Senin, 27 Oktober 2014

Histrionik


 
Film A Streetcar Named Desire menceritakan kisah Blanche DuBois, seorang wanita, yang menarik muda genit tapi bermasalah, yang pindah ke New Orleans untuk tinggal bersama kakaknya, Stella dan suaminya, Stanley Kowalski setelah kematian suaminya. Blanche kurang dari jujur tentang dirinya sendiri. Dia mencoba untuk menggunakan pesonanya untuk memanipulasi orang dan menutupi masa lalunya, termasuk bunuh diri suaminya, hubungan sementara dengan laki-laki, alkoholisme nya, kehilangan rumah dan bahwa dia dipecat sebagai guru karena berselingkuh dengan seorang mahasiswa. Suami Stella, Stanley, memainkan peran seorang narsisis yang kasar, yang dominasi dan kontrol ditantang oleh kedatangan Blanche. Blanche mencoba untuk mengekspos, menghadapi dan mengeksploitasi kerentanan nya. Marah dengan hal ini dan akhirnya menemukan kesempatan, Stanley serangan brutal Blanche, pertama pada tingkat emosional, maka pada satu fisik. Pada akhirnya, dia membagi-bagikan-nya dingin ke fasilitas psikiatri, sehingga dirinya kembali ke posisi dominasi. Blanche adik, Stella, memainkan peran enabler kodependen, mencoba untuk menenangkan Stanley dan Blanche.

“Pendahuluan”
Gangguan Kepribadian Histrionik adalah gangguan kepribadian dramatik, emosional atau tidak menentu yang melibatkan pola emosionalitas yang berlebihan dan suka mencari perhatian. Penderita gangguan kepribadian histrionik cenderung mengekspresikan emosi emosinya secara berlebih lebihan, misalnya memeluk seseorang yang baru saja dikenalnya atau menangis tak terkontrol saat menonton film cengeng (Pfohl, 1995). Mereka cenderung congkak, self centered dan merasa tidak nyaman bila tidak menjadi pusat perhatian. Penampilan dan perilakunya seringkali tampak menggoda dan mereka biasanya sangat peduli pada penampilannya. Selain itu mereka secara konstan mencari kepastian dan persetujuan dari orang lain dan bisa menjadi gusar atau marah bila orang lain tidak memperhatikan atau memberikan pujian kepadanya. Penderita gangguan kepribadian histrionik juga cenderung impulsif dan memiliki banyak kesulitan untuk menunda pujian. Cognitive style yang terkait dengan gangguan kepribadian histrionik adalah impresionistik (Shapiro, 1965), yang ditandai oleh adanya kecenderungan untuk melihat berbagai situasi secara global, hitam dan putih. Pembicaraannya sering tidak jelas, kurang mengandung detail dan ditandai dengan hiperbola (Pfohl, 1991). Sebagai contoh, Ketika ditanyai tentang kencannya kemarin malam, Pat mungkin akan mengatakan pokoknya asyik tetapi tidak dapat memberikan keterangan yang lebih terperinci.
Gangguan kepribadian histrionik merupakan gangguan kepribadian dengan karakter emosi yang meluap-luap seperti keinginan untuk mendapat pujian atau rayuan yang tidak tepat. Gangguan ini berawal dari masa kanak-kanak hingga menjelang remaja dan terus berlanjut hingga membentuk gangguan kepribadian dikemudian harinya. Seseorang dengan gangguan histrionik (HPD) seperti memiliki kehidupan yang dramatis, terkesan genit, dan memiliki antusias berlebihan. Terkadang perilaku yang diperlihatkan bisa membuat orang lain terangsang, penderita juga mudah dipengaruhi orang lain, serta ekspresi emosi yang muncul berlebihan termasuk dalam berpakaian. Penderita HPD selalu mencari-cari cara agar mendapat perhatian orang lain. Hal ini bertujuan untuk memperoleh pengukuhan dirinya. Penderita akan selalu menanyakan pendapat orang lain mengenai sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, seperti dandanan, cara berpakaian, sampai masalah pribadi lainnya.
Gangguan kepribadian ini bisa dialami pria maupun wanita. Wanita dengan gangguan HPD cenderung berperilaku sesuka hatinya, kekanak-kanakan, dan sangat tergantung pada orang lain. Mereka cenderung tidak realistis, fantasinya berlebihan. Ekspresi emosional yang dangkal saat ia menghadapi distres dan kesulitan untuk memahami orang lain membuat dirinya sulit dalam mempertahankan hubungan dengan pasangannya.  Bahkan wanita HPD yang memiliki gangguan kepribadian borderline cenderung akan melukai tubuh atau pura-pura bunuh diri untuk menarik perhatian pasangan atau orang lain.
Pada pria, pelbagai permasalahan yang dihadapi dapat berupa krisis identitas diri, impulsif dan gangguan berhubungan dengan orang lain. Masalah yang kerap dialami pria dengan HPD adalah kecenderungan antisosial, dramatis, dan tidak mampu bersikap dewasa. Selain itu, pria dengan gangguan ini akan merasa bersalah terhadap dirinya jika ia tidak sanggup untuk dekat dengan orang lain. Pria HPD dengan tendensi antisosial melakukan isolasi diri dan menghindari hubungan sosial untuk beberapa hari bahkan beberapa tahun saat ia merasakan ketidaknyamanan atau bila terjadi kesalahpahaman yang membuat dirinya terusik.

 

“Gejala – Gejala  Gangguan Kepribadian Histrionik”
1.  Tidak merasa nyaman jika tidak menjadi pusat perhatian.
2.  Bertingkah agar mendapat perhatian, biasanya dengan berperilaku yang bisa merangsang gairah seksual orang lain.
3.  Bisa mengubah ekspresi emosi dengan cepat atau berpura-pura dengan tujuan untuk memberikan perhatian pada orang lain.
4.  Konsistensi dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan penampilan yang mencolok agar menjadi pusatperhatian.
5.  Suka berbohong untuk mendapatkan perhatian orang lain
6.  Sensitif terhadap kritikan dan penolakan.
7.  Mudah frustasi dan tidak mudah puas.

“Ciri – Ciri Gangguan Histrionik”
Gangguan kepribadian histrionic digunakan untuk individu yang terlalu dramatis (mengekspresikan hal emosional secara berlebihan) dan selalu menarik perhatian kepada dirinya sendiri. Pola ini dimulai pada awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks. Adapun ciri gangguan ini antara lain sebagai berikut:
1.  Individu dengan gangguan ini tidak nyaman atau merasa tidak dihargai ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian.
2.  Penampilan dan perilaku mereka sering melakukan profokasi secara seksual yang tidak tepat (menggoda).
3.  Ekspresi emosional yang dangkal dan cepat berubah.
4.  Secara konsisten menggunakan penampilanfisik untuk menarik perhatian kepada diri mereka sendiri.
5.  Individu ini memiliki gaya bicara yang impresionistik dan kurang rinci.
6.  Individu dengan gangguan ini ditandai dengan dramatisasi diri, sandiwara, dan ekspresi berlebihan dari emosi.
7.  Memiliki tingkat sugestifitas yang tinggi.
8.  Menganggap hubungannya lebih intim dari realianya.
Individu dengan gangguan ini akan memiliki kesulitan dalam keintima berhubungan. Terkadang mereka berusaha menguasai pasangannya dengan manipulasi emosional, namun dalam keadaan lain mereka sangat bergantung pada pasangannya. Mereka menuntut untuk diperhatikan secara konstan. Mereka sering mengalami depresi dan marah ketika mereka bukan pusat perhatian ataupun dalam situasi yang membuat kepuasannya tertunda.
Sebagian besar terapi yang digunakan difokuskan pada hubungan interpersonalnya yang bermasalah. Mereka perlu ditunjukkan bagaimana hasil jangka pendek dari gaya interaksi semacam itu dapat menimbulkan pengorbanan jangka panjang. Mereka juga perlu diajari tentang cara-cara yang lebih baik untuk menegosiasikan keinginan dan kebutuhannya.

Tritment yang dapat diberikan yaitu:
a.  Psikoterapi. Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik seringkali tidak menyadari perasaan mereka yang sesungguhnya; dengan demikian penjelasan dalam (inner feeling) mereka adalah suatu proses yang penting. Psikoterapi berorientasi psikoanalisis, baik dalam kelompok atau individual, adalah terapi yang terpilih untuk gangguan kepribadian histrionik.
b.  Farmakoterapi. Farmakoterapi dapat ditambahkan jika gejala adalah menjadi sasarannya, seperti penggunaan antidepresan untuk depresi dan keluhan somatic, obat antiansietas untuk kecemasan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi.

 
“Penyebab Gangguan Histrionik”
Biologis
Secara genetis, kemungkinan bahwa ini merupakan sifat yang diturunkan (genetika), lingkungan, termasuk pengalaman di masa kecil.
Psikologis
Sumbangsih kognitif dan pengalaman masa lalu yang suram menjadi salah satu pemicu lahirnya gangguan ini.
Spiritual
Kurangnya mendekatkan diri dengan Tuhan membuat salah satu dimensi kemanusiaan yang dimiliki manusia terasa gersang.

“Diagnosa”
Kriteria Diagnostik DSM-IV mengenai kepribadian histrionik yang menampilkan gejala-gejala berikut :
Pola pervasif dan emosionalitas yang eksesif dan mencari perhatian, yang bermula pada masa dewasa awal dan muncul diberbagai macam konteks.
Merasa tidak nyaman dalam situasi-situasi di mana orang itu tidak menjadi pusat perhatian.
Interaksi dengan orang lain seringkali ditandai dengan perilaku yang menggoda atau provokatif secara seksual, yang tidak pada tempatnya.
Memperlihatkan ekspresi emosi yang berubah-ubah dengan cepat dan “dangkal”.
Secara konsisten menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian.
Gaya berbicara yang terlau impresionistik dan kurang mengandung detail.
Mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan.
Menggangap hubungannya lebih intim dibanding kenyataan.
“Pengobatan”
1.  Pengobatan pada gangguan ini sulit dilakukan karena perilaku pasien terhadap terapistnya.
2.  Terapi kognitif membantu pasien dari perasaan tidak mampu menolong dirinya sendiri menjadi berkembang dan merasa mampu.
3.  Terapi psikodinamik dan terapi kelompok dapat digunakan dan lebih membantu, sedangkan terapi obat kurang membantu, kecuali jika ada gangguan depresi.
 

Laman

 

DUNIA MERAH Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting