Langsung ke konten utama

Kedewasaan dan Keadilan Dalam Hubungan

Semalam mamaku baru saja pulang belanja dari Bandung.
Niatnya mama pengen langsung pulang ke airmolek karna adek-adek rindu sudah ditinggal 4 hari oleh mama.
Maklumlah dirumah hanya mama yang selalu memperhatikan adek-adek.
Namun berhubung karna aku juga sangat merindukan mama, makanya aku juga minta mama untuk tidak pulang dulu dan menginap sehari saja denganku di Pekanbaru.
Aku tau bagaimana mama, dia sangat menyayangi aku dan aku pikir dia akan mau menurut permintaanku.
Yup, mama memilih untuk tidak pulang dan menemaniku semalam saja dirumah.

Lalu pagi ini aku bangun lebih cepat dihari liburku, aku ingin memasak serapan pagi untuk mama.
Kebetulan semalam aku belanja sarden, jadi aku masak sarden cabe rawit pagi ini.
Lucu ya kalau serapan pagi sudah makan pedas-pedas.
Bagaimanalah, aku dan mamaku sangat mencintai makanan yang pedas.

Pagi itu mama bertanya samaku,
Mama    :   "Boru (Nama panggilan bagi suku batak yang artinya anak) ... Udah bagaimana sekarang hubunganmu dengan pacarmu ? masih pacaran sama yang lama atau sudah dapat yang baru ?"
Aku       :   "Masih ma, hanya saja aku tidak suka dengan sifatnya masih belum dewasa dan kadang-kadang tidak adil."
Mama    :   Tidak adil gimana ?
Aku       :   Dia terlalu sedikit membagi waktunya untuk memperhatikan aku. Hampir semua waktunya habis untuk pekerjaannya. Mama bayangkan tidak ada yang berubah dari dia yang dulu dengan dia yang sekarang ma, tetap aja gak bisa adil membagi waktu.

Mendengar itu mama bertanya " Apa yang kamu mengerti tentang keadilan nak? "
Mendengar pertanyaan mama, jadi terhenti kegiatanku yang sedang mengiris bawang dan berganti memandang mama yang saat itu sedang duduk diatas tempat tidurku sedangkan aku duduk di ruang tamu yang tempatnya tepat di depan kamarku.

Mama mulai bercerita ...
Ada sebuah keluarga kecil dengan beranggotakan ayah ibu dan 3 orang anak laki-lakinya.
Dirumah itu semua pekerjaan dikerjakan oleh ibunya mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu dan mengepel rumah, memasak, menyetrika pakaian, mengurus anak-anak, segala hal tentang rumah diurus oleh ibunya.
Selain mengurus pekerjaan rumah tangga, ibunya juga berjualan dipasar setiap jam 9 pagi sampai jam 3 sore.
Semua pekerjaan itu selalu dikerjakan ibunya dengan penuh ketulusan dan tanpa ada mengeluh sama sekali.
Sedangkan ayahnya adalah seorang petani yang setiap harinya menghabiskan waktunya di sawah.
Ayahnya bekerja membanting tulang mengolah sawahnya untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Setiap pagi ayahnya membawa bekal untuk siang hari yang disediakan oleh ibunya sedangkan malam hari ayahnya makan bersama keluarganya dirumah.

Suatu hari ibu sedang tidak enak badan dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak pergi kepasar berjualan.
Setelah menyiapkan serapan pagi dan menyiapkan keperluan ketiga anaknya serta keperluan suaminya, ibu pergi beristirahat.
Karna faktor kelelahan, ibu tertidur sampai jam 5 sore. Ketiga anaknya sengaja tidak membangunkan ibunya karna kasian melihat ibunya.
Namun karna sudah jam 5, anaknya membangunkan ibunya agar ibunya memasak karna jam 6 ayahnya akan segera pulang dan mereka jam 7 harus makan malam.
Ibunya segera pergi ke dapur dan didapur ibu mendapatkan telor, kentang dan sayur bayam.
Ibunya memasak sayur bayam dengan lauk telor kentang yang disambal.
Karna faktor kelelahan, telor dan kentang yang ibu goreng menjadi gosong.
Ibu menjadi panik dan bingung karna masakan yang ibu masak gosong. Kalau ingin mengganti masakan lagi akan butuh waktu yang lama sementara ayah sudah tiba dirumah.

Tibalah waktunya saat makan malam, anak-anak dan ibunya menanti ayahnya keluar dari kamar untuk bergabung kemeja makan.
Anak-anak itu dan ibunya sangat takut menunggu ekspresi ayahnya ketika mengetahui masakan yang dimasak ibu itu gosong.
Mereka takut jika ayahnya marah pada ibunya karna menyajikan masakan yang kosong.

Ayahnya datang dan mereka berdoa sebelum makan.
Mereka sengaja memberikan ayahnya mendapatkan kesempatan pertama untuk mengambil makanan.
Ayahnya sedikit heran melihat tingkah anak dan istrinya yang tidak mengambil makanan, namun ayah tidak menanyakannya dan mulai menyuapkan makanan kemulutnya.
Anak-anaknya dan ibunya memperhatikan wajah ayahnya yang sama sekali tidak memunculkan ekspresi apapun saat memakan makanan itu sedangkan anak-anak dan ibu bisa merasakan betapa pahitnya makanan yang gosong itu.
Sesudah selesai makan dan berdoa sesudah makan, anak sulung bertanya :
Anak Sulung     :   Ayah, apakah ayah tidak merasakan rasa yang lain pada masakan itu ?
Ayah                :   Tidak, rasa masakan yang gosong itu tetap enak kok. Kenapa nak? apakah kalian merasa masakan ibu yang gosong itu tidak enak?
Anak Sulung     :   Ayah tau kalau masakan itu gosong dan ayah tetap menikmatinya? ayah tidak marah pada ibu?
Ayah                :   Ia ayah tau dan ayah tidak marah karna bagi ayah itu masakan yang tetap enak, sama seperti masakan ibu setiap harinya. Sayangku (sambil memegang tangan istrinya dan memandang wajah istrinya) ... Terimakasih sudah memasak makanan untuk kami malam ini, makanan itu tetap enak seperti ketulusan hatimu untuk memasak makanan ini.
Ibu                   :   Apakah ayah tidak marah karna ibu mnyajikan masakan yang gosong?
Ayah                :   Tidak sayangku, selama 12 tahun kita menikah dan setiap hari kau mengerjakan semua pekerjaanmu dengan sebaik mungkin. Tidak pernah sekalipun kau mengabaikan pekerjaanmu sebagai istri dan ibu. Apakah mungkin aku marah karna kesalahanmu sekali ini?  Bahkan dalam keadaan sakit pun kau tetap melaksanakan tugasmu dengan baik. Terimakasih sayang, kau memang istri dan ibu yang bertanggungjawab dan sangat baik.


Aku sedikit bingung apa hubungan cerita yang ibu katakan dengan masalahku ini.
Namun ibu mulai mengatakan padaku, itulah suami yang dewasa dan adil.
Kedewasaan seseorang tercermin dari sikap. Kedewasaan hanya dapat diukur dengan berapa matangnya sikap kita dalam menghadapi suatu masalah. Sudah tentu kedewasaan sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, tempaan hidup, kesusahan, pengalaman, penderitaan. Orang yang dewasa adalah orang yang menghadapi tantangan hidup dan tak lari dari masalah dan tidak cepat menyalahkan orang lain atas kesalahan orang lain yang merugikan dirinya.






Adil disaat ia bisa mengimbangi keadaan istrinya dengan kesalahan istrinya, sama sekali dia tidak mengatakan kesalahan istrinya itu merupakan masalah dan dia tidak menganggap masalah itu menjadi hal pemicu keributan.
Ketahuilah kalau kesalahan pasanganmu yang kau katakan bukan hal yang masuk akal.
Dia bukan bersikap tidak adil karna tidak bsia mengimbangkan waktunya untuk pekerjaan dan waktunya untuk memperhatikan kau, hanya saja dia tidak bisa mendapatkan waktu dimana dia bisa memperhatikan kau.
Ambil sisi positifnya, karna kau harus tau apa tujuan dia banting tulang seperti itu selain berusaha memberikan yang terbiak untuk kau.
Bersikaplah dewasa dan jangan bersikap seperti anakk-anak, sikapi semua hal dengan positif.


Mendengar perkataan mama itu setidaknya cukup membuat aku terdiam.
Kadangkala itulah penting seorang ibu, disaat dalam keadaan kita masih kurang pendidikan mengenai karakteristik, ada orang tua yang memiliki pengalaman lebih banyak untuk memberikan kita banyak pelajaran untuk bisa emngenali orang lain dan mengenali keadaan yang belum bisa kita pahami dan kita sikapi dengan pikiran sehat.
Mungkin dengan perkataan mama hari ini cukup untuk menjadi pelajaran bagiku untuk lebih bersikap dewasa dan tidak sembarang menilai orang lain, memang segalanya harus disikapi dengan pikiran positif.
Maka untuk para pembaca, semoga artikel ini bisa memberikan sedikit pandangan yang positif untuk kita jadikan sebagai gambaran dalam menyikapi setiap masalah yang mungkin kejadiannya sama dengan kejadian yang seperti saya alami.











Sekian dan Terimakasih
image





Fransischa Bintang Theresia  Nainggolan

Postingan populer dari blog ini

BAB IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan - Karya Tulis Ilmiah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Univariat 1. Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Pria Tentang Keperawanan Di SMK Taruna Mandiri Pekanbaru Tahun 2013
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) 1. Tinggi 42 48,8 % 2. Rendah 44 51,2 %

BAB III Metode Penelitian - Karya Tulis Ilmiah

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik yaitu terdiri dari variabel bebas dan terikat, membutuhkan jawaban mengapa dan bagaimana (Hidayat,2007) dan pendekatan cross sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama (Hidayat,2007) untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja pria tentang keperawanan di SMA Negeri 5 Pekanbaru.

BAB II Tinjauan Pustaka - Karya Tulis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2002).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
Pengetahuan adalah kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara haemonik dalam suatu bangunan yang teratur (Ahmadi, 2004). 2.1.2Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1.Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingatkan kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang…