Langsung ke konten utama

I'm Back Again to The Ground Karo Vacation "Kabanjahe Vacation"

I'm Back Again ...
Hahaha, terasa menyenangkan kali ini karna kembali ketanah karo bukan menjadi relawan tapi khusus untuk berlibur.
Beruntungnya kami berlibur tanpa modal, memalukan sebenarnya tapi jujur jauh lebih baik bukan? hehehe ^_^
Kami datang kembali untuk berlibur dan dari medan kami dijemput oleh 2 orang kenalan kami dari kabanjahe.
Yapzz, singkat kata kami berlibur dengan bermodalkan teman baik ^_^
Rasanya bukan masalah besar demi memperikat sebuah tali persaudaraan.


Seharusnya kami berangkat bertiga bersama Dhea dan Erna ..
Sayangnya ada halangan khusus yang buat Erna nggak bisa ikut dengan kami dan bujukan kami sudah tidak mampan lagi karna kepentingan dia memang tidak bisa ditinggalkan.
Maklum yang sebentar lagi bakalan punya keponakan baru, hasratnya untuk kembali kepekanbaru terlalu cepat.
Kalau tidak salah waktu itu kami dijemput sekitar jam 7 malam dari Medan dan sampai dikabanjahe sekitar pukul 9 lewat.
Tidak banyak yang kami jumpai waktu itu diposko utama karna semua relawan- relawan diposko utama sudah beristirahat.
Berhubung sudah lelah, begitu sampai kami pun langsung beristirahat.
Aku dan Dhea mendapatkan satu tenda yang ukurannya lumayan besar. Dulu tenda itu kami jadikan posko utama satu tim untuk beristirahat.
Waktu menjadi relawan, kami seperti ikan rebus saja tersusun rapi supaya muat untuk tidur dalam satu tenda,
Sekarang tenda itu terlalu luas dan terlalu dingin hanya untuk kami berdua, hahaha ^_^

Keesokan paginya kami bangun lebih awal untuk menyeimbangkan dengan kegiatan relawan lainnya yang sudah bangun lebih awal juga untuk beraktivitas.
Syukurlah kedatangan kami kembali disana disambut dengan sangat baik oleh relawan- relawan yang sebelumnya sempat kami kenal dengan baik disana :)

Well, ada banyak cerita manis untuk liburan kali ini.
Akan ada banyak pemandangan dan suasana- suasana perkampungan, perdesaan sesuai dengan harapanku selama ini.
Rasanya impian untuk menikmati tempat- tempat wisata akan semakin terwujud.
Ini terasa jauh lebih menarik daripada aku harus menikmati sejuknya udara AC karna selalu keluar masuk mall ataupun cafe.
Setidaknya cafe coffee masih tetap menarik untuk aku puja :D
So, Follow My Story ....... ^_^

 
 Kami bangun lebih awal, langsung mandi dan bersiap- siap untuk mulai jalan- jalan mengelilingi tanah karo.
Ya ampun -________-
Yang terjadi adalah penantian sepanjang pagi ini.
Yang berjanji membawa kami jalan- jalan ternyata belum bangun dan tidak bisa dihubungi.
Ini nih yang buat kesal karna ngaret.
Tapi nggak mungkin juga kami marah karna kami pun hanya menumpang mencari hiburan secara cuma- cuma, hehehe ...
Jadi daripada bengong nggak jelas kami berdua didalam tenda, kami bergeser ke posko siap siaga karang taruna.
Lumayan ada wi-fi gratis untuk sekedar membuang suntuk karna terlalu lama menunggu.
Kebetulan didalam posko jaga ada 2 orang yang piket menjaga posko.

 
 Sekitar pukul 12 siang mulailah muncul bang edhie dan bang dewa.
Memang tidak langsung berangkat karna mereka masih duduk sebentar bercerita dengan sesama jenisnya yang ada didalam posko jaga.
Daripada kami bengong tidak jelas, akhirnya memberanikan diri meminjam Kawasaki Trail KLX 150 yang parkir disamping posko.
Membawa motor besar, motor- motor kopling memang biasa.
Tapi membawa Kawasaki Trail KLX 150, rasanya ini akan jadi pengalaman pertama.
Tidak ada yang perlu ditakutkan rasanya karna semua motor sama saja toh.
Untungnya diberi kepercayaan untuk meminjam motornya dan akhirnya bersama dhea kami berjalan- jalan disekitar situ.
Tidak jauh- jauh karna kami hanya berkunjung ke makam pahlawan kemudian kembali ke posko jaga.

Sekembalinya kami keposko, kami diajak untuk berjalan- jalan mengelilingi tanah karo.
Kami berangkat siang sekitar pukul 1 lewat dan pertama kalinya kami  menyempatkan melihat Rumah Adat Karo. Ternyata satu rumah adat karo itu tidak hanya ditempati oleh satu keluarga saja melainkan ada 8, 12, dan bahkan 16 keluarga.
Wow Fantastis kalau melihat ukuran dalam rumah adat yang tidaklah luas.

Look ... Inilah kondisi didalam rumah adat karo ini.
Bisa anda bayangkan bagaimana 8 keluarga bisa tinggal didalam ??
Lokasi dari rumah adat yang kami kunjungi ini terletak di Desa Lingga Kabanjahe.
Rumah Adat Karo juga terkenal dengan seni arsitekturnya yang khas, gagah dan kokoh, tidak hanya itu rumah adat karo juga dihiasi dengan ornamen-ornamen yang kaya akan nilai-nilai filosofis.
Makna dari rumah adat karo sendiri menggambarkan hubungan yang erat antara masyarakat karo dengan sesama manusia dengan alam lingkungannya, bahan bangunan yang digunakan untuk membangun rumah adat karo ini tidak menggunakan beton, paku, dan kawat lho, melainkan menggunakan pasak dan tali ijuk, inilah yang menjadikan rumah adat karo semakin unik.

 Ini adalah kendi atau tempat air mereka.
Setiap kepala keluarga memiliki tempat air seperti yang aku pegang.
Sementara yang dipegang Dhea, kalau saya tidak salah adalah sendok untuk menanak nasi.
Keduanya terbuat dari bambu dan kalau kita genggam begitu kuat sekali.
Sekarang beralihlah memandang yang dibelakang saya.


 Rumah adat yang kami kunjungi adalah rumah adat untuk 8 keluarga.
Foto  diatas adalah tempat memasak sekaligus rak mereka menyimpan peralatan memasak.
Memasang pada bagian paling bawah dan diatasnya mereka jadikan tempat untuk menyimpan peralatan masak mereka.
Memasak tetap menggunakan kayu dan peralatan yang mereka gunakan nyaris maish tradisional semua.
Ada 8 tempat memasak seperti itu dan satu kepala keluarga mendapatkan tempat memasaknya masing- masing.
Kemudia beralihlah melihat ruangan yang berada dibelakang saya.

 Ruangan yang dibelakang saya tadi adalah kamar.
Lihatlah kamar yang ada difoto, dan perhatikan ukuran kamar tersebut.
Ukurannya benar- benar kecil dan sebenarnya untuk kamar 1 orang pun tidak wajar.
Tapi setidaknya cukup lebih baik kalau untuk 1 orang saja.
Masalahnya, kamar itu untuk 1 keluarga.
Jadi hanya ada 8 kamar yang tersedia dan satu keluarga mendapatkan jatah 1 kamar.
Bayangkan dalam ruangan sekecil itu beristirahat 1 keluarga? Bagaimana jika jumlah anaknya banyak?
Fantastis ^_^


 Sedikit bercerita yaaaa :

Pembangunan Rumah Adat Karo tidak terlepas dari jiwa masyarakat Karo yang tak lepas dari sifat kekeluargaan dan gotong-royong. 
Rumah Adat  menggambarkan kebesaran suatu Kuta (kampung), karena dalam pembangunan sebuah Rumah Adat membutuhkan tenaga yang besar dan memakan waktu yang cukup lama. 
Oleh karena itu pembangunan Rumah Adat dilakukan secara bertahap dan gotong royong yang tak lepas dari unsur kekeluargaan. 
Kegiatan gotong-royong ini terutama digerakkan oleh Sangkep Sitelu (sukut, kalimbubu dan anak beru) yang dibantu oleh Anak Kuta (masyarakat kampung setempat). 
Hal ini tidak terlepas dari sistem pemerintahan sebuah Kuta menggambarkan struktur sosial dan tatanan organisasi yang tinggi pada masyarakat Karo, yang terdiri dari pihak Simantek Kuta (pendiri kampung), Ginemgem (masyarakat yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Simantek Kuta) dan Rayat Derip (penduduk biasa).   

 Pembangunan sebuah Rumah Adat pada jaman dahulu harus mengikuti ketentuan adat dan tradisi masyarakat Karo yang telah ada secara turun-temurun. 
Sebelum membangun Rumah Adat diawali dengan ‘Runggu’ (musyawarah) dalam menentukan hari baik untuk memulai pembangunan, pada hari pembangunan diadakan sebuah upacara untuk meletakkan pondasi rumah dan meminta petunjuk dan perlindungan dari para leluhur orang Karo agar pelaksanaan pembangunan berjalan dengan baik. 
Demikian juga ketika Rumah Adat telah selesai dibangun, maka diadakan lagi upacara Mengket Rumah Mbaru (memasuki rumah baru). 
Upacara ini juga diawali dengan Runggu, untuk menentukan hari baik untuk mengketi (mendiami) rumah baru tersebut. 
Pada hari yang ditentukan diadakan upacara pengucapan syukur kepada leluhur, dan memohon agar rumah yang telah selesai dibangun dapat bertahan lama dan para penghuninya hidup harmonis serta menjadi berkat dan dijauhkan dari bencana.

 
 Kami meninggalkan Rumah adat di desa lingga kabanjahe.
Ditengah jalan kami sempat berhenti untuk menikmati pemandangan Gunung dan alam.
Udara terasa begitu sejuk walaupun erupsi gunung masih tetap aktif.
Udara memang terus sejuk tetapi panas tetap terus membakar kulit.
Memang tidak terasa panasnya matahari membakar kulit karna sejuknya udara, tapi dampaknya pada perubahan kulit sungguh terasa.
Sedangkan sepulang dari kabanjahe waktu jadi relawan sudah mendapatkan kritikan mengenai perubahan kulit yang semakin menghitam dan kering,
Nggak taulah apa yang terjadi setelah sepulang dari ini.
Nikmati saja yang penting happy ^_^


 Lanjut perjalanan dan kembali berhenti kembali ditengah perjalanan karna mendapatkan pemandangan yang indah kembali.
Inilah kelebihan daerah pegunungan.
Mata sering disajikan oleh pemandangan indah terutama pemandangan perkebunan.
Sepanjang jalan begitu banyak terdapat perkebunan jeruk, kemudian sayur- sayuran.
Tidakkalah cantik juga dengan kebun strowberry yang berada dibelakang saya pada foto diatas ^_^


 
 Semakin dekat ... Jarak kami kegunung sinabung semakin dekat.
Cuaca dan suhu tetap dingin malah semakin dingin.
Kami berhenti kembali didekat perkebunan jeruk untuk semakin menikmati gunung sinabung dari dekat.
Benar-benar gunung yang sangat tinggi dan semakin jelas terlihat perumahan- perumahan yang terletak disekitar gunung.
Tahukah kamu bahwa satu- satunya gunung yang berkakikan danau hanya dapat kita temukan di sinabung.
Dengan sedikit memohon untuk dibawa ke Danau Lau Kawar, akhirnya permintaan dikabulkan dengan kesepakatan siap menerima resiko mati jika sewaktu- waktu gunung sinabung erupsi.
Sok romantis kami ber-4, siap mati demi mengunjungi danau yang terletak di kaki gunung tersebut.

 Welcome To Danau Lau Kawar ....
Danau Lau Kawar adalah salah satu danau yang ada di kawasan ekosistem Leuser (KEL). Danau Lau Kawar yang berair kebiruan ini terletak di kaki Gunung Sinabung. Untuk menuju Danau Lau Kawar, dari Kota Medan menuju arah Brastagi. Dari tugu perjuangan di Kota Berastagi, kita berbelok kearah kanan menuju Kecamatan Simpang Empat. Menempuh jarak sekitar 30 Km dari Kota Berastagi dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, melewati jalan Kabanjahe – Kuta Rakyat. maka kita akan sampai di Danau Lau Kawar, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Bila dari Kota Medan, Law Kawar terletak sekitar 69 Km dengan jarak tempuh sekitar 3 jam. Saat ini, jalan menuju Danau Lau Kawar sudah sangat mulus dibandingkan beberapa tahun lalu.

Danau seluas 200 Ha ini bila di bandingkan dengan Danau Toba, memang hanya 1/6 Danau Toba, namun pesonanya tidak kalah dengan Danau Toba. Pemandangan pedesaan yang sangat khas akan kita temukan dari Brastagi ke Danau Lau Kawar, disamping kiri kanan, kita akan melihat tanaman sayur milik masyarakat, diselingi oleh kebun jeruk. Sepanjang jalan kita akan banyak berpapasan dengan kendaraan pedesaan berupa gerobak kayu yang di hela oleh seekor sapi. Angkutan ini biasanya membawa rumput, daun jagung, atau hasil palawija penduduk.
Terletak persis dikaki Gunung Sinabung, Gunung yang tertidur ratusan tahun dan bertype A sejak kembali meletus tahun 2010. Lau Kawar adalah pintu masuk menuju Gunung Sinabung. Karenanya lokasinya sangat eksotis. Memasuki pintu gerbang Lau Kawar, di sisi kanan danau terletak Deleng Lancuk atau Bukit Lancuk yang biasa menjadi tempat tracking, cukup banyak anggrek hutan yang bisa ditemukan di Deleng Lancuk. Sayang pacet juga cukup banyak, sehingga harus hati-hati apabila berminat melakukan tracking di Deleng Lancuk.
Sedangkan disisi kiri Danau Lau Kawar, terletak camping ground seluas 3 Ha, di sinilah para pendaki gunung mendirikan tendanya sebelum mendaki Gunung Sinabung. Pada setiap hari sabtu dan minggu, camping ground ini penuh sesak oleh tenda-tenda para pecinta alam, setidaknya 200-400 tenda berdiri di camping ground ini setiap minggunya, apalagi apabila libur semester, jumlahnya bisa meningkat. 

Setiap hari, masyarakat memancing ikan dengan sampan-sampan kecil di Danau ini. Umumnya, mereka kembali saat matahari turun di senja hari. Pemandangan nelayan yang kembali saat senja ini menjadi eksotisme tersendiri yang bisa dinikmati pengunjung Danau Lau Kawar. Untuk menikmati eksotisme Danau Lau Kawar, ada juga hiburan berupa menyusuri Danau dengan satu dua rakit yang ada disitu.
Saat ini, dari observasi yang dilakukan, di tepi Danau Law Kawar telah dipasangi batu bronjong untuk penahan erosi, diatasnya telah dibuat besi pembatas agar pegunjung tidak tercebur ke Danau. Dari pengamatan penulis, tampak penyurutan air sekitar 2 – 3 meter dibandingkan kedatangan penulis ke Danau Lau Kawar pada tahun 2000, sekitar 10 tahun yang lalu.
Dari informasi yang di peroleh penulis, pada tahun 80-an, titik terdalam Danau Lau Kawar hingga 40 meter, namun saat ini data terakhir ditemukan bahwa titik terdalam hanya tinggal 19 meter. Terdapat penurunan lebih dari 50 % hanya dalam 30 tahun. Tentu saja ini harus menjadi perhatian pemerintah, masyarakat dan pecinta lingkungan.

Mengupas cerita yangdidapat dari Wikibuku Bahasa Indonesia, maka saya sedikit Bercerita yaaaaa :

Alkisah, berbagai sumber menyebutkan bahwa sebelum menjadi sebuah danau, Lau Kawar merupakan kawasan pertanian (juma atau ladang) yang sangat subur. Ladang tersebut merupakan bagian dari wilayah Desa Kuta Gugung. Tinggallah di ladang tersebut satu keluarga petani.
Saat pertanian menjelang panen, lahan pertanian umumnya dijaga oleh salah seorang anggota keluarga mereka. Pada suatu siang, sang nenek yang mendapat giliran untuk menjaga ladang. Kawar, sang cucu selalu menjadi pengantar makanan untuk anggota keluarga di ladang. Pada hari itu, Kawar juga mengantarkan makanan ke ladang untuk neneknya. Namun di perjalanan, Kawar merasa kelaparan dan memakan bekal untuk neneknya. Seluruh lauk pauk dan ayam yang menjadi bekal untuk si nenek di habiskan oleh Kawar hingga tersisa tulang-tulangnya saja.
Sang Nenek yang sudah kelaparan sangat kecewa hanya menemukan tulang belulang tanpa ada lauk pauk apapun karena sudah dihabiskan Kawar. Si Nenek menangis karena merasa sedih dan tidak berguna. Tanpa fikir panjang, Nenek meminta kepada Tuhan untuk mencabut nyawanya. Sesaat kemudian, petir menggelegar dan turun hujan lebat. Hujan lebat segera menjadi air bah. Segera saja dataran tersebut menjadi banjir dan lambat laun tenggelam menjadi danau. Danau inilah yang kemudian menjadi Danau “Lau Kawar”.

 Legenda ini dipercaya oleh masyarakat sekitar Lau Kawar dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang mana menanamkan agar senantiasa mensakralkan danau tersebut, dengan cara menajaga danau dan pepohonan disekitarnya agar tidak sembarangan ditebang. Masyarakat juga tidak berani merambah hutan di sekitar Danau Lau Kawar sembarangan. Begitupun dengan nelayan, yang tidak berani mengambil ikan dengan semaunya, apalagi menggunakan bahan peledak. Hal ini menyebabkan selama berpuluh tahun, ekologi disekitar Danau Lau Kawar tetap terpelihara baik. Kepatuhan untuk tidak mengecewakan nenek moyang mereka yang telah terkubur didalam danau tersebut, membuat masyarakat sangat menjaga Danau Lau Kawar. Namun kini, legenda tersebut mulai luntur bersama waktu. Banyaknya penduduk pendatang yang tinggal di desa-desa sekitar Danau Lau Kawar mulai merambah hutan yang disakralkan oleh masyarakat setempat.


Hayyyy ....
Jangan kabur dulu, cerita ini masih tetap berlanjut.
Tapi kita beralih kehalaman berikutnya ya, biar gak terlalu kepanjangan banget ...
Lagian perjalanan kita selanjutnya mengunjungi berastagi.
Klik judul dibawah ini untuk melanjutkan cerita berikutnya ^_^

Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…