Langsung ke konten utama

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengetahuan
2.1.1   Definisi
Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002). 
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004).
  
2.1.2     Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
1.    Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
2.    Memahami (Comprehension)
Memahami merupakan kemampuan untuk menjelaskan benar tentang objek yang diketahui dan cara menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan menyebutkan contoh : menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajarinya.
 3.    Aplikasi (application)
Aplikasi adalah kemampuan untuk mengungkapkan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (rill). Aplikasi disini dapat diartikan, aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan- perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
4.    Analisa (Analisis)
Analisa adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi tersebut masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5.    Sintesis (Syntesis)
Sintesis adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang telah ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, meringkas, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6.    Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan dari seseorang untuk melakukan penelitian terhadap suatu objek penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tindakan-tindakan diatas (Notoatmodjo, 2007).
Konsep adalah suatu abstrasi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh sebab itu konsep tidak dapat diukur dan diamati secara langsung. Agar dapat diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel. Variabel yang digunakan pada pengetahuan adalah ordinal dengan hasil ukur baik dan kurang (Notoadmojo, 2003).
 
2.1.3     Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari Notoatmodjo (2003) dalam Wawan dan Dewi (2010) adalah sebagai berikut :
1.    Cara Kuno Untuk Memperoleh Pengetahuan
1.1  Cara Coba Salah (Trial and Error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
1.2  Cara Kekuasaan atau Otoritas
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pimpinan-pimpinan masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri.
1.3  Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.
2.    Cara Modern dalam Memperoleh Pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Va  Devan. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah.

2.1.4     Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
2.1.4.1 Faktor Internal
1.    Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan anda untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup.
Menurut YB makna yang dikutip Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam, 2003) pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi (Wawan, 2010).
2.    Pekerjaan
Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
3.    Umur
Menurut Elizabeth yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Huclock (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya.

2.1.4.2 Faktor Eksternal
1.      Faktor Lingkungan
Menurut Ann.Mariner yang dikutp dari Nursalam lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.
2.      Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi (Wawan, 2010).
 
2.2  Sikap
2.2.1   Pengertian Sikap
Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri. Orang lain, objek atau isu (Azwar, 2005). Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang  yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulasi atau objek (notoatmodjo, 2003).

2.2.2   Ciri-ciri Sikap
1.    Sikap bukan dibawa sejak lahir melahirkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan objek.
2.    Sikap dapat berubah-ubah karena sikap itu dapat dipelajari dan sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
3.    Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap objek.
4.    Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal berikut.
5.    Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

2.2.3   Komponen Sikap
Struktur sikap terdiri atas 3 komponan utama yaitu (Neil, 2000) :
1.    Komponen Afektif merupakan komponen yang berhubungan dengan perasaan dan emosi tentang seseorang atau sesuatu.
2.    Komponen Kognitif merupakan pemikiran atau kepercayaan tentang seseorang atau sesuatu objek.
3.    Komponen Prilaku merupakan sikap yang terbentuk dari tingkah lau seseorang.

2.2.4   Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Menurut Azwar (2005) dalam Wawan dan Dewi (2010), faktor- faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap objek sikap antara lain :
1.    Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
2.    Pengaruh Orang Lain yang di Anggap Penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
3.    Pengaruh Kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.
4.    Media Massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
5.    Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
6.    Faktor Emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau penglihatan bentuk mekanisme pertahanan  ego.

2.2.5   Tingkatan Sikap
Sikap terdiri dari berrbagai tingkatan yakni (Notoatmodjo, 2003) :
1.    Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang (subyek) mau dan memperhatikan stimulasi yang diberikan (obyek).
2.    Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan.
3.    Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah indikasi sikap tingkat tiga. 
4.    Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.

2.2.6   Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Untuk yang bersifat mendukung (favourable) dan tidak mendukung (Unfavourable). Setiap jawaban diberi bobot satu sampai empat.
Favourabel (positif)
1.    Sangat Setuju (SS) : Bobot nilai 4
2.    Setuju (S) : Bobot nilai 3
3.    Tidak Setuju (TS) : Bobot nilai 2
4.    Sangat tidak setuju (STS) : Bobot nilai 1
Unfavourabel (negatif)
1.    Sangat setuju (SS) : Bobot nilai 1
2.    Setuju (S) : Bobot nilai 2
3.    Tidak setuju (TS) : Bobot nilai 3
4.    Sangat tidak setuju (STS) : Bobot nilai 4
 
2.3  Keperawanan
2.3.1   Definisi Keperawanan
Menurut ilmu kedokteran keperawanan adalah tertutupnya Introitus vaginae oleh himen (selaput dara), suatu lipatan selaput setempat dimana pada seorang virgo selaput daranya masih utuh, dan lubang selaput dara (hiatus himenalis) umumnya hanya dapat dilalui oleh jari kelingking. Sedangkan menurut pandangan kelompok lain memiliki arti tersendiri tentang keperawanan, seperti dari ilmu agama ataupun pandangan masyarakat tentang arti keperawanan itu sendiri.

2.3.2   Organ Genetalia Eksterna
2.3.2.1 Vulva
Vulva meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat dilihat mulai dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia mayora dan labia minora, klitoris, selaput dara (hymen), vestibulum, mara uretra, berbagai kelenjar dan struktur vaskular.
2.3.2.2 Mons veneris atau mons pubis
Mons veneris atau mons pubis adalah bagian menonjol di atas simfisis dan pada perempuan setelah pubertas ditutupi oleh rambut kemalauan. Pada perempuan umumnya batas atas rambut  melintang sampai pinggir atas simfisis, sedangkan ke bawah sampai ke sekitar anus dan paha.
2.3.2.3  Labia mayora
Labia mayora (bibir-bibir besar) terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan lemak yang serupa dengan yang ada di mons veneris. Ke bawah dan ke belakang kedua labia mayora bertemu dan membentuk kommisura posterior Labia mayora analog dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum berakhir di atas labia mayora. Setelah perempuan melahirkan beberapa kali, labia mayora menjadi kurang menonjol dan pada usia lanjut mulai mengeriput. Di bawah kulit terdapat massa lemak dan mendapat pasokan pleksus vena yang pada cedera dapat pecah dan menimbulkan hematoma.
2.3.2.4  Labia minora
Labia minora (bibir- bibir kecil atau Nymphae) adalah suatu lipatan tipis dari kulit sebelah dalam bibir besar. Ke depan kedua bibir kecil bertemu yang di atas klitoris membentuk preputium klitoridis. Kebelakang kedua bibir kecil juga bersatu dan membentuk Fossa navilulare. Fossa naviluare ini pada perempuan yang belum pernah bersalin tampak utuh, cekung seperti perahu. Pada perempuan yang pernah melahirkan kelihatan tebal dan tidak rata. Kulit yang meliputi bibir kecil mengandung banyak glandula sebasea (kalenjar- kalenjar lemak) dan juga ujung- ujung saraf yang meneyebabkan bibir kecil sangat sensitif. Jaringan ikatnya mengandung banyak pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan bibir kecil ini dapat mengembang .
2.3.2.5  Klitoris
Klitoris berukuran kira-kira sebesar kacang ijo, tertutup oleh preputium klitoridis dan terdiri atas glands klitoridis, korpus klitoridis dan dua kurva yang menggantungkan klitoridis ke os pubis. Glands klitoridis terdiri atas jaringan yang dapat mengembang, penuh dengan urat saraf, sehingga sangat sensitif .
2.3.2.6  Vestibulum
Vestibulum berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari depan ke belakang dan dibatasi di depan oleh klitoris, kanan dan kiri oleh labia minora dan di belakang oleh perinium (fourchette). Embriologik sesuai dengan sinus urogenitalis. Terdapat 6 lubang/orifisium, yaitu orifisium urethrae eksternum, introitus vagina, duktus glandulae bartholini dekstra dan sinistra dan duktus skene dekstra – sinistra. Kurang lebih 1- 1,5 cm di bawah klitoris di temukan orifisium uretra eksternum (lubang kemih) berbentuk membujur 4 -5 mm dan tidak jarang sukar di temukan oleh karena tertutup oleh lipatan-lipatan selaput vagina. Tidak jauh dari lubang kemih, di kiri dan di kanan bawahnya, dapat dilihat dua ostia skene. Saluran skene (duktus parauretral) analog dengan kalenjar prostat pada laki- laki. Di kiri dan di kanan dekat fossa navikulare terdapat kalenjar bartolini. Kalenjar ini berukuran diameter lebih kurang 1 cm, terletak di bawah otot konstriktor kunni dan mempunyai saluran kecil panjang 1,5 – 2 cm yang bermuara di vestibulum, tidak jauh dari fossa navikulare. Pada koitus kalenjar bartholin mengeluarkan getah.
2.3.2.7  Bulbus vestibuli
Bulbus vestibuli sinistra et dekstra merupakan pengumpulan vena terletak di bawah selaput lendir vestibulum, dekat ramus osis pubis. Panjangnya 3 – 4 cm, lebarnya 1- 2 cm dan tebalnya 0,5 -1 cm. Bulbus vestibuli mengandung banyak pembuluh darah, sebagian tertutup oleh muskulus iskio kavernosus dan muskulus konstriktor vagina. Embriologik sesuai dengan korvus kavernosum penis. Pada waktu persalinan biasanya kedua bulbus tertarik ke atas  ke bawah arkus pubis, akan tetapi bagian bawah nya yang melingkari vagina sering mengalami cedera dan sekali- kali timbul hematoma vulva atau pendarahan.
2.3.2.8  Introitus vagina
Introitus vagina mempunyai bentuk yang berbeda- beda. Pada seorang virgo selalu di lindungi oleh labia minora yang baru dapat di lihat jika bibir kecil ini di buka. Introitus  vagian oleh di tutupi oleh selaput dara / hymen. Himen ini mempunyai bentuk yang berbeda-beda dari yang semilunar (bulan sabit) sampai yang berlubang- lubang atau bersekat (septum). Konsistensinya pun berbeda-beda, dari yang kaku sampai yang lunak sekali. Hiatus seminalis (lubang selaput dara) berukuran dari yang seujung jari sampai yang mudah di lalui oleh dua jari. Umumnya himen robek pada koitus dan robekan ini terjadi pada tempat jam 5 atau jam 7 dan robekan sampai mencapai dasar selaput dara itu. Pada beberapa kasus himen tidak mengalami laserasi  senggama telah berulang kali telah dilakukan. Sesudah persalinan himen robek di beberapa tempat dan yang dapat di lihat adalah sisa- sisanya(karunkula himenalis).
Menurut Frank H. Netter, MD dokter yang pernah menulis buku berjudul The Human Sexuality.ada beberapa macam bentuk selaput dara:
1.    Annular hymen, selaput melingkari lubang vagina
2.    Septate hymen, selaput yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka.
3.    Cibriform hymen, selaput yang ditandai beberapa lubang terbuka tetapi lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak.
4.    Introitus. Pada perempuan yang sangat berpengalaman dalam berhubungan seks. Bisa saja lubang selaputnya membesar, namun  masih menyisakan jaringan selaput dara.

 
 Gambar 2.1
Macam-macam bentuk hymen

2.3.2.9  Perinium
Perinium terletak antar vulva dan anus, panjangnya rata- rata 4 cm. Jaringan yang mendukung perinium terutama diafragma pelvis dan diafragma urogenitalis. Difragma pelvis terdiri ats otot-otot levator ani dan otot koksigis posterior serta fasia yang menutupi kedua otot ini. Diafragma urogenitalis terletak eksternal dari diafragma pelvis, yaitu di daerah segitiga antara tuber isiadika dan simfisis pubis. Diafragma urogenitalis meliputi muskulus tranversus perinei profunda, otot konstriktor uretra dan internal maupun eksternal yang menutupinya.
Perinium mendapat pasokan darah terutama dari arteria pudenda interna dan cabang- cabangnya. Persarafan perinium terutama oleh nervus pudendus dan cabang-cabangnya. Oleh sebab itu, dalam menjahit robekan perinium dapat dilakukan anastesi blok pudendus. Otot levator ani kiri dan kanan  bertemu di tengah-tengah di antara anus dan vagina yang di perkuat oleh tendon sentral perineum. Ditempat ini bertemu otot-otot bulbokavernosus, muskulus tranversus perinei superfisialis, dan sfingter ani eksternal. Struktur ini membentuk perineal body yang memberikan dukungan bagi perinium. Dalam persalinan sering menglami laserasi, kecuali dilakukan episiotomi yang adekuat.
2.3.3   Organ Genetalia Interna
Organ Genetalia Interna yang berhubungan dengan aktifitas senggama adalah Vagina. Vagina menghubungkan genitalia eksterna dengan genitalia interna. Introitus vaginae tertutup pada himen (selaput dara), suatu lipatan selaput setempat. Pada seorang virgo selaput daranya masih utuh, dan lubang selaput dara (hiatus himenalis) umumnya hanya dapat dilalui oleh jari kelingking.
Pada koitus pertama himen robek di beberapa tempat dan sisanya dinamakan karunkulae mirtiformas. Bentuk lain yang ditemukan pada himen adalah himen kribriformis (menunjukkan beberapa lubang), himen septus, dan sebagainya; kadang-kadang himen tertutup sama sekali (himen imperforatus). Besarnya lubang himen tidak menentukan apakah wanita tersebut masih perawan atau tidak. Hal ini baik diketahui sehubungan dengan kedokteran kehakiman. Di Indonesia keutuhan selaput dara pada seorang gadis/ perawan masih dihargai sekali; maka selayaknya para dokter memperhatikan hal ini. Pada seorang gadis yang memerlukan pemeriksaan ginekologi sebaiknya dilakukan pemeriksaan rektal.
Vagina berukuran di depan 6,5 cm dan dibelakangnya 9,5 cm, sumbunya berjalan kira-kira sejajar dengan arah pinggir bawah simfisis ke promontorium. Arah ini penting diketahui jika memasukkan jari ke dalam vagina pada pemeriksaan ginekologik. Pada pertumbuhan janin dalam uterus 2/3 bagian atas vagina berasal dari duktus Mulleri ( asal dari endoterm ), sedangkan 1/3 bagian bawahnya dari lipatan-lipatan ekstorderm. Hal ini penting diketahui dalam menghadapi kelainan-kelainan bawaan.
Epitel vagina terdiri atas epitel skuamosa dalam beberapa lapisan. Lapisan tidak mengandung kalenjar, akan tetapi dapat mengadakan transudasi. Pada anak kecil epitel itu amat tipits, sehingga mudah terkena infeksi, khususnya oleh gonokkkus. Mukosa vagina berlipat- lipat  horisontal, lipatan itu dinamakan ruga; di tengah- tengah bagian depan dan belakang ada bagian yang lebih mengeras, disebut kolumna rugarum. Ruga-ruga jelas dapat dilihat pada 1/3 bagian distal vagina pada seorang wanita perawan, sedangkan pada seorang wanita yang tidak perawan lipatan-lipatan untuk sebagian besar hilang. Dibawah epitel vagina terdapat jaringan ikat yang mengandung banyak pembuluh darah. Dibawah jaringan ikat terdapat otot-otot dengan susunan yang serupa dengan susunan otot usus.
Sebelah luar otot-otot terdapat fasia (jaringan ikat) yang akan berkurang elastisitasnya pada wanita yang lanjut usianya. Di sebelah depan dinding vagina bagian bawah terdapat urethra sepanjang 2.5-4 cm. Bagian atas vagina berbatasan dengan kandung kencing sampai ke forniks vaginae anterior. Dinding belakang vagina lebih panjang dan membentuk forniks posterior yang jauh lebih luas daripada forniks anterior. Di sampung kedua forniks itu dikenal pula forniks lateralis sinistra dan dekstra.
Umumnya dinding depan dan belakang vagina dekat mendekati. Pada wanita yang telah melahirkan anak, pada kedua dinding vagina sering ditemukan tempat yang kondor dan agak merosot (sistokele dan rektokele). Pada seorang perawan keadaan ini jarang ditemukan (Sarwono, ilmu kandungan).
Introitus vagina mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Pada seorang gadis perawan selalu dilindungi oleh labia minora; jika bibir kecil ini dibuka, maka barulah dapat dilihat, ditutupi oleh selaput dara. Selaput dara ini mempunyai bentuk berbeda-beda, dari yang semilunar (bulan sabit) sampai yang berlubang-lubang atau yang ada pemisahnya (septum); konsistensinya pun berbeda-beda juga dari yang kaku sampai yang lunak sekali. Hiatus himenalis (lubang selaput dara) berukuran dari yang seujung jari sampai yang mudah dilalui oleh dua jari. Umumnya selaput dara robek pada koitus, dan robekan ini terjadi pada tempat jam 5 atau jam 7, dan sampai dasar selaput dara itu. Sesudah persalinan, himen robek pada beberapa tempat, dan apa yang dapat dilihat adalah sisa-sisanya (karunkula himenalis) saja (Sarwono, Ilmu kebidanan).
Di bawah jaringan ikat terdapat otot-otot dengan susunan yang sesuai dengan susunan otot-otot usus. Bagian dalamnya terdiri atas M.sirkularis dan bagian luarnya M.longitudinalis. Bagian atas vagina berasal dari duktus mulleri, sedangkan bagian bawahnya di bentuk oleh sinus urogenitalis. Di sebelah depan, dinding vagina berhubungan dengan uretra dan kandung kemih yang di pisahkan oleh jaringan ikat biasa disebut septum vesikovaginalis. Di sebelah belakang, diantar dinding vagina bagian bagian bawah dan rektum terdapat jaringan ikat disebut septum rektovaginalis. Seperempat bagian atas dinding vagina belakang terpisah dari rektum oleh kantong rektouterina yang biasa disebut kavum douglasi. Dinding kanan dan kiri vagina berhubungan dengan muskulus levator ani. Dipuncak vagina dipisahkan oleh serviks, terbentuk formiks anterior, posterior, dan lateralis kiri dan kanan. Oleh karena puncak bagian belakang terletak lebih tinggi daripada bagian depan, maka formiks anterior lebih dalam daripada posterior. Formiks memiliki arti klinik organ internal pelvis dapat dipalpasi melalui dinding formiks yang tipis. Selain itu, formiks posterior dapat digunakan sebagai akses bedah untuk masuk ke dalam rongga peritonium.
Vagina mendapat darah dari :
1.     Arteria uterina, yang melalui cabangnya ke serviks dan vagina bagian atas 1/3 atas
2.     Arteria vesikalis inferior, yang melalui cabangnya memberikan darahke vagina bagian 1/3 tengah
3.     Arteri hemoroidalis mediana dan arteria pudendus interna, yang memberikan darah ke vagina bagian 1/3 bawah. Darah kembali melalui pleksus vena yang ada, antara lain pleksus pampini formis ke vena hipogastrika dan vena iliaka ke atas.
Getah bening (limfe) yang berasal dari 2/3 bagian atas vagina akan melalui kalenjar getah bening di daerah vasa iliaka, sedangkan getah bening yang berasal dari 1/3 bagian bawah akan melalui kalenjar getah bening di regio inguinalis.
2.3.4   Perlukaan Akibat Koitus
Perlukaan yang terjadi pada koitus pertama ialah robeknya selaput himen. Robekan selaput himen biasanya terjadi pada dinding belakang dan menimbulkan perdarahan sedikit, yang kemudian akan berhenti secara spontan. Akan tetapi walaupun jarang perdarahan bisa demikian banyaknya, sehingga diperlukan pertolongan dokter untuk menghentikannya.
Pada keadaan-keadaan tertentu perlukaan akibat koitus dapat lebih berat. Koitus yang dilakukan secara kasar dan keras, misalnya oleh laki-laki yang menderita psikopatia seksualis atau yang sedang mabuk, akan menimbulkan perlukaan-perlukaan vulva dan vagina yang luas dengan perdarahan yang banyak. Lebih-lebih bila wanita menolak untuk melakukan hubungan seksual. Penolakan itu disertai adduksi pada kedua paha, lordose lumbal, dan ketegangan pada otot-otot pelvis. Dalam keadaan demikian koitus hanya mungkin dilakukan bila pihak laki-laki memaksanya dengan kasar dan kekerasan. Faktor predisposisi dari pihak wanita untuk mengalami trauma pada koitus ialah hipoplasia genetalis, penyempitan introitus vaginae, vagina yang kaku dan himen yang tebal. Tidak adanya pengalaman, sedang mabuk, memiliki penis yang besar merupakan faktor-faktor dari pihak laki yang memudahkan terjadinya trauma pada waktu koitus.
Robekan forniks posterior vagina dapat merupakan perlukaan yang tidak jarang terjadi. Apabila wanita mengalami orgasme ketika koitus, bisa terjadi kenaikan tekanan intra- abdominal, sehingga kavum douglasi menonjol. Tekanan penis yang berulang pada kavum Douglasi yang menonjol ini dapat menyebabkan perlukaan pada forniks posterios. Pada wanita yang telah mengalami histerektomi total, vagina bagian atas bisa menjadi kaku dan pendek, sehingga lebih mudah terjadi perlukaan pada forniks posterior waktu koitus. Faktor-faktor yang memberi pradisposisi terhadap perlukaan di forniks posterior karena koitus ialah kala nifas dan masa pasca menopause. Perlukaan akibat koitus di forniks posterior umumnya melintang, perlukaan tersebut, walaupun jarang, dapat menembus kavum Douglasi, sehingga usus-usus halus bisa keluar. Bahwa perdarahan-perdarahan terjadi segera setelah koitus, dan dengan pemeriksaan in spekulo. Pada pemeriksaan segera tampak tempat, bentuk dan besarnya luka. Karena ada kemungkinan terputusnya pembuluh-pembuluh darah arterial, penjahitan luka harus dilakukan dengan teliti (Sarwono, Ilmu kandungan).
2.3.5   Mitos Tentang Keperawanan
Beberapa pasangan pengantin baru mungkin mengalami kesulitan seksual awal. Keadaan ini normal timbul karena ketidaktahuan. Masalah seks masih merupakan tabu dan misteri bagi sebagian masyarakat indonesia. Banyak orangtua mendapatkan kesulitan dalam menerangkan masalah seks secara turun-temurun. Anak yang tidak tahu tentang seks mendapatkan informasi secara salah. Mereka menganggap seks sebagai hal yang terlarang, dan pengalaman seks merupakan rahasia. Ketidaktahuan seks ini dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan misalnya tentang anatomi alat kelamin atau fungsi dan peranan alat kelamin dalam persenggamaan. Seorang istri yang sama sekali belum pernah melihat zakar suami yang sedang ereksi, pernah dilaporkan menderita shock pada kontak seksual pertamanya. Dia tidak yakin bahwa vaginanya cukup besar untuk menerima dan dimasuki zakar tersebut. Bahkan pernah dilaporkan sebuah kasus mengenai suami - istri yang telah kawin selama 6 tahun, tanpa melakukan senggama sekalipun.
Sebenarnya, ketika memasuki malam pengantin itu, seorang wanita harus mengerti bahwa pada malam pengantin itu dia akan mengalami deflorasi, yaitu terobeknya selaput dara (himen) ketika diterobos oleh organ kelamin suami. Selaput dara ini merupakan cincin penutup sebagian pintu vagina, sehingga zakar suami tidak mudah masuk karena lubang ditengah selaput dara ini lebih kecil dari ukuran anggota kelamin laki-laki. Karena itu, sudah barang tentu akan menimbulkan pengoyakan. Pecahnya selaput dara ini bagi suami merupakan petunjuk anatomis bahwa istrinya masih perawan (Virgo Intacta), masih suci dan belum pernah melakukan senggama. Meskipun demikian, ada beberapa gadis yang masih perawan dan belum pernah melakukan senggama tetapi selaput daranya sudah koyak atau robek, misalnya karena berolahraga melompat, lompat jauh, lompat galah, menunggang kuda, jatuh dari kendaraan, dsb. Seringkali tanpa disadari, hal tersebut telah merusak selaput perawan seorang wanita.
Oleh karena itu, suami hendaknya mengetahui bahwa selaput dara yang dimiliki oleh wanita yang satu berbeda dengan wanita yang lain. Bahkan, ada yang sangat tipis sehingga dapat terkoyak hanya dengan hentakan yang keras, jatuh, dsb. Tanpa disadari wanita itu bahwa selaput daranya sendiri sudah terkoyak. Ketika wanita itu baru mengetahuinya pada malam pertama, suaminya akan menyangka bahwa istrinya telah ternoda. Hal itu biasanya akan menimbulkan pertengkaran. Ada lagi selaput dara yang sangat elastis dan kuat, yang waktu terkoyaknya dapat dirasakan oleh wanita tersebut. Karena selaput daranya hanya dapat terkoyak setelah melalui usaha yang cukup keras dan kuat dari suaminya. Ada pula selaput dara yang sangat elastis, yang tidak dapat terkoyak meskipun sudah sering bersenggama. Selaput dara jenis itu tidak akan hilang kecuali setelah ia melahirkan anak. Kadang- kadang wanita seperti ini sudah hamil padahal selaput daranya masih tetap utuh.
Kemudian apa yang harus dilakukan oleh pengantin pria pada malam pertama ini ? apa pula yang harus dilakukan pengantin wanita ? Tindakan yang paling baik pada malam pertama ini adalah kerjasama antara suami dan istri tersebut. Apabila suami sudah mencumbui istrinya dan pihak istri pun sudah mulai terangsang, hendaknya pihak istri membantu membimbing usaha penitrasi yang sedang dilakukan oleh suaminya. Misalnya, posisi istri yang terlentang dan lutut terlipat akan lebih memudahkan usaha penitrasi itu. Sebaliknya, suami haruslah bertindak secara pelan- pelan. Pertama-tama, penitrasi yang dilakukannya tidaklah boleh terlalu dalam, dan segera ditarik kembali. Kemudian, semakin lama semakin dalam. Dengan cara ini, regangan selaput dara tidak akan menimbulkan rasa sakit, dan otot- otot dinding vagina diberi kesempatan untuk mengembang secara perlahan-lahan. Usaha penitrasi yang terlalu cepat akan mengakibatkan otot- otot vagina mengerut dan mendatangkan rasa sakit. Sebaliknya, penitrasi yang lembut akan memudahkan zakar suami masuk lebih dalam lagi (Nina Surtiretna. 2004).
Penyebab wanita mengalami perdarahan pada saat pertama kali berhubungan seks adalah robeknya selaput dara. Selaput dara merupakan lapisan kulit yang sangat halus yang dapat dijumpai pada saat pembukaan vagina. Namun, selaput dara seorang wanita juga dapat robek oleh aktivitas-aktivitas, seperti  bersepeda, naik kuda, masturbasi, atau bahkan penggunaan tampon. Intinya, bila wanita tidak mengalami perdarahan setelah melakukan hubungan seks yang pertama kali tidak berarti bahwa dia tidak perawan (Zunly Nadia, 2011).

2.4 Kerangka Konsep

Variable Independent     <------------>    Variable Dependen
   (Pengetahuan)                                             (Sikap)





Hipotesis
Tidak Ada Hubungan Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Dengan Sikap Remaja Pria Tentang Keperawanan

Pos populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.