Langsung ke konten utama

Binge

 

"Pendahuluan"
Pernahkah kamu melihat atau barangkali memiliki orang- orang terdekat yang sangat suka sekali makan dan terus makan seperti seseorang yang tidak terkendalikan untuk menyantap makanan? Seakan tidak pernah kenyang dan memasukkan asupan makanan dalam jumlah yang besar dijangka waktu yang berdekatan. Bahkan barangkali ada yang pernah melihat seseorang yang suka makan dan kemudian sering atau beberapakali pernah memergokinya sedang makan sembunyi- sembunyi? 

Saat liburan atau hari perayaan biasanya tersedia hidangan enak-enak di meja makan dan menggoda untuk dilahap. Sehingga pada moment tersebut, masalah bobot tubuh yang naik banyak dikeluhkan karena pola makan berlebihan. Tapi bila hal ini terus menerus berlanjut hal ini bisa dikategorikan sebagai gangguan makan yang disebut binge eating disorder. Dilansir dari sheknows.com, binge eating adalah salah satu gangguan makan yang dialami sebagian besar warga Amerika. Binge eating sama berbahayanya dengan anoxeria ataupun bulimia. Dalam beberapa referensi yang berbeda- beda untuk suatu negara, ada negara- negara tertentu yang mengalami binge ini terjadi pada kebanyakan wanita dan ada negara- negara tertentu pula yang mengalami binge ini terjadi pada kebanyakan pria.

Menurut National Institute of Mental Health, orang yang mengalami binge eating disorder sering makan dalam jumlan besar, tetap mengisi perut mereka walaupun telah kenyang. Dan biasanya mereka tidak bisa mengendalikan nafsu makan mereka. Bila orang yang menderita bulimia akan kembali memuntahkan makanan mereka ataupun meminum obat pencahar untuk mengeluarkan kembali apa yang dimakan, penderita binge eating tidak begitu. Binge eating dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial dan juga psikologis seseorang. Penyebab biologisnya adalah karena kekurangan serotonin dalam otak akibatnya terjadi gangguan fungsi otak yang bertugas mengontrol nafsu makan yaitu di bagian hipotalamus, dimana kemampuan untuk mengirim pesan lapar dan kenyang terganggu. Selain itu fakor sosial dan psikologis, seperti tekanan dari lingkungan sekitar yang menyebabkan depresi atau seseorang tak dapat mengontrol emosinya bisa menyebabkan keadaan emotional eating yang berujung pada berkembangnya binge eating disorder. Terkhusus wanita yang mengalami gangguan ini,biasanya karena pelakuk yoyo diet, bermasalah dengan pola makan, dan mempunyai citra buruk terhadap tubuh. 

Jika Anda diet tapi berat badan justru bertambah dan tumpukan lemak di tubuh malah makin menjadi-jadi, berarti ada yang salah dalam pola diet Anda. Bahkan semakin gigih Anda mencoba diet, Anda justru makin stres dan tertekan. Ujung-ujungnya, Anda makan lebih banyak dari porsi normalnya. Sialnya, bukannya kenyang, Anda malah makin merasa bersalah dan malu. Perasaan bersalah justru membuat Anda makan semakin banyak. Tanda-tanda seseorang mengalami binge eating disorder adalah sering makan dalam porsi sangat banyak untuk sekali makan. Tidak bisa mengontrol nafsu makan, selalu ingin mengunyah. Makan dengan cepat atau sering makan sembunyi-sembunyi. Setelah itu merasa bersalah setelah makan, namun tetap kembali makan dalam jumlah banyak. Selain beresiko mengalami obesitas, binge eating disorder dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, diabetes atau penyempitan pembuluh darah. Bila mengalami masalah gangguan makan satu ini segera berkonsultasi dengan dokter ahli untuk mengatasinya dan mendapatkan treatment khusus agar dapat mengatasi keinginan makan berlebihan. Tanpa bantuan profesional, lingkaran setan ini tidak akan bisa dipatahkan. Tidak cukup dengan upaya diet. Astrid Helesic, pimpinan klinik gangguan makan di Bad Honnef, menjelaskan: "Pada dasarnya sama seperti kecanduan lainnya, ini sikap kompensasi. Upaya untuk melupakan sesuatu. Pasien seringnya tidak sadar masalah sesungguhnya. Sering ada hubungannya dengan rasa harga diri atau trauma di masa lampau".


“Pengertian”
Binge adalah suatu kelainan pola makan yang ditandai dengan memakan makanan dalam jumlah yang sangat banyak, tetapi tidak diikuti dengan memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan tersebut.
“Demografis”
Diperkirakan jumlah orang Amerika yang memiliki binge-eating disorder itu berkisar antara kurang dari 1% sampai 4%, dengan 2% menjadi figur yang paling umum disebutkan. Meski jumlah wanita yang memiliki binge-eating disorder lebih banyak dibanding pria (3:2), tapi binge eating itu adalah bentuk gangguan pola makan yang paling umum terjadi pada pria. Gangguan ini sama-sama mempengaruhi orang kulit putih dan kulit hitam; baru sedikit penelitian yang pernah dilakukan pada etnis-etnis lain. Tidak seperti gangguan pola makan anorexia nervosa atau bulimia nervosa yang dimulai pada usia remaja atau mulai menginjak dewasa, binge eating disorder lebih umum terjadi pada orang dewasa yang berusia pertengahan antara 46 sampai 55 tahun. Meski binge eaters itu mungkin memiliki berat badan yang normal, tapi binge eating itu adalah suatu gangguan umum diantara orang-orang yang obese. Beberapa perkiraan menyarankan bahwa setengah dari orang obese yang berada dalam program-program pengurangan berat badan itu memiliki masalah dengan binge-eating. Orang-orang yang beresiko tinggi untuk mengembangkan binge-eating disorder itu memiliki karakteristik tertentu yang mirip. Antara lain:

1. Sering berdiet. Orang-orang yang berada pada diet-diet ketat atau sering menambah atau mengurangi sejumlah besar berat badan (siklus berat badan) itu lebih mungkin untuk menjadi binge eaters.
2. Impulsiveness. Binge eaters, sama seperti bulimics, memiliki masalah dalam mengontol dorongan hati.
3. Menilai diri rendah atau self-talk negatif. Ini terjadi hampir secara universal pada orang-orang dengan semua jenis gangguan pola makan.
4. Sulit untuk mengatur amarah dan perasaan-perasaan berlebihan yang tidak tepat.
5. Terlalu asyik dengan body image dan berat badan.
6. Sexual abuse. Sebagian, bukan berati semua, orang dengan binge eating disorder itu melaporkan menjadi dianiaya secara seksual saat kanak-kanak. Ini adalah suatu bidang yang sedang menjadi penelitian.
7. Depresi. Masih belum jelas apakah depresi menyebabkan binge eating ataukau binge eating itu yang menyebabkan depresi, tapi keduanya seringkali ditemukan secara bersamaan.


 

“Gangguan Makan Binge pada Anak” 
Gangguan makan binge terjadi pada anak yang tidak biasa makan dalam dalam porsi yang banyak dan kemudian timbul perasaan bersalah akan hal ini. Terkadang, saat pesta atau acara tertentu biasanya kebanyakan orang bersifat fleksibel terhadap kebijakan makannya, yaitu dengan memakan sejumlah makanan dalam porsi lebih banyak dari porsi normal. Nah, pada anak yang menderita gangguan makan binge akan makan terus seperti hilang kendali dan terburu-buru, setelah itu dia merasa sangat bersalah dan tertekan. Tapi, terus mengulangi setiap kali makan sehingga membentuk suatu pola yang sulit diubah dan terus berlanjut hingga dewasa. Tak heran bila penderitanya obesitas.
“Diagnosa”
Binge eating bisa jadi sulit untuk di diagnosa oleh penyedia layanan peralatan kesehatan. Binge eaters seringkali mencari jalan untuk menyembunyikan berapa banyak yang mereka makan. Misalnya, membeli makanan makanan snack di toko makanan dan memakannya di mobil sebelum pulang ke rumah atau mereka mungkin membeli makanan secara sembunyi-sembunyi dan menimbunnya, sehingga orang-orang yang dekat dengan mereka tidak akan tahu bahwa mereka adalah bingeing. Biasanya, penyedia layanan perawatan kesehatan akan memulai diagnosa dengan suatu sejarah keluarga atau personal. Namun, orang-orang dengan binge-eating disorder seringkali akan berbohong mengenai kebiasaan-kebiasaan makan mereka. Seorang dokter akan memulai dengan suatu pengamatan fisik dan biasanya melakukan test-test laboratorium standard misalnya complete blood count (CBC), urinalysis, dan test-test darah untuk memeriksa level kolesterol, triglycerides, dan electrolytes. Test-test tambahan, misalnya test fungsi thyroid, mungkin dilakukan untuk mengetahui gangguan-gangguan lain. Jika orang ini obese, test-test mungkin dilakukan untuk memeriksa penyakit-penyakit yang berhubungan dengan obesitas misalnya diabetes, penyakit cardiovascular, dan sleep apnea. Beberapa evaluasi yang berbeda bisa digunakan untuk mengamati kondisi mental seseorang. Seorang dokter atau profesional kesehatan mental akan menaksir pemikiran dan perasaan seseorang mengenai dirinya sendiri, tubuh mereka, hubungan mereka dengan orang lain, dan resiko mereka untuk menyakiti diri sendiri.


 

“Gejala dan Tanda Binge”

1/Bila anda kebingungan akan hilangnya sejumlah besar makanan di dapur atau kulkas tanpa jejak yang jelas.

2/Anak makan dalam porsi sangat banyak dan terburu-buru.

3/Terlihat sebagai pelampiasan atas stres seperti konflik keluarga, penolakan, atau kemampuan akademis yang buruk.

4/Anak merasa terganggu/malu dengan porsi makanannya.

5/Anda menemukan kotak makanan tersembunyi di kamar anak.

6/Meningkatkan intensitas makanan, seperti ngemil, lebih sering makan junk food, makan tengah malam.

7/Anak terlihat depresi, malu, serta kurang bergaul karena mereka malu dengan masalah makan binge.

8/Tetap makan meski tidak sedang lapar. 


“Bagaimana Mengetahuinya”
Tanyakan kepada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut. Semakin banyak jawaban “ya”, semakin besar kemungkinan bahwa Anda memiliki gangguan makan Binge.
1~Apakah Anda merasa lepas kendali ketika Anda makan?  
2~Apakah Anda berpikir soal makanan sepanjang waktu?  
3~Apakah Anda makan secara diam-diam?
4~Apakah Anda makan sampai Anda merasa sakit?
5~Apakah Anda makan untuk melarikan diri dari kekhawatiran atau untuk menghibur diri sendiri?
6~Apakah Anda merasa jijik atau malu setelah makan?
7~Apakah Anda merasa tidak berdaya untuk berhenti makan, meskipun Anda ingin?


  
“Ciri- ciri Binge” 
1~Kadangkala tidak latihan mengontrol konsumsi makanan berlebihan.
2~Mereka memakan makanan dalam jumlah yang sangat banyak dalam satu kali makan, seringkali mengonsumsi 3.000 - 10.000 kalori dalam suatu jangka waktu yang singkat.
3~Waktu makan Binge lebih cepat daripada waktu makan orang normal.
4~Makan sampai secara fisik tidak merasa nyaman dan muak pada banyaknya makanan yang baru dikonsumsi.
5~Makan ketika depresi atau bosan.
6~Makan dalam jumlah yang banyak bahkan ketika tidak begitu lapar.
7~Biasanya makan sendiri selama masa binge, dalam tujuan untuk menghindari penemuan gangguan itu.
8~Seringkali makan sendirian selama waktu makan normal, berhutang pada perasaan malu tentang makanan.
9~Merasa menjijikan, depresi, atau berdosa setelah makan binge (binge eating).
10~Secara cepat naik berat badan, dan/atau onset tiba-tiba dari obesitas.
11~Selama suatu periode binge, mereka merasa lepas kendali dan tidak bisa berhenti makan, meski mereka mungkin ingin berhenti.
12~Binge eaters cenderung untuk berdiet secara konstan tapi tidak pernah bisa mengurangi berat badannya.
13~Lalu mereka seringkali makan sendirian dan menyembunyikan wadah-wadah makanan yang kosong untuk menyembunyikan dari orang lain berapa banyak yang mereka makan.
14~Menimbun makanan itu adalah hal yang biasa.
15~Mereka bersumpah pada diri sendiri untuk tidak pernah binge lagi, tapi tidak mampu memegang janji ini. 

“Membedakannya Dengan Gangguan Makan Lainnya”
Gangguan makan binge berbeda berbeda dengan gangguan makan yang lain, seperti bulimia dan anoreksia. Penderita bulimia mengkonsumsi makanan dan kemudian memuntahkannya guna terhindar dari kenaikan berat badan. Sedangkan penderita anoreksia mengkonsumsi makanan dalam jumlah sedikit sekali bahkan ada yang ditambah dengan sejumlah latihan otot yang keras-anoreksia atletik.



 “Hubungan Dengan Gangguan Makan Lainnya” 
Gejala-gejala makan binge juga ada dalam bulimia nervosa. Kriteria diagnosis formalnya serupa dalam subjek itu, keharusan binge paling sedikit dua kali seminggu untuk periode minimum dari 3 bulan. Tidak seperti dalam bulimia, mereka penderita BED tidak memuntahkan kembali makanannya, cepat, atau melakukan olahraga berat setelah binge eating. Tambahan, tipikal berat normal penderita bulimia, adalah dibawah berat badan (yang seharusnya) tapi telah berberat badan lebih sebelumnya. Mereka penderita gangguan makan binge lebih seperti kelebihan berat badan atau obese.

Gangguan makan binge serupa, tapi berbeda dari kelebihan makan kompulsif. Mereka penderita BED tidak memiliki keharusan untuk makan berlebih dan tidak menghabiskan waktu banyak berfantasi tentang makanan. Kebalikannya, beberapa orang dengan gangguan makan binge memiliki perasaan negatif yang besar tentang makanan. Sama dengan gangguan makan lainnya, binge eating adalah sebuah “gangguan ekspresif”--sebuah gangguan yang merupakan sebuah ekspresi dari masalah psikologis yang lebih dalam. Beberapa peneliti percaya BED adalah bentuk yang lebih halus dari bulimia nervosa, sementara lainnya membantahnya bahwa ini adalah gangguan yang berbeda sendiri. Sekarang, DSM-IV mengkategorisasikan ini dibawah Eating disorder not otherwise specified (EDNOS), sebuah indikasi bahwa diperlukannya lebih banyak penelitian.

Peristiwa dan Faktor Resiko” 
Banyak orang dengan masalah ini adalah berberat badan lebih atau obese, tapi orang dari berat badan normal juga dapat memiliki gangguan ini. Sekitar dua persen dari seluruh orang dewasa di Amerika Serikat (sama banyaknya dengan 4juta orang Amerika) memiliki gangguan makan binge. Sekitar sepuluh sampai lima belas persen orang yang agak obese atau mencoba untuk menurunkan berat badan sendirian atau melalui program komersial untuk menurunkan berat badan memiliki gangguan makan binge. Gangguan ini bahkan lebih lazim pada orang yang sama sekali obese. Gangguan makan binge dua kali sama biasanya diantara perempuan juga antara laki-laki. Gangguan ini ditemukan dalam seluruh kebudayaan-etnis dan populasi rasial. Orang yang obese dan memiliki gangguan makan binge sering menjadi kelebihan berat badan pada usia lebih muda daripada mereka yang tanpa gangguan ini. Mereka mungkin juga kehilangan dan menaikkan kembali berat badan lebih sering, atau menjadi paranoid tentang menaikkan berat badan.

 

Penyebab” 
Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang menyebabkan gangguan makan binge. Sama banyak dengan setengah dari seluruh orang dengan gangguan makan binge telah depresi dalam masa lalunya. Apakah depresi yang menyebabkan gangguan makan binge, apakah gangguan makan binge yang menyebabkan depresi, atau apakah keduanya memiliki sebuah hubungan sebab-akibat, tidak diketahui pasti. Point pemicu bisa jadi emosi seperti kebahagiaan, kemarahan, kesedihan atau kebosanan. Perilaku impulsif dan beberapa masalah emosi lainnya dapat menjadi lebih biasa pada orang dengan gangguan makan binge. Bagaimanapun, banyak orang juga mengklaim bahwa bingeing terjadi tanpa menghiraukan mood mereka. Ini juga tidak jelas apakah dieting dan binge eating berhubungan. Beberapa studi menunjukkan bahwa sekitar setengah dari seluruh orang dengan gangguan makan binge memiliki episode binge sebelum mereka mulai untuk diet. Para peneliti juga mengatakan bahwa gangguan makan binge lebih biasa ditemukan antara atlet yang kompetitif seperti perenang atau pesenam yang bentuk badannya secara tetap menjadi contoh bagi publik/diperhatikan publik. Atlet-atlet yang terpengaruh dalam olahraga ini cenderung untuk membandingkan badan mereka sendiri dalam cara yang negatif dengan mereka yang merupakan teman satu timnya. Ada sebuah penelitian tentang bagaimana bahan kimia otak dan metabolisme mempengaruhi gangguan makan binge, tapi studi ini adalah dalam tingkat lebih awalnya sendiri.
Kebanyakan ahli percaya bahwa diperlukan kombinasi dari hal-hal untuk mengembangkan gangguan makan – termasuk seseorang gen, emosi, dan pengalaman.
1~Gangguan fungsi BiologisStudi menunjukkan bahwa abnormalitas biologis berkontribusi untuk gangguan makan binge. Sebagai contoh, hipotalamus sebagai bagian dari otak yang mengontrol selera makan tidak mengirimkan pesan yang benar tentang kelaparan dan kekenyangan.
2~Genetik. Para peneliti juga menemukan mutasi genetik yang muncul menyebabkan kecanduan makanan. Akhirnya, terdapat bukti bahwa tingkat rendah dari serotonin kimia otak memainkan peranan dalam kompulsif makan.
3~Penyebab Psikologis  Depresi dan binge sangat kuat hubungannya. Menurut US Department of Health and Human Services, hamper 50% dari semua penderita binge mengalami depresi setelah atau sebelumnya. Ada bukti bahwa harga diri yang rendah, kesepian, dan tubuh ketidakpuasan terlibat dalam kompulsif makan berlebihan. Orang dengan gangguan makan pesta mungkin juga mengalami masalah dengan pengendalian dorongan hati dan mengelola dan mengekspresikan perasaan mereka.
4~Sosial dan budaya.  Tekanan sosial untuk menjadi kurus dapat menambah rasa malu pemakan pesta merasakan dan bahan bakar emosional mereka makan. Cara satu dinaikkan juga dapat meningkatkan risiko gangguan makan binge. Beberapa orangtua tanpa disadari mengatur panggung untuk penderita dengan menggunakan makanan untuk kenyamanan, mengabaikan, atau hadiah anak-anak mereka. Anak-anak yang sering terpapar komentar kritis tentang tubuh dan berat badan mereka juga rentan. Faktor lain yang telah dikaitkan dengan pesta makan adalah pelecehan seksual di masa kanak-kanak.


“Dampak Bagi Tubuh”
Pesta makan menyebabkan berbagai fisik, emosional, dan masalah sosial. Penderita binge dilaporkan  mengalami lebih banyak masalah kesehatan, stres, insomnia, dan pikiran untuk bunuh diri daripada orang tanpa gangguan makan. Sering terjadi efek samping depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan zat. Binge juga mengganggu dengan seseorang hubungan dan karier. Sebagai contoh, Anda dapat mengabaikan pekerjaan, sekolah, atau kegiatan sosial untuk pesta makan. Tapi efek yang paling menonjol dari binge adalah penambahan berat badan.

“Komplikasi”
Sementara orang cenderung untuk makan berlebih dari waktu ke waktu, kebiasaan konsisten dari konsumsi yang sering dari jumlah besar makanan dalam periode singkat dari waktu biasanya mengarah pada naiknya berat badan dan obesitas. Konsekuensi kesehatan problematis yang paling menonjol dari tipe gangguan makan ini dibawa oleh hasil kenaikan berat badan dari episode bingeing. Orang dengan gangguan makan binge mungkin jadi sakit sebagai hak untuk sebuah kekurangan nutrisi yang pantas. Episode-episode bingeing biasanya memasukkan makanan yang tinggi lemak, gula, dan/atau garam, tapi rendah vitamin dan mineral. Individual biasanya sangat sedih tentang binge eating mereka dan mungkin jadi depresi. Seiring waktu, makan berlebihan kompulsif biasanya menyebabkan obesitas. Obesitas, pada gilirannya, menyebabkan berbagai komplikasi medis. Akibat yang paling sering menyertai penderita binge adalah:
1.     Type 2 diabetes
2.     Penyakit empedu
3.     Kolesterol
4.     Tekanan darah tinggi
5.     Jantung
6.     Kanker jenis tertentu
7.     Osteoarthritis
8.     Nyeri Sendi dan otot
9.     Masalah saluran cerna
10.  Sleep apnea
11.   Alergi rhinitis (pilek)
12.   Gangguan kulit
Semakin tinggi indeks massa tubuh (BMI), semakin besar risiko Anda untuk masalah kesehatan. BMI adalah ukuran lemak tubuh, berdasarkan berat badan dan tinggi badan.
Banyak orang dengan gangguan makan binge telah mencoba untuk mengontrolnya sendiri, tapi tidak mampu untuk mengontrolnya dalam waktu lama. Beberapa orang melewatkan kerja, sekolah, atau kegiatan sosial untuk binge eat. Orang obese dengan gangguan makan binge sering merasa buruk tentang diri mereka dan mungkin menghindari pertemuan sosial. Mereka yang binge eat, apakah obese atau tidak, merasa malu, dan menyadari dengan baik gangguan pola makan mereka, dan mencoba untuk menyembunyikan masalah mereka. Seringkali mereka menjadi sangat baik dalam menyembunyikannya, bahkan teman dekat dan anggota keluarganya tidak menyadari bahwa mereka binge eat.


“Bagaimana Menghentikan Binge”
Mengatasi makan binge atau kecanduan makan bisa saja sangat tidak mudah. Tidak seperti kecanduan lain, Obat yang diperlukan untuk kelangsungan hidup adalah diri sendiri. Sehingga enderita tidak punya pilihan untuk menghindarinya. Sebaliknya, harus mengembangkan hubungan yang sehat dengan makanan-suatu hubungan yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan gizi , bukan didominasi perasaan atau  emosi. Untuk menghentikan pola makan tidak sehat, penting untuk mulai makan sehat dan bergizi. Makan sehat dengan gizi seimbang harus dibuatkan rencana, memilih makanan sehat saat makan di luar, dan memastikan vitamin dan mineral yang cukup diet.

“Tips untuk Diet Sehat”
Mengatasi gangguan makan binge juga melibatkan emosional makan yang  terkendali. Makanan dan kemauan penderita merupakan langkah penting dalam menghentikan binge. Strategi lain yang membantu termasuk berlatih teknik relaksasi, tetap terhubung dengan keluarga dan teman-teman, dan membuat waktu untuk hal-hal dinikmati sebagai bagian dari jadwal harian Anda.

“Tips untuk Mengatasi Binge”
Sarapan. Melewatkan sarapan sering menyebabkan makan berlebihan di kemudian hari, jadi memulai hari dengan benar dengan makanan yang sehat. Sarapan juga meloncat mulai metabolisme Anda di pagi hari. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan sarapan pagi lebih tipis dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Hindari godaan. Akan semakin makan banyak jika mengkonsumsi junk food, makanan pencuci mulut, dan makanan ringan tidak sehat di rumah. Hapus godaan dengan membersihkan kulkas dan lemari dari makanan favorit Anda.
Berhenti diet. Kekurangan dan kelaparan diet ketat dapat memicu mengidam makanan dan dorongan untuk makan berlebihan. Daripada diet, fokus pada makan di moderasi. Menemukan makanan yang bergizi dan menghindari Anda menikmati makanan label sebagai “baik” atau “buruk.”
Latihan. Tidak hanya latihan akan membantu kehilangan berat badan dengan cara yang sehat, tapi juga lift depresi, meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, dan mengurangi stres. Mood alami-efek meningkatkan latihan dapat membantu menghentikan makan emosional.
Destress. Pelajari cara mengatasi stres dalam cara-cara yang sehat tidak melibatkan makanan. Untuk beberapa stres membantu strategi, pelajari Stress Management: Bagaimana Mengurangi, Mencegah, dan Mengatasi Stres.

“Dieting”
Orang yang tidak kelebihan berat badan harus menghindari dieting, karena ini kadang-kadang membuat binge eating mereka jadi lebih buruk. Dieting disini berarti melewatkan makan, makan tidak cukup kalori setiap hari, atau menghindari beberapa macam dari makanan, seperti karbohidrat atau lemak. Banyak orang dengan gangguan makan binge obese dan memiliki masalah kesehatan karena berat mereka. Orang dengan gangguan makan binge yang obese mungkin menemukan ini lebih susah untuk tetap dalam sebuah program menurunkan berat badan. Mereka juga mungkin kehilangan berat badan daripada orang lain, dan mungkin menaikkan berat badan lebih cepat dalam usaha untuk memperlambat metabolisme (ini bisa jadi lebih buruk ketika mereka juga memiliki masalah seperti depresi, kesulitan mengontrol perilaku mereka, dan masalah berhubungan dengan orang lain). Orang ini mungkin membutuhkan treatment (pengobatan) untuk gangguan makan binge sebelum mereka mencoba menurunkan berat badan. Dieting biasanya tidak berhasil untuk mereka dengan BED, mereka biasanya akan menaikkan kembali semua berat badan yang hilang, dan kadang-kadang lebih. Mereka dengan BED memiliki kesulitan yang lebih mengikuti treatment menurunkan berat badan tradisional.

 

“Pengobatan (Treatment)”
Orang dengan BED, apakah atau tidak mereka ingin untuk menurunkan berat badan, harus mencari pertolongan dari professional kesehatan termasuk tabib/dokter, nutrisionis, psikiater, psikolog, pekerja sosial klinis atau dengan menghadiri pertemuan 12-langkah Overeaters Anonymous. Bahkan mereka yang tidak kelebihan berat badan biasanya sedih dengan binge eating mereka, dan treatment bisa menolong mereka. Walaupun profesional kesehatan mental mungkin jadi membiasakan diri pada ciri-ciri BED, banyak tabib/.dokter tidak mengangkat pertanyaan, apakah karena mereka tidak diinformasikan tentang kondisinya atau terlalu malu untuk bertanya tentang hal ini. Karena ini adalah gangguan psychiatric yang tidak diketahui di DSM-IV, ini susah untuk memperoleh insurance reimbursement untuk pengobatan. Ada beberapa cara berbeda untuk memperlakukan BED. Cognitive-behavioral therapy mengajarkan orang bagaimana untuk menjaga pola makan mereka dan mengganti kebiasaan makan tidak sehat mereka. Ini juga mengajarkan mereka bagaimana untuk mengubah cara mereka berperan dalam situasi sulit. Interpersonal psychotherapy membantu orang untuk melihat hubungan mereka dengan teman dan keluarga dan membuat perubahan dalam area masalah. Drug therapy, seperti antidepressants, mungkin bisa berguna bagi beberapa orang. Para peneliti tetap mencoba untuk menemukan pengobatan yang paling membantu atau berguna dalam mengontrol BED. Metode-metode yang disebutkan disini kelihatan sama bergunanya. Untuk orang yang kelebihan berat badan, sebuah program penurunan berat badan untuk meningkatkan kesehatan dan untuk membangun self-esteem, sama baiknya dengan konseling, menunjukkan dengan tepat akar dari masalah psikologis yang memicu episode binge mereka, mungkin menjadi pilihan terbaik.
Beberapa jenis psikoterapi yang telah sukses mengobati orang-orang dengan binge-eating disorder adalah sebagai berikut:
1.Terapi perilaku-kognitif Terapi perilaku-kognitif berfokus pada pikiran dan perilaku disfungsional yang terlibat dalam pesta makan. Salah satu tujuan utama adalah bagi untuk menjadi lebih sadar diri bagaimana menggunakan makanan untuk dengan mengendalikan emosi dan nafsu makan. Buatlah buku harian atau sebuah jurnal pikiran tentang makan, berat badan, dan makanan. Kenali pemicu binge  dan belajar bagaimana untuk menghindari atau memerangi merekaTerapi perilaku-kognitif untuk pesta gangguan makan juga melibatkan pendidikan tentang gizi, berat badan sehat, dan teknik relaksasi.
2.Psikoterapi Interpersonal Psikoterapi Interpersonal untuk gangguan binge berfokus pada masalah hubungan dan masalah interpersonal yang berkontribusi untuk kompulsif makan. Terapis juga akan membantu meningkatkan keterampilan komunikasi agar lebih sehat dan mengembangkan hubungan dengan anggota keluarga dan teman-teman. Ketika belajar bagaimana berhubungan lebih baik kepada orang lain dan mendapatkan dukungan emosional yang dibutuhkan, dorongan untuk makan menjadi lebih jarang dan lebih mudah untuk menolak.
3.Terapi perilaku Dialektis Terapi perilaku Dialektis dan Perilaku kognitif adalah  kombinasi teknik dengan meditasi kesadaran. Penekanan terapi adalah mengajar bagaimana menerima diri sendiri, mentolerir stres lebih baik, dan mengatur emosi. Anda juga akan alamat terapis sikap yang tidak sehat mungkin dimiliki, bentuk, dan berat badan. Terapi perilaku dialektis biasanya menyertakan sesi pengobatan baik individu dan sesi terapi kelompok mingguan.
4.Family therapy itu membantu dalam merawat anak-anak yang binge eaters. Terapi ini mengajarkan strategi-strategi untuk mengurangi konflik, gangguan, dan stress yang mungkin menjadi faktor-faktor pemicu binge eating.
5.Bagi sebagian orang dengan binge-eating disorder, kelompok-kelompok pengembangan diri dan program-program pengurangan berat badan yang terstruktur itu bermanfaat, sedangkan bagi sebagian lain tidak.

Terapi Obat
Sejumlah obat mungkin dapat membantu dalam pengobatan gangguan makan binge. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa obat-obatan dapat mengurangi frekuensi makan pesta episode, meningkatkan indeks massa tubuh, dan kecepatan penurunan berat badan. Obat riset untuk pesta makan masih dalam tahap awal, namun, dan lebih banyak studi diperlukan.
Obat yang menunjukkan janji untuk pesta gangguan makan binge meliputi:
1.  Antidepresan – Penelitian menunjukkan bahwa antidepresan memperbaiki pada orang dengan bulimia. Antidepresan dapat juga membantu orang dengan gangguan makan binge, tapi studi juga menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan tinggi bila obat dihentikan.
2.  Menekan nafsu makan – Studi mengenai obat penekan nafsu makan sibutramine, yang dikenal dengan nama merek Meridia, menunjukkan bahwa mengurangi jumlah episode pesta makan dan meningkatkan berat badan.
3.  Topamax – The penyitaan obat topiramate, atau topamax, dapat mengurangi makan binge  dan meningkatkan berat badan. Namun, topamax dapat menyebabkan efek samping yang serius, termasuk kelelahan, pusing, dan sensasi terbakar atau kesemutan.
 
“Pencegahan”
Karena binge eating itu sulit untuk di deteksi, maka sulit juga untuk dicegah. Beberapa stategi pencegahan adalah sebagai berikut:
1~Para orang tua seharusnya tidak menampakkan obsesi mereka mengenai berat badan, penampilan, dan diet mereka di depan anak-anak mereka.
2~Jangan mengejek orang lain mengenai bentuk tubuh mereka atau membandingkan mereka dengan orang lain.
3~Perjelas bahwa semua anggota keluarga itu dicintai dan diterima seperti apa adanya mereka.
4~Cobalah untuk makan bersama sebagai suatu keluarga setiap kali memungkinkan; hindari makan sendirian.
5~Hindari menggunakan makanan untuk menenangkan diri masa-masa stress.
6~Monitor self-talk negatif; praktekkan self-talk positif.
7~Sediakan waktu untuk melakukan sesuatu yang disenangi setiap hari.
8~Mulailah menyibukkan diri, tapi jangan terlalu sibuk.
9~Waspadalah terhadap tanda-tanda rendah diri, kecemasan, depresi, dan penyalah gunaan obat atau alkohol dan carilah bantuan secepatnya saat tanda-tanda ini muncul. 

“Operasi Lambung Bukan Terapi”
Sekitar 40 persen penderita bertubuh gemuk. Tapi tidak setiap orang yang gemuk adalah Binge-Eater. Gejala utamanya adalah "serangan makan berlebihan" yang berulang kali. Juga bentuk tubuh yang tidak normal, keterbatasan dalam sosialisasi, dan cenderung mengalami masalah psikis seperti depresi. Penyakit lain yang muncul akibat Binge-Eating juga bisa berupa diabetes, tekanan darah tinggi atau asma. Pasien yang sudah mencoba terapi psikosomatis, namun tetap kelebihan berat badan, bisa memutuskan untuk menjalani operasi pengecilan lambung. Pada operasi tersebut hampir 75 persen lambung dihilangkan. Sisanya dibentuk menjadi seperti selang. Sehingga pasien akan merasa lebih cepat dan lebih lama kenyang. Operasi hanya membantu untuk mengatasi berat badan yang berlebih dan bukan menghilangkan masalah gangguan makan, tegas Dr. Min-Seop Son dari rumah sakit Johanniter di Bonn. "Operasi bukan terapi gangguan Binge-Eating. Operasi ini terapi adipositas dan gangguan Binge-Eating biasanya mengakibatkan adipositas. Terapi sesungguhnya Binge-Eating-Disorder adalah terapi psikologis. Karena itu penting bagi para pasien untuk dirawat dan menjalani terapi psikologis, juga setelah operasi.

Postingan populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB V Kesimpulan Dan Saran - Karya Tulis Ilmiah

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan Dari hasil penelitian hubungan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru, dapat disimpulkan : 5.1.1Dari 86 responden sebagian besar remaja pria mempunyai pengetahuan rendah, yaitu sebanyak 44 orang (51,2%).