanya termasuk dalam hal pendidikan. Sekarang dia berada pada fakultas farmasi, dan jurusan itu sangat membuat dia frustasi sampai dia sudah banyak tidak mengikuti beberapa perkuliahan dan ujian, bahkan dia masih banyak mengutang sks, dan itu terlihat dari IP-nya yang tidak pernah lebih dari 2. Selang waktu beberapa bulan kemudian, dia terlihat semakin dekat dengan beberapa pengungsi kamar yang mulai mengisi kamar yang kosong. Perlahan mulailah dia pada tahap sakit dan terus sakit. Perhatian beberapa penghuni kamar yang lain sering tertuju ke dia karna dia yang selalu mengeluh sakit dan sakit. dia mengeluh bahwa perutnya sering sakit, sering mual, merasa bahwa lambung sangat sakit, sering sesak didada, terkadang sering pingsan, keringatan yang begitu banyak dan bahkan tidak jarang terdengar suaranya muntah-muntah dikamar mandi. Lambat laun dia semakin sering dirawat dirumah sakit dan tindakan rutin itu sering terjadi. Terkhusus untuk beberapa penghuni kamar yang selalu rajin menjenguk dia bahkan selalu ada yang tinggal disana untuk menjaga dia. Orangtuanya yang kebetulan tinggal dibeda kota dengan dia pun menjadi sering datang untuk menjenguk dia. Terkadang dia sering mengeluh bahwa dia sering muntah darah, mimisan dan mengatakan bahwa keluar darah ketika dia BAB. Hanya saja, tidak ada kekhawatiran atau diagnosa penyakit apapun yang pasti dikatakan oleh dokter setelah melakukan pemeriksaan untuk seluruh tubuhnya. Selain itu, tidak satupun diantara orang terdekat dia yang sering menemani dia mengatakan bahwa ada keluar darah dari mulut ataupun hidungnya. Sampai pada tahap terakhir dia masuk rumah sakit ketika dokter mengatakan bahwa dia tidak menderita sakit apapun kepada orangtuanya. Bahkan dokter menganjurkan untuk membawa dia ke psokolog atau ke psikiater karna dugaan adanya gangguan pada kejiwaannya. Setelah itu, dia tidak pernah lagi masuk kerumah sakit karna orangtuanya juga sudah mengecam dia karna dianggap berbohong.

“Pendahuluan”
Psikosomatis berasal dari kata psycho (jiwa) dan soma (tubuh, jasad) yang merujuk kepada keterkaitan antara adanya ketidakberesan dalam keseimbangan jiwa dengan kemunculan gejala sakit yang dirasakan oleh tubuh. Sudah kita kenal istilah mens sana in corpore sano, bukan? Jiwa yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat. Ternyata juga berlaku sebaliknya, tubuh yang sehat dimiliki oleh jiwa yang juga sehat. Ini adalah masalah mind and body connection.
Psikosomatis merupakan salah satu gangguan kesehatan atau penyakit yang ditandai oleh bermacam-macam keluhan fisik. Berbagai keluhan tersebut acapkali berpindah-pindah. Sebagai contoh dalam waktu beberapa hari terjadi keluhan pada pencernaan, disusul gangguan pernafasan pada hari-hari berikutnya. Atau kadang keluhan tersebut menetap hanya pada satu sistem saja, misal hanya pada sistem pencernaan (gangguan lambung). Kondisi inilah yang seringkali menjadi sebab berpindah-pindahnya penderita dari satu dokter ke dokter yang lain ("doctor shopping"). Ada sebagian pasien yang kemudian jatuh pada perangkap medikalisasi, yakni upaya atau tindakan dengan berbagai teknik dan taktik, yang membuat mereka terkondisi dalam keadaan sakit dan memerlukan pemeriksaan maupun pengobatan. 
Padahal gangguan psikosomatis ini sebenarnya justru disebabkan dan berkaitan erat dengan masalah psikis/psikososial. Alhasil, dapat terjadi gangguan fisik pada seluruh sistem di tubuh manusia mulai dari sistem kardiovaskular, sistem pernafasan, sistem pencernaan, kulit, saluran urogenital (saluran kencing) dan sebagainya.

"Sekitar 90 persen penyakit disebabkan faktor psikogenik, bukan organik. Jadi bisa dikatakan, kondisi psikis mendominasi keadaan tubuh," kata pakar mind technology, Adi W Gunawan mengutip dari The American College of Family Physicians. Hal ini disampaikannya pada media workshop bertajuk, Menavigasi Pikiran dengan Hipnoterapi Klinis, di Jakarta, Rabu (13/11/13).

Sedikitnya ada 15 emosi penyebab  psikosomatis antara lain memori sakit, konflik diri, menghukum diri, masa lalu atau masa kini yang tidak terselesaikan, harga diri yang mengalami trauma, dan empat jenis emosi negatif.

Yang termasuk emosi negatif  di antaranya rasa malu, bersalah, marah, dan takut. Rasa marah meliputi jengkel, benci, dendam, frustasi, sakit hati, dan tersinggung. Rasa malu, menurut Adi, adalah emosi destruktif penyebab penyakit psikosomatis paling besar. Malu juga bisa menyulut tiga emosi lainnya.

 

Penyebab Psikosomatis”
Internal Conflict    : Konflik diri yang melibatkan minimal 2 Part atau Ego State. 

Organ Language  : Bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam mengungkapkan perasaannya. Misalnya, “Ia bagaikan duri dalam daging yang membuat tubuh saya sakit sekali.” Bila pernyataan ini sering diulang maka pikiran bawah sadar akan membuat bagian tubuh tertentu menjadi sakit sesuai dengan semantik yang digunakan oleh klien.

Motivation/ Secondary Gain: Keuntungan yang bisa didapat seseorang dengan sakit yang dideritanya, misalnya perhatian dari orangtua, suami, istri, atau lingkungannya, atau menghindar dari beban tanggung jawab tertentu. 

Past Experience : Pengalaman di masa lalu yang bersifat traumatik yang mengkibatkan munculnya emosi negatif yang intens dalam diri seseorang. 

Identification  : Penyakit muncul karena klien mengidentifikasi dengan seseorang atau figur otoritas yang ia kagumi atau hormati. Klien akan mengalami sakit seperti yang dialami oleh figur otoritas itu. 

Self Punishment : Pikiran bawah sadar membuat klien sakit karena klien punya perasaan bersalah akibat dari melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai hidup yang klien pegang. 

Imprint         : Program pikiran yang masuk ke pikiran bawah sadar saat seseorang mengalami emosi yang intens. Salah satu contohnya adalah orangtua menanam program ke pikiran bawah sadar anak dengan berkata, “Jangan sampai kehujanan, nanti bisa flu, pilek, dan demam.” 

Sedangkan Tebbets, pakar hipnoterapi terkemuka, mengatakan bahwa kebanyakan penyakit bersifat psikosomatik dan dipilih (untuk dimunculkan) pada level pikiran bawah sadar untuk lari dari suatu situasi yang dipersepsikan sebagai suatu tekanan mental yang berlebihan (overload) yang disebabkan oleh emosi destruktif seperti marah, benci, dendam, takut, dan perasaan bersalah. 

“Akibat Pikiran”
Gangguan psikosomatis adalah kondisi psikologis dan emosional yang menimbulkan gangguan fisik. Gangguan psikosomatis harus dibedakan dengan perasaan grogi atau demam panggung. Grogi hanya menyebabkan perasaan tidak nyaman sesaat, yaitu ketika kejadian yang membuat grogi berlangsung sesaat. Setelah turun dari panggung, perasaan itu hilang sendirinya.  Ciri khas gangguan psikosomatis adalah adanya keluhan fisik yang berulang dalam jangka waktu lama, meski secara diagnosis pasien dinyatakan baik-baik saja. Tak hanya lambung, seluruh organ tubuh bisa terkena imbasnya. 
Bahkan, pada kasus gangguan psikosomatis yang berat, pasien bisa mengalami kebutaan, masalah kelamin, atau masalah seksual seperti susah ereksi dan ejakulasi. "Ini yang disebut pseudoneurogical, tahap di mana beban pikiran memengaruhi saraf tubuh," katanya. 
Penyebab gangguan Psikosomatis adalah beban pikiran yang tidak bisa keluar atau disalurkan. Contohnya, karena si pasien tidak punya teman curhat sehingga menyimpan beban pikirannya sendiri. Gangguan Psikosomatis ini paling sering terjadi pada usia awal 30-an. Anak-anak terhindar dari penyakit ini, karena belum mempunyai beban pikiran. 
Bagaimana membedakan Psikosomatis dengan penyakit biasa? Ciri-ciri Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan fisik yang beragam, antara lain seperti : 
1.  Pegal-pegal
2.  Nyeri di bagian tubuh tertentu 
3.  Mual, muntah, kembung dan perut tidak enak
4.  Sendawa 
5.  Kulit gatal, kesemutan, mati rasa
6.  Sakit kepala 
7.  Nyeri bagian dada,punggung dan tulang belakang 
Keluhan itu biasanya sering terjadi dan terus berulang serta berganti-ganti atau berpindah-pindah tempat, dirasa sangat menganggu dan tidak wajar sehingga harus sering periksa ke dokter.


“Gejala Yang Tampak”
Manifestasi klinis psikosomatis yang banyak dijumpai di masyarakat berupa gejala sakit kepala, mudah pingsan, banyak berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pada lambung, diare, mudah gatal-gatal dan sebagainya dengan frekuensi yang berulang-ulang.
Dalam ilmu kedokteran jiwa (Psikiatri) kasus semacam ini seringkali ditemukan dengan ciri khas khusus. Yakni penderita merasa yakin bahwa gangguan-gangguan yang dialaminya merupakan rangkaian gejala penyakit tertentu. Penderita merasa kecewa karena meskipun telah melalui konsultasi dan mendapat pemeriksaan dokter ternyata secara medis/fisik tidak ditemukan suatu kelainan. Karena tidak puas, penderita cenderung mengambil inisiatif penyembuhan sendiri yaitu dengan sering berpindah-pindah dokter. Biasanya penderita penyakit psikosomatis menyangkal dan menolak untuk membahas serta mengutarakan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya ketika berhadapan dengan dokter. Meskipun sudah didapatkan gejala ansietas (kecemasan) dan depresi pada dirinya. 
Keadaan ini tentu sangat merugikan bagi penderita, karena selain terganggu dengan keluhan yang dideritanya, biaya berobat dan biaya pemeriksaan-pemeriksan penunjang lain yang biasanya termasuk dalam rangkaian pengobatan dapat melonjak sangat tinggi. Bahkan secara signifikan hasil penelitian dalam kurun waktu terakhir menunjukkan bahwa hampir 80 % pasien yang datang berobat adalah penderita kasus psikosomatis. Ironisnya, jumlah ini kian bertambah sejalan dengan membengkaknya biaya hidup di segala sektor. Tentunya kita akan berada dalam kondisi yang lebih baik apabila kasus psikosomatis ini dapat ditangani dengan lebih tepat. 
Dalam pengertian awam istilah stres sering disalahartikan sebagai suatu penyakit atau gejala yang berhubungan dengan masalah psikis/kejiwaan. Padahal, makna stres itu sendiri- jika ditinjau dari sudut ilmu kedokteran dan psikologi - adalah respon normal tubuh yang bersifat adaptif terhadap perubahan di lingkungan atau luar tubuh, sebagai stresor, yang menimbulkan perubahan atau mekanisme pertahanan tubuh. Respon tubuh terhadap stresor atau penyebab stres dapat berupa perubahan fisik atau emosi. 
Ditinjau dari ilmu Kedokteran dan Psikologi, gejala psikosomatis, menurut awam sering disebut stres, muncul ketika tubuh sudah tidak dapat lagi mengatasi stresor. Peristiwa ini sering juga disebut sebagai Kondisi Distress. Pada tahap inilah biasanya penderita psikosomatis datang ke dokter dengan gejala-gejala sebagaimana disebut di awal tulisan ini.

 

“Psikosomatis Pada Anak”
Agar dapat ditangani dengan baik, perlu diteliti dulu faktor penyebabnya. Psikosomatis pada anak dapat disebabkan oleh :
1.  Faktor intern
Anak bersifat pencemas, histerikan atau introvert.
2.  Faktor lingkungan
a.  Pola asuh orang tua yang perfeksionis atau suka member label jelek yang meruntuhkan harga diri anak.
b.  Lingkungan yang sangat mengganggu seperti :
-       Sulit memahami pelajaran di kelas
-       Takut pada guru yang galak
-       Takut gagal menghadapi ulangan
-       Tidak disukai / dimusuhi  teman-teman
-       Cemburu karena kelahiran adik baru

Penanganan pada anak
Kata kuncinya adalah kesabaran dan kasih sayang, yang dapat ditunjukkan orangtua berupa sikap-sikap berikut ini :
1.  Penerimaan akan pribadi anak tanpa syarat
2.  Berikan perhatian khusus secara emosional sehingga anak merasa tenang dan nyaman.
3.  Rubah tuntutan orangtua terhadap anak karena setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda (multiple intelligence)
4.  Melatih anak teknik relaksasi sederhana seperti mengambil dan menghembuskan nafas secara perlahan atau membayangkan tempat/ makanan yang menyenangkan hati.
Menurut penelitian yang dilakukan Dr Ryke Geerd Hamer, kanker termasuk penyakit psikosomatis. Sebagai contoh Dr Ryke dan istrinya menderita kanker setelah kehilangan anaknya. Dr Ryke terserang kanker testis dan istrinya kanker ovarium.

“Pencegahan Psikosomatis”
1.  Bergerak = Berolahraga minimal tiga kali dalam seminggu dapat meningkatkan imunitas tubuh, menjaga kesehatan jiwa Anda dan mencegah serangan panik.
2.  Berpikir positif = Ini dapat mengurangi rasa sakit bila Anda tengah menderita penyakit.  Pikiran negatif  justru menambah rasa sakit Anda menjadi dua kali lipat.
3.  Tidur = Kurang tidur hanya akan membuat Anda rentan terhadap stres. Pastikan Anda makan malam dua atau tiga jam sebelum Anda tidur malam, supaya makan dapat tercerna sempurna untuk mencegah penyakit pencernaan dan asam lambung. 
4.  Diet tepat = Beberapa penelitian justru menyebutkan bila Anda sering diet tanpa bantuan ahli justru membuat imunitas tubuh berkurang. Hal ini berisiko menimbulkan penyakit kejiwaan, seperti skizofrenia, depresi, cemas, dan serangan panik. 
5.  Asupan sehat = Nutrisi yang tepat dapat menjaga kesehatan mental Anda. Pastikan Anda mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin E dan B kompleks, seperti kacang-kacangan, ikan, sereal, buah dan sayur. 
6.  Rileks = Hiduplah lebih santai. Lakukan yoga untuk menghindari serangan depresi atau sekedar rutin mendengarkan musik untuk melatih jiwa Anda tetap tenang. Musik yang tepat dapat menuntun jiwa Anda lebih tenang. 
7.  Sharing = Manusia diciptakan untuk bersosialisasi, karena itu jangan memendam masalah. Usahakan Anda memiliki teman yang dapat Anda percaya atau bergabung dalam kelompok diskusi. Memendam masalah, sama saja seperti memendam sampah dalam tubuh Anda. Keluarkan!

 
“Cara Penanganan”
Perkembangan dalam terapi ilmu kedokteran dewasa ini sesuai dengan definisi WHO tahun 1994 tentang "konsep sehat" adalah sehat secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, maka terapi pun seyogyanya dilakukan secara holistik. Maksudnya, tidak hanya gejala fisik saja yang ditangani tetapi pemeriksaan pada faktor-faktor psikis yang biasanya sangat mendominasi penderita psikosomatis pun menjadi prioritas. Seorang dokter seyogyanya mampu menyakinkan dan menenangkan penderita penyakit psikosomatis ini sehingga mereka tidak terlalu memikirkan kondisi penyakitnya. Berempati dalam mendengarkan segala keluhan penderita yang berkaitan dengan masalah kehidupan yang dihadapinya sebagai salah satu cara terapi (ventilasi) juga menjadi salah satu tugas dokter dalam menangani penyakit ini. Dengan demikian penderita akan lebih merasa tenang.
Karena yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah emosi maka terapis harus mampu membantu klien memproses emosi terpendam yang menjadi sumber masalah. Tebbets mengatakan bahwa ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan menghilangkan simtomnya melalui teknik uncovering: 
1.  Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke level pikiran sadar sehingga diketahui. 
2.  Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien. 
3.  Menemukan hubungan antara simtom dan memori. 
4.  Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga memungkinkan seseorang membuat keputusan, di masa depan, yang mana keputusannya tidak lagi dipengaruhi oleh materi yang ditekan (repressed content) di pikiran bawah sadar. 
Mencari tahu apa yang menjadi sumber masalah dilakukan dengan hypnoanalysis mendalam. Ada banyak teknik hipnoterapi yang bisa digunakan untuk melakukan hypnoanalysis. Setelah itu, emosi yang berhubungan dengan memori dialami kembali, dikeluarkan, diproses, dan di-release. Dan yang paling penting adalah kita mengerti pesan yang selama ini berusaha disampaikan oleh pikiran bawah sadar dengan membuat klien mengalami penyakit psikosomatis. Baru setelah itu proses kesembuhan bisa terjadi. Pada saat alasan untuk terciptanya penyakit psikosomatis telah berhasil dihilangkan maka pikiran bawah sadar tidak lagi punya alasan untuk mempertahankan penyakit itu atau memunculkannya lagi di masa mendatang. Berikutnya adalah re-edukasi dan re-assurance. Ini dimaksudkan untuk meyakinkan dan menjamin penderita bahwa segala masalah yang dihadapi dapat diatasi. Biasanya pada tahap ini peran dokter/psikiater atau rohaniwan sangat membantu. 
Selanjutnya berupa anjuran untuk memperbaiki kondisi lingkungan dalam keluarga, sosial ekonomi, dan juga di lingkungan pekerjaannya. Sebab, tidak jarang penyebab masalah psikis adalah orang-orang terdekat di sekitar penderita. Karena itu, masyarakat wajib memahami sungguh-sungguh masalah psikosomatis ini. Lebih-lebih para praktisi medis. Mereka harus lebih proaktif dan bertindak profesional sehingga masyarakat/pasien tidak (di)-jatuh-(kan) pada pemaksaan terselubung alias medikalisasi. 
Karena jelas bahwa psikosomatik adalah masalah gangguan berdasarkan mind and body connection, maka penanganannya harus holistik (terpadu). Hipnoterapi diharapkan mampu menjembatani hubungan antara penyebab psikis di bawah sadar dengan manifestasi klinis pada tubuh. Apabila ada di antara Anda atau kerabat Anda yang memiliki masalah gangguan psikosomatis / psychosomatic dysorder, mengunjungi dokter yang memahami hipnoterapi adalah keputusan yang tepat.


Laman

 

DUNIA MERAH Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting