Langsung ke konten utama

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1  Hasil Penelitian
4.1.1. Analisis Univariat
1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria
Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri
Pekanbaru Tahun 2013

No
Pengetahuan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Tinggi
42
48,8 %
2.
Rendah
44
51,2 %
Jumlah
86
100 %
Sumber: Analisis Data Primer, 2013
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa dari 86 responden remaja sebagian besar mempunyai pengetahuan rendah, yaitu sebanyak 44 orang (51,2%) sedangkan sebagian kecil mempunyai pengetahuan tinggi, yaitu sebanyak 42 orang (48,8%)

 
2. Sikap Remaja Pria Tentang Keperawanan

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Sikap Remaja Pria
Tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri
Pekanbaru tahun 2013

No
Sikap
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Positif
44
51,2 %
2.
Negatif
42
48,8 %

86
100 %
Sumber : Analisis Data Primer, 2013
Berdasarkan tabel 4.2 dari 86 responden terdapat mayoritas remaja yang memiliki sikap positif sebanyak 44 orang (51,2%), sedangkan minoritas remaja yang memiliki sikap negatif yaitu sebanyak 42 orang (48,8%).

4.1.2 Analisis Bivariat
Hasil analisis bivariat hubungan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang keperawanan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.3
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP REMAJA PRIA
TENTANG KEPERAWANAN DI SMK TARUNA MANDIRI
 PEKANBARU TAHUN 2013

Pengetahuan
Sikap
Total
P
value
α
Positif
Negatif
N
%
N
%
N
%


0,388


0,05
Tinggi
19
45,2%
23
54,8%
42
100%
Rendah
25
56,8%
19
43,2%
44
100%
Jumlah
44
51,2%
42
48,8%
86
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2013
Pada uji statistik hubungan pengetahuan dengan sikap remaja tentang keperawanan dapat disimpulkan bahwa Ho gagal ditolak, dimana p value > 0,05. Sehingga secara statistik dapat dilihat tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang keperawanan.
 
4.2 Pembahasan
4.2.1   Pengetahuan Responden
Dari tabel 4.1 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 86 responden, pengetahuan remaja pria tentang keperawanan di Pekanbaru mayoritas memiliki pengetahuan rendah sebanyak 44 orang (51,2%).
Menurut kamus Oxford Inggris yang dikutip Anden Bagoes (2010), pengetahuan didefinisikan sebagai keahlian dan keterampilan yang diperoleh oleh seseorang melalui pengalaman atau pendidikan, pemahaman teoritis atau praktis dari suatu subjek. Selaras dengan pernyataan Notoadmojo (2007), pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengara, penciuman, rasa dan raba.
Menurut seksolog Dr. Andri Wanananda dalam konsultasi seksologi di detikHealth, wanita perawan atau tidak perawan itu tidak terlihat ciri-ciri fisiknya. Karena sebenarnya tidak ada perubahan fisik yang terjadi ketika seorang perempuan kehilangan keperawanannya dan keperawanan yang ditandai dengan selaput dara hanya bisa dipastikan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh misalnya melihat apakah selaput daranya telah ditembus oleh penis atau tidak. Meski begitu selaput dara pun tidak bisa menjadi satu-satunya indikator sebuah keperawanan, karena ada beberapa wanita yang mengalami kecelakaan seputar vagina yang membuat selaput daranya pecah.
Menurut pakar Obstetrik Ginekologi  dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Suryono Slamet Iman Santoso, SpOG (10/7/12), Salah satu informasi yang sering keliru atau bahkan tak banyak orang tahu adalah bentuk selaput dara wanita yang tidak seragam atau sama bentuknya karna selaput dara wanita memang berlainan dan memiliki lubang atau pori yang bentuknya bervariasi.  Derajat kelembutan dan fleksibilitas selaput yang juga disebut “hymen” ini pun berbeda-beda. Ketua Perkumpulan Obstetrik Ginekologi Indonesia (POGI) ini  menjelaskan, bila seorang wanita memiliki bentuk selaput annular yang wujudnya sangat tipis, maka kemungkinan besar ia tidak akan mengalami pendarahan sama sekali pada saat hubungan seks pertama kali. Dengan fakta ini pula, sebagian dari mitos tentang darah keperawanan sebenarnya dapat diluruskan.
Kutipan ini sesuai dengan hasil penelitian yang penulis lakukan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru. Menurut peneliti, dari hasil penelitian didapat bahwa remaja pria di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru berpengetahuan tinggi lebih sedikit karena kurangnya faktor pendukung seperti pengalaman, pendidikan dan penggunaan panca indra secara lengkap. Sesuai dengan rangkuman kutipan di atas, seseorang bisa memiliki pengetahuan tinggi jika memiliki pengalaman dan pengetahuan yang baik serta didukung oleh penggunaan panca indra seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Pengetahuan tentang keperawanan bukanlah pengetahuan yang hanya sembarang dibicarakan sekilas saja sebab membutuhkan pengetahuan dengan sistem pendidikan yang lebih menjurus kepada arah materi keperawanan tersebut. pengetahuan remaja di SMK Taruna Mandiri tentang keperawanan mayoritas rendah terjadi karena materi pelajaran mereka tidak pernah membahas tentang keperawanan secara spesifik atau lebih detail. Selain itu, para pelajar di SMK Taruna Mandiri lebih banyak memfokuskan diri terhadap materi pembelajaran yang berhubungan dengan angkatan bagian pertahanan dan keamanan.
Menurut peneliti, alasan lain mengapa pengetahuan para pelajar rendah disebabkan karena jumlah wanita yang sangat sedikit sekali bahkan ada beberapa kelas yang bahkan tidak ada wanita sehingga menyebabkan sosialisasi mereka kepada lawan jenisnya berkurang. Akibat kurangnya sosialisasi mereka sehari-hari kurang terhadap lawan jenisnya mengakibatkan tingkat ketertarikan mereka untuk mengetahui tentang wanita semakin sedikit atau rendah.

4.2.2   Sikap Responden
Dari tabel 4.2, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 86 responden, sikap remaja tentang keperawanan di SMK Taruna Mandiri  Pekanbaru sebagian besar memiliki sikap positif yaitu sebanyak 44 orang (51,2%).
Menurut Sujanto (2006), sikap merupakan arah daripada energi psikis umum atau libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Tiap orang mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya, namun dalam mengadakan orientasi setiap  orang memiliki cara yang berbeda. Arah orientasi manusia terhadap dunianya ini dapat keluar ataupun kedalam.
Gibson (2003), menjelaskan sikap sebagai perasaan positif atau negatif atau keadaan mental yang selalu disiapkan, dipelajari dan diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap orang, obyek ataupun keadaan. Sikap lebih merupakan determinan perilaku sebab, sikap berkaitan dengan persepsi, kepribadian dan motivasi.
Selain itu, sikap merupakan kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap suatu objek atau situasi secara konsisten. Dimana sikap positif adalah kecenderungan tindakan mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu, karena sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi, yang disertai dengan perasaan tertentu dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya (Sunaryo, 2004).
Berdasarkan pendapat  yang dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan pengertian sikap sebagai organisasi keyakinan-keyakinan yang mengandung aspek kognitif, konatif dan afektif yang merupakan kesiapan mental psikologis untuk mereaksi dan bertindak secara positif atau negatif terhadap objek tertentu. Sikap dapat berubah dan  dapat dipengaruhi, dapat dibina dalam berbagai bidang kehidupan. Sikap negatif dapat dipengaruhi sehingga menjadi positif, yang tadinya tidak senang menjadi senang, yang semula antipati menjadi bersimpati, dan sebagainya.
Kutipan ini sesuai dengan hasil penelitian yang peneliti lakukan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru, mayoritas remaja memiliki sikap yang positif. Sikap yang positif ini merupakan salah satu orientasi remaja dalam kehidupannya. Sikap yang positif pada remaja di  SMK Taruna Mandiri Pekanbaru merupakan kecenderungan tindakan mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu yang mungkin dapat mempertimbangkan segala sesuatu dalam berpendapat dan melihat sudut pandang yang baik dalam berasumsi.
Menurut peneliti, sikap positif yang di miliki oleh remaja di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru ini mungkin disebabkan karena remaja tersebut tidak setuju dengan pernyataan negatif yang tercantum dalam kuesioner dan responden mampu memilih dan menentukan pilihan positif yang sebaiknya diambil dan dianggap layak untuk menjadi sikap dalam menindaki pernyataan tersebut.
Oleh karena itu, semakin baik seorang remaja dalam merespon suatu objek tertentu, maka semakin baik pula remaja tersebut bersikap. Hal ini didasari karena pada masa remaja terjadi peralihan moralitas anak ke moralitas remaja yang meliputi perubahan sikap remaja yang sedang mencari jati diri dan nilai–nilai yang mendasari pembentukan konsep moralnya yang mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya. Serta suasana pergaulan yang makin bebas menimbulkan masalah bagi remaja. Sikap manusia berasal dari dorongan dan pengetahuan yang ada dalam diri manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu bersikap dalam segala aktivitasnya sehingga sikap sangat mempengaruhi responden dalam mengetahui lebih banyak arti keperawanan pada seorang wanita.

4.2.3  Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Sikap Remaja Tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru
Berdasarkan tabel 4.3, hasil uji statistik didapatkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru tahun 2013 .
Menurut  teori  yang dikemukakan Notoatmojo (2002) yang menunjukan arah hubungan negatif yang berarti bahwa semakin baik pengetahuan tidak diikuti dengan peningkatan dari sikap yang positif. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan penulis, yakni tidak ada hubungan antara tingkat  pengetahuan remaja dengan sikap tentang Keperawanan di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013.
Menurut  peneliti,  dalam penelitian secara sistematis ditemukan tidak adanya hubungan antara tingkat pengetahuan remaja dengan sikap tentang keperawanan. Hal ini bisa saja terjadi karena pengetahuan dan sikap yang diperoleh dari remaja di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru berbeda-beda karena beberapa faktor seperti lingkungan keluarga dimana keluarga adalah faktor utama anak dalam pembentukan kepribadian. Jika dalam keluarga hal tentang keperawanan tidak pernah dijelaskan, dibahas atau dianggap tabu maka seorang anak akan mencari jawaban diluar dari lingkungan keluarga dan tidak bisa dijamin kebenaran informasi yang akan didapatnya.
 Bagi remaja yang memiliki pengetahuan rendah, bisa saja hal itu disebabkan oleh rendahnya rasa ingin tau mereka terhadap sistem reproduksi wanita secara benar sehingga membuat mereka malas untuk membaca buku,  tidak berminat mengikuti seminar kesehatan, malas mencari informasi yang benar dari internet, televisi atau media lainnya. Namun,  sikap dalam mengatasinya bisa saja positif karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang mendukung seperti lingkungan kesehatan, lingkungan keluarga yang pernah membahas atau memberikan pengetahuan tentang hal tersebut, melalui pemberitaan media massa mengenai kasus-kasus yang berhubungan dengan hal tersebut dan pergaulan sehari-hari yang menjadi faktor pendukung responden untuk bersikap positif. Begitu juga sebaliknya, mungkin remaja mendapatkan pengetahuan lebih tentang sistem reproduksi wanita, namun sikap remaja dalam mengatasi bisa saja negatif.
 Jadi dapat  disimpulkan,  semakin baik pengetahuan remaja tentang keperawanan belum tentu remaja tersebut memiliki sikap yang positif. Begitu pula sebaliknya, kurangnya pengetahuan pada remaja tentang keperawanan, maka belum tentu sikap yang dimiliki remaja tersebut negatif.

Pos populer dari blog ini

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.