Sabtu, 25 Oktober 2014

Anoreksia Nervosa

“Saya menyebar kertas depan saya, menyimpan yoghurt disamping, dan melihat jam tangan. Saya membaca kalimat yang sama berulang-ulang, untuk membuktikan bahwa saya bisa duduk di depan makanan tanpa menyentuhnya, untuk membuktikan bahwa hal itu bukan masalah besar. Setelah lima menit berlalu, saya mulai meminum yoghurt itu. Anda mengambil seujung sendok yoghurt, dan dengan hati-hati saya hanya mengambil bagian yang meleleh. Kemudian membiarkan yogurt itu menetes sampai hanya ada sedikit yoghurt tersisa di sendok. Dengan berhati-hatilah saya menunggu untuk menjilatinya, Anda hanya menjilat sedikit pada suatu waktu, dan ini berlangsung setidaknya empat atau lima jilatan, dan Anda harus menjilat bagian belakang sendok pertama, kemudian membalikkan bagian atas sendok dan menjilat bagian depannya, dengan ujung lidah. Kemudian menyimpan lagi yoghurt itu disamping. Membaca satu halaman penuh, dan tidak melihat yoghurt untuk memastikan ia mencair. Berulang-ulang. Jangan mengambil satu sendok penuh, jangan makan apapun kecuali yoghurt itu meleleh. Jangan berkhayal tentang topping, Oreo yang hancur, atau saus cokelat. Jangan berfantasi tentang sandwich. sandwich akan membuat situasi menjadi sangat rumit.”-Marya Hornbacher-

"Pendahuluan” 
Ketika memasuki masa remaja, khususnya masa pubertas, remaja menjadi sangat concern atas pertambahan berat badan, terutama remaja putri, karena mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak, sehingga mudah untuk menjadi gemuk apabila mengkonsumsi  makanan yang berkalori tinggi. Pada kenyataannya kebanyakan wanita ingin terlihat langsing  dan kurus karena beranggapan banhwa menjadi kurus akan membuat mereka bahagia, sukses, dan popular.  Remaja dengan gangguan makan memiliki masalah dengan body imagenya. Artinya mereka sudah mempunyai suatu mind set (pemikiran yang sudah terpatri di otak) bahwa tubuh mereka tidak ideal. Mereka merasa tubuhnya gemuk, banyak lemak disana-sini, dan tidak sedap dipandang.

Anoreksia nervosa adalah suatu kelainan yang ditandai dengan perubahan gambaran tubuh, ketakutan yang luar biasa akan kegemukan, penolakan untuk mempertahankan berat badan yang normal dan hilangnya siklus mentruasi (pada wanita). Penderita yang umumnya terjadi pada remaja putri biasanya mengalami gangguan makan, berupa aktifitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara sengaja melalui control yang ketat.

Pada anoreksia nervosa terjadi hilangnya nafsu makan atau terganggunya pusat nafsu makan. Hal tersebut disebabkan oleh konsep yang terputar balik mengenai konsep penampilan tubuh, sehingga penderita mempunyai rasa takut yang berlebihan terhadap kegemukan. Penderita anoreksia nervosa sadar mereka lapar namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan mereka, karena bisa berakibat meningkatnya berat badan. Berbeda dengan korban kelaparan, penderita anoreksia nervosa mampu menjaga kekuatan dan kegiatan sehari-hari mendekati normal. Tidak merasa lapar dan tidak cemas terhadap kondisinya.

Takut gemuk atau merasa terlalu gemuk ini terutama terjadi pada wanita, sehingga membatasi makan dan terkadang tidak makan atau puasa. Akhirnya tidak mau makan hingga penderita kurus kering. Kelainan ini banyak terjadi di dalam masyarkat yang memuja bentuk tubuh yang kurus kering. Mereka terus-menerus malakukan diet mati-matian untuk mencapai tubuh yang kurus, yang pada akhirnya kondisi ini menimbulkan efek yang berbahaya yaitu kematian. penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada 10% penderitanya.

Pada penderita anorekasia nervosa dapat menurunkan berat badannya antara 25 – 50 % dari berat badan sebenarnya. Dampak fisik yang umumnya terjadi penderita adalah kehilangan selera makan, hingga tidak mau mengkonsumsi apapun, lemah tidak bertenaga, sulit berkonsentrasi dan terjadi gangguan mentruasi. Namun dampak psikis juga terpengaruhi, seperti mempunyai perasaan tidak berharga, sensitiv mudah tersinggung atau marah, mudah merasa bersalah, kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak percaya diri, cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya, minta perhatian orang lain, dan depresi. Dampak fisik maupun psikis yang terjadi akibat gangguan makan tersebut  memerlukan pertolongan segera dari psikolog, dokter, ahli gizi, dan tentu saja orang tua.

  

“Definisi” 
~ Menolak mempertahankan berat badan pada atau diatas berat badan normal minimal menurut usia dan tinggi badan (misalnya, menurunkan berat badan untuk mempertahankan berat badan kurang dari 85% yang diharapkan; atau kegagalan untuk menaikan berat badan yang diharapkan selama periode pertumbuhan, menyebabkan berat badan kurang dari 85% dari yang diharapkan).
~ Ketakutan yang kuat mengalami kenaikan berat badan atau menjadi gemuk, walaupun sesungguhnya memiliki berat badan kurang.
~ Gangguan dalam cara memandang berat atau bentuk badannya sendiri; berat badan atau bentuk badan yang tidak pantas atas dasar pemeriksaan sendiri, atau menyangkal keseriusan berat badannya yang rendah.
~ Pada wanita pascamenarki, amenore yaitu tidak ada sekurangnya tiga siklus menstruasi berturut-turut (seorang wanita dianggap mengalami amenore jika periodenya timbul hanya setelah pemberian hormon, misalnya, estrogen).


“Epidemiologi”
Hampir setiap wanita mendambakan tubuh langsing seperti model-model majalah atau artis. Saat ini hampir setiap wanita menjalankan diet untuk dirinya sendiri demi mencapai berat badan yang diidam-idamkan. Entah diet tersebut dengan pengawasan dokter atau diet sehat atau bahkan diet asal-asalan. Tetapi bila ketakutan untuk menjadi gemuk terlalu besar sehingga mencegah dirinya sendiri untuk makan, maka hal tersebut perlu diwaspadai sebagai gangguan makan (eating disorder) yang disebut anorexia nervosa.

Menurut data yang dikutip situs womenfitness.com, 90% dari penderita anorexia adalah perempuan. Sekitar 30% penderita anoreksia mengalami gangguan ini seumur hidup, dan hampir semuanya pernah mengalami fase yang membahayakan nyawa mereka. Setiap dua ratus perempuan dalam populasi umum, satu hingga enam orang mengidap anoreksia. 5%-18% dari penderita akan meninggal akibat gangguan ini. Anorexia merupakan penyebab kematian utama di antara orang-orang yang mencari bantuan psikiater. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa laki-laki juga bisa mengidap anorexia.

Gangguan ini umumnya muncul di usia 17 dan sangat jarang dijumpai pada perempuan di atas 40. Masalah ini bisa dipicu oleh peristiwa yang memicu depresi, seperti dikeluarkan dari kampus, patah hati, dll. Anoreksia bisa saja terjadi dalam jangka pendek. Tapi anorexia biasanya merupakan penyakit kronis yang datang dan menghilang atau memburuk seiring waktu.

Gangguan anorexia nervosa biasanya berkembang di masa dewasa ataupun dewasa akhir, gangguan ini umumnya mulai muncul pada masa remaja dan dewasa awal ketika tuntutan untuk menjadi kurus sangat kuat. Seiring dengan meningkatnya tekanan sosial semakin meningkat pula tingkat gangguan makan. Kira – kira 0,5% (1:200) wanita di lingkungan kita mengidap anorexia nervosa. Penelitian terhadap mahasiswi menunjukkan bahwa mungkin 1 diantara 2 dari mereka makan berlebih dan memuntahkannya setidaknya satu kali. Jumlah penderita anorexia pada pria sekitar sepersepuluh jumlah wanitanya.

Remaja, terutama remaja putri, termasuk kelompok yang rentan terhadap gangguan ini. Mungkin karena remaja berusaha untuk menjadi “gaul” dan cenderung menjadi korban mode yang menuntut seseorang langsing atau cenderung kurus. Salah satu teori menyebutkan bahwa penyebabnya adalah karena seseorang merasa sangat tertekan dengan “kewajiban” untuk tampil langsing seperti yang dimunculkan oleh televisi dan majalah. Teori ini menunjuk adanya gangguan pada sebagian fungsi otak yang berkaitan dengan body image. Perilaku makan yang terganggu dan gangguan makan juga bervariasi di antara kelompok etnik Amerika, dimana angka yang lebih tinggi terdapat pada remaja Eropa Amerika dibandingkan Afrika Amerika dan remaja dari etnik minoritas lainnya.

Anoreksia lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria karena pada wanita cenderung lebih memperhatikan penampilan yang dikaitkan dengan isu kecantikan, para perempuan lebih gampang “diintimidasi” termasuk gambaran tentang tubuh ideal atau super kurus agar bisa disebut “cantik”.

Gangguan makan dalam berbagi bentuk telah dilaporkan pada sampai 4% pelajar remaja dan dewasa muda. Sekitar 95% penderita adalah wanita, kelainan ini biasanya terjadi pada masa remaja dan terkadang pada masa dewasa. Anoreksia nervosadiperkirakan terjadi pada kira-kira 0,5 sampai 1% gadis remaja. Biasanya menyerang orang-orang golongan social ekonomi menengah ke atas. Gangguan ini terjadi 10 sampai 20 kali lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki. Lebih sering pada Negara yang maju, dan mungkin ditemukan dengan frekuensi tertinggi pada wanita muda yang profesinya memerlukan kekurusan, seperti model dan penari balet.

Anoreksia memiliki prevalensi rata-rata 0,3-1% pada wanita dan 0,1% pada pria untuk diagnosis di negara maju. Kondisi ini sangat mempengaruhi wanita remaja muda, dengan antara 15 dan 19 tahun membuat sampai 40% dari semua kasus. Sekitar 75% orang dengan anoreksia adalah perempuan. Anoreksia nervosa lebih umum di kelas sosial atas dan dinyatakan menjadi langka di negara-negara kurang berkembang (Gelder, Mayou dan Geddes 2005).

 

“Etiologi” 
~ Anorexia lebih banyak terjadi pada wanita meskipun baik laki-laki maupun wanita dapat juga mengalami anorexia.
~ Anorexia lebih umum terjadi pada mereka yang berusia remaja.
~ Genetik. Para ahli menemukan area pada kromosom 1 menunjukkan hubungan peningkatan risiko anorexia nervosa. Sebagai tambahan, anorexia nervosa menurun pada keluarga.
~ Mereka yang mengalami kenaikan berat badan akan merasa rendah diri. Perubahan  berat badan ini akan memicu seseorang untuk memulai diet yang ekstrim.
~ Masa transisi. Ketika baru pindah sekolah, rumah atau pekerjaan, putusnya hubungan, atau kematian atau sakit yang diderita oleh mereka yang dicintai, perubahan tersebut dapat membawa tekanan emosional dan meningkatkan risiko anorexia nervosa.
~ Olahraga, pekerjaan dan aktivitas seni. Beberapa bidang pekerjaan, olahraga dan seni yang menuntut tubuh kurus dapat meningkatkan risiko anorexia bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya.
~ Media yang secara rutin menunjukkan gambar model dan aktor yang kurus dapat membuat penggemarnya ingin memiliki tubuh seperti mereka dan menempatkan risiko anorexia terhadap mereka yang ingin seperti model dan aktor tersebut.

Anoreksia Nervosa memang penyakit yang menyebabkan penderitanya megalami kelainan namun secara pasti apa dan dari mana kelainan ini dapat terjadi belumlah diktahui apa yang menyebabkan nya secara pasti namun di perkirakan faktor sosial mempunyai pernan yang sangat penting bagi timbulnya penyakit ini. Seperti gangguan psikologis lainnya, anorexia melibatkan interaksi yang kompleks dari berbagai faktor. Namun demikian, faktor yang paling signifikan adalah tekanan sosial yang dirasakan oleh wanita muda yang menyebabkan mereka mendasarkan self–worth pada penampilan fisik, terutama berat badan.


Faktor Biologis
Kelaparan menyebabkan banyak perubahan biokimia, beberapa diantaranya juga ditemukan pada depresi. Para ilmuwan menduga bahwa terdapat ketidaknormalan dalam mekanisme otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang pada penderita anoreksia nervosa kemungkinan terbesar berkaitan dengan serotonin kimiawi otak (Goode,2000). Kelaparan menghasilkan beberapa perubahan biokimia, yang sebagian juga ada pada pasien depresi, seperti hiperkortikolemia dan non supresi dari dexamethason. Fungsi tiroid juga tertekan, kelainan ini hanya bisa dikoreksi dengan kaliminasi. Kelaparan juga menyebabkan tidak haid yang menunjukkan kadar hormon (luitenizing hormon, FSH, gonadotropin, realising hormon). Meskipun begitu, beberapa pasien anoreksia nervosa menderita amenorrhea sebelum kehilangan berat badan yang signifikan.

Pembatasan makan terlalu banyak mengaktifkan saraf yang berhubungan dengan reward (contoh dopamine dan sistem opioid endogen) khususnya saat syaraf tersebut berasosiasi dengan latihan fisik yang meningkat dapat menyebabkan simptom – simptom yang berhubungan dengan Anoreksia nervosa, contoh, depresi, obsesi dan menghasilkan efek fisiologis yang merugikan serta rasa permusuhan terhadap asupan makanan. Farmakologi dan bukti genetik memperlihatkan bahwa dopamin dan sistem opioid berkontribusi terhadap pengurangan keinginan makan pada Anoreksia Nervosa. Interpretasi tentatif yang berhubungan dengan simptom Anoreksia nervosa terhadap ketakutan irasional pada asupan makanan atau pertambahan berat badan, berasal dari hyperaktifasi amigdala yang dapat mempengaruhi penilaian negatif terhadap makanan.

Faktor Sosial
Penderita menemukan dukungan untuk tindakan mereka dalam masyarakat yang menekankan kekurusan dan latihan. Ditemukan bukti yang menunjukkan pasien-pasien anoreksia nervosa mempunyai masalah yang berhubungan dengan keluarga dan penyakit mereka. Pasien anoreksia nervosa mempunyai sejarah keluarga yang depresi, ketergantungan alkohol, atau gangguan makan. Tetapi,  faktor sosial memegang peran penting dimana penderita ingin menjadi kurus. Karena kegemukan, dianggap tidak menarik, tidak sehat, dan tidak diinginkan.

Faktor Psikologis dan Psikodinamis
Anoreksia nervosa tampaknya merupakan suatu reaksi terhadap kebutuhan pada remaja untuk menjadi lebih mandiri dan meningkatkan fungsi social dan seksual. Biasanya mereka tidak mempunyai rasa otonomi dan kemandirian, dan biasanya tumbuh di bawah kendali orang tua. Kelaparan yang diciptakan sendiri (self starvation) mungkin merupakan usaha untuk meraih pengakuan sebagai orang yang unik dan khusus. Hanya melalui tindakan disiplin diri yang tidak lazim pasienanoreksia dapat mengembangkan rasa otonomi dan kemandirian.

Faktor Sosiokultural
Tekanan untuk mencapai standar kurus yang tidak realisitis, dikombinasikan dengan pentingnya faktor penampilan sehubungan dengan peran wanita dalam masyarakat, dapat menyebabkan wanita muda menjadi tidak puas dengan tubuh mereka sendiri. Model sosiokultural didukung dengan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa gangguan makan lebih jarang terjadi di Negara-negara non Barat. Bahkan pada budaya barat, gangguan makan yang terkait dengan obsesi terhadap berat badan lebih umum terjadi di Amerika daripada Negara-negara barat lainnya, seperti Yunani dan Spanyol atau pada negara Timur yang teknologinya telah berkembang seperti Jepang.

Faktor Psikososial
Ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri adalah faktor penting dalam anorexia nervosa. Ketidakpuasan terhadap tubuh dapat menghasilkan usaha-usaha maladaptif dengan melaparkan diri dan memuntahkan makanan untuk mencapai berat badan atau bentuk tubuh yang diinginkan. Wanita pengidap anorexia cenderung menjadi sangat peduli pada berat dan bentuk tubuh mereka. Wanita muda dengan anorexia sering kali memiliki sikap perfeksionis dan berjuang mencapai prestasi yang tinggi. Mereka sering kali kecewa pada diri mereka ketika gagal mencapai standar tinggi mereka yang hamper tidak mungkin dicapai. Diet yang ekstrem dapat memberikan perasaan bisa mengontrol dan kebebasan yang lebih besar daripada yang didapat dari aspek kehidupan lainnya.

Faktor Keluarga
Gangguan makan, anoreksia nervosa sering jali berkembang dari adanya konflik dalam keluarga. Beberapa remaja menggunakan penolakan untuk makan sebagai cara menghukum orang tua mereka karena perasaan kesepian dan keterasingan yang mereka rasakan di rumah. Ibu dari remaja yang memiliki gangguan makan juga memiliki masalah makan dan diet dan percaya bahwa putrinya harus menurunkan berat badan serta memandang putrinya sebagai orang yang tidak menarik. Keluarga dari wanita dengan anoreksia cenderung lebih sering mengalami konflik, kurang memiliki kedekatan dan kurang saling memberi dukungan namun lebih bersikapoverprotective dan kritis. Orang tua terlihat kurang mampu untuk membangkitkan kemandirian dalam diri anak perempuan mereka. Konflik dengan orang tua mengenai isu otonomi sering kali mengakibatkan munculnya anoreksia nervosa.


“Ciri- ciri Anoreksia Nervosa”
* Tidak mau mempertahankan berat badan pada level normal atau sedikit di atas normal.
* Ketakutan bahwa berat badan akan naik.
* Menganggap berat badannya sudah ideal.
* tidak mengalami menstruasi.
* Sengaja memaksa diri sendiri untuk lapar dengan kehilangan berat badan.
* Ketakutan apabila berat badan mereka bertambah.
* Menolak makan.
* Mengingkari kalo mereka lapar.
* Berolahraga secara kontant.
* Jumlah rambut yang lebih banyak pada tubuh atau wajah.
* Sensitif terhadap cuaca/suhu dingin.
* Tidak mengalami siklus menstruasi/absen.
* Kehilangan atau rontoknya rambut pada kepala.
* Persepsi atau cara pandang terhadap diri sendiri yang menganggap diri *mereka itu gemuk padahal sesungguhnya diri mereka terlalu kurus.

“Jenis Anorexia nervosa”
Dalam kutipan Suara sebelumnya, Hornbacher menggambarkan salah satu dari dua jenis anoreksia, jenis tertentu. Orang dengan tipe anorexia nervosa tertentu hanya menolak makan sebagai cara untuk mencegah kenaikan berat badan. Beberapa orang dengan anorexia tertentu mencoba keluar rumah sehari penuh tanpa makan apapun. Kebanyakan mereka makan dalam jumlah yang sangat kecil setiap hari, sebagian hanya untuk tetap hidup dan sebagian karena paksaan dari orang lain untuk makan. Hornbacher bertahan selama berbulan-bulan hanya dengan secangkir yogurt dan muffin bebas lemak per hari. Daphne, dalam studi kasus berikut ini, juga memiliki tipe anorexia nervosa tertentu.


“Gambaran Klinis”
Ada 2 macam subtype dari anoreksia nervosa yang didasarkan atas metode-metode yang digunakan untuk mengkontrol berat badan, yaitu:
1. Mengkontrol pengurangan berat badan dengan mengkonsumsi kalori yang sangat rendah dan olah raga.
2. Terkadang terjadi bulimia diantara jarak makan, dan kelaparan dengan mempunyai kebiasaan memuntahkan dan penggunaan laksan dan diuretic daripada menggunakan obat penurun berat badan. 

Gejala klinis/symptom 
1. Gejala yang predominan adalah ketakutan yang sangat akan kenaikan berat badan, sampai terjadi phobia terhadap makanan. Ketakutan terhadap  makanan disertai dengan penyalahartian dari body image; banyak pasien merasa diri mereka sangat gendut, walaupun sebenarnya mereka sangat kurus.
2. Banyak penderita anoreksia nervosa mempunyaiobsessive compulsive behavior, misalnya mereka sering sekali mencuci tangan berulang-ulang,  pasien cenderung kaku dan perfeksionis yang mengarahkan pada diagnosis gangguan kepribadian, seperti narcissisme, atau riwayat gangguan kepribadian.
3. Penyesuaian seksual yang buruk.
4. Penderita anoreksia nervosa biasanya menunjukan perilaku yang aneh tentang makanan, seperti menyembunyikan makanan, membawa makanan dalam kantong, saat makan mereka membuang makanan, memotong makanan menjadi potongan kecil-kecil.
5. Gangguan tidur dan gangguan depresi pada umumnya.
6. Muntah yang dipaksakan.
7. Biasanya aktifitas dan program olah raga yang berlebihan.

Tanda Anoreksia Nervosa
1. Menyamarkan kekurusan mereka dengan baju dan make-up.
2. Kulit kering dan kering, rambut halus, dan alopesia ringan.
3. Subtype bulimia berat, seperti kehilangan enamel gigi karena asam lambung, ketika penderita muntah. Bahkan terdapat scar pada dorsum akibat jari-jari yang dimasukan ke mulut untuk memaksakan muntah.
4. Hypokalemi dan kelainan EKG.
5. Kelainan neurology (seperti seizure dan neuropaty) dan anemia yang berhubungan dengan kekurangan gizi dan kelaparan.

Indikasi awal dari kecenderungan terjadinya anorexia 
1. Meningkatnya perhatian terhadap makanan dan berat badan bahkan pada penderita yang sebelumnya sudah kurus.
2. Perubahan gambaran tubuh.
3. Ketakutan yang luar biasa akan kegemukan.
4. Penolakan untuk mempertahankan berat badan yang normal.
5. Hilangnya siklus menstruasi (pada wanita).
6. Denyut jantung lambat.
7. Tekanan darah lambat.
8. Suhu tubuh rendah.
9. Pembengkakan jaringan karena penimbunan cairan (ederma)
10. Rambut yang tipis dan lembut atau rambut tubuh dan wajah yang berlebihan.
11. Mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan dipertahankan oleh penderita.
12. Gejala kekurangan gizi.
13. Konstipasi
14. Gangguan pencernaan dan perut kembung.
15. Dehidrasi.
16. Kram otot.
17. Gemetaran.
18. Tumbuh rambut halus di wajah, punggung atau lengan.
19. Payudara semakin datar.
20. Rambut kusam, menipis dan mudah patah.
21. Kulit kering dan pecah-pecah.
22. Tangan dan kaki dingin.
23. Detak jantung tidak beraturan.
24. Depresi dan kecemasan.
25. Subtype bulimia berat, seperti kehilangan enamel gigi karena asam lambung, ketika penderita muntah. Bahkan terdapat scar pada dorsum akibat jari-jari yang dimasukan ke mulut untuk memaksakan muntah.
26. Hypokalemi dan kelainan EKG.
27. Kelainan neurology (seperti seizure dan neuropaty) dan anemia yang berhubungan dengan kekurangan gizi dan kelaparan. 


“Diagnosis”
Penderita penyakit ini dapat diketahui dengan adanya gejala yang dapat dilihat seperti penderita pasti merasakan rasa yang tidak puas terhadap dirinya sendiri seperti penderita merasakan kegemukan yang sebenarnya tidaklah dialami penderita namun penderita selalu merasakan kegemukan dan hal inilah yang mendorong penderita meningkatkan perhatian terhadap  nafsu makan dan juga berat badan. Namun penyakit ini juga mempunyai gejala yang khas seperti tekanan darah dan suhu tubuh rendah dan juga denyut jantung rendah disertai dengan pembengkakan pada jaringan yang diakibatkan karena adanya penimbunan cairan.

Pedoman diagnostic Anoreksia Nervosa menurut PPDGJ-III adalah:
- Mempunyai ciri khas gangguan adalah mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh penderita. Untuk suatu diagnosis yang pasti dibutuhkan semua hal seperti di bawah ini, yaitu:
a. Berat badan tetap dipertahankan 15% di bawah yang seharusnya (baik yang berkurang maupun yang tidak tercapai) atau Quetelet’s body mass index adalah 17,5% atau kurang. 
b. Berkurangnya berat badan dilakukan sendiri dengan menghindari makanan yang mengandung lemak dan salah satu hal di bawah ini :
    • Merangsang muntah oleh dirinya sendiri
    • Menggunakan pencahar
    • Olah raga berlebihan
    • Menggunakan obat penahan nafsu makan dan atau diuretika.
    • Terdapat distorsi body image dalam psikopatologi yang spesifik dimana ketakutan gemuk  terus menerus menyerang penderita, penilaian yang berlebihan terhadap berat badan yang rendah.
    • Adanya gangguan endokrin yang meluas, melibatkan hypothalamic-piyuitary-gonadal aksis, dengan manifestasi pada wanita sebagai amenore dan pada pria suatu kehilangan minat dan potensi seksual. Juga dapat terjadi kenaikan hormon pertumbuhan, kortisol, perubahan metabolisme peripheral dari hormone tiroid, dan sekresi insulin abnormal.
    • Jika onset terjadinya pada masa prubertas, perkembangan prubertas tertunda atau dapat juga tertahan. Pada penyembuhan, prubertas kembali normal, tetapi menarche terlambat.
- Pemeriksaan patologi dan laboratorium, tidak ada tes laboratorium tunggal yang mutlak mambantu menegakan diagnosa anoreksia nervosa. Urutan uji saring laboratorium adalah diperlukan pada orang yang memenuhi criteria anoreksia nervosa. Tes tersebut dapat berupa elektrolit serum dan tes fungsi ginjal, tes glukosa, EKG, kadar kolesterol, test supresi deksametason, dan kadar karoten. Klinisi mungkin menemukan penurunan hormon tiroid, penurunan glukosa serum, nonsupresi kortisol setelah deksametason, hipokalemia, peningkatan nitrogen urea darah, dan hiperkolesterolemia. 


“Komplikasi Medis Dari Gangguan Makan”
Berhubungan dengan penurunan berat badan :
1. Kaheksia : hilangnya lemak, massa otot, penurunan metabolisme tiroid (sindrom T3 rendah), intoleransi dingin, dan sulit mempertahankan temperatur inti tubuh.
2. Jantung : hilangnya otot jantung, jantung kecil, aritmia jantung, termasuk kontraksi premature atrium dan ventrikel, perpanjangan transmisi berkas HIS (perpanjangan interval QT, bradikardia, takikardia ventricular, kematian mendadak.
3. Pencernaan-gastrointestinal: perlambatan pengosongan lambung, kembunng, konstiopasi, nyeri abdomen.
4. Reproduktif : Amenore, kadar leutenizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH) yang rendah.
5. Dermatologis: lanugo (rambut halus tumbuh di seluruh tubuh), edema.
6. Hematologys : leucopenia
7. Neuropsikiatri : sensasi kecap yng abnormal ( mungkin karena defesiensi dari seng ), depresi apatetik, gangguan kognitif ringan.
8. Rangka osteoporosis. Berhubungan dengan mencahar ( muntah dan penyalahgunaan laksatif)
9. Metabolisme : kelainan elektrolit, terutama alkalosis hipokalemik, hipokloremik, dan hipomagnesimia.
10. Pencernaan-gastrointestinal : peradangan dan pembesaran kelenjar liur dan pancreas, dengan peningkatan amylase serum, erosi esophagus dan lambung, usus disfungsional dengan dilatasi haustra.
11. Gigi: erosi enamel gigi, terutama bagian depan, dengan dengan kerusakan gigi yang bersanngkutan.
12. Neuropsikiatrik : kejang (berhubungan dengan pergeseran cairan yang besar dan gangguan elektrolit), neuropati ringan, kelelahan, dan kelemahan, gangguan kognitif lainnya. 


“Diagnosis Banding”
Diagnosis banding anoreksia nervosa adalah dipersulit oleh penyangkalan pasien tentang gejalanya, kerahasiaan di sekitar ritual makan pasien yang aneh dan penolakan pasien untuk mencari pengobatan. dibawah ini adalah diagnosis banding untuk  anoreksia nervosa.
1. Anoreksia nervosa harus dibedakan dengan dengan kekurusan pada umumnya, terlalu kurus, tetapi penurunan berat badannya kurang dari 15% berat badan normal. Pemikiran sekarang diperkirakan, bahwa anoreksia nervosa adalah gangguan yang khusus, dan tidak mencerminkan penurunan berat badan yang berlanjut. 
2. Gangguan organic, seperti tumor otak yang melibatkan jaras hypothalamus-pituitary, penyakit Addison, Diabetes Mellitus, dan gangguan gastrointestinal. 
3. Gangguan psikologi, pada umumnya pasien depresi mengalami suatu penurunan nafsu makan, sedangkan pada anoreksia nervosa mengaku memiliki nafsu makan yang normal dan merasa lapar. Pada agitasi depresif, hiperaktifitas yang ditemukan pada anoreksia nervosa adalah direncanakan dan merupakan ritual. Preokupasi dengan makanan yang mengandung kalori, resep makanan dan persiapan   pesta pencicipan makanan adalah tipikal pada pasien anoreksia nervosa dan tidak ditemukan pada penderita gangguan depresif. Dan pada pasien dengan gangguan depresif tidak memiliki ketakutan yang kuat akan kegemukan atau gangguan citra tubuh, seperti yang dimiliki oleh pasien anoreksia nervosa. 
4. Sekitar 50% penderita anoreksia nervosa ditemui ktiteria untuk diagnosis tersangka bulimia, dinamakan bullimarexia atau bulimia nervosa sebagai variasi dari penyakit. 


“Prognosis”
Prognosis jangka panjang dari anoreksia adalah lebih pada sisi yang menguntungkan. Komorbiditas Survei Nasional Replikasi dilakukan di antara lebih dari 9.282 peserta di seluruh Amerika Serikat, hasil menemukan bahwa rata-rata durasi anoreksia nervosa adalah 1,7 tahun. "Bertentangan dengan apa yang orang mungkin percaya, anoreksia tidak selalu merupakan penyakit kronis, dalam banyak kasus, itu berjalan saja dan orang-orang mendapatkan yang lebih baik. Dalam kasus-kasus anoreksia nervosa remaja yang memanfaatkan pengobatan Keluarga 75% dari pasien memiliki hasil yang baik dan 15% menunjukkan hasil yang belum menengah yang lebih positif. [191] Dalam lima tahun pasca perawatan tindak lanjut dari Terapi Keluarga Maudsley pemulihan penuh rate antara 75% dan 90%. Bahkan dalam kasus yang parah AN, meskipun tingkat kambuhan mencatat 30% setelah rawat inap, dan waktu panjang untuk pemulihan mulai 57-79 bulan, tingkat pemulihan penuh masih 76% . Ada kasus-kasus relaps minimal bahkan pada jangka panjang follow-up dilakukan antara 10-15 tahun. Prognosis jangka panjang dari anoreksia nervosa berubah. Seperlima dari pasien tetap sakit parah, lain kelima pasien sembuh sepenuhnya dan 3 / 5 dari pasien memiliki program berfluktuasi dan kronis (Gelder, Mayou dan Geddes 2005). 


“Terapi”
Pengobatan diberikan dengan rawat jalan, kecuali muncul masalah medis yang berat. Pengobatan rawat jalan ini mencakup:
a. Pemantauan medis
b. Rencana diet untuk memulihkan status nutrisinya
c. Psikoterapi jangka panjang untuk mengatasi penyebab dasarnya
d. Pengobatan psikofarmaka untuk mengatasi gejala depresi, kegelisahan dan perilaku kompulsif – obsesif 

Psikoterapi
Mayoritas pasien anoreksia nervosa membutuhkan intervensi yang berlanjut setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan dalam kasus yang kurang parah, hospitalisasi tidak dibutuhkan karena kebanyakan pasien mengalami gangguan pada masa remaja dan keluarga adalah bagian dari terapi. Meskipun psikodinamik terapi tidak dibutuhkan pada tingkatan awal terapi, terutama jika pasien anoreksia nervosa dalam kelaparan. Psikoterapi yang berorientasi pada insight hanya berguna pada pasien anoreksia nervosa yang telah stabil.
Psikoterapi adalah pendekatan yang terbaik untuk gangguan ini. Beberapa penelitian mendukung penggunaan dari family based interventions, adolesent focused indivudual therapy dandevelopmentally adapted cognitive behavioral therapy. Cakupan perawatan psikologis yang fokus terhadap individual ada gangguan makan diantaranya adalah psikoterapi psikodinamika, psikoterapi interpersonal, developmentally oriented individual therapy, CBT, dialectical behavioral therapy, nutritional therapydan psikoterapi baru yaitu cognitive remediation therapy. 

Terapi Kognitif Behavioral (CBT)
Diakui sebagai treatment yang efektif untuk gangguan makan. Dari beberapa study menunjukkan bahwa CBT paling baik digunkan sebagai single antidepresant drugs dan lebih efektif daripada treatment lainnya.
CBT didasarkan pada suatu model kognitif tentang apa yang menyebabkan gangguan. Tekanan sosial atas wanita untuk lebih kurus yang berhubungan dengan shape dan weigh dan untuk melakukan pengekangan diet secara ketat. Treatmen diarahkan pada dietary restraint menuju pada pola makan yang lebih normal, pengembangan kognitif dan memodifikasi pikiran yang disfungsional dan perasaan-perasaan personal yang berkaitan dengan berat dan bentuk tubuh. 

Family – Based Treatment
Anoreksia diperlukan penanganan dini, karena penanganan yang terlambat mempersulit pengobatan. Pengobatan harus segera diberikan untuk memulihkan berat badannya dan jika kondisinya sangat lemah harus dirawat di rumah sakit. Perawatan penderita anoreksia nervosa harus disertai dengan bimbingan para spesialis (psikolog, ahli diet) karena dia perlu berdialog dengan pada ahli tersebut agar bisa mengubah pandangannya. Lama terapi bisa beberapa bulan bahkan sampai tahunan. Perawatannya pun sama yaitu dengn mengubah persepsi diri mengenai tubuhnya.
Biasanya, keluarga pasien akan diminta bantuan dalam perawatan seperti terapi psikologis, konseling gizi, modifikasi perilaku dan self-help group. Terapi dapat berlangsung setahun atau lebih. Dapat dilakukan sendiri di rumah bersama keluarga atau untuk kasus yang parah dengan rawat inap di rumah sakit. Tetapi meskipun perawatan di rumah sakit diperlukan akan lebih baik jika perawatan dilakukan di rumah yakni tanpa opname di rumah sakit. Menurut hasil penelitian dalam jurnal Family – Based Treatment of Adolesencet Anorexia Nervosa The Maudsley Approach. Menurut studi hasil penelitian di London menunjukkan 75% – 90% penderita anorexia nervosa dapat sembuh dengan melakukan perawatan Family based dengan perawatan kurang lebih selama 12 bulan. Target kunci terapi keluarga:
1. Mendorong orang tua untuk ambil bagian atau ikut serta pada pola makan anak dan olah raga untuk menaikkan berat badan anak mereka.
2. Menunjukkan bahwa pola asuh orang tua dapat menyebabkan anoreksia nervosa.
3. Menempatkan orang tua dalam pengambilan keputusan mengenai cara menyelamatkan dari tindakan melaparkan diri anak dan olah raga yang berlebihan.
4. Menyediakan pendidikan bagi orang tua mengenai dampak anorexia nervosa terhadap pola pikir, perilaku dan hubungan interpersonal.
5. Agar tidak menyalahkan pihak lain dan dihadapi secara kekeluargaan dengan menjelaskan bahwa anorexia nervosa adalah penyakit jiwa.

Bentuk manual dari pendekatan terapi tersebut di Family – Based Treatment for Anorexia Nervosa (FBT – AN). Pada banyak kasus, treatment tersebut berlangsung antara 6 sampai 12 bulan dan terdiri dari 10 dan 20 kali satu jam sesi keluarga. Mengingat implikasi psikologi dan medis anoreksia nervosa yang sulit, suatu rencana pengobatan harus  menyeluruh, termasuk perawatan di rumah sakit jika diperlukan dan terapi individual serta keluarga adalah dianjurkan. Pendekatan perilaku, interpersonal, dan kognitif pada beberapa kasus medikasi harus dipertimbangkan. Apabila rawat inap, langkah yang harus dilakukan:

Perawatan di rumah sakit. Clinical harus memutuskan pasien mana yang harus diberi perawatan di rumah sakit.
1. kehilangan energi yang  banyak, pada umumnya, pasien anoreksia nervosa yang berada 20% di bawah berat badan yang diharapkan untuk tinggi badannya adalah dianjurkan untuk program rawat inap, dan pasien yang berada 30% di bawah berat badan yang diharapkan memerlukan perawatan rumah sakit psikiatrik yang terentang dari dua sampai 6 bulan.
2. Hypokalemi (<3 meg/L) atau EKG mengalami perubahan akibat meningkatnya potassium.
3. Lingkaran muntah, dan pengurangan makanan yang tidak dapat diputuskan. 
4. Assessment yang berhati-hati dan penatalaksanaan masalah  kesehatan dan gangguan kejiwaan lainnya.
5. Modifikasi perilaku lainnya untuk usaha peningkatan berat badan, seperti :
- Tirah baring dengan pengawasan konsumsi makanan sebagai langkah awal untuk setiap pasien. Frekuensi pemberian makan 5-6 kali, dengan kalori 1500 – 2000 kalori yang ditingkatkan secara bertahap, biasanya diberikan makanan   yang sama selama sehari sehingga pasien tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang besar sekali makan.
- Keinginan untuk menaikan berat badan harus disesuaikan dengan pendidikan pasien.
- Setiap pagi pasien harus ditimbang setiap pagi, setelah mengosongkan kandung kemihnya dan sebelum sarapan.
- Mengkuatkan kembali keinginan pasien untuk meningkatkan berat badannya.
- Jika pasien tidak lagi tirah baring, pasien harus diawasi selama 2 jam setelah makan. Hal ini dilakukan agar pasien tidak memuntahkan makanannya.
- Pemberian makan secara paksa dilakukan jika pasien mengalami penurunan berat badan yang drastic, dan membahayakan jiwa pasien. 
- Cyproheptadine hydrochloride, merupakan antagonis antihistamine dan serotonin, telah terbukti efektif sebagai stimulus untuk pasien anoreksia nervosa yang mempunyai sedikit efek samping. Dosis harian adalah 8mg peroral dan dinaikan 32mg/hari pada akhir minggu kedua. 
- Amitrypline, dimulai dengan dosis 50mg/hari dan dinaikan perlahan-lahan sampai 150mh/hari. Obat ini terbukti bermanfaat untuk pasien anoreksia nervosa, biasanya pasien mengalami panaikan berat badan, biasanya digunakan untuk pasien dengan gangguan depresi. 
- Alprazolam, 0,25mg, setiap 1 jam sebelum makan, diperuntukan untuk pasien yang mengalami anxietas yang berat.

Kriteria untuk perawatan di rumah sakit, apabila terdapat satu tanda di bawah ini:Dasar perawatan di rumah sakit  berdasarkan:
a. Farmakoterapi diberikan jika ada gangguan jiwa, seperti depresi, atau kecemasan.
b. Keikutsertaan keluarga diberikan untuk pasien yang dengan perawatan di rumah, digunakan untuk memeriksa interaksi di antara anggota keluarga dan kemungkinan tujuan sekunder dari gangguan tersebut bagi pasien.

Perawatan setelah rumah sakit :
a. Gabungan psikoterapi individu dan keluarga.
b. Menggunakan pendekatan terapi kognitif yang difokuskan pada pasien yang terobsesi menjadi kurus, kepercayaan diri yang rendah, dan dichotomous thinking, seperti gendut lawan kurus, benar lawan salah, otonomi lawan independent.
c. Farmakoterapi, banyak diberikan oleh physician jika pasien telah mengalami perbaikan setelah 6 bulan, setelah pasien di rawat.

Memperlakukan Anorexia Nervosa” 
a. Orang dengan penyakit ini bisa menjadi lebih baik. Pengobatan tergantung pada apa yang orang kebutuhan. Orang tersebut harus kembali ke berat badan yang sehat. Kadang-kadang, ini berarti akan ke rumah sakit dan tinggal di sana untuk pengobatan. Berbagai jenis penyedia layanan kesehatan, seperti dokter, ahli gizi, dan terapis, akan membantu pasien menjadi lebih baik. HCPs ini akan membantu pasien mendapatkan kembali berat badan, meningkatkan kesehatan fisik dan gizi, belajar pola makan sehat, dan mengatasi pikiran dan perasaan yang terkait dengan gangguan tersebut. Setelah meninggalkan rumah sakit, pasien terus mendapatkan bantuan dari HCPs nya.
b. Tapi tinggal di rumah sakit mungkin tidak diperlukan. Tipe lain dari program pengobatan adalah satu di mana seseorang pergi ke rumah sakit siang hari, tetapi kehidupan di rumah. Orang lain dengan anoreksia dapat sembuh dengan mendapatkan konseling individu dari suatu HCP, seperti terapis yang mengkhususkan diri dalam gangguan makan.
c. Banyak kali, gangguan makan terjadi dengan masalah lain, seperti depresi dan masalah kecemasan. Masalah ini juga diobati bersama dengan anoreksia, dan mungkin melibatkan obat-obatan yang membantu mengurangi perasaan depresi dan kecemasan.
d. Keluarga konseling dan kelompok-kelompok pendukung juga dapat menjadi bagian dari pengobatan. Jika pasien masih muda, terapi keluarga sangat penting. Kelompok pendukung membantu pasien dan keluarga berbicara tentang pengalaman mereka dan saling membantu menjadi lebih baik.


“Studi Kasus”
Aprilia memiliki tinggi badan 5 kaki 11 inci dan beratnya 102 pound. Dia telah merasa "besar" karena ketinggian di atas teman sekolahnya di kelas lima. Dia telah menjalani diet sejak itu. Selama tahun pertamanya di sekolah, Aprilia memutuskan bahwa ia harus mengambil langkah- langkah drastis untuk menurunkan berat badan lebih. Dia mulai dengan mengurangi asupan kalori sekitar 1.000 kalori per hari. Dia kehilangan beberapa kilo, tapi ia tidak puas, jadi dia mengurangi asupan hingga 500 kalori per hari. Dia juga memulai program olahraga berat. Setiap hari, Aprilia tidak akan membiarkan dirinya makan sampai ia berjalan setidaknya 10 mil. Lalu ia hanya mengkonsumsi beberapa jenis sayuran dan segenggam sereal. Kemudian di hari itu, dia mungkin mengkonsumsi sayuran dan buah lebih banyak, tapi dia akan menunggu sampai ia begitu lapar sampai pingsan. Berat badan Aprilia turun sampai 110 kilogram dan ia berhenti menstruasi. Ibunya mengungkapkan beberapa kekhawatiran tentang betapa Aprilia hanya makan sedikit sekali, tapi karena Aprilia cenderung kelebihan berat badan, ia tidak menyurutkan niat Aprilia untuk diet. Ketika tiba saatnya masuk perguruan tinggi, Aprilia senang tapi juga takut, karena dia selalu menjadi bintang pelajar di sekolah tinggi dan tidak yakin dia bisa mempertahankankannya. Ketika di perguruan tinggi pada periode pemeriksaan pertama di perguruan tinggi, Aprilia banyak mendapat nilai B. Dia merasa sangat rentan, merasa gagal, dan seolah-olah dia kehilangan kontrol. Dia juga tidak senang dengan kehidupan sosialnya pada pertengahan semester pertama. Aprilia memutuskan bahwa banyak hal yang mungkin akan lebih baik jika ia kehilangan berat badan lebih, sehingga ia mengurangi asupan makanan dengan dua apel dan segenggam sereal setiap hari. Dia juga berlari setidaknya 15 mil setiap hari. Pada akhir semester musim gugur, berat badannya turun menjadi 102 pound. Dia juga mengalami kelelahan kronis, sulit berkonsentrasi, dan kadang-kadang pingsan. Namun, ketika Aprilia melihat ke cermin, ia melihat seorang wanita, muda sederhana yang ingin menurunkan berat badan lebih.




Laman

 

DUNIA MERAH Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting